Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 168


__ADS_3

...Hanya diriku yang mampu memikat. Bahkan, setiap pria-pun jatuh dalam pesona panjangnya lidah ini, merayu dan meminta apapun....


..._Nana_...


...Pada akhirnya, hanya sia-sia menyambung lidah seorang yang tidak setia....


..._Eouny Jeje_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Puspa menatap memar wajahnya. Bekas tamparan waktu itu masih berjejak biru ungu yang belum memudar.


"Ah, tamparan hantu! Sial!" Puspa mengepalkan tangannya. Dia menatap arloji pada lengan kanannya. Pukul 10 malam.


"Jack tidak datang juga! Sialan! Pasti, karena wajahku telah jelek! Mendapatkan wanita yang lebih cantik, dia malah mengabaikan-ku!"


Puspa menghela napas. Sepasang pupil menjuling ke atas. Seakan, dia sedang menghitung bagaimana kerugian miliknya. Pria-pria penuh kekayaannya telah diregut.


"Dandy telah terpikat pada wanita pucat itu. Kini, Jack termantera wanita berhantu itu."


Puspa kesal. Telapak tangannya meraba pipinya yang terlihat masih sangat memprihatikan. Dia teringat kemudian, pada ucapan Jack tempo lalu.


Aku ingin mencoba mengusir hantu itu dari raga Lea.


"Konyol!" geram Puspa.


"Wanita berhantu. Kau malah ingin mendekatinya."


Puspa menggurutu dengan pikirannya.


Hanya diriku yang mampu memikat. Bahkan, setiap pria-pun jatuh dalam pesona panjangnya lidah ini, merayu dan meminta apapun.


Puspa melanjutkan mengambil alas bedak. Menyamarkan memar pada wajahnya, dengan sempurna. Lalu, dia mengoleskan warna merah lipstik pada bibirnya.


Cukup tersamar. Puspa bangkit dari kursi meja riasnya. Dia mengendara menggunakan mobil miliknya, menuju sebuah hotel. Hanya dalam perjalanan 30 menit, dia telah mencapai tempat tujuannya.


Hotel Blue Sky.


Puspa berjalan sepanjang lorong. Seraya mengeja nomor kamar yang sesuai dengan pesan yang tertera dalam kontak media sosialnya.


Kamar 1112.


Puspa berhenti tepat pada pintu kamar tersebut. Dia menekan panggilan pada kontak Madam Marlena.


Panggilan terhubung.


"Aku di depan kamar hotel milikmu, madam."


Panggilan terputus kemudian.


Kret! Pintu bergeser otomatis.


Puspa mengangkatnya kakinya, melangkahi garis kamar pintu hotel. Seorang wanita paruh baya tampak menunggunya. Wanita itu berhadapan dengan tungku kemenyan, yang telah terbakar mengeluarkan wewangian yang sangat menusuk hidung.


"Uhuk!"

__ADS_1


Puspa terbatuk sesaat.  Lalu, dia mengipas aroma itu. Mengangkat masker penutup mulutnya. Lalu, dia melangkah mendekati wanita paruh baya itu.


"Madam Marlen."


Madam Marlena mengangkat sepasang pupil matanya besar, dan tersenyum kontras seakan menebak apa yang telah terjadi pada Puspa.


"Kau di tampar hantu." Madam Marlena  memberikan tisue basah.


Asap kemenyan mengepul dan hilang di udara. Aromanya tersamar. Puspa menurunkan maskernya.


"Tepat!" sahut Puspa, seraya menghapus riasan wajah pada pipi kirinya dengan tisue basah.


"Ck ... Ck... Ck...," gumam Madam Marlena. Dia menyipitkan matanya sesaat. Lalu, mengambil buah pinang dari lacinya. Dia mengunyah-ngunyah buah pinang, dan ampasnya dia ludahkan pada daun sirih kemudian.


Madam Marlena mengambil satu gelas air putih, membaca mantera sebentar. Lalu, meludah kembali ke dalam gelas tersebut. Sisa-sisa ampas pinang jatuh bergugur bersamaan dengan air ludahnya.


"Tempelkan dan seka ampas pinang. Lalu, setengah gelas dari air ini, untuk kau seka wajahmu, dan setengahnya lagi kau minum! Besok akan pulih kembali!"


Jijik mendengar perintah tersebut.


Puspa menelan ludah. Jijik awalnya. Namun, rasa jijik itu segera dia kunyah. Tangan halusnya mengulur mengambil ampas buah pinang beralaskan daun sirih tersebut. Dia menempelkan daun sirih tersebut tepat pada memar wajahnya.


"Arghh!" teriak Puspa tak tertahankan kala dia menempelkan ampas pinang itu pada wajahnya. Asap hitam mengepul, dan melayukan warna daun sirih.


Perih luar biasa. Puspa akan menjatuhkan daun sirih tersebut. Namun, tangan madam Marlena tiba-tiba menahannya, agar daun sirih tetap menempel pada wajah Puspa.


"Tahan. Sebentar lagi." Tangan Madam Marlena menekan kuat.


Puspa harus mengigit bibirnya sendiri. Seakan ada ujung rokok yang melubangi wajahnya. Panas dan perih tidak terkira. Lalu, seakan ada sesuatu yang menggelikan keluar dari setiap pori kulitnya, dan itu terasa hidup dalam pori wajahnya.


