Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 59


__ADS_3

...Iblis memiliki lidah yang pandai manis membujuk dengan banyak tipuan, dan mampu meremukkan tulang siapapun dengan lidahnya....


...—Eouny Jeje—...


...Aku menderita sebentar. Untuk bahagia kemudian....


...—Aprilia—...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana jika aku memilih susuk pada mataku?"


"Itu bagus. Namun, kau akan kehilangan penglihatanmu selama 7 hari?"


Aprilia mengerutkan dahinya.


kehilangan penglihatan? Menjadi buta! Aprilia bergindik ngeri.


"Buta?"


"Selama 7 hari."


Aprilia menggigit ujung kukunya.Dia terlihat gamang akan susuk mata.


"Karena yang kuberikan bukan susuk mata biasa. Kau akan memiliki mata Dewi yang indah. Setiap orang yang melihat matamu akan terjebak masuk ke dalamnya tenangnya lautan. Mereka akan tenggelam terpengaruh oleh pesonamu," bujuk Nenek Mayang.


"Tetapi, mengapa begitu mengerikan yang menjadi pertukarannya?"


Nenek Mayang terkekeh, "Karena ini bukan susuk biasa. Kau bisa memelet siapapun hanya dengan sedikit melirik."


Aprilia tergiur kembali. Dia tersenyum malu dengan pesona mata yang mampu memelet siapapun yang akan dia lihat.


Jack, selanjutnya kau adalah targetku. Aprilia tampak antusias dengan susuk mata. Namun, tiba-tiba saja dia takut menjadi buta seterusnya.


"Nek, kau tidak menipuku kan? Kau tidak ingin memakan biji mataku lagi?"


"Tidak. Bukankah tumbal itu berlaku untuk sembilan bulan lamanya."


Aprilia tampak ragu jika kehilangan penglihatan selama 7 hari. Lalu, bagaimana dengan kehidupannya selama 7 hari dalam kegelapan.


"Nek, aku menunda susuk mata. Bagaimana dengan susuk bibir saja?" —Aprilia menghela napasnya— "Apakah aku harus bisu selama 7 hari juga? Aku rasa itu lebih baik daripada buta 7 hari."


"Untuk susuk bibir akan lebih sakit daripada mata."


Aprilia bergindik takut. Menutup mulutnya.


"Aku akan memotong lidahmu lebih dulu. Lalu, lidahmu akan kembali pada hati ke-7 seperti sedia kala. Setiap air liurmu keluar, akan merembes bersama darah yang tercium amis selama 7 hari."


"Mengerikan sekali." Aprilia menggelengkan kepala. "Aku tidak mau kedua-duanya. Sangat menakutkan."

__ADS_1


"Jika kau menolak tidak apa-apa. Kesempatan untuk meminta bulan purnama hari ini, aku anggap permintaan hangus."


Aprilia menggigit bibirnya, meraih tangan renta Nenek Mayang,dan dengan polos bertanya,"Apakah ada obat anti nyerinya, nek?"


Nenek menggelengkan kepala, "Tidak ada. Derita 7 hari itu adalah wujud untuk mendapatkan khasiat Susuk. Agar kau ingat, betapa banyak hal yang harus kau korbankan."


Aprilia pantang untuk mundur. Dia pun segera memutuskan memilih,"Baiklah. Aku setuju dengan susuk mata."


Nenek Mayang tersenyum. Kemudian, tanpa aba-aba dia mengcokel dua biji mata Aprilia dengan dua jari miliknya yang menusuk dan mengeluarkan bola mata itu.


"Nek ini!" Aprilia meringis menutup kedua matanya yang telah kehilangan biji matanya. Darah terus merembes dari setiap lubang yang ternganga lebar, "Kembalikan mataku, Nek. Hu ... hu ... hu ... ini sangat sakit!"


"Kau menipuku! Mataku oh mataku! Kau tidak mengatakan hal ini tadi, dimana kau akan mencongkelnya. Sa-kit! hu ... saaaa-kit!"


"Tenang. Itu hanya 7 hari." Nenek Mayang menatap dua biji mata yang terlihat hidup di dalam telapak tangannya.


Kresssh! Kresssh! Kresssh! Nenek Mayang mengunyah dua biji bola mata Aprilia. Suara gigi itu mengejutkan Aprilia. Aprilia terisak dan menangis, "Nek, kau memakan mataku!"


"Iya nih. Enak sekali. Renyah." Nenek Mayang menyeka darah sekitar bibirnya.


"Nenek. Kembalikan mataku."


