Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 145


__ADS_3

...Walau ada tiga matahari di langit. Aku masih mampu membedakan matahari mana yang bersinar untukku. Bukan untuk dirinya sendiri. Bukan untuk oranglain. Aku mampu membedakan. Langkahku pelan. Telingaku tajam mendengar. Sepasang netraku bagai melihat laut terdalam, tidak ada yang bisa melihat isi hatiku....


..._Ade_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ade mengedipkan matanya. Dalam sekejap dia telah kembali ke kamar apartemen miliknya. Dia menjatuhkan dirinya di atas kasur.


"Heh!" Ade menghela napas, dan tidur terlentang. Dia mengangkat bulu elang yang dia pegang ke udara. Dia menyoroti tajam, dan ujung bibirnya naik satu kemudian.


"S-049, aku tidak bisa membantumu. Kau hanya datang untuk melindungi makananmu. Mungkin, kau bisa membohongi semua orang. Namun, aku tidak akan tertipu!"


Ade mengingat perbandingan S-049 dan S-096, "Apa akan ada bad boy lain lagi la-la-la-la. Walau, mereka terlihat berbeda. Namun, tetap saja mereka adalah susunan huruf vokal. A-I-U-E-O! Nyaring bunyinya. Gaungnya dan lolongnya bagai maha benar dan maha berani!"


Ade mengerjapkan matanya. Tidak lama bulu elang berubah menjadi panah emas.


"Kembar tetapi beda. Kembar tetapi palsu."


Ade menembakkan panah emas ke udara. Lalu, panah emas itu hilang dan muncul di langit putih dengan gradasi biru dominan. Lalu, bulu menembak kembali pada sang pemilik. Burung elang turun menukik ke bawah, jatuh perlahan mencium bumi.


"Kau harus jatuh. Agar kau tau kekuatanmu terbatas. Hidup hanya satu kali. Manfaatkan untuk melindungi orang yang tepat! Bukan menjadi benteng melindungi kesalahan orang lain! Tidak perlu repot melindungi diriku. Karena, aku sangat kuat untuk diriku sendiri."

__ADS_1


Burung elang mengambil panah emas yang menembak sayapnya, dan dia merubah wujudnya kembali menjadi sosok manusia berkepala burung, dan dia melolong memberi pesan yang menggema pada kamar bernuansa merah muda.


Jatuh dari langit. Menyakitkan. Namun, kala luka itu sembuh. Elang tetap mampu terbang lagi dan lagi. Karena, burung elang tidak akan pernah lupa cara mengepakkan sayapnya setinggi mungkin. Elang tau cara terbang!


Ade terkekeh dan bergumam, "Tentu saja. Unggas yang tidak bisa terbang tinggi hanyalah ayam, penguin, bebek, burung onta, kiwi, Weka, Kakapo! Jangan pernah kasihan pada sosok yang lupa ingatan. Kita boleh di lupakan. Kita boleh memaafkan. Kita boleh tidak menyerang. Namun, kebaikan kita akan tetap menembus jantungnya, jika dia meludah ataupun menusuk kita dari belakang, dia akan menyesal! Urus urusan diri sendiri saja. "


Ade bangkit melompat dari ranjangnya dan menuju kamar mandi. Dia tercengang dan di kejutkan kembali dengan banyak kecebong dalam bak mandinya. Ratusan kecebong terlihat berenang.


"Siapa yang mengirim bayi katak?" Ade heran. Dia berjalan menuju bak mandi. Duduk jongkok di sisi bak mandi. Tangan kirinya dia celupkan mengambil beberapa kecebong dalam telapak tangannya.


