Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 37


__ADS_3

Ade pun mengangkat kepalanya dan organnya agar melayang kembali di udara. Dia terlihat memiliki energi lagi. Dia melayang mengikuti Aprilia masuk ke dalam kamarnya. Aprilia terlihat sudah membuka jendela,dan mempersilahkan Ade keluar.


Ade menggelengkan kepala. Aku memintamu antar aku pulang ke apartemen Aswin, pinta Ade secara internal pada Aprilia.


Aprilia menggelengkan kepala. Menolak. Dia tidak ingin bertemu Aswin. Pria yang telah mengusirnya keluar.


"Aku tidak mau. Sudah cukup aku membantumu. Itu pun kau belum membayar utang budi ini padaku."


Ade terlihat mengkritingkan bibirnya. Lantai apartemen Aswin begitu tinggi. Dia takut terbang setinggi itu, dan jatuh lagi karena energinya habis cepat. Dia telah jatuh berkali-kali dari apartemen itu kala dia ingin kembali. Kini, dia sangat takut ketahuan jika naik terbang dan jatuh lagi di sekitar apartemen Aswin.


Bantu aku pulang. Maka, aku akan membantumu mendapatkan pekerjaan. Aku berjanji.


Aprilia tercengang sebentar akan iming-iming itu. Dia melipatkan tangannya di dada. Matanya menyipit mendapat janji.


"Apa kau serius?"— Aprilia berjongkok menatap Ade—"Kau bisa membantuku bekerja, di perusahaan Dandy."


Aprilia meluruskan punggungnya, dan dia tersenyum sendiri, "Atau bekerja di perusahaan Jack." —Aprilia mengelap bibirnya— "Atau bantu aku mendapatkan hati Jack. Agar dia bersedia menikahiku."


Di beri hati. Meminta jantung. Ade terlihat kesal.


"Aku membantumu tidak gratis. Apalagi mengantarmu ke apartemen pria yang telah mengusirku."


Aku akan memberikan pekerjaan untukmu. Jangan meminta pria dulu padaku. Karena, aku saja masih single.


Aprilia terkekeh. Menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak menimbulkan suara tawa yang keras, "Masa sih kamu single? bukannya kau dan Aswin?" Aprilia menyelidiki dengan matanya. Ade menghindar untuk menjawab.


Bantu aku pulang. Aku harus segera menyatu dengan tubuhku.


Aprilia pun menganggukan kepala karena merasa sangat kasihan. Dia pun menyanggupi permintaan Ade.


"Bagaimana cara aku mengantarmu?"


Letakan aku pada tas besar. Sembunyikan aku. Bertandanglah ke apartemen Aswin lantai 44 nomor 1101.


Aprilia mengangguk dan mengambil koper miliknya. Perlahan kepala berserta organ itu melayang dan merebahkan diri ke alas koper.


"Apa perlu ventilasi udara?" tanya Aprilia linglung akan menarik resleting koper. Ade menganggukkan kepala, Berikan aku ventilasi yang cukup untuk mengintip.


Aprilia pun menarik retsleting koper, dan menyisakan sedikit lubang udara untuk Ade. Dia pun berangkat ke apartemen Aswin, berdasarkan petunjuk Ade.


Pukul 02.00 Wib


Tepat pukul 2 pagi. Aprilia telah turun dari Taxi. Dia terlihat ragu memasuki apartemen Aswin. Di lobby terlihat dua satpam dengan wajah siaga berjaga di lobby.


"Ada penjaga. Bagaimana jika mereka memeriksamu dan menemukanmu, Ade." Aprilia ragu dan khawatir melangkah.

__ADS_1


Masuk saja. Demi pekerjaan. Kau harus menghalau mereka, sahut Ade secara internal.


Aprilia pun menarik napasnya dalam-dalam. Dia mengangkat dagunya, membusungkan dadanya, menyeret kopernya. Menuju lobby apartemen.


Dua security menatap tajam pada sosok Aprilia yang baru memasuki lobby.


"Ada apa? Tidak di perbolehkan berkunjung pada jam dini hari seperti ini." Security itu mencegah dengan wajah seramnya.


Aprilia menelan ludahnya. Serasa mati di tempat akan larangan itu. Dia linglung harus menjawab apa.


"Ada keperluan apa yah?" Security yang terlihat lebih ramah maju. Namun, sepasang matanya terus menatap koper, "Membawa apa?"


