Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 107


__ADS_3

...Wanita akan berhenti mencintai pria yang membuatnya menangis. Sedangkan, pria akan terus mencintai wanita yang berhasil membuatnya menangis....


...Tangisan wanita itu derita....


...Tangisan pria itu rindu....


..._Eouny Jeje_...


...Aku seorang pria. Tidak akan tersentuh oleh air mata. Tetapi, air matamu mampu membuatku luluh. Jadi, jangan menangis lagi....


..._Sadewa_...


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


Sadewa menyeka setiap peluh yang nampak pada dahi Aprilia. Wanita itu tampak bermimpi buruk. Dia terlihat gelisah dalam tidurnya.


"Uangku!" jerit Aprilia terbangun.


Sadewa terkekeh akan wajah bangun tidur, yang langsung mencari uang. Wanita itu bangun, melompat dari ranjang, berkeliling, mencari, menemukan tasnya. Dia berjongkok kemudian. Membuka resleting tas,dan menatap lega. Segunung lembaran merah masih di sana.


"Besok kau tabung saja, dan tukar mata uang dalam Won!"


Aprilia menoleh ke asal suara, "Won?"


"Mata uang Korea!"


Berbinar. Sepasang mata wanita itu berbinar cerah akan segera menginjakkan telapak kakinya pada negeri ginseng tersebut.


"Setelah pulang dari Korea. Kau harus berganti identitas."


"Maksud, mas?"


"Gunakan identitas baru. Agar terlihat sama tinggi denganku kelak. Perlahan kita akan singkirkan Santi, dan membalas apa yang telah dia perbuat."


Aprilia mendekat pada kaki Sadewa, duduk bersimpuh dekat kaki ranjang, dengan tangan yang menggantung pada lutut pria itu.


"Dia telah membunuh anak kita. Maka, kita akan membunuh anaknya."


Glek! Aprilia menelan ludah. Tiada nyali akan hal itu. Dia bergindik takut dan memohon, "Jangan melakukan itu, mas!"


Aprilia menitikkan air matanya. Rasa bersalahnya segera menyergap hatinya. Dustanya telah membuat Sadewa menjadi pohon kebencianya yang subur tinggi dan besar. Setiap buah pohon itu mengandung racun. Sepasang mata pria itu terlihat berkilat dengan kesungguhannya untuk membasmi anak Santi kelak.


Sadewa menggelengkan kepalanya,menyeka air matanya, "Aku seorang pria. Tidak akan tersentuh oleh air mata. Tetapi, air matamu mampu membuatku luluh. Jadi, jangan menangis lagi."


Jemari Sadewa menyeka air mata Aprilia.


"Aku menangis agar kau tak melangkah salah."


Sadewa turun dari ranjang. Duduk bersimpuh dengan lutut yang menyentuh ubin keramik. Dia duduk berhadapan dengan Aprilia, sepasang mata  pria itu terlihat nanar.

__ADS_1


"Kau adalah wanita baik. Janganlah mengotori tanganmu untuk membalas mereka."


"Kau juga begitu, mas."


"Aku pria yang jahat. Tidak akan pernah tega membiarkan wanitanya tertindas. Aku rela kotor, dan memegang pedang, untuk meletakkan dirimu tinggi di bahuku. Agar setiap orang yang melukaimu, akan takjub pada sosokmu yang lebih tinggi daripada mereka, dan takut akan tajamnya pedangku menghunus jantung mereka."


Aprilia menahan napas. Hal ini adalah yang dia inginkan. Dia pun  tersenyum akan setiap penjagaan ketat dan kasih sayang yang Sadewa yang berikan.


Sadewa mengajak Aprilia berdiri kembali bersamanya, dia membawa wanita itu ke sisi balkon, menatap indah gemerlapnya kota metropolitan di bawah kaki mereka.


"Cepat atau lambat, kau akan memiliki segalanya."


"Aku menurut padamu, mas."


Aprilia memeluk erat Sadewa, "Mengapa kau begitu baik?"


Sadewa mencubit dagu Aprilia. Bibir tipis Aprilia terdongak ke atas, dan perlahan dia memakan bibir tersebut, cup! Cukup semenit bertukar liur. Setelah itu bibir Sadewa bersisian dengan telinga Aprilia.


"Aku telah menemukan dirimu, bagai telah menemukan tulang rusukku. Aku berdiri begitu kuat karena tulang rusukku, dan kala aku harus menunduk kepada orang lain,  tanpa ada rasa sakit karena tulang rusukku yang melenturkan setiap tulangku. Bagaimana bisa aku tidak mengasihi tulang rusukku sendiri!"


Aprilia tersenyum. Ada haru menyelimutinya. Namun, untuk rasa yang manis tidak akan pernah datang.


Walau madu kau tawarkan. Aku tidak akan merasakan manisnya. Luka yang kau toreh, cukup dalam, dan tidak akan pernah sembuh. Bagiku, setiap perbuatan baikmu hanyalah udara. Aku tidak perlu berterimakasih pada udara.


