Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 177


__ADS_3

...Aku hanya bermaksud memanggilmu pulang. Karena, aku telah menyediakan segala sesuatu untukmu. Jika hal itu sudah cukup, untuk apa kau bersusah payah....


..._Aprilia_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sosok kepala terlihat melingkar beserta organ tubuhnya bergantungan. Dia melayang di udara. Lalu, menemukan pintu.


Kreek! Gembong terbuka.


Sosok kepala itu berjalan melilit organ tubuhnya, melayang rendah di dalam kandang.


Cit! Cit! Cit! Suara ayam mulai berisik dan bergindik takut. Lidah Ade menjulur keluar, menjilat sekeliling bibirnya. Sepasang matanya melotot lebar. Seakan, dia akan melalap dengan mulut ternganga lebar.


"Argh!" Ade meringis tiba-tiba. Dia segera mengatup mulutnya. Tuba-tiba saja, dia merasa geli.


"Ha-ha-ha!" Ade terbahak tanpa henti. Dia-pun menyadari, jika seseorang telah melakukan sesuatu pada raga di balik pintunya.


"Apakah ini kerjaan Aprilia?" Ade menggerutu. Terbahak kembali. Merasa geli yang tiada hentinya.


"Aprilia apakah kau sedang menggelitik perutku? Hentikan bodoh!" Ade kesal.


Srek! Srek! Srek! Menyadari suara langkah. Ade segera keluar dari kandang. Dia segera membubung perlahan. Namun, sorot senter mengenai wajahnya. Silau yang menyilaukan matanya, membuat sosok dirinya jatuh kembali pada tangga kandang, dekat pintu kandang yang telah terbuka.


"Hah? Ada hantu kepala!" teriak penjaga yang bangun menyorot kepala yang terus terpejam akan silau senter. Ini adalah kelemahannya, tidak mampu melihat sinar menyorotinya.


"Sumpit pakai jarum!" Aba-aba seorang penjaga yang lebih tua.


Beberapa penjaga yang lebih muda, meraih sumpit dari balik sarung yang membungkus pinggangnya. Lalu, dia bersiap akan meniupkan sumpit.


Sumpit jarum! Mendengar dua kata itu. Ade segera mawas diri. Dia segera beranjak naik perlahan. Seraya melototkan matanya, dan terbang melintasi setiap kepala penjaga. Tanpa menyadari jarum terbang mengikuti kepalanya.


Merasa ada benda tipis menyerangnya. Ade mengelak ke kiri. Namun, jarum yang lain datang terbang dari berbagai arah. Terus melayang dan bergerak membubung tinggi, menghindar jarum terbang yang mengincar dirinya.


Swosssh! Satu panah jarum terpanah. Mengenai telinga Ade. Ade terlonjak. Spontan, melesat terbang lebih tinggi dan melayang lebih cepat, dengan telinga yang tertancap jarum.


Sialan! Gara-gara Aprilia, aku malah di serang paman ayam.


Sosok kepala itu terbang seraya meringis menahan sakit gendang telinganya yang tertancap jarum. Dia-pun segera melintas lebih cepat, kembali ke apartemen dengan susah payah, dan nyut-nyut pada telinganya.


Pletak! Kepala Ade jatuh pada balkon apartemen miliknya. Dia menyeret setiap organnya, mengikuti gerak kepalanya yang bergerak ngesot melewati garis pintu balkon.


"Aprilia!" serak Ade memanggil dengan suara rendah.


Terbahak. Ade segera merasa geli kembali. Wajahnya pucat, menjadi merah padam karena menahan amarah. Sepasang matanya membola melihat pintu kamarnya yang terbuka lebar. Lampu tampak menyala.


Sosok kepala dengan setiap organ itu   terlihat ngesot di lantai menuju kamarnya. Bercak-bercak darah pada setiap organ membekas pada lantai yang dilewati.


"Aprilia hentikan!" histeris Ade kala melihat Aprilia akan membubuhkan garam pada lubang lehernya.


Aprilia menoleh turun ke asal suara. Dia terkejut melihat sosok kepala dengan wajah merah padam itu, terlihat melotot,dan bersiap meludah api padanya.

__ADS_1


"Ade?" Aprilia turun berjongkok. Kepalanya dia sejajarkan pada kepala Ade yang bertumpu berdiri di lantai.


"Apa yang kau ingin lakukan pada tubuhku? Dengan garam itu."


Aprilia menelan ludahnya.


"Menurut google. Cara memanggil kepala Kuyang kembali, adalah dengan menabur garam."


Ade menghela napas berat. Ingin rasanya dia segera mengigit leher Aprilia saat ini.


"Menaburnya bukan pada lubang leher. Kau ingin membuatku mati. Garam itu hanya di gunakan agar ular tidak mendekati raga kami. Bukan untuk pemanggilku."


"Jadi, google salah."


