Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 27


__ADS_3

Aprilia kacau seketika melihat ilusi yang terlihat nyata. Namun, dia berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak terpengaruh bisikan setan. Dia pun segera merebahkan dirinya, dan terlelap hingga pagi menjelang.


Sinar matahari menerobos masuk menyilaukan. Aprilia mengerjap sesaat. Dia merasakan perutnya begitu sakit, dan ada sesuatu yang naik dari perutnya. Aprilia segera bangkit bangun, pergi ke kamar mandi,dan muntah. Muntah lagi.


"Uh," keluh Aprilia tidak nyaman. Menyeka bibirnya dari sisa-sisa ampas yang keluar dari perutnya. Dia membuka keran di atas wastapel. Air pun turun deras mengalir. Dia segera membasuh wajah. Berkumur-kumur kemudian.


"Mual-mual sudah di mulai," resah Aprilia bergindik jijik. "Apa yang harus aku lakukan?"


Aprilia terbahak akan sosok yang di tambahkan di dalam kehidupannya. Tetapi, itu hasil hubungan gelap. Menyedihkan sekali.


"Apakah aku harus meminta pertanggungjawaban? Sadewa pria genit penuh napsu itu." Aprilia menggelengkan kepala, membayangkan dirinya harus menemui Sadewa. Dia bergindik membayangkan betapa murkanya Dania, istri sah Sadewa yang pernah mengusir dirinya dari kontrakan, mengusir tanpa perasaan, akan segera mengetahui bibit dalam perutnya telah berubah menjadi sosok yang mungil, dan itu milik Sadewa, suaminya.


"Dania pasti akan mencakarku. Menendang perutku. Lalu, menajiskan aku di hadapan semua orang. Aku malu hadir untuk di sebut orang ketiga. Perampas suami orang."โ€” Aprilia menitikkan air matanyaโ€” "A-aku merasa tak-dir tidak pernah baik pada-ku."


Tiga hari kemudian ...


Aprilia merenung di depan kaca lemari kamarnya. Dia menatap kosong akan sosok dirinya yang terlihat lemas, lesu, dan pucat. Tangannya meraba kulit perutnya. Kriuk-kriuk-kriuk! Bunyi perutnya terasa mencekik dirinya hari ini. Uang di tangannya telah habis.


Kret! Pintu kamar terbuka. Tampak Dimas berjalan gontai dengan wajah tertunduk lesu, kemudian duduk di tepi ranjang di sisi ibunya.


"Bu, lapar."


Aprilia menyeka air matanya. Dia berdiri tanpa kata, pergi ke dapur. Membuka kulkas. Hanya ada sebutir telur. Dia pun segera menyalakan kompor gas. Meletakkan wajan pada kompor. Menuangkan sedikit minyak yang telah menghitam warnanya, karena sering berkali-kali di gunakan. Aprilia memecah telur, dan menggoreng telor. Cukup satu menit. Telur pun sudah matang dan dia letakkan di piring, dan dia mengambil nasi terakhir milik mereka malam ini.


"Dimas," seru Aprilia memanggil puteranya setelah dia meletakan makan malam di atas meja. Tidak lama, Dimas datang bersemangat duduk di kursi makan, dan melahap dengan cepat.


Aprilia menghela napas. Menatap Dimas dengan nelangsa. Memilik anak satu saja, sangat berat. Apalagi memiliki dua? Aprilia menggulingkan air matanya jatuh. Buru-buru dia menyekanya, agar Dimas tidak melihatnya. Dia ingin menjadi gila saat ini juga, atau ingin meminta petir menyambar kepalanya sekarang. Ingin mati, adalah cita-citanya saat ini.

__ADS_1


"Bu, kenyang." Dimas.menyodorkan piring kosong. Turun dari kursi makan.


"Sikat gigi dan tidur yah," pesan Aprilia.


"Iya," sahut Dimas yang menghilang masuk ke kamar kemudian.


Aprilia menopangkan tangan ke dagunya.


Dia masih merenung apa yang akan dia lakukan saat ini. Tidak memiliki uang. Tidak memiliki pekerjaan. Menyedihkan tepatnya. Dia merenung lama, dengan sepasang mata yang terus bernanar karena pikirannya sendiri, yang telah meracunnya, hingga dia merasa rasa sesak dalam dadanya telah menggerogoti sisa-sisa kehidupannya dnegan oksigen yang makin menipis.


