Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 134


__ADS_3

...Adalah kau. Pohon Cemara lilin yang mampu hidup di musim dingin ataupun gugur. Yang tidak akan pernah berubah ketika musim semi itu datang, dan berganti musim kemarau...


..._Sadewa_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia memutar kepalanya sedikit ke kiri. Dia mampu merasakan helaan napas Sadewa yang berembus di dekat kulit lehernya. Aprilia berpaling lurus kembali, dia menatap sebentar pada gambar pernikahan yang tergantung di dinding. Lalu, menunduk menatap dirinya sendiri. Ada rasa bersalah, hinggap begitu saja.


"Apakah kau pernah mencintai Santi?"


Sadewa mengangkat pandangannya, mengikuti arah mata Aprilia, " Pertemuan pertama kami berada di Malang. Saat itu hawanya dingin dalam kegelapan. Dia terlihat berdiri di antara pohon Cemara yang tinggi. Di saat itulah aku percaya jika pohon Cemara itu terlihat seperti lilin dalam kegelapan. Aku melihat Santi demikian."


"Pohon Cemara?"


"Hanya pohon Cemara yang tidak akan merontokkan daunnya di saat musim gugur dan musim dingin. Begitulah Santi yang mampu beradaptasi denganku, pria gunung es yang tidak pernah gampang di sentuh."


Sadewa menganggukan kepala.


"Istilah anak muda era 80-an ternyata tentang pohon-pohonan. Terdengar sangat hijau dan alami. Beda dengan zaman now, istilah sekarang adalah pohon emas, pohon duit, pohon berlian."


Sadewa terkekeh. Melingkar ketat tangan pada perut Aprilia. Aprilia menoleh ke kiri kembali, dan bertanya, "Apa kau yakin melepas pohon cemara bertemu pohon pisang, si Bintan?"


"Jika seharusnya seperti itu maka akan seperti itu."


Aprilia tersenyum miring, "Lalu, siapa pohon cemaramu sekarang?"


"Adalah kau. Pohon Cemara lilin yang mampu hidup di musim dingin ataupun gugur. Yang tidak akan pernah berubah ketika musim semi itu datang, dan berganti musim kemarau."


Aprilia menjulurkan lehernya ke belakang, dan membiarkan bibir pria itu menempel pada keningnya.


"Alpha dan Omega!" Sadewa menarik bibirnya menjauh dari kening wanita dalam hidupnya.


"Jika begitu, jangan jual aku pada pria lain lagi. Kau ingin menjodohkanku lagi. Aku menolak."


Sadewa mengeratkan pelukannya, dan mencium bahu yang terlihat telanjang di bawah matanya. Mengendus wangi tubuh wanita dalam rumahnya. Setelah itu, dia berbisik, "Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Oleh itu, aku pergi ke Malaysia. Ada rasa cemburu membakar. Kala, aku mengetahui dirimu akan tidur bersama Damian."


Sadewa memejamkan sepasang matanya sebentar. Lalu, dia teringat akan sosok pria yang mengalung erat di tepi kolam renang bersama Aprilia, "Kau mengenal Adi?"


Aprilia keluar dari pelukan Sadewa,dan berkata tanpa melihat sepasang netra sang tirani, "Dia mantan suamiku."


"Kau mendekatinya kembali?"


"Aku ingin membalas dendam padanya."


"Kau yakin membalas pada pria yang merupakan ayah dari puteramu. Dia akan membencimu."


Aprilia menahan diri. Ada gejolak rasa yang menyilet jantungnya. Membayangkan bagaimana puteranya akan membencinya.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Lupakanlah! Terkadang ada hal yang harus kita biarkan dan lepaskan. Demi darah dan daging yang sama. Mungkin kau membencinya karena hatimu. Namun, jangan membuat puteramu membencimu. Karena, kau tampak sama dengan pembunuh. Jadilah ibu yang baik untuk anakmu Dimas dan anak kita kelak."


Aprilia termanggu beberapa saat. Lalu, dia berjalan kian mendekat. Seakan menemukan surga di depannya, "Mengapa kau begitu mengerti diriku? dan menerima apapun tentangku. Apakah setiap keburukan wajah dan sifatku, kau telan begitu saja?"


Sadewa mengelus rambut lurus Aprilia. Ketika, tangan itu jatuh pada pinggang Aprilia, dia memeluk ketat dan berbisik, "Kau mungkin terlihat kurang di mata orang lain. Namun, di mataku kau terlihat sangat bernilai. Mungkin ini lah namanya cinta. Rasa yang datang tanpa melihat rupa, masalalu, dan status."


"Terimakasih!" Peluk Aprilia kemudian.


...***...


Pagi hari, pukul 07.00 wib


Santi menarik kopernya keluar dari kamar. Satu tangannya menggendong erat Rakha yang terlihat masih merah.


"Santi, tiketmu ke Amerika!"


Santi mengangkat pandangannya. Seorang pria dengan keangkuhan luar biasa itu duduk di sofa kaisar, dengan kaki yang tersilang. Dalam netra pria itu hanyalah kekosongan. Tidak ada lagi dirinya.


