
...Aku bahkan bersedia meminta ijin pada semesta menjadi bulan berdarah jika kau terluka. ...
..._Moon_...
..."Aku akan terus mengikutimu dari belakang. Memungut setiap kerang yang kau buang. Lalu,aku akan mengisi kembali kekosongan tanganmu."...
..._Jack_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jack merasakan tiba-tiba hatinya menjadi sangat teduh mendengar satu kalimat panjang itu. Dia mengulurkan tangannya, mengangkat dagu wanita itu,dan ujung jempolnya menyapu bibir tipis ranum itu.
"Cintaku padamu berbalas. Jadi, kau bukanlah kerang."
Aprilia melepaskan cengkraman lembut pria itu. Dia berdiri dengan telapak kaki yang menjauh meninggalkan jejak dan menjatuhkan kerang di belakang telapak kakinya.
Kerang habis di tangannya. Dia berhenti. Dia sengaja menatap kosong tangannya yang telah kehabisan sesuatu yang telah dia genggam erat selama ini. Seakan kerang adalah perasaan yang menjanggal di dalam dadanya.
"Kau kehabisan kerang?" Jack dengan kharismatik yang mampu mengambil bintang di langit, dengan percaya diri meletakkan kerang di dalam telapak tangan kosong Aprilia.
"Berjalan lagi. Lalu, buang dan jatuhkan lagi."
Aprilia mengangkat sepasang alisnya.
"Aku akan terus mengikutimu dari belakang. Memungut setiap kerang yang kau buang. Lalu,aku akan mengisi kembali kekosongan tanganmu."
Aprilia tersenyum aneh. Ada getir rasa janggal yang tak mampu dia jelaskan.
"Jika, semua orang mengabaikan kerang. Maka, hanya akulah satu-satunya bersedia memperhatikan kerang itu," lanjut Jack.
Aprilia menatap tampungan kerang dalam tangannya. Lalu, menatap gamang pria itu. Ada rasa yang merobek daging dadanya,dan mencubit jantungnya, agar berdegup lebih keras, dan bekerja lebih cepat. Setiap kata pria itu bagai madu yang di jatuhkan lebah dalam rongga mulutnya. Rasanya manis dan sangat alami.
Tetapi, Toxic honey itu nyata. Madu membawa racun, gerutu Aprilia dalam hatinya. Namun, juga terkekeh konyol seakan apa yang dia dengar dari mulut pria yang berasal dari langit, adalah janji yang nyata.
"Apakah kau percaya ada dua jiwa dalam satu raga?"
Jack mengerutkan keningnya.
"Setahuku hanya jiwa sendiri mengisi raga sendiri."
Apakah kau tau dalam ragaku ada seorang jiwa Eouny yang di ciptakan Oppa dan jiwa babu jelek yang kau ciptakan?
"Tidak ada Jin dalam ragamu kan? Jika ada, aku akan menyebutnya Jinny oh Jinny," celetuk Jack bergurau.
"Jika aku adalah Jinny. Kau adalah Jun-nya."
"Apakah aku terlihat mirip dengan Syahrul Gunawan atau Indra Brugman?"
"Mirip dari sedotan jika di lihat dari kiri dan kanan," gurau Aprilia terbahak keras.
"Aku seorang casonova ningrat. Tentu saja, aku lebih tampan dari dua artis itu."
__ADS_1
Aprilia mengganggukan kepala,dia harus setuju akan hal itu. Casonova dan berdarah ningrat.
Jack akan berkata kembali. Namun, telunjuk Aprilia lebih dulu menempel pada bibir pria itu, dan selanjutnya dia bertutur kembali, setelah telunjuk Aprilia lepas dari bibir pria itu.
"Ada satu raga di isi dua jiwa. Seperti kau dan diriku. Kadang,akan menjadi orang lain. Kadang, menjadi diri sendiri. Oleh itu, harus cermat memilah yang mana milikku dan yang mana milik orang lain. Sekarang, zamannya kesurupan tanpa sadar."
"Kesurupan tanpa sadar?"
Aprilia menganggukkan kepala seperti anak anjing yang tidak bersalah telah menggigit jemari tuannya.
"Aku tidak mengerti," sanggah Jack.
"Tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah kau mengerti apa yang telah kau ucapkan padaku? Apakah itu untuk dirimu sendiri atau untuk diriku? Setiap orang menyebut dirinya perhatian pada orang lain. Namun, sesungguhnya dia lebih memperhatikan dirinya sendiri."
Aprilia menjatuhkan semua kerang jatuh ke pasir pantai. Jack akan turun berjongkok memungut kembali. Namun, Aprilia mencegah pria itu.
"Jangan dipungut lagi!"
Jack menatap heran.
"Jika kerang bisa berkata. Mungkin dia akan berteriak, jika kau telah membuangku, lupakan aku, dan jangan pungut lagi. Karena, aku hanyalah kerang. Kerang yang suka di permainkan ombak. Kerang yang tidak tahu diri. Bahkan mengijinkan kebohongan datang, agar dia tetap bahagia berada di pinggir pantai."
Jack membisu.
"Ada apa dengan dirimu? Mengapa setiap katamu seakan mematahkan dahan pohonku? Memotong sayapku? Memotong langkah kakiku? Apakah aku telah melukaimu?"
