
...Segala sesuatu yang di inginkan, ada harga yang harus di bayar....
..._Eouny Jeje_...
...Semua orang bisa memintaku— membujukku—mempengaruhiku. Namun, segala sesuatu itu adalah keputusanku sendiri atas hidupku, bukan karena perkataan orang lain....
..._Aprilia_...
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
Sadewa menahan emosi di dadanya. Tidak menyangka, jika Santi mampu sejahat itu. Diapun menduga aborsi itu terjadi tidak secara alami keinginan Aprilia.
"Apakah aborsi itu?" Raut Sadewa gagap marah.
Aprilia menggelengkan kepalanya.
"Jangan mengingatnya lagi, mas."
Sadewa merengkuh lengan Aprlia, mencengkram dengan kuat, dan menatap seakan menyelidiki kebenaran itu.
"Apakah Santi yang meminta?"
Aprilia menghela napas,dan menganggukan kepala kemudian.
Santi, kau pandai drama. Maka, aku akan pandai berakting di depanmu, ucap Aprilia dalam hatinya.
Dug! Jantung Sadewa terhunus seketika.Tangannya mengepal marah dan bersiap berdiri, ingin segera membalas dukanya pada Santi, isteri pertamanya.
"Mas, ingin kemana?" Aprilia menahan tangan pria itu. Sepasang matanya terlihat ironis berkaca membuat pria itu jatuh kembali duduk bersimpuh berhadapan dengannya.
"Membunuh Santi!"
"Jangan!" cegah Aprilia.
"Dia memintamu melakukan hal seperti itu! Bukankah hal itu—"
Sadewa membungkam mulutnya dengan tinju pada bibirnya. Meredam isak yang bersiap terbit dari tenggorokannya.
"Bisakah kau melakukannya— tanpa harus melukai Santi — tanpa harus memaksanya. Karena, saat itu—dia hanya cemburu, mas."
Aprilia menunduk dan lirih berkata kembali, "Sedangkan segala apa yang ku lakukan— yang terjadi. Adalah keputusanku sendiri."
Aprilia melabuhkan kepalanya bersandar pada dada pria itu.
"Semua orang bisa memintaku— membujukku—mempengaruhiku. Namun, segala sesuatu itu adalah keputusanku sendiri atas hidupku, bukan karena perkataan orang lain," lanjut Aprilia.
Sadewa memejamkan matanya erat. Seakan berusaha menurunkan amarah yang mendidih.
"Apakah kau tidak terluka kala membuang bayi itu?"
Aprilia miris akan pertanyaan itu, dia bergetar menjawab, "Setiap ibu pasti terluka."
__ADS_1
Sadewa meletakkan telunjuknya pada bibir Aprilia, tidak mengijinkan wanita itu melanjutkan kalimatnya. Dia meluruskan punggung Aprilia. Kepalanya bergerak maju, dan miring sedikit, dan mencium bibir wanita itu perlahan.
Biji mata Aprilia mengeluarkan bulir-bulir bening. Sedih. Mengingat bagaimana banyak hal yang terjadi. Begitu sadisnya Jack meludahi wajahnya. Begitu sadisnya Puspa menendang perutnya. Begitu sadisnya Santi membuka aibnya, dan begitu sadisnya Sadewa menyentuh tubuhnya lagi.
Namun, membuang sosok yang tidak di inginkan, bukanlah suatu hal yang terluka. Hal ini adalah cara menyelamatkan diri. Lagipula, Santi mengetahui niat perselingkuhanku dengan Jack. Aku harus menyingkirkan segera.
Sadewa mendorong tubuh Aprilia pada kasur tipis yang menjadi tempat peraduan mereka kembali setelah sekian lama hasrat Sadewa terbendung.
"Mas!" tahan Aprilia kala pria itu mulai ingin melorotkan seluruh pakaian miliknya.
Sadewa memberikan jarak antara tubuh mereka. Membiarkan wanita itu leluasa kembali bergerak untuk duduk.
"Kau tidak menginginkan lagi? Kau membenciku?" Suara Sadewa terdengar sedih.
Glek! Aprilia menelan ludahnya, dan tajam berkata menolak pria itu, "Kita telah bercerai. Jangan sentuh aku lagi. Jika, kita belum menikah lagi."
Deg! Sadewa terpanah seakan dia jatuh lunglai segera akan satu kalimat wanita yang telah berjubah ungu di hadapannya.
"Bukankan, segala sesuatu yang sebelumnya telah terjadi. Tanpa pernikahan saat itu, kau rela memberikannya untukku."
Aku tidak sudi bercinta sembarangan lagi. Aku sekarang tidak bodoh.
"Mas, aku tahu— aku adalah sosok kotor di hadapanmu. Bisakah kau memberikan waktu agar aku menjalankan tobatku?"
"Tobat?"
Aprilia menganggukan kepala.
Sadewa menyipitkan matanya.
"Jika kau ingin menyentuhku lagi. Maka kita harus menikah kembali."
"Tetapi?"
"Ya. Aku ingin anak selanjutnya. Bukan hanya karena nafsu dan cinta. Namun, anak itu ada karena sebuah pernikahan!"
Sadewa menatap manik mata dalam kegelapan itu. Aprilia terlihat polos dan karakternya jujur mempesona hatinya.
