Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 56


__ADS_3

...Rayuan manis itu ikut terpantri ke hatimu sendiri, menggetarkan singasana yang dingin, karena tanpa sadar terbiasa mengucapkan taburan gula untuk orang itu....


...—Eouny Jeje—...


...Sakit Itu Proses Yang Indah. Agar senantiasa kau ingat bagaimana kau berjuang untuk mendapatkan apa yang kau inginkan....


...— Nenek Mayang—...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu Minggu Kemudian ...


Aprilia terlihat pucat di atas tempat tidurnya. Sepasang kakinya terbuka lebar. Jika dia merapatkan kakinya, maka jarum seakan mencubit daging lembut miliknya. Sakitnya tiada taranya.


"Hari ini adalah hari sakit terakhir milikku." Aprilia merapatkan kakinya pelan. Bangun dari tempat tidurnya, seluruh mimik wajahnya terlihat meringis menahan sakit.


"Sakit sekali." Aprilia mampu bangkit berdiri dengan telapak kaki menapak lantai, dan tubuh miring ingin melayang. Dia merasakan rembesan jatuh menembus pembalut haid yang dia gunakan.


"Apakah aku tidak apa-apa?" Aprilia meraba dinding dan menatap dirinya pada pantulan cermin. Dia mergeryitkan alisnya, seakan sadar sesuatu, sesuatu dalam perutnya, bagaimana kabarnya?


"Apakah aku?" Aprilia menatap perut rata miliknya, Keguguran kah aku?


Aprilia teringat akan adegan tujuh hari yang lalu. Bagaimana sakitnya Nenek Mayang meletakkan jarum susuk pada daerah genitalnya. Dia merasakan tangan renta itu masuk ke dalam liang miliknya,dengan tangan yang terus mencubit dan mengejar-ngejar sesuatu di balik perutnya.


Satu Mingu yang lalu ...


Aprilia terbaring di atas tempat tidur,dengan posisi sepasang kaki yang tertekuk yang ternganga lebar. Malam itu sangat gelap. Kamar bahkan dibiarkan tanpa penerangan. Sebuah tangan terulur masuk ke dalam miliknya,dengan banyak bisikan mantera yang tidak di mengerti oleh Aprilia.


"Sakit, Nek! Lepaskan tanganmu! Cabut tanganmu!" ringis Aprilia berontak dengan peluh keringat banjir membasahi seluruh wajahnya.


"Tahan sebentar. Sakit Itu poses yang indah. Agar senantiasa kau ingat bagaimana kau berjuang untuk mendapatkan apa yang kau inginkan," ujar Nenek Mayang dalam kegelapan yang tanpa di ketahui Aprilia, menundukkan wajah untuk menjilat darah merah muda yang mulai merembes dari liang miliknya.


"Nek ini! Tanganmu mengapa terus di sana!" Protes Aprilia terasa mulai menggigil gila dengan tangan renta yang terus bermain-main disana dengan banyak cubitan sakit.


"Tahan sebentar!"

__ADS_1


Dari tadi aku telah menahannya. Namun, derita ini masih begitu panjang. Uh, aku ingin menyerah.


Aprilia mulai memejamkan matanya. Merasakan peluh keringat dan air mata telah membaur menjadi satu memenuhi seluruh permukaan wajahnya.


Deg! Sepasang bola mata Aprilia membola besar kala tangan renta itu seakan merobek sesuatu dan menarik keluar sesuatu dari dalam perutnya. Aprilia dengan napas berat bertanya tanpa memiliki kekuatan untuk mengintip apa yang telah di ambil oleh Nenek Mayang.


"Nek, a--pa yang k-au am-bil?


"Sesuatu yang enak dan manis," jawab Nenek dengan posisi berjongkok di lantai yang jauh dari pandangan Aprilia.


"Nek a-pa itu?" Aprilia sangat penasaran. Namun, kekuatannya hilang begitu saja kemudian. Hanya kegelapan yang di lihat matanya. Warna hitam yang sangat pekat. Samar-samar dia hanya mendengar suara kresh! Kresh! Kressh! seperti seseorang yang menikmati makanan dengan rakus.


Aprilia membuka matanya. Dia kembali ke nyata, keluar dari ruang ingatannya.


"Janinku!" Aprilia segera menyesal dengan bodohnya menyadari apa yang telah terjadi. Dia segera masuk kamar mandinya, melepas daster yang membalut tubuhnya. Dia melepas pakaian dalam miliknya pula, dengan pembalut penuh darah yang jatuh lebih dulu ke lantai.