"Aku tidak perlu ke Amerika, mas. Anakku masih bayi."


"Lalu?"


Santi diam. Hati kecilnya berharap tinggal. Namun, pena telah menggores persetujuan cerainya dengan Sadewa. Kemana dia ingin pulang? Dia berpikir sesaat. Dengan pikirannya dia mulai menjelajahi kenangan mencari kerabat jauh dari ayah dan ibunya.


"Uang pesangon keistrianmu akan masuk dalam rekeningmu dalam satu minggu."


"Aku akan ke Bali saja, mas."


Sadewa menatap Santi, dan menepis keinginan Santi, "Kau tidak memiliki saudara di sana."


"Aku memiliki teman akrab di sana. Apa mas lupa? Senjana, yang juga sangat kau kenal dengan baik."


Sadewa mengangkat satu alisnya, mencoba mengingatnya, sekelebat bayangan wanita cantik hitam manis masuk dalam pikirannya, "Oh, wanita cantik berdarah Ambon itu. Baiklah jika kau ingin menetap di sana. Aku tidak akan melarang."


Santi tersenyum. Dia memutar langkah. Menuju dapur, dan mengambil rantang legenda saat masih menjalin kisah kasih di sekolah bersama Sadewa.


"Bi Imah," panggil Santi.


Imah datang mendekat, "Gendong Rakha untukku."


Imah segera mengambil Rakha dalam gendongan Santi. Dia membawa bayi mungil itu ke beranda dapur. Sekali-kali air mata Imah jatuh ikut menetes pada pakaian Rakha.


"Semoga namamu membawa berkah yah nak," bisik Imah.


Santi menghela napas. Isaknya pun ikut menjadi-jadi dengan tangan yang bergetar mengangkat setiap menu di atas piring, masuk dalam rantang. Santi mengambil ikan lele goreng, terong goreng, buah semangka. Lalu, satu centong nasi.

__ADS_1


Menutup rantang.


Santi segera membawa rantang ke ruang tamu. Pria itu masih ada di sana. Dulu, adalah mantan kekasih. Kini, adalah mantan suami. Sungguh ironis.


"Mas, bisakah aku hanya mengenang satu kali saja?"


Sadewa meletakkan cerutunya pada pinggir asbak, dan menatap nanar akan rantang legenda.


Rupanya dia masih menyimpan rantang yang pernah aku beli dulu. Masa lalu dengan sejuta kenangan tidak akan bisa menjadi senjata lagi. Jika, hal itu telah pudar. Luntur. Dengan apa kau mewarnai lagi?


Santi tersenyum seakan mengangkat tirai kenangan yang membuat sepasang mata pria itu berkaca, dan hatinya terenyuh. Santi merapat pada meja. Meletakkan lututnya di dekat kaki meja segiempat kaca itu. Tangannya perlahan membuka satu demi satu rantang, dan  dia tersenyum menatap menu sederhana yang bertahta di meja. Pagi-pagi sekali, dia telah membangunkan Imah dan meminta Imah memasak menu kenangan.


"Kau menyukai terong, mas. Ikan lele  juga, dan buah semangka."


Sadewa menggelengkan kepala, dia segera menopangkan tangan pada dahinya, dia tidak mengijinkan air matanya jatuh, dan dia hanya berkata, "Itu masa lalu. Masa kini kita telah berpisah."


Santi tersenyum hambar, "Aku tahu. Aku hanya mengantar makanan terakhir. Setelah itu, aku dan kau, tidak akan berjumpa lagi. Selamat tinggal, mas."


Sadewa melambaikan tangan, "Selamat jalan, mantan terbaik."


Santi berdiri. Meninggalkan rantang dengan tangan bergetar. Tangan bergetar itu perlahan meraih ganggang koper. Menggeret perlahan meninggalkan pria yang pernah bersamanya begitu lama.


Sadewa berdiri. Memalingkan tubuhnya. Enggan berhadapan dengan Santi. Menyeka air matanya diam-diam, seraya menatap keluar jendela. Mengingat kenangan yang kembali padanya.


Terlihat Santi dengan seragam putih abu-abunya dengan cantik membawa rantang ke kelasnya, dan dia meletakkan surat ungu di atas rantangnya, di tempelkan dengan stiker terong.


Sadewa terkekeh jika mengingat alinea surat tersebut.


Dari ketua tim terong yang sangat mencintaimu. Jangan lupa makan sampai buncit yah. Santi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Dialog Author dan Sadewa:...


Author: Kejam nian pada bini?


Sadewa : Kau lah yang membuat aku seperti itu.


Author: Kau akan ku buat kejam pula pada Aprilia.


Sadewa: Seterah! tapi pelet impoten di hapus yah!


Author: *Sedang berpikir* Baiklah kau dengan author saja. Sayang sekali jika Jomblo selamanya 🤣


(Jangan iri ) Sadewa kan tokoh imajinasi author.


Author juga kaya Sadewa. klo makan sampai buncit 😅

__ADS_1


Ini penampakan Santi terong muda ? Ada yang kenal ma artis India ini? mirip mba Nung sekilas kan ...



__ADS_2