Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 72


__ADS_3

...Jika kau mencintai seseorang. Kau bersedia menjadi tameng sekaligus pisau yang tajam untuknya....


...—Eouny Jeje—...


...Kau harus membalas setiap orang yang menyakitimu. Karena kau memiliki aku. Pelindung dan rela melakukan apa saja untukmu....


...—Ade—...


...꧁❤•༆PJP 72༆•❤꧂...


Ade bergetar. Untuk pertamakali dia akhirnya  menyadari dirinya mampu menangis untuk seorang teman yang baru dia kenal. Untuk seorang teman baik. Ade menelan isaknya, dan tangannya mengepal kuat.


"Aku bersumpah akan membantumu membalas wanita itu!" Ade mampu menahan dirinya dari setiap aroma cairan merah yang bersimbah dan bergerak mengalir menyentuh ujung sepatunya. Namun, dia membiarkan kepalanya terlepas dari lehernya kemudian. Dia bersedia menerima pemberian Aprilian. Darah manis yang akan mengenyangkannya.


Aprilia berkedip. Dia terlihat tidak perduli bagaimana dua sosok iblis akan memangsanya. Dia hanya samar menangkap bayang sebentar. Terlihat kepala Ade melayang udara. Lidahnya kecil dan memanjang. Lalu, ujung lidah itu menjilat manis setiap cairan merah yang bersimbah di lantai, dan tidak lama kemudian, ada perasaan geli yang menyelusup ke dalam organnya. Lidah Ade panjang menghisap segala yang tersisa dalam rahimnya.


Jika tadi Aprilia merasakan bagaimana kuku tajam Nenek Mayang merobek dan menarik daging lembut itu, dan kini Aprilia merasakan bagaimana lidah kecil itu menyentuh setiap dinding rahimnya, dan suara kecapan terdengar manis seperti menyedot sesuatu. Aprilia hanya miris akan dua perlakuan sosok gaib tersebut. Dia terbahak dengan sudut mata yang mengalir menangis, dan perlahan pandangannya berangsur gelap. Hitam pekat. Tidak mampu mengingat apapun lagi.


Bulan yang bersembunyi di balik daun rindang itu, bergeser merangkak turun,dan matahari merangkak naik perlahan dengan sinar kuning yang menghapus kegelapan. Burung-burung terlihat mengetuk jendela kamar.


Aprilia masih terbaring dengan napas yang terlihat teratur, dan tiba-tiba aroma makanan datang menggelitik perutnya dan membangunkan dirinya. Dia mengendus makanan dengan citra banyak bawang di atasnya.


Aprilia membuka matanya. Terlihat Ade dengan hanya mengenakan tanktop dan celana pendek, membawa satu nampan nasi goreng dengan secangkir susu hangat.


"Ade? Ini apartemen Aswin?" Aprilia masih terlihat seputih kertas. Pusing. Pandangan kabur berbayang. Dia mengedarkan matanya. Mengenal kamar ini, tempat berbaring Aswin sebelumnya.


"Di mana Aswin?"


"Sudah kulaporkan meninggal dunia. Dia sudah akan di kebumikan esok hari."


"Hah?"


"Yah kerabat jauhnya kemari dan meminta otopsi. Tetapi —"


"Apa yang terjadi? Apakah segala sesuatu terjadi dengan sangat cepat?""


"Kau tidak sadarkan diri selama tiga hari. Kau bahkan tidak tahu. Bagaimana kerabat Aswin ingin menyeretku dari rumah ini perihal Aswin mati mendadak!"


"...." Aprilia berusaha bangkit duduk. Namun, masih sangat lemah untuk bangkit dan duduk tegak.


"Lalu? Mengapa kita masih di sini?"


"Aswin adalah anak yatim piatu. Tidak ada hal yang bisa di ributkan oleh sekedar kerabat jauh. Soal apartemen, telah lama aku pindahkan kepemilikannya atas namaku. Oleh itu, kerabat jauh Aswin terbakar jenggot."


"Lalu? Apakah kau tidak di laporkan polisi?"

__ADS_1


Ade mengangkat bahu. "Apa yang mereka tuduhkan padaku. Terhadap pria dengan otopsi sakit otak. Tidak ada jejak kekerasan,dan hanya ada riwayat sakit dan komplikasi yang tercatat sebagai rekam mediknya."


"Kau sudah merencanakannya?" Aprilia takjub seketika akan segala sesuatu yang terlihat tidak mampu menampar wajah Ade.


"Aku adalah pembunuh asli yang tidak akan terdeteksi dokter. Polisi. Bahkan dukun sakti manapun!"


"...." Aprilia takjub akan hal itu.


