Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 166


__ADS_3

...Aku mencintainya. Itu saja. Yang lain, kau tak perlu tau....


..._Tina_...


...Sebut saja ini adalah rindu dari dunia yang berbeda. Untuk menempuh jarak yang terbentang itu. Perlu hujan tangis...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia segera berpaling. Sepasang matanya menatap pada garis merah.


Tidak. Aku tidak ingin hamil.


Aprilia mengambil batang biru itu, dan segera menjawab, "Tidak hamil, artinya."


Aprilia berdiri. Menuju bak sampah. Menekan pedal bak sampah. Tutup bak sampah terbuka. Dia segera menjatuhkan batang biru itu ke dasar bak sampah yang masih terlihat bersih dan kosong.


Sadewa berdiri.


"Apa kau yakin tidak hamil? Bukankah itu dua garis."


Aprilia menggelengkan kepalanya. Dia memutar langkah mendekati pria itu dan berkata, "Aku yakin tidak hamil."


"Lalu, bagaimana dengan dua garis tersebut?"


"Yang di perhatikan adalah garis yang paling jelas."


"Aku sangat senang. Jika kau hamil kembali, Aprilia."


Aprilia berdehem. Menggelengkan kepalanya.


"Suatu hari nanti, akan hamil."


"Kau yakin?"


Aprilia menganggukkan kepala.


"Liong Gege, aku pergi lebih dulu."


"Akan bepergian kemana?"


"Jogging dan senam di taman komplek."


Aprilia menuju lemari. Mengambil satu set pakaian olahraganya kemudian.


Aprilia melenggang pergi setelah Sadewa meninggalkan kamar. Di saat pria itu hilang di balik pintu.  Pikirannya berkecamuk akan dua garis tersebut. Walau, satu terlihat samar. Namun, hal itu terlihat menakutkan untuknya.


Aku tidak ingin hamil. Aku akan meminum jamu gugur saja. Eoma Mayang akan gila menuntut persembahan kembali. Aku tidak ingin setiap kuku itu merobek milikku yang telah di sempurnakan kembali oleh dokter Korea.


Aprilia duduk di sisi ranjang. Dia menatap cermin. Sepasang pupilnya menatap pada pantulan perut miliknya.


"Jika aku hamil kembali. Apakah aku harus meminta pernikahan pada Sadewa?"


Tiba-tiba ada keraguan berada di ujung tenggorokannya.


"Bagaimana dengan identitas milikku? Seseorang yang tertera sebagai adiknya."


Aprilia melenguh. Kembali, berdiri akan melanjutkan olahraga paginya. Dia pun melepaskan anjing  dari kandang. Dia mengambil pengikat tali, dan membawa anjing itu berlari bersamanya.


Dragon, adalah nama yang Sadewa berikan kepada anjing kesayangan tersebut.


Dragon berlari-lari, di ikuti Aprilia yang ikut terseret karena lincahnya anjing tersebut.


"Dragon, jangan terlalu cepat."


Aprilia lelah mengikuti kecepatan lari anjing tersebut. Jemari tangannya mengekang tali itu sekuat mungkin. Memperlambat gerakan anjing tersebut.


"Aku lelah," keluh Aprilia.

__ADS_1


Aprilia duduk di pinggir median. Dragon seakan mengetahui kelelahan majikannya, hanya ikut duduk di pinggir median. Terlihat ngos-ngos pula. Anjing berbulu  putih dengan corak polkadot cokelat lebar di punggungnya, terlihat menjulurkan lidahnya, seakan anjing itu ikut merasakan keletihan majikannya.


"Haus sekali?"


Aprilia menghela napas. Sepasang matanya beredar ke sana ke mari. Berharap menemukan gerobak penjual minuman. Namun, tidak satupun lewat. Dia menghela napas, menelan ludah sebanyak mungkin, untuk menghapus dahaga.


Guk! Guk ! Guk!


Dragon tiba-tiba memutar tubuhnya, mengonggong senyaring mungkin. Terdengar sangat berisik.


"Dragon, ada apa?" Aprilia segera bangkit, dan menoleh ke belakang.


Sosok wanita bergaun merah terlihat sarkas menatapnya. Akhir-akhir ini wanita itu terus menatap dirinya.


"Pergi ke kedai kopi saja. Dua blok dari sini ada kedai kopi. Yang telah buka pukul 9."


Aprilia menghela napas. Hantu merah bagai penguntit yang selalu mengekorinya.


Mengapa kau terus mengikutiku? Pertanyaan itu hanya menjanggal di dalam hati. Tanpa mampu dia lontarkan.


"Merah, kau ada di mana saja." Aprilia mengomentari kehadiran wanita berwajah pucat yang bernaung di bawah pohon beringin.


"Panggil manis," koreksi Tina.


"Manis, kau bisa muncul pagi hari?"


"Kau pikir hantu hanya muncul pada malam hari. Hal itu tahayul. Bahkan aku setiap saat, berdiam di sudut kamar, dan mendengar setiap pembicaraan kalian."


"...."


"Liong Gege. Little Susi. Selir Xia Hua. Besok, dia akan berkata dia Hitler, dan kau adalah Eva Braun."


"Hitler? Eva Braun?"


"Tentara merah Uni Soviet. Lalu, kau adalah Rusian girl, sang kekasih tentara merah Uni Soviet."


