Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 50


__ADS_3

...Seseorang pembohong tidak akan pernah kembali jika di injak. Namun, seorang yang jujur akan terus berani kembali, untuk menyatakan kebenarannya....


...— Eouny Jeje—...


...Aku tidak akan pernah meninggalkan orang setia. Cantik pintar itu bisa di beli dengan mudah. Tetapi, kesetiaan tidak akan pernah mudah kau dapatkan, walau kau menjual air matamu yang terlihat mirip seperti darah...


...—Jack—...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Puspa menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu." Satu tombol terbuka. Kulit bagian dada itu terlihat indah terperangkap dalam retina mata Jack. Jack menelan ludahnya, dia ingin merobek kemeja putih itu, "Tombol selanjutnya, biarkan aku yang membukanya."


"Boleh." Puspa meraup tangan Jack dan meletakkan tangan Jack pada dadanya, dan seraya bertanya, "Kapan kau menceraikan istrimu?"


Jack kaku sebentar mendengar pertanyaan itu, "Kapan- kapan saja." Jack terlihat gelisah kemudian. Istri. Dia seakan lupa telah memiliki istri dan anak.


"Ceraikan dia!" suara Puspa terdengar menuntut dengan keras.


"Jika kita terus aman bersembunyi. Untuk apa bercerai?" singgung Jack terlihat enggan membahas.


"Lalu, untuk apa kau jadikan istri? Jika kau tidak pernah menggunakannya. Bahkan, ranjang di rumah sana, tidak pernah berderit lagi, kan."


Jack menghela napas. Dia memalingkan wajahnya. Menghindar untuk menjawab. Wanita tidak pernah mengerti hati pria. Kami butuh teman tidur berbeda. Namun, hanya butuh satu wanita yang berdiri di sisi.


"Ceraikan dia!" pinta Puspa serakah.


Jack terlihat mematung malas. "Aku tidak bisa menceraikannya."


"Mengapa?"


"Kau tidak akan mengerti."


"Anak?" Puspa memeluk Jack, "Aku bisa memberikan selusin untukmu, jika kau menginginkannya," bujuk Puspa manis.


"Bukan itu." Jack menggelengkan kepala.


Puspa membenamkan kepalanya pada pundak pria besar itu. Rangkulan tangannya ketat melingkar.


"Apa kau malu dengan masalaluku?"


Jack terdiam, dan menjawab halus, "Masalalu tidak akan mengejarmu. Uang bahkan bisa menutup aib manapun. Tetapi ...."

__ADS_1


"Istriku tidak bisa di bandingkan dengan dirimu." Jack menelan ludahnya.


"Bukankah kau selalu datang padaku. Meniduriku, dan bangun pagi bersamaku. Mengapa tidak bisa di bandingkan."


"Karena. Aku tidak bisa menemukan kesalahannya. Oleh itu, aku tidak bisa menceraikannya. Aku lah yang salah, aku lah pendosa itu, dan aku tidak mungkin bodoh meninggalkan orang sebaik isteriku."


Plakkkk! Puspa dengan keras menampar wajah Jack. "Kau egois sekali."


"Pria gila. Dengan berselingkuh, berarti kau telah meninggalkannya."


Jack melepas tangan Puspa. Dia terlihat risih.


Jack meraba pipinya, "Jangan menyebutku egois. Bukankah aku pun diam, melihat kau seranjang dengan Dandy.


Plakkk! Puspa menampar wajah Jack kedua kalinya. "Aku tidak pernah lagi bersamanya. Aku tidak pernah naik ke ranjangnya. Apalagi hanya sekedar bermain lidah dalam mulutnya."


Tepatnya pria botak itu selalu menolak diriku setelah kepulanganku dari Australia. Mungkin dia sudah bosan. Untuk hal itu, aku sendiri pun tidak tahu, dan aku pun merasa wah tiba-tiba saja dia memberikan pekerjaan dan pemegang saham di dalam perusahaannya. Namun, dia tidak pernah menyentuhku lagi. Dia sulit di pelet.


"Pembohong!" Ketus Jack. Sepasang matanya terlihat nanar marah, "Seseorang pengkhinat, tidak akan pernah setia."


"Kamu?" Puspa akan bersiap menampar.


Tangan Jack menahannya, "Sudah cukup menampar dua kali. Karena sebenarnya tangan yang tidak pernah bersih itu, tidak berhak menegur."


"Kamu?"


"Aku di dalam matamu adalah ...."