"Aku lahir kidal. Orang boleh menyebutkan sadis. Namun, aku sangat mengenal aturan. Aku bahkan tidak akan pernah tega membunuh bayi katak.  Coba ingat-ingat apa yang terjadi. Mampu melihat dengan matanya sendiri. Mampu mendengar dengan telinganya sendiri. Mampu bertindak karena dirinya sendiri, bukan bisikan orang lain. "


"Ada delapan bayi kecebong dalam jar yang aku sebut bidadari kecil. Oleh itu, gunakan otak baik-baik, dan tekan tombol play , mengingat apa yang telah terjadi, tekan tombol record, ingat baik-baik bisikan, awal mula dan adegan. Lalu, terakhir, tekan tombol stop, untuk berhenti sesaat, untuk menyadari diri sendiri, berpihak untuk diri sendiri, berjuang dengan cara sendiri. Bukan karena orang lain."


Ade tersenyum pada toples, dan merogoh ponsel. Lalu, mengambil foto bersama toples kecebong. Lalu, Ade meletakkan toples dalam susunan rak. Dia mengalihkan pandangannya menatap layar ponsel, "Foto keluarga bayi katak. Hanya orang dalam lingkaran."


Ade melangkah keluar dari kamar mandi. Lalu, berkata pada dirinya sendiri, "Dunia tidak akan membelimu. Jika, kau tidak pernah menjual dirimu."


Ade menuju dapur, berhadapan dengan kitchen set. Membuka kulkas yang mengeluarkan hawa dingin, mengambil kentang yang berada dalam kotak freezer, "Mengapa aku bodoh sekali? Meletakkan kentang dalam freezer. Apa aku pikir kentang adalah Anna dan Elsa yang tahan dengan dinginnya udara yang membekukan daging kentang. Kentang bukan Olaf. Kentang dan Frozen, jauh berbeda."


Ade mengambil kentang. Merebusnya. Setelah mendidih begitu lama. Di tiriskan. Menunggu dingin. Kemudian, mengupas kulit kentang. Mengirisnya dengan sangat tipis. Memberinya bumbu kentang. Tidak lama kemudian, menggoreng dalam wajan.

__ADS_1


Setelah kentang tersaji di atas piring. Ade berjalan ke kursi. Menyalakan telivisi. Lalu, mulai mencicipi satu demi satu irisan kentang.


Tawar. Sangat tawar. Tidak ada rasa.


Ade bergumam pada dirinya sendiri, setelah mengunyah irisan terakhir kentang.


"Dulu aku mampu mengenal rasa. Sekarang, lidahku tidak mampu merasakan apapun. Aneh! Begitulah aku. Kehilangan kepekaan. Kehilangan rasa. Kehilangan simpatik. Maaf, jika kalian datang, dan kecewa karena aku terlihat tuli. Aku terlihat buta. Aku terlihat dingin. Sebenarnya, aku tidak mengetahui itu rasa. Aku tidak mengetahui itu sentuhan. Aku tidak tahu apapun. Berhentilah mencoba."


Ade memejamkan matanya. Mencoba mencari kepekaan miliknya. Tidak ada. Lidahnya hambar. Ade menatap miniatur kucing yang tangannya terlihat bergoyang-goyang memanggilnya untuk dekat.


"Aku membenci anjing. Namun, menyukai kucing yang tidak akan pernah menggigit diriku."


"Aku hanya memiliki keberuntungan. Bagai miniatur kucing itu terus mengikutiku, dan memanggil keberuntungan padaku."


Ade turun berjalan. Berjongkok di depan nakas. Tangan kecilnya menyentuh telapak tangan kucing, "Kucing keberuntungan itu nyata dan ada. "


Ade menghela napasnya. Menyentuh kepala kucing, dan menatap mata kucing, "Aku orang yang tidak pernah berhutang. Hukum gift and take berlaku. Walau ada tiga matahari di langit. Aku masih mampu membedakan matahari mana yang bersinar untukku. Bukan untuk dirinya sendiri. Bukan untuk oranglain. Aku mampu membedakan. Langkahku pelan. Telingaku tajam mendengar. Sepasang netraku bagai melihat laut terdalam, tidak ada yang bisa melihat isi hatiku. Aku tidak akan mudah tertipu. Sayang sosok itu hanya dalam khayalku."


Ade terkekeh konyol karena memuji dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2