
...Lebih baik berlama menilai dan menunggu. Daripada tersakiti lagi....
...—Eouny Jeje—...
...Rumah tangga itu akan berakhir jika cinta sudah tidak ada dalam hatinya....
...—Aprilia—...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu Minggu Kemudian
Aprilia hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar. Dia hanya keluar rumah setiap kali pengantar makanan dan minuman datang yang di antarkan oleh salah satu suruhan Sadewa.
Selesai makan malam. Aprilia menyeka mulutnya, dan kembali ke kamarnya. Berbaring menatap langit kamar dengan tatapan yang telah tegar. Dia mulai terbiasa dengan luka yang belum sembuh. Dia mulai terbiasa untuk tidak merasakan luka yang telah di siram cuka. Dengan tidur, dia mampu melupakan masalahnya sejenak. Walau, ketika dia bangun sepasang matanya ikut basah lagi dan lagi. Menangis kembali sepanjang hari.
Ting nong ! Ting nong! Bunyi Bel pintu terdengar panjang dan berkali-kali di tekan, mengejutkan Aprilia. Aprilia mendongakkan wajahnya kepada jam dinding. Jam 15.00 wib. Bukanlah waktu sang pengantar makanan datang.
Siapa yang datang? Tidak ada yang mengetahui aku berada di sini? Aprilia beranjak bangun. Ragu untuk melangkah. Ragu untuk mengintip. Namun, besar rasa penasarannya membuat dia keluar dari pintu kamar, bersamaan dengan bunyi Brakk! terdengar. Daun pintu terhempas ke dalam menabrak dinding.
Baru saja Aprilia mendongakkan kepalanya ke ambang pintu. Sosok besar yang terlihat bulat itu berdiri dengan sepasang mata melotot terlihat sangat merah.
"Rupanya kau simpanan Sadewa!"
Deg! Aprilia mundur selangkah bersamaan dengan jantungnya yang menciut takut akan sosok yang datang melangkah panjang dan berat padanya.
"So-re, ibu ...," sapa Aprilia bodoh dengan raga bergetar melihat sosok yang telah berhenti tepat di depannya, yang hanya menyisakan jarak satu langkah di antara mereka.
Santi, istri sah Sadewa terlihat merah melotot dan tangannya naik ke udara, dan tangan itu menciptakan bunyi panjang, Plakkk!
"Menjadi simpanan, dan aku dengar kau hamil anak suamiku!"
__ADS_1
Aprilai meraba pipinya. Jejak merah dan pedas itu terasa membakar hingga dadanya, dan dia hanya lirih menyahut, "Maaf, Bu ...."
Santi menatap telapak tangannya yang masih menggantung di udara. Bergetar dengan jantung yang berdegup kencang, Dup—dup—dup!
"Kau hanya berkata maaf setelah menghancurkan rumah tangga orang lain. Sungguh tidak tahu malu."
Aprilia Kelu menjawab. Lidah kecilnya tergulung dalam mulut menelan ludah isak ketakutannya. Diapun makin tergagap dan mundur selangkah demi selangkah kala sosok besar itu maju terus selangkah demi selangkah dan menjebak pada dinding kamar.
"Kau hamil?"
Aprilia mengganggukan kepala.
"Jika lahir. Berikan anak itu padaku. Maka dosamu tidak akan ku hitung lagi."
Aprilia terpaku akan permintaan sosok wanita dengan air mata yang terlihat jatuh dengan banyak hal sia-sia.
"Sebenarnya kami saling mencintai. Hanya karena aku sering menggugurkan anak dalam kandungan di masa mudaku. Aku tidak dapat hamil lagi setelah menikah. Hanya karena anak, Sadewa merebahkan banyak wanita ke ranjang."
"Berikan anak itu untukku. A-aku mohon, okay?"
Aprilia tersenyum sinis. Dia meraba perut ratanya, dan kesombongan lahir kemudian. Setiap kedudukan wanita akan mudah tersingkir, jika tidak mampu memberikan keturunan untuk pria yang dia cintai.
Anak itu beharga sebagai status seorang istri sah, gelitik Aprilia dalam hatinya yang merasa unggul satu langkah daripada Santi.
