
...Virus Lie belum di temukan Vaksinnya....
..._Eouny Jeje_...
...Ketika, kita hanya menyalakan api kecil. Kita harus menyediakan air pula. Jangan karena rasa curiga, kau malah membakar orang lain yang tidak mengerti asal mula api itu datang....
..._Rie_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aprilia akan segera menyusul langkah Rie. Namun, ternyata wanita berkulit kecoklatan itu kembali ke meja dua pria bermata sipit itu.
Vicenzo menatap tidak senang.
"Aku kembali mengatakan padamu satu hal. Katakan pada istri boss-mu. Dia salah sasaran. Wanita Malaysia itu bernama Periz. Bukan Rie."
Glek! Vicenzo terdiam seakan malu jati dirinya terungkap dengan cepat, telah ketahuan menguntit.
"Karena, sedikitpun aku tidak pernah mendekati suaminya. Jika, boleh berkata, yang di dekati suaminya itu lebih dari satu."
Rie melipat tangannya di dada, "Jika aku jadi dia. Lebih baik, berpisah dan mengambil harta."
Vicenzo melipatkan bibirnya. Ingin berkata sesuatu. Namun, Rie telah menatap pria bermata sipit yang lebih tua itu, "Koko, mungkin kau tau siklus CO2 menjadi O2 murni. Kau harus bernaung di bawah pohon rindang dan hijau yang tepat. Bukan bertahan di bawah pohon dengan setiap ratingnya telah mati."
Pria bermata sipit itu pun menjawab hal lagi, "Seperti halnya air dan api harus di gunakan secukupnya. Jika di gunakan dengan tepat. Kau akan menghasilkan masakan yang tepat."
Rie menepuk tangannya, Plok-plok-plok!
"Benar. Ketika, kita hanya menyalakan api kecil. Kita harus menyediakan air pula. Jangan karena rasa curiga, kau malah membakar orang lain yang tidak mengerti asal mula api itu datang. Ingat, kau harus memiliki air untuk meredakan semua ini."
Rie mengacungkan telunjuknya pada Vicenzo, "Jangan seperti dia. Dia adalah api yang membakar orang lain. Apa yang dia tabur, akan kembali kepadanya."
Rie menggelengkan kepalanya, "Kau mengesalkan."
Rie mengangkat kepalanya pada Vicenzo, "Kau tidak minta maaf?"
Vicenzo menggelengkan kepala.
"Kau marah karena kesalahanmu di buka. Itu pengecut. Bukankah, kau mencari kesalahan orang lain. Apakah hal itu bukan dosa besar? Kau salah sasaran. Apa kau tidak malu?"
Vicenzo diam membisu.
Rie meletakkan satu telunjuk mengenai dada Vicenzo, "Jangan mematai-mataiku lagi. Aku akan mencongkel matamu, jika mengikutiku lagi."
Rie berbalik dan pergi.
Aprilia menahan napas dan segera mengejar Rie. Tentu saja, memiliki teman seperti Rie, akan sangat menarik.
"Rie!"
Rie menghentikan langkahnya. Menoleh ke belakang melihat seorang wanita muda mengejarnya. Namun, mata batinnya melihat jika sosok wanita itu bukanlah dirinya yang asli.
Penampilan fisik bisa berubah. Namun, penampilan ruh tetap tidak ada yang bisa mengubahnya, ujar Rie dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku ingin berkenal dengan dirimu," sapa Aprilia menyodorkan telapak tangan bergantung di udara.
Rie menjabat tangan Aprilia,dan segenap informasi kenangan masa lalu Aprilia masuk ke dalam pikirannya. Rie mengangkat pandangannya, cukup miris mengetahui jati diri Aprilia telah berteman dengan tiga iblis.
"Kau bisa bertemanku. Namun, tiga iblis di sisimu, tidak akan mengijinkannya!"
Aprilia terkesiap, terbata berkata kemudian, "A-pa-kah kau bisa meli-hat mereka?"
Rie menggelengkan kepala, "Aku tidak bisa melihat mereka. Hanya saja aku bisa menebak masalalu dan masadepan kelak seseorang yang berada di sekitarku!"
Glek! Aprilia menelan ludah.
"Apa yang akan terjadi padaku di masa depan?"
Rie mengangkat pandangan dan mendengus, "Kematian setelah melahirkan seorang anak dari seorang pria yang telah beristri!"
Deg! Jantung Aprilia terguncang. Sekejap, wajah putih meronanya mendadak terlihat pucat bak kapas putih.
Rie membuang napasnya, "Itu hanya ramalan. Belum tentu tepat. Jika kau tidak ingin hal itu terjadi. Tinggalkan tiga iblis itu, dan lebih banyak berdoa saja."
Rie melambaikan tangan. Memberikan punggung dingin. Melangkah meninggalkan Aprilia yang mematung sendiri di tengah pikirannya yang berkecamuk akan kematiannya.