Ade tersenyum,"Aku hidup lebih lama darimu. Tentu saja aku telah pandai mengatur strategi dan melindung diri."


"Berapa usiamu?"


"Tebak!"


"100?"


Ade menggeleng.


"200!"


Ade menggelengkan kepala lagi.


"Kau bisa menyebutkannya dengan benar, jangan membuatku penasaran."


Ade bangkit dari sisi ranjang. Berdiri di tengah kamar. Berputar sebentar, dan mengubah wujudnya ke asli.


"Usiaku 500 tahun. Aku adalah kuyang abad kini yang melegenda. Kau beruntung menjadi teman manusiaku yang pertama dapat menemukan sosok Kuyang legenda Kalimantan. Yang tidak akan pernah mati dengan mudah. Yang memiliki kesaktian luar biasa."


Aprilia terpana. Ade kembali berputar dan mengubah wujudnya menjadi sangat cantik jelita seperti sedia kala.


"Kuyang legenda?"


"Yah! Akulah sang tuan asli dari jutaan botol minyak yang di beli dan diedarkan manusia. Mereka semua menyembahku sebagai Ratu Kuyang pemikat."


Plok!plok! Plok! Aprilia bertepuk tangan kagum sebentar. Namun, tangannya lemas kemudian.


"Mengapa sihirku ketahuan?"


Ade duduk di sisi ranjang kembali, dan menghela napas panjang, "Nana hanya sekedar menebak dan mendeteksi. Dia tidak memiliki kemampuan mengenal sihir milikku. Dia hanya kebetulan menebak, karena sering bertemu dan mendapatkan banyak wanita malam menggunakan pelet."


Aprilia menatap pantulan dirinya pada cermin yang berhadapan dengan ranjang, "Apakah kau memiliki cara agar wajah cantik ini tidak akan hilang jika di semprot-semprot seperti waktu itu?"


"Ada!"


Aprilia bersemangat.

__ADS_1


"Berikan botolnya padaku?"


"Bukan botol!"


Aprilia menatap serius. Menunggu dengan tidak sabar.


"Hanya satu cara. Itu terbukti untuk manusia seperti dirimu."


"Apa itu?"


"Operasi plastik, Aprilia."


Aprilia segera menjatuhkan dirinya ke kasur kembali.


"Operasi plastik perlu uang yang banyak! Darimana aku mendapat uang!"


"Kau harus memeras pria. Kau pikir semua wanita malam yang mendadak laris itu, tidak ada sesuatu yang gaib dan bedah plastik. Mereka selalu menggunakan dua hal. Pertama di sisi kiri mereka di didampingi dukun. Di sisi kanan mereka di dampingi dokter. Kau pun harus seperti itu pula. Jadilah cerdas di depan!"


Aprilia menghela napas, "Aku akan memeras Sadewa."


Ade mencubit hidung Aprilia, "Memeras satu pria itu tidak cukup. Kau akan terlihat seperti kura-kura yang merangkak ingin menjadi seorang wanita kaya! Sangat pelan."


"Saranmu apa?"


"Peletlah setiap lelaki. Jadilah janda penggoda. Bukankah milikmu, memiliki kemampuan khusus dari Nenek Mayang."


Aprilia menjadi malu seketika. Tujuannya saat malam itu adalah memikat Jack seperti memikat Sadewa. Siapa sangka, rencananya berantakan oleh kehadiran Puspa yang membuka kedoknya malam itu.


"Ingat tujuanmu. Pria bernama Jack itu. Kau harus memeluknya menjadi budakmu. Pria bernama Dandy, aku yang akan memeluknya. Kita tidak akan membiarkan Nana mendapatkan satu pria pun di muka bumi ini."


Aprilia menatap bengis ke dinding putih. Seakan ada Puspa di sana , dan dia ingin merebus tubuh Puspa dalam panci panas hatinya saat ini.


"Aku membenci Nana. Sangat benci."


"Aku mendukungmu! Aku juga membenci dirinya!"


"Siapapun pria yang mendekati Nana. Akan ku rebut, dan membuat kehidupan wanita itu malang, kotor, terinjak, dan menjijikan."


"Aku setuju!" Ade sangat girang akan semangat baru Aprilia.


"Kan ku buat semua pria meludah pada wajahnya pula."


"Sangat setuju!" Ade melompat senang kemudian.


"Kau harus membalas setiap orang yang menyakitimu. Karena kau memiliki aku. Pelindung dan rela melakukan apa saja untukmu."

__ADS_1


...꧁❤•༆PJP 72༆•❤꧂...


...Jangan lupa bagi yang udah pernah baca Hantu Istriku Balas Dendam, telah lanjut ke season 2. Jangan lupa mampir baca dan bantu naikkin levelnya ☘️...


__ADS_2