
Karena di gelitik rasa penasaran yang sangat tinggi. Tanpa sadar kaki Aprilia melangkah masuk kembali ke kamar Puspa. Lalu, dia duduk menjongkok. Tangannya terulur memegang ganggang laci. Deg! Aprilia menarik napas dalam, dia merasa sangat gugup seperti layaknya pencuri akan mengambil sesuatu.
"Apa isinya? Tidak mungkin, dia meninggalkan harta Karunnya dalam laci ini," tepis Aprilia. Kret! Akhirnya Aprilia menarik laci. Sepasang matanya terlihat membulat, dan bibirnya ternganga membentuk huruf O.
"Ini?" Tangan Aprilia meraih satu boneka dari jerami yang terlilit dengan benang merah, dengan satu jarum besar tertusuk pada perutnya, dan ada satu lembar foto yang menempel pada punggung boneka jerami tersebut. Rasa takut langsung menyergap dan mengisi seluruh rongga dada Aprilia. Karena rasa takutnya, tanpa sadar dia telah menjatuhkan boneka jerami tersebut.
Tiba-tiba saja tangan Aprilia mendadak gemetar. Mendadak sangat takut. Dia pun memejamkan matanya, menghela napas panjang, dan mulai menguasai dirinya. Tangannya berhenti bergetar. Barulah, dia kembali membuka matanya. Sepasang matanya melihat apa saja di dalam laci. Ada selembar foto keluarga, dan beberapa foto lainnya.
Aprilia menarik lembaran foto tersebut. Foto pertama yang dia raih, Foto Dandy bersama isterinya, dan dua anak perempuannya.
"Keluarga yang terlihat manis dan harmonis," pikir Aprilia menilai senyum setiap orang yang terekam dalam gambar tersebut.
Aprilia meraih foto kedua. Tampak Dandy bersisian duduk dengan seorang gadis muda yang terlihat sangat polos, dan seberang kursi lainnya di isi Jack, Arthon, dan Dika. Gambar itu terlihat di dalam ruang karaoke, dengan banyak gelas sampanye dan botol anggur yang berserak kosong di atas meja. Setiap orang terlihat mengantuk dan terpengaruh alkohol. Kecuali gadis itu.
Aprilia menatap lekat foto tersebut. Terlihat dia memiliki ciri khas wajah Puspa. Walau terlihat sangat jauh berbeda. Namun, kemiripan gadis muda itu masih terlihat membekas dalam.
"Apakah ini Nana versi dulu?" Aprilia menaikkan ujung bibirnya, dan terbahak kemudian. "Mengejek orang lain. Padahal wajahmu dulu, tidak tertolong! Jelek sekali!"
Namun, tiba-tiba saja Aprilia berdiri. Menatap dirinya pada pantulan cermin besar yang melekat pada pintu lemari. Tangan kecilnya naik merangkak, meraba wajahnya.
"Jika Nana bisa berubah begitu berbeda 180 derajat. Bearti, wajahku pun bisa tertolong!" Aprilia tersenyum membayangkan perubahan dirinya, dia memejamkan matanya sebentar. Di saat itu, tiba-tiba sosok Jack masuk dalam pikirannya, tergila-gila dan memuji, "Aprilia, kau sangat cantik seperti So Hye Kyo."
Aprilia mengelap bibirnya kala dia merasakan bibirnya telah di cumbui oleh pikirannya sendiri, dia merasakan dan membayangkan sosok Jack yang telah melumuri bibirnya dengan rasa manis anggur dalam mulutnya.Saling mengecap nikmat bertukar air liur.
__ADS_1
Tidak lama. Aprilia menggelengkan kepalanya. Kala dia mulai sadar dan kembali ke nyata. Dia hanya sedang di kelabui keinginannya yang sangat mustahil.
"Tidak mungkin aku bisa seperti So Hye Kyo!" elak Aprilia menepis pikirannya. "Tetapi, semua wanita akan cantik ketika dia banyak uangnya."
Aprilia mengerucut bibirnya, menghela napasnya, dan mendengus, "Sayangnya, aku miskin dan tidak punya uang. Kecuali, hidup ini bisa menggunakan uang monopoli. Mungkin, aku sudah oplas dan permak wajah."
