
...Kerap kali barang yang di curi, tidak akan Pernah kembali. Di saat itulah kau harus berusaha mencari penggantinya....
..._Eouny Jeje_...
...Apa yang kau rebut, telah kembali kepadaku....
..._Santi_...
...꧁❤༆PJP-85༆❤꧂...
Sadewa meninggalkan ruang bersalin dengan belati serasa tertancap di jantungnya. Santi hanya tersenyum dengan sejuta kebahagian yang kembali kepadanya. Suaminya telah kembali. Hartanya pun kembali. Dia mendekati Aprilia dengan tangan dingin menjabat tangan wanita yang telah mencuri suaminya, dia pun berkata dengan seribu tatapan benci yang tidak akan pernah habis, "Selamat menjanda kembali. Apa yang kau rebut, telah kembali kepadaku."
Aprilia hanya membisu. Kesedihan dalam bola matanya seperti melihat jurang tanpa dasar. Ada rasa yang mencekiknya dalam setiap kata yang terlontar Santi padanya.
Wanita berbadan gemuk itu sedikit menepuk pipi Aprilia yang basah, dia pun menyekanya perlahan, "Apakah kau tau berapa harga air mata seorang istri yang suaminya di rebut?"
Aprilia hanya menunduk. Dia tidak bisa menilai harga air mata tersebut. Yang dia tau, air matanya kini jatuh dalam genggaman tangan Santi yang sedang mencubit dagunya.
Santi sedikit mengangkat dagu Aprilia, membiarkan mata Aprilia beradu dengan sorot kebencian miliknya, dan dia mendengus dengan napas yang terlihat naik turun karena amarah, "Harganya seratus kali bahkan seribu kali lebih beharga dari milikmu. Aku akan menghancurkanmu! Kau akan mati perlahan!"
"Mengapa kau membenciku? Aku hanyalah salah satu dari banyaknya wanita suamimu!"
Jeda sesaat. Akan Isak yang di dengungkan protes akan sikap Santi.
"Aku hanyalah Wanita yang kebetulan berdiri di hadapanmu. Bagaimana dengan wanita lain yang begitu banyak telah tidur dengan Sadewa di belakangmu. Jika kau ingin adil, pukul rata untuk semua wanita yang bergilir tidur bersama suamimu."
Santi getir, dan mencengkram dagu Aprilia dengan keras, setiap jemari kuku miliknya terlihat bergerak melubangi kulit dagu wanita itu, "Namun, hanya kau yang berani melangkah masuk ke dalam rumahku!"
Santi melepaskan tangannya, dia memiringkan kepalanya dan berbisik pada telinga Aprlia, "Andai kau hanya wanita yang berdiri di luar rumahku. Aku tidak akan perduli. Salahnya! Kau berani merampok di depan mataku! Wanita mana yang tidak akan berteriak padamu."
Aprilia mengecap air asin dari mulutnya. Hatinya ikut berlubang atas setiap peluru yang ditembakkan untuknya. Jantungnya seakan sulit berdetak lagi. Malu. Sakit. Perih. Namun, tidak bisa mundur lagi.
Napas Santi dingin dan pergi kemudian menjauh bersama dengan dirinya yang melesat kembali masuk satu mobil bersama Sadewa. Baru saja dia masuk, duduk di sisi pria itu. Pria itu menoleh padanya dan berkata pelan, "Turunlah ... Aku mohon aku hanya ingin sendiri!"
Santi hanya tersenyum mengerti. Dia turun dari mobil. Setelah pintu mobil merapat. Pedal gas terinjak. Melesat begitu saja melewatinya. Santi mengehela napasnya, dan mengatur ritma jantungnya. Dia pun memutuskan memanggil Taxi online, dan memasuki kediaman rumah Mba Nung.
__ADS_1
Mba Nung yang sedang bersila merapal mantera, tiba membuka matanya kala telinganya berdirik tegak mengetahui seseorang telah hadir di depan pintu rumahnya.
Kret! Pintu dibukan untuk Santi.
"Nyonya Santi."
Santi berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah Mba Nung yang terlihat sederhana. Ada kemenyan yang terlihat baru saja terbakar di dalam tungku di atas meja. Ada Dupa yang masih menyala memberi aroma khas mengisi ruangan.
"Kedatanganmu untuk itu?"
Santi mengangguk mantap.
