
...Karakter seseorang di tempa dari mata yang sering melihat, telinga yang sering mendengar. Di saat itulah karakter mengisi raga....
...—Eouny Jeje—...
..."Cintaku padamu ku pikir sedalam lautan. Ternyata, penghianatanmu pada diriku, telah mampu menguras segalanya. Hatiku sudah kering."...
...—Santi—...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan sinar mata yang indah terpancar menakjubkan, Aprilia mampu menipu mata setiap orang yang kebetulan bertemu dengan mata indah itu. Seketika setiap orang tampak takjub akan mata indah itu. Namun, tidak ada yang mengetahui bahwa Aprilia masih buta. Dia berjalan dengan hanya hitam yang terlihat. Oleh itu, dia dengan sengaja terus bergandeng tangan pada Sadewa. Hari ini adalah hari ke-7, oleh itu pada hari ke-8 dia akan menerima penglihatannya kembali. Dia hanya perlu bersabar dalam kegelapan satu hari lagi.
"Ehem!" dehem seseorang mengejutkan Aprilia.
Sudah sampai di kediaman mas Sadewa. Suara deheman ini ? apakah milik Santi? pikir Aprilia lebih mengeratkan rangkulannya pada tangan Sadewa.
"Malam mbak Santi," sapa Aprilia dengan lembut.
"Dia bukan Santi. Dia ibu mertuaku, Ratih."
Egh ... Aprilia terlihat ragu melangkah. Sepasang kelopak matanya berkedip.
"Maaf, mas. Kepalaku lagi pusing. Pandanganku buram. Jadi tidak mengenal siapa di depan."
Sadewa menoleh pada kepala Aprilia yang tiba-tiba memiringkan kepalanya bersandar pada lengan kokoh pria paruh baya itu, dan tangan mungil wanita itu terlihat meraba-raba keningnya, dan ekspresi terlihat mengerut pusing
"Kau sakit lagi, pasti karena mual-mual berlebihan selama kehamilan."
Kehamilan. Sadewa dengan sengaja menekan inotasi pada kata terakhir pada kalimatnya, seraya mendongakkan pandangannya pada sosok yang baru menelusuri turun tangga. Wanita berbadan besar itu terlihat mur seketika menatap pasangan yang baru datang. Hatinya bahkan ikut tersayat akan kehadiran Aprilia dengan perut yang terlihat mulai membuncit.
"Aku akan mengantarmu ke kamar atas." Sadewa mengapit tangan Aprilia dan menuntutnya menuju tangga.
"Kamar atas itu kamar tamu, mas!" cegat Santi menghalang jalan.
"Aprilia akan tidur di sana."
"Bukankah kau berkata padaku. Dia hanyalah mamalia untuk melahirkan anakmu. Tidak pantaslah dia di ruang tamu. Bawa dia ke kamar belakang."
__ADS_1
"Santi!" Sadewa marah.
Aprilia menelan ludahnya. Awalnya sedikit takut dan terkejut. Namun, ketakutan itu sirna seketika. Dia merasa Nenek Mayang akan selalu membantunya. Dia hanya perlu menunjukkan kesabaran menghadap dua wanita pemilik asli rumah megah ini.
"Ehem!" interupsi Ratih, wanita yang paling di hormati dalam rumah ini.
Sadewa terlihat melunak seketika. Dia cukup segan terhadap mertuanya yang tiba-tiba menyamakan langkah dan berdiri di sisinya.
"Bukankan kau berkata pada kami. Wanita ini hanyalah pembantu untuk keturunanmu. Pembantu. Ingat dia pembantu. Bukan seorang Nyonya."
Sadewa menunduk seketika. Dia memiliki kekayaan namun dia tidak memiliki kekuasaan untuk menguasainya. Dia hanyalah pria penumpang yang di cintai Santi.
"Baik. Saya akan membawa ke kamar belakang."
Sekilas mata Aprilia terlihat muram. Namun, dia hanya bisa mengikuti langkah kaki yang mengantarnya pada kamar kecil di belakang tangga besar mewah yang menjulang itu. Kamar seorang pembantu.
Blam! Daun pintu merapat perlahan. Klek! Pintu terkunci.
"Kau tinggallah di sini."
"Bertahanlah di sini."
