Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 127


__ADS_3

...Pria yang mencintaimu. Tidak akan pernah tega mencelakaimu. Walau, hanya menarik satu helai rambut saja, dia tidak akan mampu....


..._Eouny Jeje_...


...Ketahuilah. Aku tidak akan pernah terbakar cemburu jika itu bisnis. Namun, jika itu cinta. Aku akan menjadi gunung Merapi memuntahkan larva panas. Bukan untuk menghancurkan satu orang. Namun, aku akan menghancurkan bumi. Apa kau mengerti?...


..._Sadewa_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sadewa terlihat mengangkat satu alisnya. Dia terlihat tidak perduli pada setiap kata yang terlontar oleh bibir merah muda itu.


Sadewa berjalan mendekat dengan aura gunung es yang membuat Aprilia menggigil takut. Namun, Aprilia segera menepis rasa takutnya. Dia telah mengenal pria ini luar dalamnya. Pria ini, tidak akan pernah menyakitinya.


"Siapa pria yang kau temui di kolam renang?"


Aprilia menghela napas. Dia telah tuli. Dia hanya menangkap setiap gurat nadi yang timbul ke permukaan wajah gelap pria itu.


"Ketahuilah. Aku tidak akan pernah terbakar cemburu jika itu bisnis. Namun, jika itu cinta. Aku akan menjadi gunung Merapi memuntahkan larva panas. Bukan untuk menghancurkan satu orang. Namun, aku akan menghancurkan bumi. Apa kau mengerti? "


Sadewa meletakkan telapak tangannya pada kepala Aprilia. Sepasang matanya terlihat menyelidiki wanita di depannya.


Aprilia hanya menelan ludah. Dia tuli. Bagaimana dia mengerti amarah pria ini? Diapun tersenyum selebar mungkin. Sekedar, terlihat konyol agar menurunkan emosi pria di hadapannya.


Sadewa melunak. Tiba-tiba saja tangan pria itu mengelus rambutnya, dan ujung tangan lainnya menyelusuri rahang pipinya, dan berakhir mencubit dagunya. Mengangkat dagu itu ke atas.


"Kau sudah menjual keperawanamu?"


Aprilia mengerjapkan matanya. Dia telah tuli. Hanya saja, sepasang mata pria itu terlihat bernuansa merah jambu. Hasrat yang tidak boleh di tolak lagi.


"Kau tidak boleh menolakku lagi."


Sadewa mendorong Aprilia ke atas kasur. Meletakkan wanitanya yang terlihat kosong terlentang di bawah tubuhnya kemudian.


"Jangan melakukan apapun. Aku masih menginginkan keperawananku."


Sadewa mengerutkan keningnya, "Kau tidak menjualnya? Aku pikir 70:30 adalah hasil jual beli."


Aprilia menahan napas. Meletakkan tangannya lurus pada dada Sadewa, agar memberi jarak di antara mereka.


"Jangan melakukan itu!" cegat Aprilia.


"Ku mohon," ujar Aprilia terdengar mengemis kemudian.


Sadewa tersenyum aneh dan berbisik, "Aku sudah terlanjur meminum obat kuat. Bagaimana aku bisa menundanya lagi?"

__ADS_1


Aprilia menahan napas. Satu tangannya meraba-raba mencari sesuatu. Tidak lama kemudian, dia menemukan vas bunga. Dia menggengam leher vas bunga.


"Jangan lakukan itu!"


Sadewa terlihat bersikap acuh tidak acuh. Dia menurunkan seluruh raganya menindih wanita di bawah tubuhnya, "Kau tidak bisa menolak!"


"Tidak!" Aprilia menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Di saat itu, Sadewa tiba-tiba menyadari sesuatu yang terlihat aneh. Kedua tangannya segera menahan pergerakan kepala Aprilia. Tangan itu kuat bertengger mencengkram rahang Aprilia.


"Telingamu? Dimana telingamu?"


Sadewa terlihat murka mengejutkan jantung Aprilia. Aprilia pikir, Sadewa murka karena Aprilia mempertahankan keperawanannya.


Aprilia membola. Hanya kegugupan yang melanda seluruh rongga dadanya. Tangan kecilnya mencengkram kuat leher angsa vas bunga. Mengayun di belakang kepala pria itu, dan di tabrakan kemudian.


Prankk!


Vas bunga pecah. 


Sadewa mengernyitkan keningnya. Bibirnya berkedut merasa nyeri di kepalanya. Sepasang matanya terasa berkunang.


"Kau memukul kepalaku?"


Sadewa terlihat masih memiliki kesadaran tinggi dan sepasang matanya berkilat akan marah, "Apakah kau monster?"


Aprilia gagap. Melihat raga pria di depannya. Tidak mampu di gerakkan. Sorot mata pria itu tidak kunjung redup.


