
...Cinta tidak boleh memuja dua sosok. Karena cinta tidak akan pernah adil untuk berbagi dua. Tidak akan pernah memiliki takaran yang sama....
...—Eouny Jeje—...
..."Menangis terus, tidak ada gunanya? Kau selalu di hina. Kau miskin. Kau bahkan ditindas! Kapan kau bangun? Jika tidak memuja setan. Karena Tuhan bahkan terlihat membiarkan saja penderitaanmu terus berlanjut."...
...— Nenek Mayang—...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Pelet Janda Penggoda Episode 43...
Hari Senin Yang Cerah
Sesuai janji Ade pada Aprilia. Aprilia telah mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan kosmetik tersebut, menjadi staf bagian penjualan perusahaan.
Aprilia menatap pantulan dirinya di cermin. Berkat uang yang di buang Jack tempo lalu untuknya, dia mampu membeli setelan pakaian kerja yang sangat pantas pada tubuhnya.
Setelah berpakaian, Aprilia melanjutkan merias wajahnya. Karena dia kurang mahir berdandan. Tampilan riasan sepagi ini terlihat meriah. Bibir bewarna merah menyala, dengan riasan mata bewarna ungu terang, dan perona pipi bewarna oranye. Setelah dia merasa dandanan menor terlihat menarik, dia pun menyemprot minyak wangi dengan dominan bau melati yang menurutnya sangat akan menyamankan hidung setiap orang.
Setelah yakin dengan penampilannya, Aprilia keluar dari garis pintu kamar. Di saat yang bersamaan, Puspa terlihat keluar dari kamarnya pula. Wanita itu terlihat mengenakan setelan kemeja kerja yang terlihat elegan dalam satu tampilan. Aprilia sedikit terkejut.
Krek! Puspa menutup pintu kamarnya. Dia berputar kala merasakan ada yang lain di sekitarnya, dan tatapan matanya menemukan Aprilia terlihat mengenakan kemeja kerja. Dia sedikit terkejut awalnya. Namun ,terbahak selanjutnya. Lalu, dia menggelengkan kepalanya akan riasan yang di kenakan Aprilia.
"Kau akan pergi kemana? Dengan penampilan terlihat berdandan seperti banci."
Deg! Aprilia menelan amarahnya, dia mengepalkan tangan di belakang punggungnya. Dasar wanita ini, aku cantik seperti ini. Kau samakan seperti banci.
Puspa berjalan ke arah Aprilia. Berhenti menyisakan jarak selangkah, dan tangan Puspa menyentuh kerah kemeja Aprilia, dan memegang id card Aprilia yang tersemat di kemejanya.
"Bekerja di tempat yang sama?"
Aprilia menaikkan alisnya. Dia terlihat linglung sebentar, dan tatapan matanya jatuh pada id card milik Puspa. Perusahaan yang sama. Perusahaan Dandy dan Jack yang berkolaborasi. Tentu saja, hampir saja dia lupa. Wanita berwajah boneka berhati iblis ini, adalah simpanan sang pemilik perusahaan.
Aprilia menghela napas. Dia seakan baru menyadari siapa orang yang di belakang Puspa. Dua pria yang terhipnotis akan sosok Puspa.
"Kamu?"
Puspa mencibir dengan ujung bibirnya.
"Siapa yang mengijinkanmu bekerja di tempat yang sama denganku?"
Aprilia membisu.
"Kau babu jelek? Apakah aku ada mengijinkanmu?"
__ADS_1
Deg! Aprilia menggigit bibirnya.
"Hidup ini tidak boleh bekerja pada dua tuan. Jadi, harus memilih salah satu. Kau memilih id card ini atau aku?"
Aprilia ragu menjawab. Tatapan Puspa menjadi nyalang, "Baiklah. Jika kau pilih bekerja di luar rumahku. Tolong bawa seluruh pakaianmu. Aku tidak menginginkanmu di rumahku lagi!"
Aprilia akan menjawab, ingin memohon kesempatan. Namun, Puspa lebih dulu mendorong kasar Aprilia untuk kembali masuk ke kamarnya, dan dia melangkah ke lemari,dan menjatuhkan satu demi satu pakaian Aprilia. Aprilia bergetar sebentar. Tidak menyangka dia akan mendapatkan usiran sepagi ini.
"Urus semua dan bawa pergi!" Setelah mengatakan hal tersebut, Puspa melangkah pergi meninggalkan rumah, dengan sepatu yang menginjak lewat pakaian Aprilia.
Aprilia diam mematung sebentar, tanpa sadar air matanya jatuh pada pipinya. Setelah terbangun dari nelangsanya, Aprilia berjongkok memungut setiap potongan pakaian miliknya dan milik Dimas. Satu demi satu,dia meletakkan dalam kopernya.
