Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 158


__ADS_3

..."Asuransi sebagai bukti cinta. Raga yang mencintai boleh pergi. Namun, Cinta tetap menjaga hidup setiap orang yang di cintai hingga akhir hayatnya."...


..._Eouny Jeje_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia tersenyum pada dirinya sendiri, dan berbangga akan dirinya sendiri bercampur aduk dengan keraguan yang sama tingginya.


Jika hal itu tulus, aku adalah wanita yang di sebut Laila. Bertemu Qais yang hanya mencintai diriku. Namun, jika hal itu adalah tipu muslihat, hal ini terdengar sangat menyedihkan.


Aprilia membalik ke halaman lain secara acak. Satu paragraf dalam buku, menarik atensinya kembali. Dialog Emily.


Aku hanya tidak ingin berpisah. Jika ingin berpisah, kau pastikan bahwa kau hanya bisa menerbangkan abuku.


Aprilia terenyuh akan setiap kata Emily yang mencintai Ethan. Namun, bertepuk sebelah tangan. Dia ikut merasakan bagaimana sakitnya cinta yang menepuk dadanya sendiri.


"Cinta itu lah namanya cinta. Terkadang, setiap pecinta sejati hanya akan fokus pada satu orang. Tidak mampu mendua jika sudah menemukan yang tepat."


Karena, rasa penasarannya Aprilia duduk berjongkok, menyembunyikan dirinya di belakang rak, dan dia membaca novel tersebut, hingga matahari terbenam berganti bulan perlahan merangkak naik ke cakrawala.


Pukul 19.00 Wib


Aprilia menyelesaikan bacaannya. Menutup buku meletakkan ke dalam keranjang miliknya. Lalu, dia mengitar rak buku lain, dan mengambil buku lainnya secara acak. Kemudian,menuju etalase diskon sale. Terdapat banyak buku fiksi lama yang sedang di obral. Aprilia memilih berdasarkan sampulnya yang terlihat menarik minatnya.


Berjalan sembarang acak. Lalu, dia berhenti begitu saja. Pantulan cermin menunjukkan kedatangan sosok yang tidak asing di matanya. Jack. Pria itu ke toko buku. Mengejutkan. Dia berbalik. Tiba-tiba pria itu sudah menuju ke arahnya.


Aprilia  celingak-celinguk mengedarkan seluruh pandangannya. Dia membola terkejut. Musuh besar berhadapan dengannya.


Dia bersama Nana.


Tiba-tiba Aprilia duduk berjongkok. Seakan dia takut bertemu wanita itu. Takut, kedoknya kembali terbongkar. Mendadak menjadi gelisah untuk pertama kalinya.


"Aku takut dia mengenaliku lagi!" Aprilia mengigit jarinya. Dia gelisah. Seakan, seluruh kartu AS telah di renggut Puspa.


Bangkit berdiri. Dia ingin menghindar segera. Seakan, perubahan fisiknya tidak akan mampu mengelabui pandangan seorang Puspa untuk mengenal babu jelek. Puspa sangat mengenal babu jelek.  Ketakutan itu menghantam kepala Aprilia.


"Nana itu iblis yang sangat mengenal diriku."


Aprilia bangkit berdiri. Lari dan ingin menghindar Puspa. Ketakutannya akan kekejaman Puspa, membuat nyalinya ciut seketika. Namun, tanpa sengaja, langkahnya tiba di hentikan. Tubuhnya tak mampu di gerakan. Dia menghadap cermin, tebak melihat pantulan penampilannya dirinya di cermin. Namun, bukan dirinya yang berada di dalam cermin. Sosok wanita bergaun merah yang menggenggam setangkai mawar merah.


Aprilia berkedip. Embusan angin datang merasuk raga Aprilia. Jiwa Tina menidurkan jiwa Aprilia. Kini, hanya dirinya yang kembali memiliki raga Aprilia.


"Lea," sebut Jack.

__ADS_1


Tina berpaling. Dia tersenyum dengan sedikit garis, menunjukkan perkenalan dengan teman lama.


Apa kabar teman lama? Teman lama yang telah berganti nama.


"Ssst!" desis pria itu tiba membawa dirinya duduk berjongkok. Tepatnya, sedang mengajak bersembunyi.


Jack menatap wanita itu yang terlihat penasaran bercampur heran.


Tina turun berjongkok. Duduk menatap pria yang masih  terlihat bertirai kasmaran dalam bola matanya.


"Mengapa mengajak bersembunyi?" umpan Tina.


"Hanya ingin duduk berlama bersamamu di antara setiap pengetahuan yang mampu kita beli. Kau membaca, dan aku menatap di sampingmu," sahut Jack dengan suara rendah.


Tina menelan ludah. Wajahnya melongos menemukan kebohongan berlidah gula. Jelas, dia tahu pria ini telah merayu dengan menutup alasan sebenarnya. Dia ingin berkencan tanpa ketahuan Puspa yang terlihat sibuk berdiri membaca di depan etalase rak buku.


Jack tidak menyadari kejanggalan perubahan ekspresi Tina. Jack mengambil acak satu buku sembarang tanpa melihat sampulnya, dan memberikannya pada Tina.