Jack tersenyum. Jempol dan telunjuknya naik menjepit dagu Puspa, "Kau adalah cintaku. Kau bisa menjadi selirku. Namun, tidak dapat menjadi ratuku."


"Selimut rupanya ... selimut di saat kau kedinginan. Itulah aku di dalam matamu."


Jack terkekeh, "Kita tidak bisa munafik. Itulah kita. Melengkapi di sana."


Puspa mengerutkan kening, dan menepis tangan Jack. Turun dari ranjang dan mengomel seraya menuju ke kamar mandi, "Jika kau belum berpisah darinya . Jangan pernah datang untuk meminta jatah dengan diriku."


Blam! Pintu kamar mandi tertutup.


"Jika aku terlihat lebih unggul dari dirinya. Seharusnya kau meninggalkannya. Dasar pria bodoh. Penebar benih dan janji manis!" teriak Puspa dari dalam kamar mandi.


Dooooor!Dorrrrr! terdengar pintu di tinju berkali-kali oleh Puspa.

__ADS_1


"Jika kau tidak menceraikannya. Kau jangan pernah datang." Puspa terus menggerutu marah dari dalam kamar mandi.


Jack hanya melirik sekilas dan mendengus. Dia segera mengenakan sepatunya, dan menjawab dalam hatinya, Aku tidak akan pernah meninggalkan orang setia. Cantik pintar itu bisa di beli dengan mudah. Tetapi, kesetiaan tidak akan pernah mudah kau dapatkan, walau kau menjual air matamu yang terlihat mirip seperti darah.


Jack mengikat tali sepatunya. Lalu, dia segera berdiri meninggalkan kamarnya.


Kreeeet!


Bunyi derit pintu terbuka mengejutkan Puspa. Puspa segera bangkit dari posisi duduk berjongkok di kamar mandinya, Klek! Dia segera membuka pintu dan mendapati punggung pria itu telah melewati garis pintu kamar.


"Jack!" teriak Puspa. Pria itu tidak menghiraukannya. Gugup dan takut di tinggalkan tambang emasnya. Puspa segera mengamalkan manteranya. Dia duduk berlutut di atas lantai dingin. Mengamakan mantera yang sama dari bibirnya. Lalu, menyeka wajahnya setelah selesai mengucapkan manteranya. Kemudian, dia segera mengambil satu botol semprot minyak wangi yang berada di dalam tasnya. Dia pun segera menyemprot minyak tersebut pada tujuh titik nadi miliknya.


Lalu, dengan percaya diri. Puspa berlari keluar rumah. Terdengar suara mesin mobil, baru saja di nyalakan,dan mobil ban mulai berputar akan berbelok pergi.


"Jack, tunggu!" teriak Puspa dengan bulan yang terlihat malu akan sifatnya yang menghadang mobil itu. Bulan segera bersembunyi di balik awan.


Jack terlihat kesal awalnya, dengan kaki kanan yang terlihat menginjak dalam pedal rem-nya. Ada apa lagi sih, bukannya tidak mau memberi jatah? keluh Jack seraya mematikan mesin mobilnya, dan mengangkat telapak kakinya dari pedal. Tidak lama dia segera turun, dan Puspa terlihat gelisah berdiri di dekat pintu mobilnya.


"Ada apa?" Jack terlihat emosi dalam pertanyaannya.


Puspa tidak berburu menjawab. Dia hanya menatap pria itu dengan lekat. Menunggu sepasang mata pria itu membalas menatapnya.


Jack mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja bola matanya terhenti dan ikut terhipnotis segera ke dalam sepasang mata indah milik Puspa.


"Ikut masuk aku ke dalam. Kita berbicara di dalam, sayang."


Blam! Jack menutup pintu mobilnya dan menuruti perintah Puspa. Tangan Puspa segera melingkar pada lengan kekar pria itu, dan dia pun membawa pria itu kembali masuk ke dalam kamarnya. Melepaskan sepatunya, dan mengajak kembali tidur di atas ranjang besar miliknya.


"Tidurlah bersamaku malam ini, okay?"


Jack menganggukkan kepala dan mulai melabuhkan kecupannya pada leher Puspa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ....


Seorang pengkhianat juga nggak akan bodoh meletakkan masa depannya pada seorang yang tidak setia? Lanjutkan ... ceritanya panjang banget yah kaya sinetron ikan terbang. Belum ada perang juga ni dari Aprilia buat melet ...


Lagi bangun chemistry kebencian reader dulu pada sang tokoh antogonis, dan rasa kasihan pada sang tokoh utama.


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .

__ADS_1


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2