Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 48


__ADS_3

...Hargailah seseorang yang berani menegurmu dan mengubah perangai burukmu. Daripada orang yang terlihat menghormatimu, namun membiarkan perangai burukmu....


...Eouny Jeje...


..."Sebenarnya kau terlihat sama dengan diriku. Oleh itu aku membencimu karena diriku seperti berkaca pada masa laluku."...


...—Puspa—...


"Seharusnya k-au memiliki alasan untuk membenci. Uang atas ru-mah sa-kit. Bukan-kah a-ku te-lah memba-yar-nya," rengek Aprilia di sela-sela sedu sedan tangisnya.


Puspa membolakan matanya dan tertegun sesaat akann setiap kata Aprilia. Seharusnya kau memiliki alasan untuk membenci.


Puspa mematung begitu lama. Pikirannya tertaut akan pertanyaaan, sepasang matanya tidak lepas dari sosok wanita lemah di hadapannya.


Apa alasanku membencimu? A-aku rasa ... Puspa menghela napas. Memindai sosok lemah dengan perasaan jijik pada dirinya sendiri. Dia telah menemukan alasan kebenciannya pada Aprilia. Lemah, bodoh, dan tidak serakah. Terlalu hidup polos untuk melawan dunia.


Sebenarnya kau terlihat sama dengan diriku. Oleh itu aku membencimu karena diriku seperti berkaca pada masa laluku, jawab Puspa dalam hatinya. Dia segera menepis pikirannya,dan membuka mulutnya, "Aku membencimu, karena kau terlihat sampah dengan keluguan seperti ini. Aku jijik."


"Bu-kankah itu ti-dak me-rugi-kanmu? Meng-apa ha-rus mem-ben-ci, jika ti-dak mem-buat rugi sedikit saja. Mengapa?" tanya Aprilia bergetar. Sepasang mata Aprilia membola sengsara akan setiap hinaan dan arogansi Puspa.


Puspa goyah akan kakinya. Hampir saja limbung ke belakang. Aprilia mempertanyakan kerugiannya? Dia kehilangan jawabannya. Aprilia tidak pernah merugikannya. Mengapa dia begitu membenci. Puspa menatap lurus pada Aprilia. Sekejap tatapannya menjadi kosong. Dia melihat masalalunya di sana. Gadis yang lemah, bodoh, dan tertindas.


"Aku membencimu. Benci tanpa alasan!" teriak Puspa segera membelakangi dan pergi.


Kau bagai cermin yang memberikanku ketakutan. Oleh itu aku membenci tanpa sadarku. Aku akan membuatmu lenyap dari hadapanku. Aku tidak akan membiarkanmu selalu muncul bagai teror gila. Puspa segera berlari sepanjang lorong panjang. Ada getar dan tangis yang dia bawa dalam setiap pelariannya.

__ADS_1


Aprilia mengepalkan tinju. Tinju itu tergenggam erat dan kuat. Namun, setiap matanya menunjukkan kelemahannya. Dia kembali menangis. Menangis lebih keras.


"Jangan menangis lagi."


Sepasang sepatu terlihat berhadapan dengan milik Aprilia. Tangan itu merekuh kepala kecil Aprilia dan melabuhkannya di dadanya.


"Pernahkan kau berpikir? Musuh adalah orang yang paling sangat mencintaimu. Tanpa sadar dia mengubahmu menjadi kuat dengan menginjak punggungmu, dan dia menyeka air matamu, agar kau malu memiliki air mata. Bahkan dia berani meludahimu, agar kau terus hidup untuk memandangnya dengan kebencian seumur hidupmu."


Deg! Aprilia memejamkan matanya dalam dada Ade. Dia hanya menganggukkan kepala, dan mengeluh lagi, "Tetapi aku tidak memiliki apapun untuk melukai musuhku."


Ade tersenyum. Dia menatap sosok Nenek Mayang yang tiba-tiba muncul dengan sepasang mata cerah dan bibir yang melengkung sempurna. Dia tampak menyukai keterpurukan Aprilia, dan dia menunggu tangan kecil gadis itu meminta bantuannya.


"Aprilia. Apakah kau tau? Orang yang paling hebat di dunia ini adalah orang yang mampu memukul musuhnya hanya dengan kemiskinannya, bukan karena kekayaaan. Kau hanya perlu membenci dan belajar mempermainkannya hingga dia mengetahui, kau tidaklah selemah yang dia bayangkan."


Aprilia bergetar, tanpa sadar dia memeluk Ade, dan merengek seraya berkata dengan setiap nada isaknya, "Meng-apa k-au be-gi-tu baik pada-ku?"


"Kau juga adalah orang yang pertama yang sangat tulus untukku, Ade."


Aku juga sangat tulus, Aprilia. Aku ada di sisimu setiap saat, lanjut Nenek Mayang.


Deg! Aprilia membuka matanya. Akhir-akhir ini dia menyadari telah mampu mendengar suara serak dan tua itu. Namun, tidak pernah melihat wujudnya.


Siapakah kamu? Mengapa kau selalu mengikutiku. Apakah kau teman gaib Ade.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Puspa melangkah tergesa masuk kamarnya. Pertengkarannya dengan Aprilia membuat hatinya kacau. Air matanya bahkan tidak mampu dia hentikan barang sejenakpun. Dia menemukan ketakutannya. Dia melihat cermin masalalunya.


Puspa mengedarkan seluruh pandangan matanya, acak ke seluruh kamarnya. Dia telah banyak berusaha untuk mendaki puncak kehidupannya. Dia menatap cermin,dan dirinya terpantul dalam bingkai cermin lemari.


Muak. Tiba-tiba saja dia merasa muak akan dirinya. Dia terlihat sangat cantik. Namun, hal itu masih sangat kurang. Dia menyadari ada langit di atas langit. Dia ingin berada di langit teratas.


Wajah cantik Ade terlintas. Rasa iri menyergap dadanya sekejap. Aku ingin lebih cantik dari dia!


Puspa menyentuh wajahnya. Dia menilai dengan detail setiap fitur yang terbingkai indah dengan bantuan banyak dokter estetika terbaik yang mengubah wajahnya. Dulu dia sangat buruk rupa. Wajahnya. Puspa teringat akan setiap fitur wajah Aprilia.


"Tidak! Aku sekarang sangat cantik. Aku bukanlah wanita jelek. Aku bukanlah babu kecil yang tinggal di rumah bibinya." Puspa mengeram meremas kemeja di atas dadanya. Air matanya jatuh menyentuh punggung tangannya. Dia teringat akan masa kecil hingga remajanya. Kenangan yang pahit, sedih dan sangat biru.


Dulu, Puspa hanyalah seorang gadis kecil yatim piatu, yang tinggal di rumah bibinya. Sebelum matahari timbul, dia harus bangun dari dipan kecil yang berada di dapur. Dia harus menggunakan setiap tangan kecilnya untuk mencuci baju dewasa.Menggunakan tangan kecilnya untuk mencuci piring-piring dengan sisa-sisa makanan yang terlihat lezat di lidahnya dan matanya. Namun, sang pemilik rumah, bahkan tidak pernah memberikan sedikit potongan makanan yang terlihat lezat tersebut. Menyedihkan. Dia telah kehilangan kedua orangtuanya sejak usia 5 tahun. Di adopsi hanya untuk menjadi babu kecil.


Bukan hanya di situ. Babu kecil itu tumbuh menjadi babu remaja, dengan perawakan kurus yang terlihat tinggi menjulang. Aktivitasnya tetap sama. Hanya tinggal di dapur, di atas dipan yang sama. Dia tidak pernah sekolah. Dia pun hanya belajar membaca dengan otodidaknya dan mengikuti paket belajar di rumah. Kehidupan sehari-hari hanya dengan aktivitas bangun, tidur, mandi, dan bekerja di rumah. Seseorang akan ke dapur untuk meminta sesuatu, seperti makanan, minuman, atau sekedar memerintahnya untuk membeli sesuatu.


Namun, suatu malam yang terasa sangat panjang harus di habiskan dengan perasaan jijik dan mengerikan di usia remaja Puspa. Ketika Hanna, bibi Puspa telah pergi ke kampung halamannya. Hanya tersisa dirinya dan pamannya yang tinggal dalam rumah. Menjadi kenangan buruk bagi Puspa, semenjak malam itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ....


Semnagatin aku yah buat nulis kelanjutan cerita ini, dengan menjnggalkan coment buat lanjut ☝️


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .

__ADS_1


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2