
...Cinta itu merah muda. Mampu romantis hanya untuknya....
...—Eouny Jeje—...
...Luka itu nikmat setelah kau tahu, Luka itu mengajarkanmu menjadi lebih kuat....
...—Ade—...
...꧁❤•༆PJP 73༆•❤꧂...
"Dan aku pula di sini! yang akan membuat setiap pria bertekuk menyembahmu." suara asing terdengar tiba-tiba hadir dalam kamar tersebut.
Aprilia dan Ade menoleh ke asal suara yang datang dari sebuah cermin. Tampak Nenek tersenyum dengan kuku runcing yang menempel pada bibirnya. Wajahnya meringis dengan gerak-gerik menggoda.
Aprilia tersenyum tipis. Dia cukup belum mampu beradaptasi dengan Nenek Mayang yang begitu sadis dan menyukai memakan janin. Jika di hitung, Nenek Mayang telah mencabik dua janin dalam perutnya. Aprilia bergindik. Di saat itu pula dia teringat akan apa yang harus dia minta.
"Nenek, kau sudah menerima tumbal kedua? Apakah khasiat yang ku dapatkan?"
Nenek Mayang melompat keluar dari cermin, "Nenek tidak pernah lupa memberi barang atas harga yang sudah di bayar."
"Apa yang kau berikan?"
"Milikmu mampu menyembuhkan luka borok manapun. Bahkan penyakit kelamin yang ganas, akan mampu terhisap dan punah begitu saja. Milikmu akan selalu sehat, wangi, nyaman,dan tidak perlu takut penyakit menular?"
"...."
"Kau tidak perlu khawatir akan penyakit manapun. Penyakit raja singa, spilis, ataupun borok. Itu tidak akan pernah terjadi. Kau bebas menikmati percintaanmu tanpa perlu takut penyakit menular!"
"Apakah itu artinya? Aku memiliki kekebalan menolak penyakit kelamin."
"Betul. Kau sama seperti diriku. Hanya saja, setiap malam Jumat kau di larang bercinta dengan seorang pria. Itu adalah syarat pelet Nenek Mayang."
Aprilia menggelengkan kepala, "Bukankah itu malam yang di anjurkan untuk pasutri!"
Nenek Mayang mendekat, "Tetapi dalam ilmu serapanku, kau tidak di ijinkan untuk melakukan hal itu pada setiap malam Jumat!"
Aprilia mengangguk mengerti.
"Apakah kau ingin satu aji baru lagi dariku?"
"Apa itu?" Aprilia terlihat antusias.
"Berikan lidahmu! Maka, setiap orang yang mendengar kau berbicara akan sangat terpikat karena tutur katamu yang halus, lembut, dan manis."
Aprilia tidak lama untuk berpikir. Dia menjulurkan lidahnya, dan memasukannya kembali, "Aku ingin. Tetapi?"
"Tidak perlu berpikir panjang. Kau hanya bisa meminta setiap satu kali saja di saat bulan purnama."
Aprilia melirik Ade.
"Bersekutu dengan iblis. Itu sakit,"jawab Ade.
"Kau meninggalkan iblis, akan lebih menderita," timpal Nenek Mayang.
"Kami seratus kali lebih kejam daripada Nana sang empedu itu,"tambah Ade lagi dan tersenyum pada Nenek Mayang.
Aprilia menelan pahit ludahnya.
Sudah terlanjur bersekutu, yah ikuti saja derasnya air pergi.
__ADS_1
"Baiklah. Potonglah lidahku."
"Nanti malam di saat bulan itu tinggi."
Aprilia menahan napasnya, "Apakah akan sangat sakit daripada mata tercongkel?"
Nenek Mayang menganggukan kepala,"Setiap urat lidahmu akan di tarik perlahan lebih dulu, di gores seakan sebuah silet mengiris daging-daging merah itu."
Aprilia bergindik ngeri membayangkan, "Apa perlu anestesi? Sangat mengerikan daripada mencongkel mata!"
"Tidak ada anestesi. Nikmati saja. Luka itu nikmat setelah kau tahu, Luka itu mengajarkanmu menjadi lebih kuat," jawab Ade terlihat dengan mimik serius dan kejam.
Beep! Terdengar bunyi ponsel. Aprilia mengalihkan perhatiannya pada ponsel miliknya yang sedang mengisi daya di atas nakas.
Ade yang mengerti arah pandangan itu, segera mengambil ponsel dan memberikannya pada Aprilia.
Aprilia menahan napas. Ada 50 panggilan tidak terjawab. 100 pesan. Semua pemanggil dan pengirim pesan adalah orang yang sama. Sadewa.
"Siapa?"
"Suami baruku!"
"Dia terlihat sangat khwatir. Sepanjang malam ponselmu selalu berisik."
Aprilia terkekeh dan melarikan sorot matanya pada Nenek Mayang yang terlihat bangga akan hasil yang dia berikan pada Aprilia.
"Semua berkat Nenek Mayang. Pria gila itu bertekuk lutut padaku."
Plok!plok! Ade bertepuk tangan keras dan Nenek Mayang hilang ekmudian dan hanya meninggalkan pesan, "Sampai jumpa nanti malam,Aprilia. Dengan senang hati, aku menikmati daging merah dalam mulutmu."
"Makanlah lebih dulu. Sebelum kau tidak bisa menikmati makan lagi, selama proses ilmu serapan Nenek Mayang."
Aprilia menjilat bibirnya. Dia segera melahap nasi goreng dan meneguk susu hangat yang di suguhkan Ade.
Tiga puluh menit kemudian, sederet makanan telah tiba dengan berbagai jenis masakan dan varian.
"Kau tidak makan? ini sangat gurih!" seru Aprilia dengan wajah menikmati makanan penuh cita rasa tersebut.
"Kuyang tidak bisa merasakan apapun. Percuma kau berkata gurih, manis,asin."
"Lalu,apa yang kau rasa ketika memakan sesuatu."
"Hanya hambar!"
"Jadi yang memiliki rasa dan aroma itu hanya darah."
Ade menganggukkan kepalanya.
"Kau makanlah lebih dulu. Aku bersiap pergi ke kantor!"
"Kau masih bekerja tempat Dandy!"
"Iya. Pria botak itu terus mengejarku." Ade memilah pakaian kerjanya,dan segera mengenakannya.
"Semoga sukses memeluk Dandy." Aprilia mengerut, "kau tidak mandi?"
"Ke kantor tidak perlu mandi. Lagipula kami Kuyang abadi, tidak memiliki bau. Kami hanya akan berbau busuk saat kepala ini terlepas dari tubuhnya."
Aprilia enggan bertanya lagi. Rasa penasarannya tergantikan dengan cita rasa lidahnya. Dia menikmati setiap makana dan menghabiskan dengan cepat.
__ADS_1
Beep! Ponsel Aprilia kembali berdering.
Aprilia mengecap saos dari telunjuk tangannya. Setelah habis terkecap, dia mengangkat panggilan.
"Ya mas!"
"Kau dimana saja? Kau membuatku khawatir!" seru Sadewa di seberang sana.
Aprilia mengatur napasnya, "Mas, Dimas sedang sakit. Dia jatuh demam."
"Apakah dia jauh lebih baik?"
"Iya, mas. Sebentar lagi aku akan pulang kok."
"Aku sangat merindukanmu, sayang."
"Aku juga. Sangat merindukanmu."
"Bagaimana anak kita dalam perutmu? Apakah dia baik-baik saja."
Aprilia kaku sebentar. Namun, dia berpikir tidak ada jalan lain selain membohongi pria itu lagi.
"Dia baik mas. Tenang saja aku telah merawatnya dengan baik."
"Segera pulang!"
"Baik, mas."
Tuts! Panggilan di akhiri.
Aprilia melemparkan ponselnya sembarang ke atas kasur. Wajahnya cukup cerah dan merah karena aliran darah yang cukup. Saat ini, setelah makan begitu banyak, dia memiliki tenaga yang lebih banyak.
Aprilia bangkit dari sisi ranjang, dan ikut mengantar Ade keluar dari gedung apartemen.
"Berhati-hati menyetir mobil Aswin."
"Tentu saja."
Setelah mobil yang di kendarai Ade melintas pergi. Aprilia bersiap kembali ke gedung apartemen. Baru saja dia berjalan. Sebuah mobil abu-abu terlihat melaju masuk.
Drittt! Bunyi rem terdengar bederit keras.
"Maaf!" Seorang pria muda tampak keluar dari mobil, "Tante, saya bantu berdiri yah."
Aprilia menelan ludahnya. Pria yang hampir menabraknya ternyata adalah pria muda yang tampan dan fisik tubuh atletis yan menggoda.
"Terimakasih."
Aprilia menerima uluran tangan dan berdiri.
"Aku akan mengantar Tante ke kamar apartemen Tante."
"Boleh!"
Setelah menepikan mobilnya. Pria muda itu memapah Aprilia masuk mencapai gedung apartemen, dan mengantarkan hingga ke kamar apartemen.
...꧁❤•༆ PJP 73༆•❤꧂...
Kasih masukan donk, cocoknya Brondong kejar Aprilia atau kejar Ade? makasih ☘️
__ADS_1