Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 49


__ADS_3

...Dendam itu bak pohon yang tumbuh dan berakar kuat, karena siraman air mata....


...—Eouny Jeje—...


..."Cinta itu pun bisa datang dari rasa benci yang dalam. Cinta dan benci itu terdengar mirip. Selalu memikirkannya dan tidak mudah melupakannya."...


...—Puspa—...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 22. 00 Wib


Puspa baru saja akan merebahkan dirinya pada dipan kecil yang hanya beralaskan tikar dengan kasur tipis yang terlihat tidak layak pakai, di alaskan dengan sprei motif bunga-bunga yang terlihat kusam. Baju tidur yang dia kenakan, bahkan kini terlihat sangat minim. Tubuhnya menjulang tinggi. Namun, pakaiannya hanya itu-itu saja. Hanna, bibinya maupun Rogas, pamannya, tidak pernah membelikan pakaian yang lebih layak untuk tubuhnya yang telah tumbuh menjelang dewasa.


"Dara," ucap suara pria dewasa yang tiba berdiri di depan dipannya. Dara adalah nama pertama yang diberikan saat mengadopsi dirinya. Adara Arianti. Namanya yang bagus. Namun, tidak sebagus nasibnya.


Puspa mendongak. Raut terkejut terlihat jelas pada wajah bundar itu. Dia melihat Rogas datang dengan membawa satu kresek plastik belanjaan.


"Ada apa paman?" tanya Puspa, menlonjorkan kakinya turun menapak lantai.


Pandangan Rogas terlihat jatuh menatap pada kulit kaki paha gadis remaja itu. Merasa ditatap di sana. Puspa segera mengambil bantal dan menutupinya. Setelah itu, Puspa menunduk takut.


"Dara, bikinkan paman kopi." Rogas duduk di tepi ranjang.


Puspa segera bangkit berdiri. Dia segera menghadap meja dan mulai menyeduh kopi. Di belakang punggung, sepasang mata liar dengan sedikit keriput halus itu terlihat menilai tubuh gadis berperawakan kurus itu.


"Berapa umurmu sekarang?"


"15 tahun, paman," jawab Puspa seraya mengaduk kopi.


"Berat badanmu?"


"35 kg." Puspa meletakkan cangkir kopi pada nampan.


"Kau terlalu kurus. Seharusnya, jika lebih berisi. Pasti kau sangat menarik dan enak di pandang tentunya."


Puspa menelan ludahnya. Kalimat itu terdengar seperti ancaman. Namun, dia menepis pikiran buruk dan berjalan menyodorkan kopi.


"Ini paman."


Rogas mengambil cangkir. Menyeruput perlahan, "Kopi manis seperti pembuatnya. Dara yang sangat manis."

__ADS_1


Deg! Jantung Puspa berkedut mendengar pujian itu. Ada ketakutan di sana. Pertama kalinya dia mendengar pamannya memujinya.


"Kenapa?"


Puspa mendongakkan wajahnya. Lamunannya buyar. Namun, dia tidak menyadari pandangan Rogas telah terpaku pada dadanya yang baru saja terlihat bertumbuh. Di balik piyama itu. Dia tidak pernah mengenakan Bra atau sejenis pakaian dalam yang seharusnya di kenakan seorang gadis remaja.


"Tidak apa-apa paman."


"Dara kau sudah beranjak dewasa."


Puspa berdiri kaku. Pertanyaan ini membuat pikirannya merasa dirinya makin terancam.


"Seharunya kah sudah mengenakan pakaian dalam."


Deg! Sepasang bola mata Puspa membola besar. Kalimat itu benar menyentil benaknya, dan dia segera mengetahui arah pandangan mata pamannya pada dadanya. Dia segera membalikkan tubuhnya.


"Dara, jangan takut. Paman hanya peduli.Oleh itu paman membeli ini untukmu."


Puspa bergetar. Mendengar suara kresek belanjaan di buka. Membuat Puspa makin gelisah. Lalu, tiba saja tangan kuat dan besar itu menyentuh bahunya.


"Coba dilihat dulu."


Deg! Puspa gelisah. Namun, raganya di putar oleh Rogas. Berhadapan dengannya.


Puspa menggelengkan kepala. Pakaian dalam itu bewarna merah dengan motif renda dan terlihat tidak sesuai untuk anak remaja seperti dirinya.