"Aku telah berhasil menyikirkan janda itu. Janda itu tidak akan tinggal di dalam rumah lagi. Namun, Sadewa sangat mengharapkan anak. Tetapi—"
"Milik suamimu tidak mampu bangun!" tebak Mba Nung.
Santi mengangguk kepalanya.Ada rasa malu di sana untuk membuka rahasia dalam rumah tangganya.
"Apakah itu karena pelet janda itu?"
Mba Nung memejamkan matanya, dan deg! Jantungnya di kejutkan dengan wajah seorang Mak lampir yang menyeringai dalam pikirannya. Terlihat Nenek itu mengacungakan setiap jemari yang berkuku hitam dan panjang. Satu jemari kuku itu tiba-tiba bergerak dan menyentuh leher Mba Nung. Mba Nung segera bangun dari alam pikirannya, memutuskan pertemuannya dengan sosok pelindung Aprilia.
"Ada apa?"
"Pelet itu sangat ampuh. Karena, hanya ada satu yang mampu melakukan. Kau hanya bisa meminta pada ruh tersebut untuk melepas pelet tersebut."
"Dengan siapa?"
"Nenek Mayang!"
Santi mengigit bibirnya.
"Dimana aku harus menemui dan memohon pada Nenek Mayang!"
Mba Nung menggelengkan kepala. "Dia tidak bisa di temui. Dia memilih sendiri pengikutnya. Aku bahkan tidak berani menyentuh Aprilia. Maaf sekali!"
__ADS_1
Santi gentar mendengar tersebut, seketika dia panik dan mencari peyanding yang tepat melawan Aprilia, "Apakah dia sangat hebat? Pasti dia memiliki saingan!"
"Nenek Arum saingannya. Hanya saja Nenek itu memiliki sifat yang sama. Merekalah memilih pengikutnya sendiri. Bukan kita yang memilih. Aku dengar Nenek Arum merupakan saudara kembar dari Nenek Mayang. Hanya saja wajah mereka terlihat berbeda."
"Apakah aku bisa meminta bantuan Nenek Arum!"
Mba Nung menggelengkan kepala, "Aku telah bersemedi dan bertapa begitu lama. Namun, mereka tidak pernah Sudi untuk bergaul denganku. Jika di sebut dalam dunia perdukunan. Dua nenek lampir itu adalah kedudukan tertinggi sebagai ruh buyut pertama yang memiliki kesaktian luar biasa dan tidak saling mengganggu."
"Jadi aku tidak bisa melukai Aprilia secara santet!"
"Aku menyesal. Aku tidak bisa membantumu."
"Lalu, bagaimana dengan milik Sadewa? Apakah akan bersikap impoten selamanya? aku juga butuh—" Santi tidak melanjutkan kalimatnya lagi.
Mba Nung memasang raut wajah menyesal, "Betul. Kecuali, Aprilia mati! Milik suamimu baru akan mampu bangun lagi."
Santi mengepalkan tangan. Ada dendam dalam hatinya, yang belum tuntas begitu saja. Apalagi Aprilia memiliki pendukung terkuat.
"Saranku. Nyonya jangan menyinggung Aprilia lagi. Karena—"
"Aku mengerti maksudmu."
Santi terlihat berdiam dengan banyak opsi dalam otaknya. Apa yang harus dia lakukan untuk merebut hati Sadewa dengan milik pria itu yang terlihat telah impoten terhadap semua wanita.
"Jika begitu, aku hanya bisa menipu Sadewa dengan cara yang bukan magic. Aku akan berpura-pura telah melewati satu malam bercinta, dan memberikan dia bubuk ramuan mimpi basah saja."
Mba Nung mengangguk dan memuji dalam hatinya, Nyonya Santi wanita yang cukup cerdas.
"Apakah kau sudah menyiapkan apa yang aku minta?"
"Hanya menunggu wanita hamil yang di pilih Nyonya Santi."
"Iya aku ingin segera menerima manifestasi janin orang lain dalam perutku. Hanya dengan seorang anak, aku mampu mempertahankan posisi ku sebagai nyonya dalam rumahku. Sebagai ratu dalam istanaku."
Mba Nung mengangguk mantap, "Aku akan menyiapkan ritual perpindahan janin itu. Saat ini, aku hanya menunggu rambut dan air ludah dari sang wanita hamil yang Nyonya Santi pilih."
__ADS_1
Santi menerawang jauh pikirannya dan tersenyum, "Aku dengar tetanggaku sedang hamil."
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...