Setelah persekian menit Aprilia terpaku berdiri. Dia terbangun akan lamunan panjangnya. Dia menoleh ke arah Rie berjalan. Masih mampu mengejar. Dia bersiap mengejar. Namun, Nenek Mayang hadir menghalangi langkahnya.
"Kau tidak boleh mengejarnya!" peringat Nenek Mayang.
Aprilia mengerjakan sepasang matanya. Dia menoleh ke belakang Nenak Mayang, dan wanita bernama Rie itu telah hilang.
"Kenapa?" tanya Aprilia cemas.
"Dia mampu meramal!" rengek Aprilia yang tidak menyadari setiap orang di bandara yang berlalu-lalang terlihat heran akan sosok dirinya yang berbicara dengan dirinya sendiri.
"Akupun bisa membuat dirimu, meramal dengan tepat!" ujar Nenek Mayang.
"Aku bisa seperti dia!" Aprilia cerah ingin mendpatakan kemampuan indera ke-6, yakni indera mencurigai orang lain dengan tepat.
Nenek Mayang mengangguk, "Asal jauhi dia."
"Mengapa eoma?"
Nenek Mayang tidak menjawab. Dia menghilang begitu saja dari hadapan Aprilia.
Aprilia kembali melangkah keluar dari bandara.
Beep! Satu panggilan masuk. Tertara di layar, Oppa Sadewa.
"Ya, Oppa!"
"Apa terjadi sesuatu di sana?"
Aprilia mengigit bibirnya. Ingin saja dia bercerita, jika dia telah di ramal akan mati setelah melahirkan seorang anak. Namun, detik selanjutnya dia memilih menggelengkan kepala, mengurungkan niatnya.
Jangan pernah percaya ramalan. Kita tidak perlu menyakini setiap kata itu.
__ADS_1
"Tidak ada yang terjadi. Segala sesuatu berjalan lancar."
"Jangan melirik pria lain di Malaysia."
Aprilia terkekeh dan menggoda pria di seberang sana, "Tidak, Oppa. Bukankah cukup satu Oppa saja. Oppa kan mirip Jeon Jungkook! Dompetnya terisi selayaknya milik Bill Gates!"
"Kau pandai merayu sekarang. Jangan lupa, menghadapi masalah jangan sendirian. Kau perlu diriku sebagai sayap pelindung. Dengan senang hatiku melindungimu dengan sayapku."
"Yes, Oppa!"
"Sarangheo!" ucap Sadewa dan mengakhiri panggilan kemudian.
Aprilia mendumel pada layar ponselnya, "Oppaku bukan hanya satu. Jika mengharap satu saja. Dompet Bill Gates, tidak akan pernah aku miliki. Oppa Dewa kau itu serakah. Kau berkata cinta padaku. Namun, kau jual pula aku pada rekanmu!"
Aprilia melemparkan ponselnya ke dalam tasnya. Dia berdiri beredar mencari seorang yang di utus untuk menjemputnya.
Tidak lama,terlihat seorang pria berlari ke arahnya. Pria itu mengenakan papan nama dengan papan nama atas nama Lea. Setelah memastikan wajah dan foto di tangannya, terlihat sangat mirip, pria itu segera memberi salam.
"Selamat datang ke bandar Kuala Lumpur, rindu," sapa pria itu dalam bahasa Melayu.
Aprilia menganggukkan kepala. Dia telah memahami perbedaan kosokata Malaysia dan Indonesia, banyak kata yang sama. Namun, arti jauh berbeda.
"Terima kasih tolong bawa saya pulang," balas Aprilia.
Pria itupun mempersilahkan Aprilia masuk ke dalam mobil miliknya dan mobil itu pun berkendara menuju rumah lama Sadewa yang berada di pinggir kota.
Dalam waktu satu jam dari Bandara. Mobil mengakhiri perjalanannya tepat di sebuah rumah belah bubung yang masih terawat dan terlihat megah berdiri.
"Selamat datang di rumah milikmu, Nona Lea."
Aprilia mengangkat pandangannya pada seorang pelayan patuh baya yang berbahasa Indonesia dengan logat Melayu.
"Nona, tidak pernah kemari. Apalagi ibu susu Nona bukanlah orang Melayu. Tentu Nona sangat asing dengan setiap yang ada di sini."
Aprilia hanya diam. Dia mlewati setiap orang dan menginjak naik ke rumah bumbung itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ada yang tau Virus Lie ? tuh seperti dialog di atas... udah tau otor kasih Visual Oppa Sadewa mirip Anjasmara. Eh, tetap aja Aprilia bilang si Oppa mirip Jeon Jungkook. Lie banget kan!
Jeon addict ⬇️⬇️⬇️⬇️:
Oppa Jeon lindungi Aprilia dengan sayapmu !
Vicenzo Addict ⬇️⬇️⬇️⬇️:
Oppa Vicenzo mampu melelehkan siapapun, kecuali Author 😪
Author addict ⬇️⬇️⬇️:
__ADS_1
Menunggu metamorfosis anjing ganteng menjadi pangeran 🗿