"Narasumber salah. Bukan mesin pencarinya. Hal yang paling fatal salah adalah otak milikmu itu." Telunjuk Ade menekan kening Aprilia.


Aprilia menghela napas, "Syukurlah. Kau datang tepat waktu. Hampir saja aku meletakkan satu bungkus garam pada lubang lehermu."


"Hampir saja kau membuatku menjadi kuyang asin."


"Maaf!"


"Aku sudah kehabisan tenaga. Bantu aku ..., letakkan kepalaku pada sedia kala."


Aprilia menganggukkan kepala. Dia segera berjongkok. Meraih kepala Ade, dan organnya segera melilit dan membentuk pipih, sehingga memudahkan Aprilia, memuat setiap organ tubuh itu masuk perlahan. Lalu, mencocokan kepala dengan lubang leher tersebut.


Krek! Krek! Krek!


"Bodoh, kau hampir membuatku mati."


Aprilia mengigit bibirnya bingung. Segera, tangannya meraih kantong darah dan menunjukkan pada Ade.


"Kau membutuhkan ini kan?"


"...." Ade membelokkan lidahnya lapar.  Namun, rasa nyut-nyut pada telinganya. Mengalihkan rasa laparnya.


"Aku hanya bermaksud memanggilmu pulang. Karena, aku telah menyediakan segala sesuatu untukmu. Jika hal itu sudah cukup, untuk apa kau bersusah payah."


Tangan Ade meraba telinganya. Menarik jarum yang tertancap pada gendang telinganya. Dia segera menunjukkan pada Aprilia.


"Gara-gara kau menggelitik diriku. Aku tertembak panah jarum paman ayam."


Aprilia membola terkejut akan jarum panjang untuk menjahit kasur. Rasa bersalah segera menyeruak pada rongga dadanya, "Aku meminta maaf."


Ade meraba telinganya. Berusaha menenangkan telingannya yang berdengung sakit.


Merasa cukup terkendali rasa sakitnya. Dia meraih kantong darah. Membuka lubang katup, dan menyedotnya perlahan. Selesai satu kantong. Dia segera mengadakan tangan, meminta kembali. Hingga akhirnya dia menghabiskan lima kantong.


Cukup kenyang. Ade segera bersendawa.


"Apakah sudah baikan?"

__ADS_1


"Hmmm!"


"Kau pergi ke mana?"


"Perbatasan Jawa barat."


"Jauh sekali?"


"Ada kandang ayam pak Asep!"


"Pak Asep?"


"Juragan ayam. Aku hanya ingin berjalan-jalan menikmati ayam milik orang kaya," celoteh Ade.


"Kenapa harus repot?"


"Jiwa karnivora dalam nadiku. Ingin darah segar. Namun, apa daya, kau malah menggelitikku! Hampir saja kau membuatku mati."


Ade meraba dada kirinya, "Andai jarum itu menembus jantungku. Aku akan mati! Apa kau tidak sedih? Mengorbankan diriku yang suka menolongmu?"


Aprilia melongo sesaat. Memukul kepalanya berkali-kali, dan menjambak rambutnya. Lalu, mengadahkan kepalanya menatap mohon belas kasihan pada Ade.


"Aku akan menghukum diriku sendiri. Jika, kau mati karena ulahku."


Ade bangkit berdiri. Duduk di sisi ranjang. Dia terlihat menekuk wajahnya kesal. Hampir saja dia telah meneluh ribuan ayam untuk menambah energinya.


"Maafkan aku."


"Berteman denganku. Kau harus membaca ensiklopedia kuyang. Hari ini, kau mencelakaiku. Bahkan hampir menjadikan diriku kuyang asin."


Ade menepuk punggungnya, "Pijat diriku. Aku lelah sekali terbang."


Aprilia segera beranjak bangun. Naik ke ranjang. Lalu, tangannya mulai memijat pundak kiri kanan Ade.


"Apa aku harus membunuh paman ayam untukmu?" Katakan dimana mereka? Aku akan membalasnya untukmu."


"Tidak perlu. Aku tidak akan pernah ingin berhutang dengan siapapun. Jika itu masalahnya denganku. Aku akan menyelesaikan sendiri. Tidak akan pernah bersembunyi di balik kekuasan tangan siapapun."


"Namun, aku yang menggelitik dirimu." Aprilia merasa bersalah.


Ade menyipitkan matanya, "Aku hampir mati olehmu. Oleh itu, kah harus membaca ensiklopedia kuyang."


Aprilia menganggukkan kepala bodoh.


"Aku akan memikirkan hukuman untukmu yang pantas!"


Aprilia menghela napas. Membayangkan hukuman di atas kepalanya, "Kau ingin memakan telinga, mata, lidah seperti Eoma Mayang lakukan."


"Aku masih berpikir. Hukuman yang pantas untukmu." Ade meraba telinganya. Denyut sakitnya makin bertambah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2