"Pakailah." Rogas meletakkan tangannya pada bahu Puspa. Lalu, tangan kasar itu turun dari bahu menyusuri tulang punggung yang terasa bergetar kuat, dan akhirnya berhenti meremas pinggang kecil Puspa. "Paman bantu pasangin, yah."


"Paman, jangan!" rengek Puspa. Namun, dorongan datang padanya. Dia di jatuhkan pada pembaringan kecil yang tidak akan muat untuk dua orang. Lalu, pria besar itu datang melabuhkan dirinya tepat di atas tubuh ringkih kecil miliknya. Suara derit ranjang terdengar memilukan. Kreett ! Kritttt! kreett!


"Gadis kecil. Layanilah paman. Maka semua yang kau mau. Akan paman berikan."


Puspa menggelengkan kepala. Air matanya jatuh deras dengan banyak ancaman yang menakuti dirinya, "Pa-man, jangan! a-aku ti--dak ma-u!"


Namun, setiap air mata Puspa.Tidaklah menghentikan perbuatan Rogas. Rogas hanya terkekeh atas napsunya. Dia membelai rambut gadis kecil itu. Mencium keningnya, dan tangan lainnya menyingkirkan tangan kecil gadis itu yang terlihat menyilang di dada.


"Jangan menangis. Paman tidak menyakitimu. Paman hanya mengajari, bagaimana kau harus tumbuh melayani orang yang telah merawatmu."


Srettttt! Robekan kain terdengar. Air mata jatuh berderai, dan pagutan datang pada lehernya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Tidak!!!" Puspa terbangun dari mimpi buruknya. Peluh keringat dan air mata terlihat membanjiri wajahnya.


"Ada apa? Kau mimpi buruk?" Terdengar suara seorang pria yang juga ikut bangun,dan tangan itu merangkak menyeka air mata itu.


Puspa memalingkan wajahnya ke asal suara. Dia menghela napas, ada kelegaan di sana.


Bukan Rogas brensek itu. Dia Jack.


Puspa segera memeluk Jack, dan berbisik, "Aku bermimpi buruk lagi."


"Bermimpi apa, Nana sayang?" pria itu merangkul ketat.


Puspa terlihat berpikir sebentar, dan menjawab, "Aku bermimpi, kau dan babu jelek itu bersama."


"Babu jelek?" Jack mengerutkan keningnya, "Aprilia?" Sinar matanya terlihat jijik kemudian kala Puspa terasa mengangguk di atas bahunya.


"Tidak mungkin aku bersamanya. Kecuali, dia memeletku," ujar Jack terasa menyimpan geram di dalam dadanya. Dia teringat telah meniduri janda beranak satu itu, sebanyak dua kali. Itu adalah kesialan terburuk baginya,dan dia berjanji, bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Tidak akan pernah terjadi lagi. Jika hal itu terjadi, maka dia telah menjadi pria idiot.


"Kau jangan berkata seperti itu. Cinta itu pun bisa datang dari rasa benci yang dalam. Cinta dan benci itu terdengar mirip. Selalu memikirkannya dan tidak mudah melupakannya."


"Benci dan jijikku tidak akan berubah menjadi cinta. Kecuali, aku di pelet atau berubah menjadi idiot."


Puspa terbahak. Melepaskan rangkulannya dan menatap Jack lekat, dan bibir tipis itu bertanya padanya, "Apakah kau mencintaiku?"


Jack tidak langsung menjawab. Sebuah kecupan dia daratkan pada bibir Puspa


Berdiam lima detik di sana, dan dia berbisik di atas bibir itu, "Jack sangat mencintai Nana."


"Gombal." Puspa mendorong Jack, dengan seraya membuka kancing kemeja atasnya. Bahkan dia tidak menyadari jika Jack telah menyusulnya kerumah, dan menemaninya tidur semalaman. Kejutan liar pada tengah malam seperti ini.


Jack tertegun akan setiap tombol kancing yang di pegang Puspa. Lalu, pandangan matanya jatuh kesal pada tangan putih yang terlihat bergerak lambat sengaja membuka tombol kancing kemeja.


"Apakah perlu bantuan membukanya?" Ingin rasanya Jack merobek kemeja Puspa.


Bergerak membuka kancing lambat sekali, padahal napsuku telah memuncak dari siang hingga malam. Sedangkan kau terus tertidur pulas, keluh Jack.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ...


Jangan lupa koment lanjut yah 😂

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2