Kepala, pak ...,sahut Aprilia dalam hatinya. Aprilia masih berdiri membisu, kaku, dan hatinya gemetaran takut. Takut ketahuan


Aprilia merasa sangat gugup, apalagi dia telah menyembunyikan sosok kepala bersama organ tubuh di dalam koper. Bagaimana jika aku ketahuan? Aku akan di samakan dengan Sumanto, sang kanibal. Atau .... sebagai dukun sakti konyol.


"Anda bukan penghuni di sini kan?"


Mendengar pertanyaan itu. Lamunan Aprilia buyar, menguap hilang.


Aprilia menggelengkan kepalanya, mengiyakan bahwa dia bukan penghuni apartemen.


"Ingin menemui sapa?"


Dua security itu saling bertukar pandang. Teringat akan sosok wanita baru sebagai penghuni apartemen 1101. Dia cantik dan sexy.


"Apartemen 1101."


Aprilia menganggukan kepala. Mendorong koper. "Saya ingin mengantar pakaiannya untuknya. Saya baru kembali dari Bandung, pak."


"Tetapi, ini saya sudah jam tidur."


Aprilia mendorong koper. "Ya sudah titip saja ke Ade yah pak. Saya permisi pulang."


Salah satu security menerima koper. Dia terlihat mengamati koper usang tersebut. Namun, dia segera menepis kecurigaannya kala mendapatkan sinar mata yang tiba-tiba hadir dan hilang kemudian dari celah koper tersebut.


Aprilia kau ingin membuatku mati sesak di dalam koper. Ade marah secara internal.


Aprilia tertegun, menatap pada dua security. Dia ragu dan jatuh kasihan pada Ade. Gunakan trik memberi uang untuk lolos.


Aprilia merogoh dompet dari dalam tasnya. Membuka dompetnya. Mengambil lima lembar kertas bewarna biru.


"Ijinkan aku ketemu dan banguni Ade sebentar saja." Aprilia menjabarkan tangan pria itu dengan uang miliknya.


Dua security itu saling bertukar pandang. mengangguk pelan.

__ADS_1


"Silahkan, mbak. Asal jangan melewati jam batas kunjung lagi."


Aprilia menganggukan kepala.


"Lift di sana. Mari saya antar." Security itu pun menyeret koper dan mengantar Aprilia ke lift. Setelah membuka akses keamanan Lift. Aprilia di ijinkan naik masuk ke dalam Lift, dan koperpun di dorong perlahan mengikuti Aprilia.


Ting! Aprilia menarik napas setelah pintu lift terkatup ketat. Dia duduk turun berjongkok seraya bersandar di Lift. Dia menepuk-nepuk koper sebentar, dan bergumam, "Kau berhutang dengan aku! Okey! Untuk masuk mengantar kepalamu itu, aku harus mengorbankan 250 ribu."


Aku akan mengganti segera.


"Beserta bunganya."


Aku akan menggantinya menjadi 500 ribu.


Aprilia memukul koper tersebut,dia terkekeh meremeh, "Jasaku menyelamatkanmu kau hargai dengan 500 ribu saja. Keterlaluan!"


Kamu mau berapa? Aku sudah sesak di dalam. Sulit bernapas. Aku ingin segera menyatu dengan tubuhku. Berapapun akan ku bayar. Pekerjaan akan kau dapatkan segera.


Aprilia memintal senang ludah dalam mulutnya mendengar kalimat Ade, 'Berapapun akan ku bayar.'


Aprilia membola licik. Dia teringat akan tarif Aji pelet. Jasa pelet itu 20 juta. Diapun berniat memeras Ade.


"Aku cuma minta 20 juta."


Kau memeras?


Aprilia dengan sombong memukul koper berkali-kali.


"Jangan lupa rahasia besarmu ada padaku."


Kita akan bicara nanti setelah negosiasi harga saja.


Tidak lama terdengar suara Ting! Pintu Lift terbuka. Aprilia segera bangkit berdiri setelah memastikan dia memasuki lantai 44. Aprilia menyeret koper. Berjalan sepanjang lorong dengan perlahan menyeret koper, mencari kamar dengan nomor 1101. Setelah berjalan dua belokan lorong. Akhirnya Aprilia menemukan kamar 1101.


"Sudah ketemu."


Aprilia mengehela napasnya, dia pun mengangkat dagunya. Bersikap angkuh karena akan bertemu Aswin, pria yang pernah mengerdilkan fisiknya.


...----------------...


Bersambung ...


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo

__ADS_1


__ADS_2