Madam Marlena menjatuhkan daun sirih beserta ampas ke lantai. Lalu, menyodorkan cermin pada Puspa.


"Nana, lihat sendiri wajahmu. Namun, jangan ketakutan."


Puspa mengangkat cermin. Dia membola kemudian. Setiap belatung tampak keluar dari pori-pori wajahnya yang melebar.


"Belatung?"


"Ya! Kau ditampar arwah yang mengerikan."


Madam Marlena bergindik.


Melihat setiap ulat kecil bewarna putih dan kuning berukuran sangat kecil-kecil. Membuat, Puspa merasa sangat jijik bersiap muntah.


"Jangan takut, Nana! Belatung itu harus keluar. Agar wajahmu kembali cantik sedia kala."


Puspa seakan menelan ampas muntahnya kembali masuk ke dasar mulut.


"Madam, apakah belatung ini akan hilang?"


Madam Marlena berdiri. Dia mengambil satu pingset dari kotak laci. Dia mengitari meja, mendekati Puspa. Lalu, dengan pingset dia mulai mencabuti satu demi satu belatung dari pipi kiri Puspa.


"Arg!" ringis Puspa menahan sakit, kala setiap jepitan pingset menarik setiap belatung pada pipi kiri Puspa.


"Bayarannya mahal. Karena, belatungnya banyak sekali," gumam Madam Marlena seraya meletakkan setiap belatung pada asbak piring di atas meja.

__ADS_1


Puspa beberapa kali harus menelan muntahan kembali ke dalam mulutnya. Agar meludah masuk sukses ke dasar perutnya. Belatung-belatung itu tampak bergerak di dalam asbak.


Satu jam kemudian.


"Parah sekali. Lebih menjijikan daripada cabut komedo," keluh Madam Marlena meletakkan pingset dan kembali pada kursinya. Dia mengambil kipas dengan corak burung merak.


Puspa menghela napas, sekaligus jijik.


"Seka dulu wajahmu dengan segelas air. Lalu, setengah sisanya, untuk di minum."


Puspa meraih gelas. Keningnya mengerut tajam.  Air tak sebening yang dia kira. Ada serpihan kecil bewarna putih dan merah bekas ampas inang larut bersama mengambang pada gelas.


"Harus lebih cepat!" perintah Madam Marlena.


Puspa menuangkan air dalam tampungan tangannya. Lalu, menyeka wajahnya. Lalu, dia segera menengguk setengah air gelas itu.


Jijik. Perasaan jijik harus Puspa singkirkan.


Akan muntah. Puspa segera menahannya, dan memaksa dirinya menelannnya.


"Sekarang, kau mandi saja dulu. Mandi kembang tujuh rupa. Agar kutuk sial wanita itu tidak mengikutimu."


Puspa mengangguk-anggukkan kepala. Baginya, Madam Marlena adalah dukun sakti dan paling ampuh. Junjungan wanita paruh baya itu adalah Nenek Arum. Iblis yang sangat di takuti, dan disegani dari dunia bawah tanah.


Puspa melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi. Di bak mandi telah tersedia air yang memenuhi bak, dengan taburan bunga tujuh rupa tujuh warna. Wanginya samar-samar masuk ke dalam hidung Puspa.


Puspa melepas satu demi satu potongan pakaiannya. Hanya menyisakan kepolosan tubuhnya. Dia-pun menenggelamkan seluruh tubuhnya. Hingga yang terlihat hanya kepalanya saja.


Bermain dengan kelopak bunga dengan cipratan air, yang menyegarkan dirinya. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba saja ada rasa perih dan panas menyentuh dan menusuk-nusuk kulitnya. Membuat raga Puspa bergindik ketakutan. Asap hitam tiba keluar dari tubuhnya. Lalu, air dalam bak terasa mulai panas, dan suhunya makin panas, bagai mendidihkan dirinya.


"Madam, ini sangat panas! Apa kau ingin mendidihkan diriku?" teriak Puspa.


Kret! Madam Marlena berdiri di ambang pintu. Dia mengipas dirinya sesaat, seraya berujar, "Tahan, aku sedang mengeluarkan tenaga hitam yang berakar dalam tubuhmu."


"Madam, ini sangat panas."


"Tahan, Nana."


"Kulitku akan melepuh. Aku tidak mau menjadi jelek!"


"Tahan, Nana. Kau tidak akan jelek. Hal ini hanya bersifat sementara."


Puspa terus menggeliat di dalam bak mandi. Dia mengigit ujung bibirnya, agar tidak mengeluarkan suara rintihan.


Sementara itu, Madam Marlena mendekat dan mengambil sebutir telur ayam kampung yang bersembunyi dalam kantong celana wanita dukun itu.


Wanita paruh baya itu membaca mantera sesaat. Lalu, meletakkan telur ayam itu pada ubun kepala Puspa. Melanjutkan membaca mantera.


Selesai membaca mantera. Madam Marlena melempar telur ke lantai. Sekejap, suhu panas pada air bak, mulai menyurut dingin.


"Coba kau lihat, Nana."


Puspa mengangkat pandangan. Dia menatap pecahan telur. Terlihat cairan telur dengan bau busuk yang berbaur dengan belatung yang berukuran lebih besar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Reader sekarang part-part kembali dengan adegan yang mengajak muntah. Siapkan mental membaca selanjutnya. Kisah-kisah percintaan akan bergeser menjadi adegan horor. Berhenti baca, silahkan.


__ADS_2