Aprilia tersenyum ironis, dia enggan menjawab.
Aprilia kembali berjalan. Menatap bulan yang selalu bergerak mengikutinya. Seakan, bulan bersedia mendengar seluruh isi hatinya, dan ikut bersedih seraya berkata.
Aku bahkan bersedia meminta ijin pada semesta menjadi bulan berdarah jika kau terluka.
"Lea!" seruan nama itu menghentikan langkah Aprilia. Kemudian, tangan tegap dingin itu menyentuh pundak Aprilia yang berkalungkan jaket Jack.
Aprilia berpaling. Mendongakkan wajahnya menatap kepala pria yang jauh lebih tinggi dari kepala miliknya.
"Ya, ada apa?"
"Toxic Honey, kau boleh meracun kumbang yang lain. Namun, jangan diriku. Kumohon, okay?
Aprilia melengkungkan senyumnya panjang, dan dia menggunakan telunjuknya menempel pada pipi pria itu, dan berkata, "Seorang kumbang hanya berani menghisap madu. Tanpa, berani menghisap racun. Jika, kau adalah kumbang seperti itu. Maka, kau adalah si pengecut yang bersembunyi."
Jack membisu diam. Seakan lidahnya tidak mampu bergerak untuk melontarkan satu katapun. Dia seakan telah kehabisan kata-kata, dan tak mampu berpaling sekedar membaca kamus rayuannya untuk menaklukkan wanita dengan racun yang mengalir dalam darahnya.
"Bertanggung jawab sesuai kepemilikan. Berani memakan madu. Berani menelan racun."
Jack tersenyum. Meraih pinggang Aprilia mendekat pada dirinya. Merangkul ketat wanita berpinggang ramping itu. Tangan lainnya menjatuhkan jaket itu ke pasir pantai.
"Apakah kau tau, aku mampu cemburu pada jaket? Karena, dia mampu menghangatkanmu dan menghalau angin malam merasuk dirimu."
Aprilia menatap panas dalam gelora api pria yang memayung wajahnya.
__ADS_1
"Jangankan jaket. Bahkan, aku rela menumbangkan setiap pria yang di sekitarmu. Membiarkan setiap pria itu terseret ombak dan mati tenggelam."
Aprilia mendelikkan bola matanya, dan menunjukkan keraguannya dengan sepasang mata yang menyipit sarkas, "Sebelum kau belajar merangkak untuk menjaga hati seorang wanita. Pastikan, sepasang lutut kaki-mu mampu berdiri menopang hatimu sendiri, dan tidak goyah berhadapan dengan wanita lain."
"Kau meremehkan kesetianku pada satu orang?" Jack tersulut emosi. Seakan dia sedang berburu. Namun, telah di permainkan mangsanya lebih dulu.
"Katakan dengan terus terang apakah kau mengejekku atau menyukaiku?"
"Aku tidak mengejek."
"Apakah kau menyukaiku?"
"Hanya Tuhan yang tahu."
"Kau suka membuat orang lain penasaran dengan apa yang kau simpan dalam otakmu, dan kau sebut hal itu rahasia."
"Otak?"
"Ingin rasanya aku mengambil pisau bedah, dan mengambil otak dengan seribu pintu pikiran aneh itu."
"...." Aprilia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Katakan padaku apakah kau menyukaiku?"
Aprilia mendorong pria itu. Dia ingin keluar perlahan dari belenggu iblis yang mengikat raga, dan yang ingin menggerogoti seluruh udara dalam rongga dadanya, menghisap darahnya hingga tuntas.
"Katakan padaku."
Jiwa asliku tidak akan menyukaimu, Tuan Jack. Jika hal itu terjadi, itu adalah jiwa yang kalian ciptakan. Karena, pada dasarnya dalam ragaku, bukan hanya ada dua jiwa. Melainkan, ada tiga jiwa sekaligus. Jiwa yang di ciptakan Oppa. Jiwa yang kau ciptakan. Lalu, jiwa yang di ciptakan oleh diriku sendiri,Jiwa merdeka, yang tidak tahu diri, tidak tahu terimakasih, dan yang di sebut si gila.
"Mengapa kau diam? Hanya menatapku tanpa berkata-kata padaku."
Hanya jiwa babu jelek. Sangat menyukaimu, Jack.
Aprilia berjingkit lebih tinggi. Membuat setiap jemari-jemari kakinya kuat tertanam tenggelam dalam pasir pantai. Lalu, tangannya mengalung pada leher pria itu. Menurunkan leher pria itu. Sedikit melengkung turun, mendekatkan payung wajah itu. Lalu, Bibir merah muda tipis itu menempel pada bibir Jack. Tempelan sesaat yang membuat kedua retina mata Jack membola besar. Seakan kejutan menjadi jawaban miliknya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jack : ih Author bisa aja deh bikin adegan cumi-cumi Mulu.
Author : Kok cumi? Aprilia kan madu.
Jack : Madu melebih gula.
Author : Jangan lupakan manisnya madu ataupun manisnya gula. Jika hilang kedua-duanya nanti hambar Lo.
Jack : siapkan garam aja Thor
Author : berendam di laut aja. Tenggelam dan nkkmati asinnya air laut.
Jack : 🙄
__ADS_1