Aprilia menyandarkan kepalanya pada dada tegap pria paruh baya itu.


"Beristirahatlah. Tiga hari lagi, kau akan terbang, dan jadilah sosok yang baru."


"Wanita atau pria?"


"Seorang wanita. Namanya Ade. Aku tidak mengerti Korea. Aku rasa dia tahu."


"Teman?"


"Dia teman yang sangat baik!"


"Apakah dia bisa di percaya?"


Aprilia menganggukan kepala.


"Sedekat apapun kita dengan seorang! Kita tidak boleh mempercayai rahasia besar kita pada seseorang. Kau akan berganti identitas!Kau harus berhati-hati pada setiap mulut yang bisa mencelakaimu!"


"Tenang! Aku pun memiliki rahasia besarnya."


Sadewa memeluk Aprilia, dan berbisik, "Kau boleh mempercayakan rahasiamu pada temanmu. Namun, jika mereka berani membocorkan rahasia besarmu. Maka, aku akan memastikan lidah mereka terpotong selanjutnya!"


Aprilia terkekeh konyol dalam hatinya.


Bagaimana kau bisa memotong lidah kuyang!

__ADS_1


"Aku setuju! Potong saja setiap lidah teman yang membuka rahasiaku,  dan potong lidah musuhku yang berkata jelek tentangku!"


"Lebih baik mereka tidak memiliki lidah!"


Aprlia menatap sendu, dan yakin pelet pemikatnya telah membuat pria itu tersungkur mengemis cintanya.


"Aku mencintaimu,mas ...," dusta Aprilia.


"Aku pula!"


Aprilia keluar dari pelukan pria itu, dan berjingkit agar bibir pria itu lebih mudah menyentuh bibirnya. Cup! Kecupan singkat itu perlahan menjadi lebih rakus dalam tiap detiknya, saling bertukar liur, dan merenggut udara.


Kehabisan udara. Aprilia mendorong dada Sadewa. Pagutan itu terlepas. Berhenti dengan napas yang terlihat ngosh-ngosh lelah.


"Mas, tidak pulang?"


"Santi telah ku suntikan obat bius! Dia akan terlelap hingga matahari menjelang tinggi di langit."


"Kau begitu kejam!"


"Aku kejam pada setiap orang. Namun, hanya baik pada wanitanya."


"Berjanjilah tidak menduakanku lagi, mas!"


Sadewa menganggukan kepala, dan mengelus rambut merak itu, menyisipkan setiap helaian rambut itu ke belakang telinga Aprilia.


"Aku berjanji. Kau memang yang bukan pertama. Namun, ku pastikan kau yang terakhir."


Aprilia meletakkan telunjuknya pada bibir pria itu dan membalas berbisik, "Aku lebih menyukai menjadi yang terakhir. Karena, aku akan menutup pintu hatimu dengan rapat. Dan tidak mengijinkan wanita manapun mencurimu dariku lagi."


Sadewa menyipitkan matanya, menyembunyikan sepasang mata yang cerah miliknya. Diapun merangkul Aprilia dan mengangkat tubuh wanita kurus itu. Berjalan ke sisi ranjang, dan melemparnya dengan lembut menyetuh kasur besar itu.


"Ingin apa lagi?" tanya Aprilia pura-pura bodoh kala pria itu memoloskan dirinya.


"Ingin menikmati itik!"


Aprilia terkekeh, dan menangkap rahang wajah pria yang telah merangkak di atas tubuhnya.


"Apakah kau tidak merasa malu menyukai itik? Bukankah dengan segala uangmu, bisa mendapatkan angsa."


Sadewa menurunkan bibirnya mengecup lembut kening Aprilia. Napas Sadewa terasa sangat dekat, pria itu pun berkata, "Bagaimana aku bisa mengelak akan rasa yang memilih dirimu. Berkali aku mencoba berpaling. Namun, hanya dirimu yang bertahta. Wajah cantik sering kutemui. Tetapi, perilaku cantik bagai menemukan jarum di antara tumpukan jerami."


Aprilia membalas dengan kecupan singkat. Seakan, dia mulai belajar mencium bibir pria itu tanpa rasa, tanpa harus melibatkan hati. Seakan dia berlaku bak wanita yang menjual diri.


Nikmatilah! selagi aku hanyalah seekor itik jelek. Kala, diriku menjadi angsa berbulu emas. Kau tidak akan memiliki kesempatan.


Aprilia tersenyum, dan membiarkan Sadewa menjamah tubuhnya dengan liar dan rakus kembali sepanjang malam. Melewati sepanjang malam dengan kepura-puraan dan kepalsuan. Menyerahkan raga. Namun, tidak menyertakan hatinya.


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...

__ADS_1


Yuk jangan lupa Coment di baris hastag kolom komentar. Jika kalian jadi Aprilia akankan tetap bertahan mencintai Jack, atau berpaling pada Sadewa.


__ADS_2