"Mas, kau tidak menyebutkan hal seperti ini akan terjadi. Lihat kamar ini!" protes Aprilia dengan sepasang mata yang terlihat mengambil jiwa Sadewa untuk merasa kasihan padanya. Walau Aprilia tidak memiliki penglihatan yang jelas.Namun, dia mampu merasakan bau apek kamar, dan ruangan terasa sangat sempit. Ujung kakinya bahkan hanya bisa menemukan kasur tipis yang terinjak tumit kakinya.
Ini namanya memintaku tidur di lantai, rengek Aprilia dalam hatinya.
"Santi dan ibunya memang tidak memiliki hati."
Aprilia turun perlahan, dan akhirnya duduk pada kasur tipis itu.
"Aku bisa sakit bersama anakmu. Lantai sangat dingin mas."
Sepasang mata Sadewa terlihat turun menatap pada sosok mungil wanita kedua yang baru saja dia nikahi beberapa hari lalu. Dia menelan ludahnya seketika kala kaki Aprilia menyilang, dan dress yang dia kenakan tersingkap hingga paha kakinya itu terlihat menggoda.
Sadewa menjongkok kan tubuhnya, dan tiba-tiba mendorong perlahan wanita kedua dalam rumahnya, dia meluruskan tubuhnya merebahkan diri di atas wanita itu, "Tidak akan dingin, jika aku datang tiap malam menghangatkan dirimu, Istriku."
__ADS_1
Deg! Aprilia berdetak sebentar. Dadanya berdesir kemudian dengan kecupan yang datang menyentuh lehernya. Aprilia mendorong wajah Sadewa menjauh dari lehernya.
"Mas, ada Istri pertamamu di luar. Temuilah dia lebih dulu, dan buatlah dia nyaman lebih dulu. Jika begini, dengan dirimu berlama-lama di kamar ini denganku, dia dan ibunya akan makin membenciku, mas."
Sadewa terlihat enggan mengikuti saran Aprilia.
Tok!Tok! Tok! Gedoran pintu tiba-tiba mengejutkan Sadewa dan Aprilia. Aprilia segera mendorong pria itu untuk berdiri,dan diapun memposisikan dirinya duduk bersimpuh. Malu ada rasa malu menyelimuti Aprilia.
"Mas Sadewa. Jangan keterlaluannya yah. Ini adalah rumahku, dan kau berani bercinta di rumahku. Kau dan madu mu!"
Sadewa terlihat mengepalkan tinjunya mendengar kalimat Santi di depan pintu. Sadewa segera bangkit membuka pintu. Tampak Ratih pun mengikuti berdiri di belakang Santi, menciutkan amarah Sadewa.
Ratih, Wanita berambut putih itu terlihat mengintip ke belakang punggung Sadewa. Dia mengekori dengan cermat, dan melihat tanda merah baru berbekas pada leher Aprilia. Ratih segera melongos jijik.
"Ceraikan saja suami itu. Dia menjijikan. Cinta tak kau bisa makan pula!" tegur Ratih ketus dan meninggalkan ruang tamu.
Tuk! Tuk!Tuk! Setelah suara tongkat Ratih tedengar menghilang dan senyap . Santi baru mengangkat pupil matanya, dan melipat tangan di dadanya, "Cintaku padamu ku pikir sedalam lautan. Ternyata, penghianatanmu pada diriku, telah mampu menguras segalanya. Hatiku sudah kering."
Setetes bulir air mata Santi jatuh perlahan dan panjang menelusuri pipinya. Sadewa hanya mengangkat dagu dengan sombongnya.
Blam! Pintu kamar kembali tertutup, dan langkah Santi terdengar berlari bodoh dengan cepat menaiki setiap anak tangga.
Sadewa bergindik tidak perduli. Kembali menjatuhkan dirinya pada kasur di atas lantai dingin, dan menarik Aprilia untuk tidur di bawah tubuhnya.
"Mas, bujuk Santi lebih dulu. Dia marah." Cegat Aprilia yang menolak tangan Sadewa menyusul masuk pada balik dress-nya.
"Biarkan saja dia marah. Aku tidak perduli dengan perceraian esok hari. Hanya memilikimu, aku bisa meninggalkan segalanya."
Aprilia menarik napas. Dia hanya diam menerima setiap cumbuan suami keduanya.
Tetapi, aku tidak bisa hidup tanpa uang-uang Santi. Aku tidak ingin miskin. Aprilia segera mendorong kembali Sadewa, dan menatap mata Sadewa, dan tatapan Aprilia terlihat mampu menghipnotis pria paruh baya itu tunduk dalam perintahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo
__ADS_1