Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 86


__ADS_3

...Cinta itu mampu membawa ragamu meyembah dengan bodohnya....


..._Eouny Jeje_...


...Kau tau aku pernah mencium kakimu karena aku sangat mencintaimu. Karena, kau adalah ibu untuk anakku kelak....


..._Sadewa_...


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


Aprilia menenangkan dirinya dan berani pulang ke rumah Sadewa, tujuannya hanya satu, sekedar melihat wajah Sadewa untuk terakhir kalinya. Tidak ingin menunggu untuk di usir. Aprilia masuk ke dalam kamar yang biasa dia tempati dengan Sadewa.


Sadewa terlihat ringkih di sudut ruangan.


Sepasang kaki Aprilia berayun melangkah senyap melewati garis pintu kamar. Dia melihat koper miliknya telah berdiri tegak di tengah kamar.


Sadewa menyadari kehadiran seseorang. Dia melihat ke arah sosok yang datang.


"Sudah di siapkan. Bawa pergi!"


Aprilia menoleh ke asal suara. Pria itu terlihat duduk menyilangkan kaki,dengan sepasang mata yang masih terlihat sangat merah,dan berkaca.


Aprilia menghela napas. Isaknya sudah terendam. Kini beriak kembali. Hatinya patah mendengar suara serak pria itu. Namun, langkahnya harus tetap berjalan. Aprilia meraih ganggang kopernya, menggeret dengan susah payah untuk melewati garis pintu.


"Tunggu!" cegah pria itu seraya meletakkan rokoknya pada pinggiran nakas yang berada di sisinya.


Aprilia berhenti. Ada aura dingin yang menyentuh kulitnya. Tatapan dingin pria itu seakan ingin membunuhnya.


"Mendekatlah padaku sebentar!" Sadewa serak memanggil. Jelas kerongkongan masih penuh dengan riak  isak.


Aprilia menyeka air matanya. Memutarnya tubuhnya ke arah Sadewa. Melepas tangannya dari ganggangan koper. Hatinya seakan terpanggil mendengar suara Sadewa, serak dan kasihan.


Apakah aku mendapat pengampunan?


Keraguan itu datang. Namun, kaki Aprilia tetap menuju ke hadapan Sadewa


"Apakah kau tidak ingin memohon denganku?"


Aprilia hanya berdiri kaku. Lututnya ingin dia jatuhkan ke lantai. Namun, kebencian dalam mata pria itu terlihat sedalam lautan. Seakan nyawapun tidak akan mampu menebus dosanya. Untuk apa dia berlutut.


Sadewa menggoyangkan kakinya dan sedikit mengangkat ke atas seraya bibirnya berkata, "Jika kau mencium kakiku dan memohon ampun. Aku akan mempertimbangkan dosa milikmu. Untuk tidak di ingat lagi."


Aprilia menitikan air matanya. Kaki. Dia menatap kaki pria itu. Jantung seakan tertikam kembali. Banyak ingatan kembali padanya. Dimana sepasang matanya teringat akan sepasang sepatu merah yang terlihat melayang menendang perutnya. Dia memohon kesakitan. Namun, sepatu merah itu tidak pernah berhenti menendang perutnya. Sejak saat itu, Aprilia membenci setiap kaki yang berayun di wajahnya. Kaki yang datang untuk menghina dan menghajarnya.


"Cium kakiku!"


Aku bukan yang dulu lagi. Anakmu mati bukan karena diriku. Aku akan membalasnya suatu saat nanti. Aku tidak bersalah.

__ADS_1


Aprilia mengangkat kepalanya. Untuk pertama kalinya dia menggelengkan kepalanya, "A-aku tidak mau!"


Sadewa menyipitkan matanya, "Mengapa? Ini hanya sebuah kaki! Bagaimana denganmu, aib yang kau buat? Apakah lebih besar dari harga diri?"


Raga Aprilia bergetar. Tangannya terkepal. Dia hanya mengadahkan wajannya ke langit-langit ruangan. Seakan ada wajah Puspa di sana, dan dia ingin meludahnya segera.


Sadewa turun dari kursinya. Dia melipat kakinya dan bersimpuh di hadapan kaki Aprilia. Pandangan Aprilia turun ke bawah, saat merasakan sentuhan tangan pria itu. Dingin dan pilu segera menampar dirinya.


"Kau tau aku pernah mencium kakimu karena aku sangat mencintaimu. Karena, kau adalah ibu untuk anakku kelak."


Aprilia menitikkan air matanya. Tidak tahan akan kesedihan yang tiba-tiba menjalar dari telapak kakinya. Sentuhan tangan pria itu lembut. Namun, jelas membunuh hatinya.


"Aku menjatuhkan diriku menyembah dirimu. Aku pikir aku tidak akan pernah jatuh mencintai seorang perempuan. Namun, kesederhanan dan kelembutan, membuat hatiku tulus jatuh hati."  Sadewa melepas salah satu sepatu Aprilia. Mengangkat tumit kaki Aprilia, menggosok lembut dan hal itu membuat dada Aprilia berdesir cepat dan tak karuan, dup-dup-dup!


Sadewa mencium punggung kaki Aprilia kemudian. Seakan hanya rahim Aprilia, satu-satu wanita yang mampu memberikan seorang anak untuknya.


"Aku mencintaimu,Aprilia!"


Aprilia mematung, raganya dingin akan kesedihan. Telinganya tidak salah mendengar pengakuan itu, membuat banyak pisau di terbangkan untuknya. Kesedihan Sadewa. Tendangan Puspa saat itu.