Besok, aku tidak memiliki makanan apapun lagi. Aprilia menjerit frustasi membayangkan bagaimana Dimas akan datang seperti tadi dan meminta makan.


"Apa aku hanya bisa menemui Pak Sadewa?" kalut Aprilia. Mendongakkan wajahnya ke atas dinding. Pukul 21.00 Wib.


"Semalam ini kah aku harus menemuinya?" Aprilia ragu dan akhirnya merogoh ponsel di dalam saku dasternya. Kehabisan tempat meminta. Dia pun mengirim pesan pada Sadewa.


Tidak menunggu lama. Beep! Pesan pun datang.


Kamar 212. Wisma seperti biasa.


Aprilia menggengam ponselnya. Dia merasa menyedihkan dan jijik akan dirinya sendiri. Dia seakan mendapati dirinya seseorang mengirim nomor kamar hanya bertemu untuk menyentuhnya. Tanpa sadar, hujan air mata pun jatuh bergelinding lagi menyusuri pipinya yang terlihat mulai memiliki ruam kulit, semenjak kehamilan keduanya.


Aprilia beranjak bangun dari kursi makan. Dia melangkah ke kamar. Melihat Dimas telah terbaring pulas. Aprilia menghela napas dan menatap dirinya kemudian di cermin.


"Terpaksa lagi.Terpaksa lagi." Aprilia membuka lemari. Tidak ada yang pantas yang dia kenakan. Dia merasa setiap pakaiannya usang, tidak bisa di bandingkan dengan setiap pakaian bagus milik Puspa.


Aprilia menutup lemari. Menuju kamar Puspa. Membuka lemarinya. Memilih satu dress bodycon bewarna marron.

__ADS_1


"Bajumu bagus-bagus, Nana. Aku hanya meminjam diam-diam." Aprilia pun mengganti pakaiannya. Dia terlihat wah akan baju indah yang melekat pada tubuhnya. "Ternyata pesona baju mahal itu, benar-benar ada."


Aprilia meniup-niup dirinya, dan mulai duduk di meja rias Puspa. Dia merias wajahnya sendiri. Tampak menor dan aneh. Namun, bagi Aprilia dia terlihat cantik dan elegan.


"Aku cantik," puji Aprilia yang kemudian akan bersiap pergi. Namun, kala pandangan jatuh menatap laci lemari. Aprilia teringat akan sosok selembar foto pria yang terus masuk dalam mimpinya. Jack.


Aprilia menggigit bibirnya kesal, "Suatu saat aku pasti bisa merebut Jack dengan inner beauty. Aku hanya perlu menempel erat menunjukkan cintaku yang tulus."


Aprilia pun maju menghampiri lemari kembali. Berjongkok, menarik laci. Pandangannya jatuh pada boneka jerami. Namun, dia segera menyingkirkan dari pandangan matanya. Tangannya menjulur meraih foto Jack. Setitik air mata jatuh mengenai selembar foto tersebut.


"Maaf Jack. Raga boleh berganti milik orang lain. Namun, ku pastikan hatimu hanya miliki seorang." Aprilia pun mencium foto tersebut berkali-kali. Lalu, menyentuh setiap fitur indera pada wajah di dalam foto tersebut.


"Kau tampak sempurna. Aku menyukaimu ...," ungkap Aprilia yang lalu merasakan sosok Jack terasa nyata di saat matanya terpejam. Dia merasakan cumbuan dari pria itu datang menyergap kekosongan yang dia miliki. Dia terbuai sesaat, dan menggelengkan kepala kala melihat Puspa tiba-tiba hadir dalam angan-angannya.


"Dasar wanita menjijikan. Kau berani sekali mengambil priaku. Kau pasti mengguna-guna dirinya kan!"runtuk Aprilia marah dan kecewa. Sepasang mata Aprilia kemudian jatuh pada boneka Jerami. Aprilia meletakan foto tersebut, dan meraih boneka jerami tersebut.


Aprilia menyentuh kepala boneka itu dan mengelusnya. "Aku akan membakarmu. Biar sihir mengenai Jack hilang!"


Nenek Mayang terkekeh, baru saja dia merasakan sentuhan di kepalanya. Kini, dia malah terancam di bakar.


Coba saja jika kau bisa, gumam Nenek Mayang dalam hatinya.


......................


Bersambung ...


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah ๐ŸŽ, Vote ๐ŸŽซ, Like ๐Ÿ‘, dan Coment setelah membaca yah .

__ADS_1


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2