
...Melepas maaf lebih sulit daripada menembakkan kebencian....
..._Eouny Jeje_...
...Apakah tubuh kotor itu memiliki mulut yang bersih? Mulutmu dan tubuhmu terlihat sama. Kotor dan tidak bisa di percayai....
..._Santi_...
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
Aprilia bangun perlahan. Raganya linglung sesaat akan punggung dingin pria itu. Tidak ada cara berbaikan kembali. Aprilia hanya putus asa. Menarik koper dan turun menyusuri tangga.
Krek! Krek!Krek! Bunyi koper di seret hingga ke lantai dasar. Aprilia berhenti pada satu titik ubin. Menoleh ke atas. Menatap kamar yang pintunya masih ternganga lebar. Mendesah kemudian. Tidak bisa kembali seperti dulu. Sadewa telah membencinya dan mengusirnya.
Geret. Aprilia menggeret kopernya kembali. Namun, kehadiran Santi kembali menunda kepergian.
"Kau tidak boleh meninggalkan rumah ini?"
Aprilia heran. Dia segera menyeka air matanya. Apalagi yang diinginkan wanita ini? Aprilia mendongakkan mata bulatnya, yang terlihat berkaca kasihan, "Bukankah aku pergi dari rumah ini adalah tujuanmu!"
Santi tersenyum dengan sudut bibirnya naik ke kiri dengan tapak kaki berat mendekati ubin keramik Aprilia. Tangannya di letakkan pada bahu Aprilia, "Penyelidikan terhadap seorang pembunuh itu belum selesai."
"Pembunuh?"
"Alasanmu membunuh anak suamiku, belum terungkap. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah, tanpa hukuman yang layak."
"Bukankah itu seharusnya tidak perlu di ungkit lagi! Karena, Mas Sadewa bahkan melepaskanku!"
Tangan Santi ikut menyeka air mata Aprilia, "Aku membela kesedihan orang yang sangat ku cintai. Hanya dia yang tersisa di sisiku. Sangatlah wajar. Jika, aku merobek dirimu pula."
Aprilia miris atas sikap Santi. Ingin rasanya Aprilia berteriak dengan membuka dosa yang di lakukan Sadewa pada Ratih, ibu Santi.
Pria yang kau bela. Pria yang kau cinta. Bahkan telah membunuh ibumu dengan perlahan. Apakah jika kau mengetahui hal ini? Akankah tetap mencintainya.
Aprilia merapatkan bibirnya.Bibirnya bergetar ingin mengeluarkan peluru. Namun, hati kecilnya menahan.
Tidak perlu terburu-buru membuang kartu bagus hanya untuk mengejutkannya.
__ADS_1
"Lalu, apa yang kau inginkan Mbak Santi?"
"Mbak?" Santi terlihat keberatan akan sebutan itu kembali.
"Nyonya Santi. Aku bukan saudara perempuanmu!" koreksi Santi.
Aprilia membuang napas. Jengah sekali menghadap seorang wanita bersikap singa di hadapannya. Mengaum setelah mendapatkan kelemahannya.
"Apa yang Nyonya Santi inginkan!"
Plok! Plok! Plok!
Santi bertepuk tangan. Dua pria bertubuh besar dan kekar datang. Aprilia mengerut tajam, firasatnya buruk akan kehadiran dua pria itu.
"Sekap dia pada kamar di belakang tangga. Jangan pernah biarkan dia kabur. Ataupun mengambil tali hanya untuk sekedar gantung diri karena aib telah terbongkar!"
Dua pria itu segera menyeret dan menyekap mulut Aprilia dan menyeretnya masuk ke dalam gudang. Lalu, dua pria itu ikut masuk hanya untuk sekedar berjaga dan mengawasi setiap gerik Aprilia.
Tersisa Santi di tengah ruangan rumah yang besar nan megah. Dia mengedarkan matanya melihat segala sesuatu miliknya akan kembali pada dirinya.Suaminya. Rumahnya. Dan sosok pelengkap kebahagian dalam rumahnya yang akan sebentar lagi datang.
Seorang anak akan hadir dalam perutku. Santi mengelus perut berlemak dan berlipat miliknya. Tatapan sendu dan bahagia membayangkan dirinya telah utuh menjadi seorang wanita untuk pria, mampu memberikan keturunan untuk suaminya.