"Turunkan tanganmu. Aku memberikan mata yang indah untukmu."


Aprilia menolak percaya. "Nek, jangan sakiti a-aku lagi!"


"Aku ingin memberikan mata. Turunkan tanganmu!" bentak Nenek Mayang.


"Manis sekali darah derita ini."


Aprilia jijik seketika. Nenek Mayang telah menjilat setiap darah pada wajahnya. Menyeka bersih.


Namun, baru saja Aprilia akan bergindik memberontak. Tangan Nenek Mayang menutup matanya ketat. Mantera terpajatkan. Lalu, Aprilia merasakan ada dua biji mata baru yang terletak dalam perumahan matanya.


"Tidak sakit lagi. Hanya saja penglihatanmu akan ada setelah 7 hari kemudian."


Aprilia mengangguk mengerti. Tangannya meraba-raba dua kelopak matanya. Dia mampu merasakan adanya benjolan bulat dari rabaan tangan yang menyetuh kelopak matanya.


"Syukurlah aku memiliki biji mata lagi."


"Aku pergi yah. Goodbye!" Nenek Mayang hilang begitu saja.


Aprilia tersenyum manis. Dia membuka kelopak matanya. Matanya terlihat indah dan memikat. Hanya saja dia belum memiliki penglihatannya kembali. Dia oun berjalan seakan menembus kegelapan.


Tuk! Kaki Aprilia tersandung meja. Aprilia meraba apa yang dia sandung. Merasakan itu adalah meja makan. Dia pun mulai meraba-raba mencari dinding. Setelah mendapatkan dinding. Dia pun berjalan pelan menuju kamarnya.


"Ada apa denganmu? berjalan seperti orang buta?" tegur Sadewa yang terlihat baru bangun dan merasa heran dengan sosok Aprilia yang masuk dengan dua tangan yang terbentang lebar mencari pegangan. Persis seperti buta. Namun, sepasang mata indah Aprilia membuat waktu berhenti sebentar. Sadewa jatuh terkesima akan mata indah itu.


"Tidak mas! Aku hanya sedikit pusing!"

__ADS_1


"Kau lelah!" Sadewa segera bangkit dari kasur dan membopong Aprilia ke atas tempat tidurnya. Di saat itu sepasang mata Sadewa tanpa sengaja bertemu dengan mata indah Aprilia.


"Matamu cantik sekali," puji Sadewa terkecoh dengan indahnya.


Aprilia tersenyum dengan lengan yang menarik turun leher Sadewa untuk mencium setiap kelopak mata kiri kanannya.


"Mas, jangan lupa janjimu, " peringat Aprilia kala Sadewa menarik kecupan hangat pada kelopak mata Aprilia.


"Janji apa?" Sadewa masih terbuai akan mata indah yang menatapnya. Dia seakan menemukan permukaan laut yang tenang. Menghanyutkan sekali, dan ikut tenggelam.


"Bujuk Santi agar bersedia menerimaku menjadi isteri keduamu, Mas."


"Iya."


"Singkirkan dia, jika masih bersikeras."


"Apapun akan ku lakukan."


Aprilia tersenyum manis. Sepasang mata itu indah pun kembali membuat Sadewa tidak mampu menolak permintaan Aprilia.


"Aku akan membuat sarapan." Sadewa melangkah keluar kamar.


Blam! Pintu tertutup pelan kemudian.


Aprilia menganggukan kepala, "Sadewa adalah budak pertamaku."


Tiga puluh menit kemudian ...


Kret! Pintu di dorong kaki Sadewa. Sadewa terlihat membawa satu nampan dengan sarapan nasi goreng buatan tangannya. Ada segelas orange juice serta mangkuk kecil berisi obat-obatan.


Aroma nasi goreng masuk ke dalam hidung Aprilia. Aprilia segera memposisikan dirinya untuk duduk.


"Bau nasi goreng. Enak yah mas."


Sadewa meletakkan nampan di atas kasur.


"Silahkan makan."


Aprilia ragu. Dia tidak melihat apapun saat ini.


"Mas, kasih aku suapan mesra yah."


Sadewa terkekeh, mengambil sendok. Satu demi satu mulai memberikan suapan nasi goreng pada Aprilia. Namun, mata Sadewa terus melirik pada bola mata indah Aprilia. Dia benar-benar merasa ketakjuban yang indah pada mata Aprilia.


Mengapa aku baru menyadari jika mata Aprilia begitu cantik dan menenangkan jiwaku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .

__ADS_1


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2