Aprilia mendekat dengan membawa Dragon yang lebih menggonggong nyaring ketika mendekati Tina.


"Diam anjing Sadewa!" bentak Tina pada Dragon.


Bagai terjahit. Dragon menjadi jinak. Diam membisu. Hanya menggerakkan ekornya, dengan sepasang mata yang membingkai ketakutan.


"Aku pikir hantu itu hanya pada malam hari."


"Sebagian orang hanya tidak mampu melihat karena pengaruh sinar matahari. Namun, untuk kau adalah orang khusus. Sang medium yang di cintai Sadewa."


"Hentikan omong kosong, menyebutku medium. Aku tidak akan meminjam ragaku kembali."


Tina terbahak, "Tanpa ijinmu. Aku mampu merasukimu setiap saat. Bahkan, aku adalah istrinya yang setiap malam menemaninya hingga sepasang matanya mampu terlelap. Dia sangat menyukaiku yang bersemayam dalam ragamu."


Aprilia menghela napas. Seluruh bulu roma bergindik dan raganya bergetar. Tangannya menggenggam erat tali kekang anjing.


Kini, kepala Aprilia seakan di tindih batu yang berat dan bersiap memecahkan batok kepala miliknya sendiri. Dia kembali teringat, bagaimana dirinya telah kehilangan kesadarannya. Lalu, hanya terbaring dengan ingatan samar, percintaan semu berujung nyata.


"Aku pergi. Jangan mengikutiku lagi."


"Aku menyukai diriku menempel padamu, Eouny Sadewa."


"Please. Don't disturb me!"


Aprilia bangkit pergi. Meninggalkan wanita yang terlihat membingkai senyum miris terlihat sinis.


Aprilia menoleh ke belakang kembali. Sosok manis itu telah hilang. Hanya kekosongan di bawah pohon beringin. Setiap daun hanya bergetar tertiup angin untuk seperkian detik.


"Apa sih tujuan wanita itu?" tanya Aprilia pada dirinya sendiri.


"Aku datang, agar Sadewa merindu padaku. Lalu, mengikutiku." Bisikan itu tiba-tiba masuk mengisi gendang telinga Aprilia.

__ADS_1


Mengejutkan. Pesan kematian kembali.


Aprilia menoleh ke asal bisikan. Hanya semilir angin dingin berhembus menerpa wajahnya kemudian.


"Pesan Kematian lagi. Kau menakuti kami!"


Aprilia menahan napas. Dia segera bangkit membawa Dragon menuntutnya pergi sejauh dua blok kembali. Mengunjungi kedai kopi berpapan nama Tentang Kopi.


Tepat pukul 09.30 wib. Di kaca terlihat, papan 'Open' telah menempel di kaca.


Aprilia melangkahkan kakinya membawa anjing kecil tersebut ke dalam kedai kopi.


"Pesan kopi."


"Satu kopi gratis untuk pengunjung pertama."


Aprilia tersenyum, "Terimakasih. Kedai ini akan menjadi favoritku. Jika, selalu mendapatkan kopi gratis."


Aprilia memesan acak pilihan varian kopi. Dia kembali duduk memilih bangku kosong yang berada di dekat jendela. 


Tiba-tiba langit meneteskan air perlahan. Kaca mulai berkabut, dan rinai air langit turun lebih deras.


"Hujan?" keluh Aprilia.


Terdengar helaan napas terdengar berat kemudian.


Aprilia memutar kepalanya. Ke asal helaan napas. Bangku di depannya terlihat kosong. Namun, suara seorang wanita itu terdengar berbicara padanya tanpa wujud yang terlihat kemudian.


"Hujan itu bagai kenangan. Jika ada seorang pria membawa payung di sisimu. Dia memayungimu. Tidak mengijinkan hujan itu membasahimu. Namun, membiarkan hujan itu membasahi dirinya."


Aprilia melongos.


"Kapan kau berhenti mengikutiku?" pertanyaan itu terdengar mengeluh kasar, dan terlontar pula pada akhirnya.


"Aku mengikutimu. Karena Kau-lah raga yang di cintai Sadewa. Perlahan, aku akan merebut atensinya. Agar, dia senantiasa hanya mengenggam tangan milikku seseorang."


"Kau ingin membawanya ke alammu?"


Tidak ada jawaban.


Tiba-tiba tangan Aprilia menyentuh perutnya. Seakan dia mampu merasakan kehadiran sosok kecil yang baru saja membentuk diri bagai berudu katak yang berenang-renang.


"Mengapa kau ingin membawanya?"


Tidak ada jawaban.


"Ehem!" Deheman seseorang mengejutkan.


Sosok bayangan hitam yang terlihat berdiri di dekat meja. Seorang pelayan kopi.


Menarik atensi Aprilia menatap sang pelayan yang meletakkan satu cup kopi gratis miliknya.


Aprilia tersenyum satu garis pendek. Meringis bodoh. Tersenyum pada sang pelayan.


"Terimakasih atas kopinya."


"Terimakasih kembali."


Pelayan pergi. Lalu, satu bisikan datang kembali mengusik dan memberikan jawabannya.


"Aku mencintainya. Itu saja. Yang lain, kau tak perlu tau."


"...."


"Sebut saja ini adalah rindu dari dunia yang berbeda. Untuk menempuh jarak yang terbentang itu. Perlu hujan tangis."


Aprilia mengabaikan. Segera menyeruput kopi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2