"Mas Dewa." Snati menghampiri sisi ranjang.
Pria itu hanya merebahkan diri, dengan posisi miring. Matanya terpejam. Telinganya masih ammpu mendengar. Namun, dia sengaja membisu.
"Mas," lirih Santi dengan nada ikut terkoyak bersamanya. Dia pun menyalakan aroma terapi dengan ramuan aprodisiak pengantar tidur untuk mengalami mimpi basah.
"Jika kau lelah. Tidurlah. Biarkan tanganku mengelus punggungmu. Kau akan lebih nyenyak untuk tidur."
Santi mulai mengelus punggung pria itu perlahan dengan sangat lembut, seakan dia telah menenangkan seorang bayi yang rewel dalam pangkuan tangannya.
Sadewa pahit. Wanita yang pernah dia campakkan, bahkan datang membasuh lukanya. Untuk pertama kalinya, Sadewa mengutuk dirinya, yang telah melukai hati wanita nomor satu dalam rumah tangganya.
Aroma terapi terasa nyaman di hidung Sadewa perlahan mengantarnya tidur. Tidak menunggu untuk lama, dengkur halus terdengar kemudian. Santi lega. Lalu, segera keluar kamar dan mencari udara. Sedari tadi, dia terus menahan napas dalam ruangan, agar aroma aprodisiak itu tidak mempengaruhi dirinya. Kret! Santi menutup pintu perlahan. Segera, dia turun dengan langkah kaki tergopoh-gopoh untuk memeriksa tangkapannya tadi.
Setiba di pintu kamar di bawah tangga. Santi mengetok pintu perlahan. Kret! Seorang pria bertubuh besar dan kekar membuka pintu.
__ADS_1
"Nyonya," sapa pria itu ramah, walau wajahnya cukup bengis untuk menjadi seorang anjing jinak bagi orang kaya.
"Aku ingin melihatnya!"
Santi mengesampingkan tubuh pria kekar itu. Langkahnya lebar mendekati Aprilia yang meringkuk di sudut ruangan. Isak terdengar dari wajah terlungkup di atas lutut wanita itu.
"Kau masih menangis?"
Samar, Aprilia mendengar suara seorang penjajah dalam hidupnya. Namun, dia tidak berani mengangkat kepalanya sedikitpun.
"Mengapa masih menangis? Apakah kau cukup menderita dengan posisimu seperti ini. Aku dengar di saat kau pergi berpamit menemui anakmu. Kau tidak menemui anakmu. Kau sedang menjual dirimu. Berduaan dengan seorang pria kaya raya di room. Tinggal di apartemen dengan seorang pria muda."
Beberapa lembar foto jatuh ke lantai. Tepat di kaki Aprilia. Aprilia terkejut tanpa sengaja sepasang mata berkaca jatuh mengintip foto tersebut.
"Aku tidak melakukan apapun dengan mereka!" bantah Aprilia.
Santi terkekeh geli, "Apakah tubuh kotor itu memiliki mulut yang bersih? Mulutmu dan tubuhmu terlihat sama. Kotor dan tidak bisa di percayai."
Tertikam. Setiap kata Santi pandai menembak jantung Aprilia. Saat ini dia ingin mati saja. Wanita di depannya adalah pembunuh yang dingin.
Santi berbisik lagi, "Bagaimana jika kau hamil kembali. Namun, anak itu bukan milik suamiku. Kau tinggal di sini,dengan perut besar. Apakah itu menarik?"
Aprilia tercekat. Di saat itu Santi mundur. Blam! Pintu terbanting keras. Menyatu dengan kusennya. Aprilia sedikit mengangkat kepalanya untuk mengintip, dan dari celah tangannya dia mampu melihat dua pria besar dan kekar itu membuka setiap potongan pakaian yang melekat pada tubuh mereka.
Tidak! Aprilia membola nanar.
"Apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Aprilia kelu. Pandangannya mendadak suram akan setiap pakaian yang terlepas dari dua tubuh pria itu. Polos terlihat.
"Kami hanya memenuhi permintaan klien kami."
"Menjadikan dirimu sekotor-kotornya adalah tujuan kami."
Aprilia tercengang. Menggelengkan kepalannya, "Jangan memperkosa diriku!"
...꧁❤ Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
__ADS_1
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo