Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 162


__ADS_3

..."Kau adalah sosok yang  menikmati bersantai di lingkungan pedesaan yang tenang, di bawah Venus yang menyukai kenyamanan dan kemewahan. Setia dan loyalitas pada pasangan."...


..._Nenek Daisy_...


..."Setia dan loyalitas adalah harga seorang teman terbaik."...


..._Eouny Jeje_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Perjalanan di sekitar taman, berjalan arah tanpa acak. Bulan sudah begitu tinggi. Setiap stan terlihat tutup kemudian.


Namun, satu tangan renta tiba mencengkal tangan Tina. Tina menoleh seorang wanita tua bertudung itu tersenyum padanya dan melipat kelopak matanya lebar ke atas.


"Auramu tajam dan kuat."


Tina mengibas tangannya. Membuat tangan renta itu jatuh terayun dan lepas mencengkram pergelangan tangannya.


"Kau siapa?"


"Aku adalah peramal Daisy. Hari ini adalah hari terakhir pameran. Kau adalah pengunjung ke 666. Aku akan memberikan gratis masuk ke dalam stan milikku."


Telunjuk tangan nenek tua itu menunjuk stan yang masih terlihat berlampu remang-remang. Seluruh pernak perniknya terlihat hitam dengan unsur gothic. Ada bola kristal di tengah meja.


"Apa yang ingin kau ramal dariku?"


"Segala sesuatu aku dapat mengetahui dengan mudah. Dari pernikahan, perceraian, kelahiran dan kematian. Jadilah pengunjung terakhirku. Menggenapkan angka 666."


Tina terlihat menyipit ragu. Bersiap menolak tawaran.


"Aku memberi gratis. Hanya untuk menggenapi angka mistisku. 666."


Tina menggeleng. Dia bersiap akan pulang.


"Aku mohon, please bantu nenek tua ini."


Iba. Tina merasa iba. Dia mengangguk setuju kemudian.


Tina mengikuti langkah pendek Nenek Daisy. Tidak lama kemudian, mereka duduk berhadapan. Di tengah meja ada bola kristal yang terlihat berputar perlahan dengan suara musik yang terdengar menyeramkan.


Nenek Daisy mengambil kartu tarot. Lalu, mengambil canvas putih, dan peralatan kuas.


"Kau adalah pengunjung 666."


Tina tersenyum.


Nenek Daisy memejamkan matanya. Merapal sebuah mantera, dan membuka mata secepat mungkin. Sepasang bola matanya terbelak lebar.


"Kau sudah mati!" tandas Nenek Daisy.


Tina tersenyum miris.


"Apa kau tak bisa meramal hantu?"


Nenek Daisy menghela napas berat. Dia menggelengkan kepala.


"Siapa yang mampu meramal hantu. Tidak ada yang mampu."


Tina mengerutkan dahi.  Namun, dia tertarik mengetahui tentang Aprilia kelak.


"Kau mengisi jiwa raga milik siapa?"


"Sebut saja dia adalah saudaraku."


Tina mengambil dompet. Lalu, memeriksa dua kartu identitas di dalam dompet itu. Dia terlihat menerawang dan mengambil identitas yang sesuai dengan milik Aprilia.


Tina mengambil satu identitas dan menyodorkan mendekat pada Nenek Daisy.

__ADS_1


Nenek Daisy menjepit kartu identitas. Dia menatap wajah foto yang terlihat jauh berbeda.


"Operasi plastik," jawab Tina seakan mengetahui keraguan Nenek Daisy.


Nenek Daisy menganggukkan kepala. Membaca informasi yang tertera pada kartu identitas.


"Aprilia. Tanggal 30 April."


"Taurus zodiaknya. Kepala banteng simbolnya," sahut Tina.


"Kau adalah sosok yang  menikmati bersantai di lingkungan pedesaan yang tenang, di bawah Venus yang menyukai kenyamanan dan kemewahan. Setia dan loyalitas pada pasangan."


"Setiap manusia suka uang. Aku juga suka harta dan kemewahan."


"...."


Nenek Daisy meletakkan kartu identitas. Dia menerawang sosok yang berada di dalam tubuh wanita muda di depannya. Sosok bergaun merah, rambut pendek dengan sedikit ikal di bawahnya.


"Unsur kalian berdua terlihat berbeda. Kau hantu merah. Raga yang kau tempati Banteng."


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku-pun merasa bertentangan. Namun, kala kami telah menyatu, membentuk koloni. Aku pun menyadari satu hal yang menarik."


Nenek Daisy menyipitkan matanya. Ingin menebak. Namun, tidak mampu menemukan jawabannya.


"Apa itu?"


"Kami berdua merajuk pada satu opini, seperti bendera partai politik PDI-P. Merah latarnya. Banteng simbolnya. Mottonya : Kerja kita. Kerja Indonesia. Oleh itu, kami mampu bekerjasama dengan baik. Entah jika nanti. Hanya saja, tidak selamanya yang terlihat kontras berbeda akan bertengkar. Lalu, yang terlihat serasi. Tidak selamanya akan terlihat akur."


Tina mengangkat tangan dengan kepal tangan ketat, dan menatap pada Nenek Daisy, "Kerja! Kerja! Kerja! itu mottonya."


Lalu, Tina mengambil kuas dan mulai melukis seseorang di dalam kanvas putih tersebut. Dengan sangat cepat. Seorang tokoh terlihat di sana.


"Megawati Soekarnoputri."


"Dia adalah presiden wanita pertama di Indonesia. Lalu, kami adalah Sunny untuk pria yang sama."


"Bukankah kau bilang kau tak mampu meramal hantu."


Nenek Daisy menelan ludah.


"Namun, aku bisa meramalkan diriku sendiri."


Tina mengocok kartu tarot. Lalu, menyebarkan tiga kartu pilihannya.


Nenek Daisy terlihat tegang akan setiap kartu yang tertutup itu. Tina menggunakan tangannya. Membuka tiga kartu sekaligus.


Seorang putri. Sepatu kaca. Pernikahan.


Kartu pertama.


Seorang putri bergaun merak, berwajah pucat, yang terbaring dalam peti.


"Aku adalah cindrella itu. Cinderella hantu."


Tina memindahkan telunjuknya pada kartu kedua.


Kartu kedua.


Sepatu kaca.


"Aku akan menjadi putri untuk seseorang. Sepatu kaca itu milikku."


Telunjuk Tina berpindah pada kartu terakhir.


Kartu ketiga.


Pernikahan.

__ADS_1


"Aku akan menjemput pangeranku masuk ke istanaku. Air adalah tempat tinggalku dan dirinya."


Nenek Daisy menghela napas. Dia seakan mengerti tujuan wanita itu tetap tinggal. Pesan wanita di depannya cukup mengerikan.


"Apakah?" akan bertanya. Namun, Tina lebih dulu bangkit berdiri, melambai tangan kemudian.


"Aku lelah. Waktu telah mendekati pukul 12 malam. Saatnya aku kembali."


Ting!


Tina bersama raga Aprilia hilang kemudian. Dalam sekejap, telah mencapai mobil pada parkiran basement. Tina memutuskan keluar dari raga Aprilia.


Terhenyak. Aprilia seakan bangun dari tidur yang panjang. Dia meraup seluruh udara malam. Seakan, napasnya hanya tersisa satu. Dia memegang dadanya sendiri.


Dup! Dup! Dup! Degup jantung Aprilia tidak karuan. Dia memukul dadanya segera, agar seluruh udara malam cepat mengisi penuh.


Klek! Pintu mobil terbuka lebar sendiri.


Aprilia menoleh kepada sosok halus yang telah duduk dengan manis pada posisi sebelah sopir.


"Kamu?"


Tidak ada jawaban.


"Jangan mengikutiku!"


"Cepat menyetir. Sadewa pasti sangat khawatir," tegur Tina yang hanya menatap lurus ke depan.


Aprilia menghela napas panjang. Mengomel dalam hatinya.


Begini resikonya. Mampu melihat yang tidak terlihat. Tiba-tiba saja raganya di pinjam.


Aprilia memutar langkahnya mengitar mobil. Klek! Dia membuka posisi sopir. Duduk kemudian.


Sebelum menginjak pedal gas. Dia menoleh pada sang hantu merah.


"Apa tujuanmu? Kau dan Sadewa ada apa ? Aku tidak memiliki hubungan apapun denganmu."


"Aku mencintainya itu saja. Yang lain, kau tidak perlu tau."


Tina menatap dingin.


"Mengapa kau mengikutiku? Kau bahkan mengambil ragaku tanpa ijinku."


"Karena Sadewa mencintai ragamu. Oleh itu, aku ingin menyerupaimu. Oleh itu, aku ingin mengikutimu."


Glek! Aprilia menelan ludahnya. Dia ingin menampar wajahnya sekarang.  Berharap hal ini hanya mimpi buruk. Berkenalan dengan iblis Mayang yang di sebut Eoma, bergaul dengan Tuyul Moon, dan kini harus terus dikuntit oleh hantu merah layaknya si manis yang merindu kekasih dunianya.


"Jalan. Sadewa pasti sangat khwatir. Jika kau tak pulang. Bisa saja dia sudah berada di kantor polisi, dan menyebutkan bahwa dia telah kehilangan orang yang paling dia cintai."


Aprilia menelan ludahnya. Dia merogoh ponsel dari tasnya. Dia memeriksa panggilan telepon. Benar dugaannya. Panggilan tak terjawab begitu banyak dari Sadewa. Begitu pula dengan pesan.


"Mengapa kau tak mengangkat teleponnya?"


"Aku sengaja membuat dia pusing. Pusing-pusing."


Aprilia membaca setiap kotak pesan masuk. Setiap kata khwatir di ketik pria paruh baya itu.


"Setidaknya membalas pesannya, agar dia tidak khawatir."


"Aku kuno, aku kan zaman old," sahut Tina dengan mengedipkan sepasang matanya yang terlihat polos.


Aprilia tersenyum sarkas. Dia melempar ponselnya kembali pada tas miliknya. Lalu, dia memutar kunci mobil, menginjak pedal gas kembali ke kediaman Sadewa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia: ada ada ja ilustrasi gabungan manis dan aku jadi megawati.

__ADS_1



__ADS_2