"Ada apa dengan telingamu?" Sadewa bertanya dengan nada rintih. Khawatir yang amat dalam, ada terendam dalam setiap katanya.


Aprilia diam membeku. Perlahan dia menyadari mimik pria di atas tubuhnya itu mempertanyakan telinganya. Kala, kedua tangan pria itu berhenti pada posisi telinganya.


"Nenek Mayang datanglah!" teriak Aprilia.


Sadewa mengangkat pupil matanya. Seakan heran, mengapa Aprilia meminta seorang nenek datang.


Swossh!


Angin terdengar berisik masuk. Setiap tingkap jendela bergetar, dan suara Nenek Mayang terdengar sangat dekat di telinga Sadewa.


"Aku datang anak gadisku!"


Sadewa menoleh ke asal suara. Dia mampu mendengar. Namun, tidak mampu melihat sosok yang datang. Suara serak itu, mampu membuat seluruh raganya bergetar.


Aprilia menyadari kehadiran Nenek Mayang, segera memerintah lagi,"Buat dia amnesia!"


Nenek Mayang mengangkat tangannya. Menyentil kening pria itu. Lalu, pria itu jatuh dalam kegelapan. Seakan terbius obat tidur terbaik. Sekejap, tubuh pria itu jatuh tertidur ke sisi Aprilia.

__ADS_1


Aprlia mencari seluruh udaranya. Rasa sesak seakan tersingkir cepat. Diapun menatap pada Nenek Mayang, dan bertanya, "Apakah dia tidak akan mengingat kejadian hari ini lagi?"


Nenek Mayang menganggukkan kepala.


"Mungkin dia akan mengira aku adalah monster. Karena, aku tidak memiliki telinga."


Nenek Mayang hanya mencibirkan bibirnya dan mengolok dalam hatinya.


Kau memang monster didikanku, Aprilia. Telinga jasmanimu akan tumbuh dengan sempurna. Namun, kau tidak menyadari telinga nuranimu, telah tumpul. Tuli selamanya.


Aprilia mendekat pada Nenek Mayang, dia duduk menggengam tangan renta wanita tua itu, dan dia tersenyum, "Eoma, kau adalah ibu terbaikku."


Nenek Mayang memukul dada kirinya, bangga mendapatkan pujian Aprilia.


"Aku tau aku telah berhutang karena aku telah menyelamatkanku hari ini. Aku telah menyiapkan persembahan ku hari ini."


Nenek Mayang melebarkan garis senyum melingkar penuh, dan umpannya telah mampu membuat Aprilia bersandar dan mengantarkan imbalan tanpa dia minta.


Bagus! Sekarang kau adalah budakku. Yang akan bergantungan hidup atas diriku. Kini, kau memberikan segalanya untukku. Kau mengantarkan makanan untukku, tanpa aku harus meminta.


Nenek Mayang memunculkan tablet di dalam tangannya.


"Berhubung kau tuli. Terpaksa aku mengandalkan ponsel tab terbaru, hanya aku dan Barack Obama yang memiliki di dunia!" kekeh Nenek Mayang dan menulis beberapa kata untuk Aprilia pada layar pesannya.


Terimakasih anak gadisku. Kau ingin berikan aku apa?


Aprilia mengangkat kedua alisnya. Dia belum memikirkan apa yang akan dia berikan. Namun, tiba-tiba dia teringat akan sosok Gusti, mantan suaminya.


"Aku akan memberikan janin."


Nenek Mayang mengangkat satu alisnya, dan menulis kembali pada layar pesan.


Mempersembahkan harus memiliki persetujuan sang pemilik garis keturunan. Ayah atau ibu dari sang janin.


"Aku dengar istri dari mantan suamiku, sedang mengandung. Aku akan membuat Gusti mempersembahkan janin tersebut untukmu."


Mendengar sosok janin yang akan di persembahkan. Nenek Mayang melompat bahagia, dan memeluk Aprilia.


"Anak gadisku. Aku sebagai ibumu tidak akan pernah mengecewakanmu. Bahkan, kala perang dunia ketiga, keempat, dan keseratus, aku akan menjatuhkan setiap kepala orang yang berani menyakitimu," ujar Nenek Mayang yang hilang kemudian.


"Terimakasih, Eoma."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author kalah dengan Nenek Mayang. Hape Author cuma merk China dan itu kentang 🙌 Meepkun aku ... Hape aku Kenteng 🙌

__ADS_1


Duh banyak banget pelindung Si Janda Aprilia. Author jadi iri , tapi rasa takutnya lebih banyak sih. Posesif semua 🥺


Author ketemu mahluk posesif. Langsung sembunyi aja. Cuek tak suka. Posesif tak suka juga. Seimbang aja yah jadi pria. Sesuaikan kadar agar membuat nyaman.


__ADS_2