Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 161


__ADS_3

...Pria perisai untuk wanitanya. Bukan wanita yang menjadi sarung besi untuk prianya....


..._Eouny Jeje_...


...Segala sesuatu tentang masalalumu telah aku timpa. Bahkan, hantu akan kebingungan mengenal siapa kau dan siapa aku....


..._Jack_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jack menoleh pada Puspa.


Kau saja yang di rasuki hantu itu, Nana. Kau tanpa hantu dalam raga saja sudah sangat menyeramkan. Apalagi berhantu!


Jack menghela napas. Menginjak pedal gas. Menuju rumah yang dia huni bersama Puspa.


Dalam tiga puluh menit. Mereka telah mencapai kediaman mereka. Puspa lebih dulu turun di awal. Di ikuti Jack yang mengikuti wanita itu memasuki kamar utama.


Kedua wajah pasangan itu terlihat merengut. Seakan mengaduk pikiran yang membuat masing-masing terlihat gelisah.


"Jack," sapa Puspa setelah duduk di pinggir ranjang.


Jack yang baru tiba di kamar. Melewati garis pintu, duduk di sisi wanita itu, dan bertanya, "Ada apa?"


"Aku rasa jika hantu itu mengenalmu. Aku rasa dia bertujuan menyakiti kita."


"Sudah. Jangan membuat diriku berandai-andai hal yang terdengar seperti sesuatu ajaib tapi aneh. Kita harus sebut hantu itu tidak ada."


"Lalu, mengapa nama lawasmu di sebut?"


"Ada kemungkinan. Dia mengenalku dengan cara menyelidiki kehidupanku."


"Apa tujuannya?" Puspa berpaling sebentar, "Jangan sebut seperti cerita novel, penguntit yang menyukai-mu."


Jack tersenyum sarkas, "Jika demikian sangat menarik. Jika sebaliknya, hal itu membuatku sangat penasaran."


Diam-diam Jack menjadi gelisah. Masalalu? Masa yang telah lewat saat itu.


Tina.


Jack bergindik akan satu nama yang tiba-tiba merasuki pikirannya. Dia  menghela napas. Mengusir pemikirannya.


Puspa menjadi panik, untuk pertama kalinya Jack terlihat beraut gusar, dia menatap pada Jack. Seakan wanita berhantu, kehadirannya sangat mengancam kedudukannya.


Wanita itu misterius. Namun, aura tajam membius menakutkan. Dia bahkan terlihat mudah merebut Jack dariku. Untuk pertama kalinya, aku merasa tidak aman.


"Apakah dia juga menyelidikiku?"


Jack mengolok seakan dia menatap Lea telah berdiri di hadapannya dengan seribu topeng identitas miliknya. Dia menoleh kembali pada Puspa. Dia menggenggam tangan Puspa.


"Segala sesuatu tentang masalalumu telah aku timpa. Bahkan, hantu akan kebingungan mengenal siapa kau dan siapa aku."


Puspa mengadahkan sepasang matanya ke langit-langit kamar. Keraguannya menjadi sirna. Namun, tetap saja kemungkinan menjadi boomerang, itu tetap ada.


Makin tersembunyi. Makin menakutkan rahasia itu. Karena, ada alasan kuat untuk bermain petak umpat. Hide and seek.


"Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mencari apapun tentang dia. Agar milikku tertutupi sebelum dia membongkarnya."


Jack menoleh. Sepasang matanya sarkas.


Dup! Dup! Dup!

__ADS_1


Degup jantung Jack berdegup sangat cepat. Untuk pertama kalinya, dia bertemu seorang wanita yang harus dia waspadai.


Siapa dia?


Jack mengangkat pandangannya pada pipi wanita di sebelahnya. Memar di wajah itu, jelas bukan tamparan manusia biasa.


Apa aku harus percaya? Bahwa kekuatannya berasal dari  kemampuan karateka waktu SD. Bisa membuat memar wajah Nana seperti ini. Konyol! Wanita itu konyol. Tangannya besi. Hal yang paling menarik adalah siapa dia sebenarnya? Randi oh Randi! Nama yang telah aku buang sejak lama. Mengapa di ungkit lagi?


Rasa penasaran dan ketertarikan makin menggunung. Dia bangkit berdiri, bersiap keluar dari kamar.


"Kau akan pergi kemana?"


"Ingin menelepon seseorang."


Jack berlalu. Dia berjalan menuju balkon rumahnya. Sepasang mata elangnya tajam menatap langit malam dengan banyak bintang. Bulan terlihat menjadi teman bicaranya.


Kau menarik sekaligus membuat bergindik.


"Aku akan meneleponnya."


Jack merogoh ponselnya kembali. Menekan panggilan hijau pada kontak. Lea—My Wish.


Tidak menuggu lama. Panggilan tersambung.


"Kau dimana?" Pertanyaan yang datang mengejutkan Tina.


"Taman," sahut Tina di seberang sana.


"Ini sudah begitu malam," protes Jack.


"Baru menuju jam 11 malam," sahut Tina kembali. Dia hanya mengedipkan mata melihat seorang wanita yang menghias kukunya dengan raut setengah mengantuk.


"Lea, kau sedang apa?"


"Aku sedang meminta seseorang mengecat kuku milikku."