"Apakah kita bisa berdua menjadi lebih baik, mas?"
Dup! Sadewa merasakan jantung berdesir melambat. Menjadi lebih baik? Pertanyaan yang menohok batinnya.
"Kau begitu baik. Bagaimana aku berbuat mencelakaimu lagi? Tidak. Hal itu tidak akan terjadi lagi."
Aprilia tersenyum merekah. Setidaknya, dia berhasil mempengaruhi pria ini untuk tidak menyentuh tubuhnya.
"Buatlah hubungan kita suci. Pernikahan adalah hal yang pantas menciptakan kehadiran seorang anak."
"Iya!" Sadewa pasrah. Hormon libidonya pun turun anjlok begitu saja. Namun, kesukaan pada Aprilia, mulai nyata perlahan.
"Budimu begitu baik. Bagaimana aku tidak bisa jatuh cinta makin dalam,dan selalu menghormati keputusanmu."
__ADS_1
Cup! Aprilia mencium kening Sadewa, dan tangannya erat menggenggam tangan Sadewa, dan berlabuh lagi dalam dekapan yang ketat dan hangat.
"Jika kau ingin menjadikan isterimu lagi. Bisakah kau meminta ijin padanya? Mendapatkan restu, bukankah tidak akan menjadi hal yang mencemburui lagi."
Sadewa nanar. Seakan rasa bersalah menyikapi setiap perangainya selama ini,dia pun memeluk Aprilia, dengan dagu yang bersandar pada ufuk kepala wanita itu.
"Maaf! Tidak seharusnya dalam rumah tangga itu memiliki lebih satu wanita. Aku lah yang salah. Tidak berani melepaskan salah satu. Namu,saat ini aku sangat yakin."
Aprilia tersenyum licik di dalam dada Sadewa.
"Pergilah untuk Santi. Biarkan wanita itu menjadi tulang rusukmu satu-satunya."
Sadewa menggelengkan kepala, "Santi mengkhianatiku. Bagaimana bisa aku memilihnya? Seorang pria penjahatpun akan memilih seorang ibu yang baik untuk putera-puterinya."
Aprilia miris dan menjawab merendahkan dirinya, "Aku bukan wanita sebaik—beharga seperti Santi. Aku bahkan— kotor—jijik. Karena, telah menjadi orang ketiga di dalam rumahmu."
Sadewa menyeka air mata Aprilia.
"Kotor atau bersih seseorang, bukan di lihat dari waktunya kapan dia datang dalam hidupmu. Namun, dari sikapnya. Bagiku kau lebih mulia dari pada Santi, orang yang pertama hadir dalam hidupku. "
Aprilia tersenyum sukses. Dia tersedu-sedu dalam dada Sadewa, dan memeluk erat pria itu, seraya bibir itu terbuka melontarkan kalimatnya,"Mas Dewa, kau begitu baik. Aku hanya mengikutimu ke jalan yang benar bersamamu."
Sadewa mengadahkan matanya ke langit-langit kamar, dan dia terngiang akan setiap jejak biru ungu pada tubuh Santi, "Santi lebih menjijikan daripada yang ku bayangkan."
"Ada apa mas? Bukankah Santi wanita yang baik dan setia."
Cih! Sadewa meludah marah segera, mengingat apa yang telah dia jumpai dan lihat secara langsung.
"Dia menjijikan, telah tidur dengan pria lain, dan membawa anak orang lain di dalam perutnya, dan dengan bangganya dia menyebut itu milikku."
Aprilia menahan napas. Dadanya berdesir senang, dup-dup-dup!
"Aku tidak menyangka jika Santi akan bersikap seperti itu, mas."
"Berkhianat adalah hal yang paling menjijikan! Tidak akan pernah aku hargai. Aku tidak akan memaafkan."
"Mas, jangan seperti itu. Tidak baik membenci. Aku ikhlas untuk kepergian anak kita, jangan salahkan Santi . Bukankah kita melakukan hal yang sama pula. Bermain di belakang Santi sebelumnya. Jangan salahkan pengkhianatan Santi!" sanggah Aprilia.
Sadewa terlihat ironis, dan menjawab, " Pria pergi ke pangkuan wanita lain, hanya untuk singgah sebentar. Sedangkan, wanita adalah sebaliknya, dia akan menetap, jika telah pergi."
Jahat sekali kata-katamu, semua kaum Adam egois. Namun, aku akan meruntuhkan keegoisan kalian para kaum adam! keluh Aprilia dalam hatinya.
"Apakah kau hanya singgah sebentar padaku?"
Sadewa menggelengkan kepala, "Wanita setia adalah tempat sandaran pria, karena dari rahimnya akan melahirkan keturunan aslinya. Siapa yang akan bisa mempercayai rahim seorang pekhianat?"
Sadewa melonggarkan pelukan, dan mengangkat dagu Aprilia, "Oleh itu aku memilihmu, menjadi istri sah selanjutnya. Setelah Santi membayar dosanya secara cicilan!"
...꧁❤ Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
...Jangan lupa boom like yah buat meningkatkan rank karya dalam lomba novel horor. Jangan lupa tinggalkan komentar pada baris hastag yah!...
__ADS_1