Krettttt! Suara restleting terdengar merapat dan menyatu. Setelah berdiri menggeret kopernya. Aprilia bertahan sebentar, dan menyeka air matanya.
"Menangis terus, tidak ada gunanya? Kau selalu di hina. Kau miskin. Kau bahkan ditindas! Kapan kau bangun? Jika tidak memuja setan. Karena Tuhan bahkan terlihat membiarkan saja penderitaanmu terus berlanjut."
Deg! Aprilia terkejut terdengar suara seseorang yang serak dan terasa berhembus di sisi telinganya. Dia menoleh mencari sosok pemilik suara. Kosong. Hanya dirinya sendiri dalam kamar ini.
Aprilia bergindik. Segera menggeret kopernya pergi. Belum saja dia melewati garis pintu rumah Puspa. Satu kalimat mencegahnya lagi.
"Ajak aku bersamamu!"
Deg! Aprilia menelan ludahnya. Siapa yang akan dia ajak? Tanpa sadar pandangan Aprilia berpaling ke arah pintu kamar Puspa.
Deg! Jantung Aprilia berhenti berdetak sebentar. Dia menggosok-gosok telinganya. Sepasang matanya mengedar acak. Namun, tidak ada satu sosok pun di sekitarnya.
"Boneka Jerami?" Aprilia ragu sebentar. Namun, rasa irinya yang menggebu pada Puspa. Dia pun segera membulatkan hasratnya. Mengambil benda dukun milik Puspa. Agar wanita itu tidak memilki ritual pelet dua pria besar itu.
Kretttt! Pintu kamar Puspa terbuka. Dia pun segera mengambil boneka jerami, dan membawanya pergi bersamanya. Setelah itu, dia segera pergi ke perusahaan untuk bekerja.
Tiga Puluh Menit Kemudian
Aprilia telah mencapai ruang karyawan. Dia berjalan acuh terhadap semua mata yang menitip geli akan penampilannya. Namun, Aprilia tidak menyadari akan makna setiap mata itu. Dia malah berpikir sebaliknya.
Semua orang melihatku. Karena aku cantik.
Aprilia melenggang pergi, berdiri di depan lokernya. Dia pun meletakkan koper tepat berada di lokernya.
"Hei!" teguran itu membuat Aprilia segera menoleh ke belakang punggungnya, menatap sosok yang menyapanya.
Ade. Sosok hantu kepala yang terlihat cantik dan sexy dalam satu tampilan dengan kemeja putih yang ketat, dan warna bra hitamnya yang terlihat menembus kemeja tersebut. Aprilia berdecak dan menelan ludahnya. Aku yang wanita saja, bisa menyukai Ade, jika begini.
"Siapa yang merias wajahmu?"
"Aku sendiri."
__ADS_1
"Aku pikir Mak lampir di dalam rumahmu."
Aprilia terkekeh menepis pikiran Ade. Namun, setiap mimik Ade tetap terlihat terperangah akan riasan wajah Aprilia, "Kau bekerja atau mengikuti kontes?"
"Kontes?" Aprilia terlihat bingung sekaligus tersipu malu.Dia mengira Ade telah terpikat dalam satu tampilan Aprilia yang berbeda pagi hari ini.
"Ya Kontes kecantikan."— Ade mencubit dagu Aprilia untuk beberapa detik— "Kontes kecantikan waria."
"Waria?" Aprilia menarik napas. Ade adalah orang kedua menyebutnya seperti itu.
"Apakah dandanan ku sangat ?"
"Sangat indah. Sehingga bisa menjadi the most wanted transvestites."
"Apa itu?"
"Sosok banci yang paling di cari kaum mamalia."
"Mulutmu sangat kejam!"
"Aku hantu kepala. Tidak ada takut menyindir orang lain," bisik Ade.
Aprilia menelan pahit. Dia segera meraup wajahnya. Menyembunyikan, dan memutar tubuhnya menghadap lokernya. Dia malu akan dandanannya sendiri.
Ade menghela napas. Membuka lokernya yang bersebelahan dengan Aprilia. Dia pun mengambil make up remover miliknya, dan dia merekuh pundak Aprilia untuk berbalik padanya.
"Aku akan membantu memperbaiki riasan wajahmu kembali."
Aprilia menganggukan kepala,dan memuji," Terima kasih, kau hantu kepala yang baik."
Ade melotot, mencubit pinggang Aprilia, diapun membisik dengan marah, "Bisakah kau tidak menyebutku hantu kepala? Semua orang bisa menebak dan mengetahui identitasku. Apa kau ingin aku mati cepat?"
"Maaf."
"Ini hari pertama bekerja. Tidak seharusnya kau berdandan seperti ini lagi. Sangat norak!"
Aprilia hanya mengangguk mengerti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo
__ADS_1