"Mulai membaca," pinta Jack hanya meletakkan dua biji matanya untuk membingkai raga Aprilia dalam sangkarnya, yang terlihat memandang datar, tanpa ekspresi.


Tina mengedip. Mengambil buku, dan keningnya berkerut seketika. Judul buku terlihat rumit.


Kekayaan setelah kematian. Rica Pudjiastuti.


"Asuransi sebagai bukti cinta. Raga yang mencintai boleh pergi. Namun, Cinta tetap menjaga hidup setiap orang yang di cintai hingga akhir hayatnya."


Tina menghela napas. Dia teringat akan sosok penjaga yang selalu berdiri membentengi Aprilia.


Sepertinya Sadewa mengutip tentang asuransi. Mottonya, menjagamu hingga akhir hayat. Dia harus banyak membeli banyak asuransi, agar orang yang dia sebut cinta itu di berkahi. 


Tina tersenyum kembali.


"Teruskan bacaannya," pinta Jack.


"Membeli asuransi berarti ada harga setelah kematian. Tidak memiliki asuransi, kematianmu tidak ada harganya. Tidak ada harganya. Kecuali, memiliki harta, bukan memiliki harta di sertai utang."


Tina menutup bukunya, "Buku ini nanti saja membacanya."


Jack menjulurkan tangan tanpa menoleh ke Rak. Mengambil satu buku kembali, dengan tatapan yang tetap membingkai Aprilia dalam bola matanya.


Resep racik masakan Nusantara. Nurita.


"Aku tidak bisa masak, masak hanya oseng-oseng saja," keluh Tina  meletakkan bukunya jatuh di sisi ubin kakinya.

__ADS_1


"Apakah bosan membaca buku?"


Jack mengangkat alisnya kala pandangan Tina tertuju padanya.


"Apakah aku membosankan?" tanya Jack.


"Yang pertama selalu membosankan. Bosan itu bisikan orang yang lelah mendustai dirinya berpura-pura mencintai sosok yang di sampingnya. Seseorang yang benar mencintaimu tidak akan lelah dan bosan," sahut Tina.


"Aku tidak akan lelah jika bertemu yang tepat."


Tina menaikkan ujung bibir kirinya. Dia ingin meledak bagai gunung yang sudah saatnya memuntahkan larva panas, "Apakah kau bertanya untuk mengetahui isi hatiku?"


Jack menganggukkan kepala seperti anak kecil. Alih-alih menjawab, Tina  malah bertanya, "Apakah kau tau caranya agar tidak membosankan?"


"Jatuh cinta sedalam mungkin. Hingga kau tak mampu berpaling. Bagai Qais memandang Layla. Layla marah, dia malah tertawa bahagia. Baginya, Layla terlihat sangat menyenangkan dalam situasi marah padanya, Qais akan pilu kala Layla terpuruk dalam kesedihan, bahkan Layla akan tetap benar walau Layla terlihat bersalah. Akhirnya Layla membuat kesalahan fatal pada Qais, yaitu meninggalkannya. Qais tetap mencintainya dengan gila. Layla tetap mencintai dengan jiwa, walau raganya milik orang lain."


"Banyak pria pandai merangkai kata-kata. Namun, hatinya tidak seperti Qais. Qais mencintai Layla. Hanya fokus pada diri wanita itu saja. Bahkan, Qais tidak pernah menyadari jika banyak wanita yang lebih unggul, menarik, dan cantik daripada Layla, yang mendekati Qais. Dia hanya fokus pada Layla. Seakan, Layla adalah napasnya."


Jack mengambil tangan Aprilia. Menggenggamnya, dan berkata, "Cintaku padamu bagai Qais mencintai Layla."


Tina tertawa. Dia merasa konyol.


Kau berbohong. Qais mencintai Layla bukan karena rupa. Dia mencintai kekayaan yang ada di dalam Layla. Apakah kau tau? Rupa Layla disebutkan sebagai wanita yang tidak memiliki paras yang cantik.


Jack mencium punggung tangan Aprilia. Bibirnya terlihat betah menempel di sana. Sementara itu, Tina bergindik waspada kemudian. Seakan, ada seseorang menyilet punggungnya.


Tina menolehkan kepalanya  ke belakang sebentar. Sosok wanita yang tidak asing itu berdiri dengan sepasang mata yang bersiap memotong daging.


"Qais dan Layla," sindir Puspa menjentikkan ujung kuku merahnya. Dia seakan berdiri konyol dengan cuka cemburu. Dia memergoki Jack bersama seorang wanita baru, dan wanita itu cantik.


Jack terlonjak bangun akan suara yang tidak asing. Dia bangun berdiri menatap sosok yang sudah berdiri tegak bersiap akan menguliti dirinya dengan setiap katanya.


Tina berdiri dengan memunggungi Puspa di belakangnya.


"Nana." Jack kikuk.


"Kau suka memberi nama Layla ke setiap wanita, hmmm!"


Puspa mendekat. Langkahnya senyap, dan mengetuk keras ubin terminal sepatunya, tepat di belakang Tina.


"Kau wanita malam yang mana lagi? Sudah tidur bersama? Apakah sudah hamil?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1



__ADS_2