Aprilia kembali mendongakkan kepalanya, dan menatap pantulan dirinya pada cermin, "Tuhan, mengapa kau memberikan paras seperti wajah ini sih? sangat jelek! Andai kau berikan wajah cantik, pastilah aku tidak akan di tinggalkan Gusti. Atau walaupun menjadi janda, setidaknya Jack dan teman-temanya tidak mengejekku! Bisa saja, Jack mengejarku."
Aprilia tersenyum pahit. Sosok Jack yang akan berlari mengejarnya, hanyalah mimpi belaka. Itu tidak akan terjadi. Aprilia kembali berjongkok, mengambil foto lain. Foto Dandy dengan kepala botaknya terlihat mengkilat, yang tergambar duduk di balik meja kerjanya. Lalu, Aprilia meraih foto selanjutnya. Sepasang matanya tertuju akan sosok yang selalu diinginkan. Jack.
Aprilia menarik foto pria tersebut. Dup-dup-dup!
Tiba-tiba saja jantung Aprilia berdegup sangat keras hanya karena sosok yang terbingkai dalam foto.
"Apakah aku bisa mengambil satu foto ini saja?" tanya Aprilia pada dirinya sendiri. Namun, dia menggelengkan kepalanya. "Akan ketahuan Nana, dia akan mencekikku nanti."
Aprilia meniup-niup udara keluar dari mulutnya. Lalu, terbersit lah ide lain di benaknya. Dia segera keluar dari kamar Puspa, dan dengan langkah terburu-buru dia masuk ke kamarnya, dan dia mendapati Dimas sedang bermain game.
"Dimas, kembalikan ponsel ibu." Aprilia menyembunyikan foto Jack di belakang punggungnya.
"Masih, main game ibu."
Aprilia bergerak merampas dari tangan Dimas, dan hanya berceletuk, "Ibu ada perlu. Kamu bermain yang lain saja."
__ADS_1
Sepasang mata Aprilia, terlihat bak bintang bersinar setelah mendapatkan ponselnya, Aprilia meninggalkan kamarnya. Kembali, ke kamar. Lalu, dia menjepret berkali-kali foto Jack.
Senyum Aprilia mengembang sempurna, setelah banyak jepretan yang dia ambil. Dia menatap layar ponselnya, memandangi dengan takjub seperti sedang jatuh cinta pada bintang di langit, yang sangat sulit dia rekuh, "Tidak memiliki tubuhmu di sisiku. Memiliki fotomu saja, sudah membuat diriku sebahagia ini, Jack."
Aprilia terus tersenyum pada ponselnya. Memejamkan matanya, dan dia merasakan kembali sosok Jack menghampirinya dan memeluknya dan dagu pria itu jatuh menumpuk di ufuk kepalanya.
"Romantis sekali. Jadi ketiga ataupun keempat. Aku tidak peduli," ujar Aprilia yang kemudian kembali memasukkan setiap Foto ke dalam laci lemari. Kala, Aprilia memungut kembali boneka jerami itu. Dia tergelitik rasa penasaran akan sosok foto yang berada di belakang punggung boneka jerami tersebut.
Tangan Aprilia sedikit gemetar. Dia menarik foto tersebut terlepas dari ujung jarum besar yang menusuk tembus dari perut hingga ke punggung boneka jerami tersebut.
"I-ni ...." Aprilia melepaskan selembar foto itu jatuh ke lantai. "Foto istri Dandy!" Deg! Jantung Aprilia berdegup kencang.
"A-apa Nana ingin mencelakai istri sah Dandy dengan santet!" terka Aprilia dengan wajah terlihat tegang membayangkan efek yang akan terjadi.
"Asal dia tekun dalam agama. Ilmu hitam manapun, tidak akan bisa menyentuhnya." Aprilia pun kembali merekatkan foto pada ujung jarum paku yang sedikit muncul pada punggung boneka jerami. Namun, karena tidak hati-hati, ujung jarum melukai tangan Aprilia.
Tanpa di sadari Aprilia. Setitik darah Aprilia yang menempel pada ujung jarum, telah memberikan nyawa pada boneka jerami tersebut untuk bekerja menyalurkan ilmu hitamnya, dan di lain tempat.
Terlihat Alicia menginjak pedal.gas mobilnya secepat mungkin melaju ke arah bandara. "Aku tidak akan membiarkan kau lari bersama wanita hina itu," kecam Alicia murka dengan tangan yang memegang kemudi mobilnya.
......................
Bersambung ....
__ADS_1