"Aku?" Aprilia mengguncang dirinya dengan sepasang mata yang membola, "Apakah aku?"


Aprilia tidak mampu melanjutkan pertanyaan untuk dirinya sendiri.


"Tenang! Nenek Mayang tidak akan sejahat itu untuk meminta janin dalam perutku!" Aprilia menyeka sisa-sisa air di wajahnya. Dia segera membersihkan diri, berganti pakaian.


"Aku harus memeriksa ke dokter!" Aprilia pun menggunakan panggilan ojek online untuk ke klinik bersalin.


Klinik Bersalin Bunda


Setelah mengantri dan menunggu satu jam. Aprilia pun duduk berhadapan dengan seorang wanita paruh baya yang terlihat mengenakan raut prihatin dengan satu gambar USG yang di serahkan pada Aprilia.


"Kosong! Tidak ada janin dalam perut!"


"Apa?" Aprilia ingin jatuh dalam kegelapan. Janin dalam perutku, sudah tidak ada.


"Apakah ibu tidak menyadari dengan banyak darah yang keluar dalam tujuh hari ini?" Dokter terlihat heran dan jatuh prihatin akan sikap wanita muda yang terlihat tidak menyadari sama sekali dengan janin yang telah gugur.


"Maaf. A-aku!" Aprilia menggigit bibirnya. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Perlahan jatuh, lambat laun seperti rinai hujan yang tidak ingin putus dan hilang begitu saja.

__ADS_1


"Aku akan memberikan resep untuk membantu memulihkan diri. Wajah Nyonya sangat pucat."


Deg! Aprilia hanya diam. Namun, jantungnya tidak berhenti berkomentar. Bagaimana kejamnya Nenek Mayang mengambil janin dengan tangan yang menerobos paksa janin yang masih hidup dan berenang-renang dalam perutnya?


Setelah cukup tenang. Aprilia memutuskan segera keluar dari klinik bersalin. Dengan banyak jejak air mata, dan tangan yang memegang kresek obat. Aprilia duduk menunggangi motor sang ojek online yang telah menunggunya sedari tadi.


"Pak, pulang kerumah!" ujar Aprilia terdengar lesu.


Dalam tiga puluh menit kemudian, dengan menembus kemacetan dan riuh jalan raya pada siang hari. Aprilia telah mencapai rumah kontrakan miliknya. Dia menyerahkan satu lembar wajah Soeharto pada sang ojek Online. Tidak menoleh sedikitpun untuk meminta kembaliannya. Dia segera lantas masuk ke dalam rumahnya, dan terburu-buru masuk ke dalam kamarnya dengan wajah penuh amarah.


"Nenek Mayang!" jerit Aprilia mengguncang boneka jerami yang dia temukan di atas meja rias.


"Keluar kau! Dasar iblis! Kau mengambil janinku!"


Segumpal asap hitam tiba-tiba keluar dari ufuk kepala boneka jerami, membentuk sosok Nenek Mayang yang terkekeh dengan wajah tak berdosanya.


"Kau!" Aprilia ingin segera mencekik wanita tua itu. Namun, dia hanya menangkap angin. Sosok leher wanita itu tidak mampu dia jerat dengan setiap jari miliknya.


"Ada harga yang harus kau bayar! Bukankah aku sudah mengatakannya."


"Tetapi, tidak seharusnya kau mengambil sesuatu yang masih hidup, dan masih belum berdosa itu." Aprilia kembali berair mata.


Nenek Mayang mencubit dagunya sendiri, menunjukkan kesombongan miliknya, "Aku iblis. Kejam dan sadis. Air mata tidak berguna. Bukankah kau harus bersyukur, aku membantumu lepas dari aib yang kau ciptakan sendiri."


"Kau!" Aprilia mengangkat telunjuk, "Tidak punya hati. Kembalikan janinku!"


Nenek Mayang tertawa, "Tentu saja aku akan kembalikan. Aku tidak pernah berhutang. Jangan lupa, keserakahan itu milikmu sendiri. Kau menyumbang peran dalam hal ini."


Aprilia jatuh lunglai ke atas lantai. Dia hanya meremas rambut mekarnya.


Ya, janin itu hanya bagian dari aib. Untuk apa menyesal membuangnya. Bukankah ada harga yang harus di bayar untuk sebuah dosa selanjutnya. Jangan menangis lagi. Apa yang telah ku lewati, tidak akan pernah mampu aku hapus jejaknya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .

__ADS_1


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2