Apakah pelet Nenek Mayang seampuh ini? Aprilia meringis seakan tidak percaya jika Sadewa akan jatuh merendahkan dirinya seperti ini. Menyembah dirinya.


Dahsyat sekali pelet ini, pikir Aprilia serakah akan ketidakberdayaan Sadewa yang bertutut menyembah dirinya.


"Katakan padaku, apa pertimbanganmu membuang anak itu? Apakah dia yang kecil, telah melukai hatimu. Apakah kau memnbencinya? Aib untukmu kah itu. Hingga kau membencinya dan menyingkirkannya. Katakan alasannya."


Basah. Punggung kaki Aprilia basah akan sentuhan air mata milik Sadewa. Basah. Akan bibir yang mencium punggung kakinya.


"Berkatalah padaku dengan jujur?"


Hening. Senyap. Mencekam.


Robek. Seakan setiap lapisan daging Aprilia robek seketika, dan jantungnya seakan di letakkan panah oleh Sadewa.


Apa yang harus katakan? Nana melukaiku dengan sepatunya!


Aprilia menarik kakinya. Dia turun berjongkok. Tepat berhadapan dengan Sadewa. Dia ikut menjatuhkan air matanya kala sepasang mata merah pria itu terus menerbitkan kesedihan dan kehilangan akan anak dalam perut Aprilia, untuk kedua kalinya.


"Maafkan aku, mas. Aku bersalah atas kepergian anak kita."


Sadewa mendongakkan wajahnya menatap Aprlia. Perlahan, tangan kecil Aprilia menyentuh setiap butiran air mata Sadewa, dan menyekanya.


Aku akan menebus air matamu, dengan membalasnya pada Nana. Anak itu adalah milik kita berdua. Tentu saja, aku tidak akan melepaskan pembunuhnya.


"Katakan padaku? Mengapa kau membuangnya?" Sadewa menurunkan tangan Aprilia. Tangan pria itu terasa dingin hingga menyentuh tulang. Sorot mata pria itu terlihat berduka sekaligus membenci. Kebencian itu bagai jurang yang dasarnya tidak pernah bisa terlihat.


Anak pertama kita aku serahkan dengan akal sehat pada Nenek Mayang, karena aku membencimu yang sombong hanya menginginkan anakku. Namun, mengabaikanku. Karena, kau tidak menginginkanku. Oleh itu, aku membuangnya.

__ADS_1


"Kau diam. Apakah kau sedang merenung dosa? Hah?" Sadewa terkekeh seakan menelan empedu. Pahit untuk menelan kenyataan. Dia telah kehilangan anaknya dua kali.


Anak kedua kita. Bukan aku melakukannya. Namun, aku pasti akan membalas air mata milik mu dan milikku.


"Katakan padaku! Apa alasanmu?"


Aprilia hanya melirih dengan suara rendah, "Aku tidak membuangnya. Hal itu terjadi begitu saja."


Tepatnya aku tidak sanggup untuk jujur padamu, lanjut Aprilia dalam hatinya.


Sadewa gelap mendengar jawaban itu. Dia menarik kaki Aprilia. Brakk! Aprilia jatuh ke lantai di atas karpet yang mampu menahan benturan kepalanya tidak terlalu sakit.


Sadewa meraih rokok di atas nakas. Menyematkan di antara bibir hitam miliknya. Dia merangkak naik ke tubuh Aprilia, sedikit berjongkok dengan posisi merangkak agar mata mereka mampu saling beradu. Asap rokok mengepul tebal menerpa wajah Aprilia. Aprilia hanya mampu terbatuk sekali-kali.


"Uhuk!"


"Kau tidak boleh berbohong pada Sadewa!"


Tatapan Aprilia berkaca. Tidak ada yang bisa menolongnya kini. Pandangannya makin berkabut karena asap rokok, dan tikaman setiap kata itu, dan tidak lama sosok wanita tua dan bungkuk itu datang dan suaranya dingin menyapa Aprilia.


"Perintahkan aku dengan lidahmu. Agar aku membunuh pria ini!" pinta Nenek Mayang geram akan tindakan Sadewa, dan haus akan persembahan Aprilia lagj.


Nenek Mayang, jangan lakukan apapun pada Sadewa, harap Aprilia menghentikan jemari kuku yang bersiap menembus leher pria itu.


Aprilia menggelengkan kepalanya memberi instruksi pada Nenek Mayang, agar menghentikan niatnya.


"Jika kau memintaku pergi. Aku kan pergi!" Sekejap Nenek Mayang hilang kemudian.


Aprilia menatap Sadewa dengan harap cemas akan pria itu.


"Kau tidak akan melukaiku kan?" tanya Aprilia seakan yakin cinta pria ini adalah nyata. Bukan semu.


Sadewa tersenyum sarkas. Mencopot puntung rokok dari bibirnya, dan detik selanjutnya menempelkan api rokok menyala itu pada wajah Aprilia.


"Kau hanya wanita jelek yang bertingkah terhadap orang yang punya uang. Kau sangat bertingkah!"


Ujung rokok berputar pada pipi Aprilia hingga padam. Aprilia perih. Namun, menahan diri untuk berteriak.


Sadewa bangkit dari tubuh Aprilia. Membuang rokok yang berhenti menyala, ke sembarang tempat, dan membuang wajahnya dingin dan marah, menghindar tatapan biru sedih Aprilia.


"Pergi dari rumahku! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!"


...꧁❤ Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


..."Sombong ngusir Aprilia padahal impoten 🤦" sahut reader dalam hati....


...Sabar yah, kita percepat perubahan Aprilia. Lagi mikir alurnya biar Aprilia nggak plin plan lagi....

__ADS_1


__ADS_2