"A-aku akan membesarkan anak-mu seperti dia te-lah la-hir dari perutku. Biarkan suamiku mencintaiku kembali. Biarkan a-nak itu men-jadi pelengkap ru-mah tanggaku."
Deg! Aprilia menahan napasnya. Ada rasa ironis di dalam kalimat Santi, sekaligus kasihan karena jatuh idiot mencintai pria yang salah.
Kau bodoh sekali Santi. Seseorang yang mencintaimu, tidak akan pernah berniat menduakanmu. Dia tidak akan pernah setia, walau kau merawat anaknya dengan tulus. Kecuali, jika kau mampu membuat dirinya jatuh cinta dengan apa yah ....
Aprilia mendongak menatap tubuh besar yang membungkuk. Badannya besar dengan setiap lemak yang terlihat membentuk buku-buku daging yang kenyal.
__ADS_1
Dengan pelet. Setiap pria pengkhianat itu tidak akan setia. Jika tidak kau pelet!
"Aprilia apakah kau setuju?" tanya Santi dengan dua bola mata yang terlihat sangat berharap. Tiba-tiba tangan berlemak dan lebar itu menyentuh perut Aprilia, seakan janin itu adalah miliknya sendiri.
"Ibu Santi." Aprilia ikut duduk berjongkok dan tersenyum aneh, "Aku akan rundingkan dulu dengan mas Sadewa."
Santi terlihat melompat terkejut, "Untuk apa berunding?"
"Karena janin ini adalah miliknya dan milikku. Jika kuberikan padamu. Lantas, apakah kedudukanku di dalam rumah tangga kalian?"
"Kau serakah!" Santi mendorong Aprilia agar menjauh dari dirinya. "Kau wanita yang hadir dalam rumah tangga orang lain. Aku datang mengemis di minta orangtuaku, agar aku tetaplah istri sah bagi Sadewa. Namun, tetap saja wanita yang hadir di belakang itu. Walau aku pergi memohon, kehidupan pencuri dan serakah itu tetap lah dominan. Kau ingin menyingkirkan aku kan."
Aprilia menghela napas. Karena janin dalam perutnya, membuat dia mulai sombong. Dia meraba perut ratanya, dan mendesis, "Cepat atau lambat. Sebesar apapun usahamu. Rumah tangga itu akan berakhir jika sudah tidak ada cinta di dalam hatinya."
Santi mengangkat tangannya dan menjambak rambut Aprilia dengan keras, "Lalu, kau mampu berbangga di atas rumah tangga yang kau hancurkan sendiri. Ambil saja Sadewa itu untukmu. Biarpun aku lahir seutuhnya dengan tubuh berlemak seperti ini. Setidaknya hatiku tidak ikut berlemak seperti dirimu."
Selesai melontarkan kalimatnya. Santi melepas jambakannya dengan mendorong kuat Aprilia pada dinding, dan membenturkan kepala wanita itu pada dinding.
"Ambil saja suami miskin itu. Untukmu! Setelah bercerai, dia itu tidak memiliki apapun selain botol ****** yang dia bawa kemana-mana."
Aprilia meraba keningnya. Menyeka kulit keningnya yang terasa panas dan nyeri. Dia menurunkan telapak tangannya, dan melihat bercak darah menempel pada dinding telapak tangannya. Dia menoleh pada Santi yang baru saja berbalik melewati ambang pintu, dan berangsur-angsur pandangannya mulai kabur, berbayang-bayang, mengirimkan rasa pusing dan tidak menunggu waktu lama, pandangannya menjadi gelap dan sangat gelap.
Sosok wanita tua yang bersemayam dari boneka jerami yang tergeletak di lantai, tampak keluar perlahan berjongkok menatap Aprilia yang telah tidak sadarkan diri.
"Wanita malang. Sekarang apa yang kau harapkan dari seorang pria miskin dengan membawa anak dalam perutmu? Kau bercita-cita kaya. Namun, yang terjadi kau hanya akan hidup miskin dengan membawa satu tanggungan lagi. Kasihan dan miris sekali."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ....
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
__ADS_1
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo