Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 118


__ADS_3

...Jangan menimbang dosa. Tidak perduli siapa yang berat— siapa yang ringan. Akan di hapus dosanya, jika bertaubat....


..._Eouny Jeje_...


...Tinju kiri ibarat dosaku. Tinju kanan adalah dosamu. Jika, segala sesuatu harus di hitung. Mari kita mengurut setiap apa yang telah kita perbuat....


..._Sadewa_...


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


Santi mengangkat wajahnya dari setiap ubin. Dia terlihat menyeka air matanya, dan mempertanyakan hal yang sama, "Apakah kau tidak meludah pada wajahku? Kau berselingkuh dan membawa seorang anak dalam perutnya."


Sadewa tersenyum miring, kebencianya yang dia pendam selama berbulan-bulan, akan dia tumpahkan segera.


"Aku tidak akan mengelak atas apa yang di sebut dosa milikku. Namun, boleh kah kita menimbangnya. Jika dosa itu harus di timbang."


Santi menyipitkan matanya, dan mendengus, "Dosamu sama besar dengan dosa milikku."


"Tinju kiri ibarat dosaku. Tinju kanan adalah dosamu. Jika, segala sesuatu harus di hitung. Mari kita mengurut setiap apa yang telah kita perbuat."


Sadewa berjongkok, memberikan dua tangan yang terkepal di hadapan Santi.


"Aku berselingkuh. Membawa wanitaku ke dalam rumah. Mengangkatnya dalam derajat. Karena, aku sangat mengharapkan seorang anak," ujar Sadewa. Kemudian, tangan kanan yang terkepal naik posisi lebih tinggi dari tangan kirinya.


"Kau berselingkuh. Mengandung anak orang lain."


Sadewa menurunkan tangan kanannya,  sejajar kembali dengan tangan kirinya, "Kita seimbang. Aku menipumu. Kau menipuku. Aku berselingkuh. Kau berselingkuh. Di titik yang sama, kita harus saling memaafkan."


Santi merasa lega, dan berkata, "Ya, kita impas."


"Namun, hal itu belum selesai."


Sadewa menaikkan posisi tinju tangan  kirinya melebihi tinggi tinju tangan kanannya, sehingga terlihat dosa miliknya lah yang lebih ringan.


"Aku tidak menyembunyikan dosaku. Namun, kau menyembunyikan dosamu. Hendak memalsukan siapa sang ayah dari janinmu."


Sadewa melotot tajam,dan mendengus lagi, "Di tambah lagi kau menggila dengan beberapa pria lain. Bukan hanya satu."


Santi terkekeh, "Kaupun memiliki selera yang sama. Hobi menggila dengan banyak wanita."


Sadewa tersenyum, "Namun, jangan lupa. Bukankah kita telah berada di timbangan yang sama sebelumnya. Ketika, kita berada di titik yang sama. Pernahkah kau melihatku pergi kepada wanita lain, setelah kematian Aprilia? Pernahkah aku menjadi jahat untukmu dan untuk sosok kecil yang kau bawa dalam perutmu? Anak itu yang kupikir anakku."


Sadewa nanar. Sepasang matanya merah.


Santi terdiam. Dia kehilangan setiap kata atas timbangan di depan matanya.


"Jadi jelas. Siapa yang menambahkan dosa baru dalam piringnya. Itu adalah kau!"


Sadewa bangkit berdiri. Bibir pria itu melengkung ke bawah. Santi tidak mampu menampik arogansi pria itu. Hanya bunyi gemerutuk terdengar, dengan arah mata yang terus melihat alas kaki itu makin menjauh, hilang kemudian.


"Apa yang harus ku lakukan? Ketika, orang yang kau cintai, akan bersikap dingin dan membencimu. Hanya karena sebuah kecerobohan atas rasa sakit yang harus ku bayar dengan di campakkan."

__ADS_1


Santi bangkit. Kedua lututnya terasa kebas. Kaku. Sulit di angkat. Bahkan dia harus berjuang ekstra untuk berdiri.


"Untukmu! Aku harus kuat."


Santi mulai berjalan. Menatap tangga yang menjulang tinggi. Kamarnya berada di lantai atas. Dengan perut yang telah begitu besar. Membuat dirinya makin sulit menaiki setiap anak tangga tanpa bantuan tangan Sadewa.


Tiba-tiba dia rindu akan uluran tangan suaminya. Jatuh. Dia ingin jatuh menjerit dan menangis saat ini.


Santi berjalan kian mendekat anak tangga pertama. Untuk pertama kalinya suka telah menjadi lara. Dia teringat akan setiap langkah yang jalan beriringan dengan Sadewa. Pria itu akan menggandeng tangannya dengan hati-hati mengajak langkah Santi menuruni setiap anak tangga.


Santi menahan napasnya. Membelai setiap kenangan manis. Kini, hal itu tidak akan pernah terulang kembali. Dia pun berjalan melewati tangga. Menuju kamar alm.Ratih, ibunya. Di sanalah, tempat dia ingin pulang.


Kret! Kamar itu terlihat gelap. Pengap. Klek! Santi menyalakan lampu. Cahaya kuning menyala memenuhi kamar. Lalu, pandangannya jatuh pada photo ibunya.


"Mengapa deritaku datang? Seharusnya aku mendengarmu. Bercerai saja. Agar lepas dari sakit hati dan derita panjang."


Santi mengangkat telapak kakinya yang berat melangkah. Dia masuk makin ke dalam, dengan daun pintu yang perlahan kembali ke kusen, Blam!


Di sudut ruang tamu. Di mana sosok bayangan itu terlewati begitu saja oleh Santi. Terlihat berjalan, menaiki tangga seraya mengangkat dagunya tinggi, dan bibirnya melengkung sempurna berkata pada dirinya sendiri, "Aku teringat Lonely Sailing, satu lagu yang cocok  untukmu, Santi."


Air mata di daun yang jatuh


떨어진 나뭇잎 위로 눈물이


Haruskah aku melihat kembali padamu?


행여라도 그대 뒤돌아볼까


헛된 바램인 걸까 바람은 더 거세어


Aku sendirian di bukit yang penuh badai itu


폭풍우 몰아치는 그 언덕에 난 홀로 있네


Hatiku tercabik-cabik dan aku tidak tahan


내 맘은 찢겨져 버틸 수가 없네


Kegelapan yang gelap gulita mencoba menelanku


칠흑 같은 어둠이 날 삼키려 해


Ah ah ah ah ah ah ah


아아아 아아아아아아 우우


Lirik itu berakhir terucap pada langkah kaki jenjang yang menginjak lantai kedua rumah tersebut. Aprilia melangkah lebih jauh lagi menuju kamar Sadewa.


Kret! Pintu itu berderit. Pria itu mendongak bangun. Segera berdiri. Berjalan kian mendekat.


Blam! Pintu menyatu dengan kusennya.

__ADS_1


Sadewa segera memeluk Aprilia. Tangannya melingkar pada perut wanita itu. Dagunya jatuh bertumpu pada ufuk kepala wanita itu.


"Dia telah mendapatkan hukumannya."


"Kapan kau akan mengirimkan dia ke ruang bawah tanah? Penjarakan dia! Aku tidak ingin melihat wajahnya!"


Aprilia menahan napas, dan melanjutkan kalimatnya lagi, "Aku tidak ingin seatap dengannya. Ceraikan dia untukku."


"...."


Sadewa menggerakkan bola matanya. Tidak pernah terpikir untuk bercerai dengan Santi.


"Jika kau tidak bercerai. Jangan harap, kau bisa menikahi diriku lagi."


"Baik!" ujar Sadewa menyanggupi.


"Jadikan aku satu-satunya wanitamu!"


"Tentu!"


Aprilia membiarkan tubuhnya di bopong Sadewa dan naik merangkak di atas ranjang mewah yang terlihat antik.


"Aku sudah lama. Tidak menikmati ranjang mewahmu ini."


Sadewa memeluknya, dan hanya berbisik, "Tidurlah!"


"Oppa, bantu aku!"


"Apa itu?"


"Balaskan dendamku pada mantan suamiku."


"Siap ratuku! aku akan mengikutimu!"


Aprilia dan Sadewa memejamkan matanya bersamaan. Dalam hitungan menit terlelap begitu cepat. Makin bulan merangkak naik ke puncak dan berada di tengah cakrawala. Dengkur halus mereka terdengar merdu dan ritmanya sama.


Tanpa mereka sadari. Langkah senyap kaki masuk perlahan membuka pintu. Derit pintu itu terdengar halus, tanpa menjerit.


Melihat dua sosok kakak beradik tidur di ranjang sama. Membuat sang penyelinap berdiam di ambang pintu. Jantungnya terpanah. Berhenti berdetak. Adegan dua sosok kakak beradik itu terlihat sangat intim. Layaknya, suami isteri.


Sang pria memeluk erat wanitanya, dan bibir pria itu menempel pada kening sang wanita.


Ini bukan kakak adik biasa, jerit Santi.


Terpaku di posisinya. Santi mengepalkan tinju akan adegan nyata di depannya. Dia ingin menjerit. Menyingkirkan Aprilia. Merengkuh raga suaminya dalam dekapannya. Namun, hal itu kembali dia urungkan.


Aku telah melakukan hal yang sama. Tidak mampu menyebut aib orang lain itu salah. Jikapun, aib milikku itu ada karena ulahku yang salah.


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


...Tepuk Tangan dulu si babu jelek dah pintar nyanyi korea, dan sebutannya sekarang Ratu Drama. Mentang-mentang muka mirip Barbie. kelakuan Annabelle ala-ala Ratu sadis, makin di asah tajam. Munafik makin panjang deh Aprilia....

__ADS_1


__ADS_2