"Apa kau punya waktu bertemu?"


Tina memiringkan bibirnya.


"Aku tidak memiliki waktu saat ini. Randi, aku sedang sangat sibuk."


"Kamu?" Napas Jack terlihat tertahan untuk beberapa detik. Nama Randi di lontarkan begitu mudah, dan itu terdengar sangat menyindir dirinya.


Tina menurunkan ponselnya dari daun telinganya. Dia tersenyum geli pada layar ponselnya.


Tuts! Tina menekan tombol mengakhiri panggilan.


Tina kembali menatap setiap kukunya yang telah di keringkan. Setiap jemari kukunya berhiaskan mawar merah beralaskan latar hitam Dove.


"Terimakasih," —Tina mengarahkan pandangannya pada label nama kaos karyawan menicure pedicure — "Anjanie."


Tina mengeluarkan satu lembar uang tips untuk wanita yang menghias kuku cantiknya.


"Terimakasih."


"Kembali," sahut Tina bangun dari kursinya.


Wanita bernama Anjanie tersenyum dan menerima uang tips kemudian.


Tina keluar dari tenda Stan pengecatan kuku. Kini, dia melangkah menuju stan pujasera. Dia melangkah ke salah satu tenda terbuka. Menyediakan berbagai varian Empek-empek Ny. Kamto.

__ADS_1


Tina melangkah masuk. Duduk di salah satu kursi. Memesan. Dalam hitungan menit. Empek-empek telah tiba di hadapannya. Dia memotong setiap irisan daging empek-empek, dan menjatuhkan kuah dari botol fiber.


Satu irisan masuk ke dalam mulut Tina. Dia mengunyah perlahan. Seakan seluruh rongga mulutnya telah menikmati cita rasa empek-empek dalam mulutnya. Namun, lidahnya tak mampu merasakan hal itu lagi.


"Rasanya tawar sekali."


Tina menghela napas.


"Lidah hantu tidak mampu merasakan apapun lagi. Aku telah mati. Segala inderaku ikut mati. Bahkan perasaanku ikut menumpul."


Tina bangkit berdiri meninggalkan tenda. Dia meletakkan satu lembar uang di atas meja. Lalu, dia kembali menuju tenda makanan lainnya. Dia memilih tenda kue tradisional lagi, gandos.


"Lama, tidak menikmati kue khas Jawa tengah."


Tina duduk memesan. Seorang pria paruh baya mengantarkan satu porsi pesanan.


Dalam hitungan sangat cepat, Tina telah menghabiskannya. Dia melanjutkan pesanan dengan banyak pesanan tambahan kue gandos. Hingga sang pemilik kedai berhenti, dan menatap setiap paper plate di atas meja.


"Tambah lagi, pak," pinta Tina.


"Sudah habis, Bu!" Pria paruh baya itu menggeleng. Dia mengarahkan pandangannya pada perut wanita yang sedang berjalan ke arahnya.


Tidak buncit juga. Padahal sudah banyak makan.


Pemilik merasa sangat heran.


"Terimakasih yah pak," ucap Tina. Meletakkan uang di atas meja kemudian.


Pria paruh baya itu mengangguk.


Tina melenggang pergi.


Pria paruh baya itu menuju meja. Akan bersiap membersihkan paper di atas meja. Namun, dia dikejutkan dengan setiap tumpukan kue Gandos yang telah terkunyah-kunyah berserak jatuh di bawah kaki kursi, membentuk gunung kue tepung di atas tanah. Terlihat menjijikan.


Pemilik kedai menggerutuk giginya. Jantungnya seakan di tusuk jarum. Terkejutnya setengah mati.


"Hantu?"


Seakan tidak percaya apa yang dia lihat. Pemilik kedai keluar dari kedainya, dan mengedarkan sepasang matanya mencari sosok wanita penikmat kue gandos itu.


Beredar acak. Terus beredar. Namun, nihil. Sosok itu bagai raib di telan bumi. Dia tidak menemukan.


"Apa uang jadi daun juga?"


Dup-dup-dup! Degup pria paruh baya itu menjadi makin berdebar-debar.


Pria paruh baya segera kembali masuk. Menuju meja, dan memeriksa keaslian uang.


"Tidak berubah jadi daun. Ini asli uang?"


"Tenang pak. Uangnya nggak akan jadi daun. Tetap utuh selamanya, gambar Soeharto."


Suara yang lembut bagai semilir angin berbisik menyahut pria itu. Mengejutkan. Membuat seluruh bulu ceruk leher berdiri meremang dingin.


Pemilik kedai mengigit bibirnya. Seluruh raga mendadak bergetar. Setiap bulu roma bergindik bangun. Seketika kaki jadi patah, dan jatuh menubruk tanah. Di ikuti tubuhnya yang terbaring ke kiri kemudian. Lalu, pandangan menjadi sangat gelap. Mengingat sosok yang terlihat cantik itu. Adalah hantu yang menampakkan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author : nah kan mulai bergetanyangan pakai raga Lea.


Tina : Iya nih. Lea kan adikku. Ibu kami kan Eoma Mayang. Jadi adik-kakak kompak kan Thor. Dua jiwa satu raga.

__ADS_1


Author : iya kompak. Tapi, jangan nakutin orang donk.


__ADS_2