
...Tangan yang suka memberi, bagai tangan yang menggenggam tangan raja....
..._Eouny Jeje_...
...Keserakahan dan sulit bersedekah, adalah jalan masuk mudah bagi iblis memperdayaimu....
..._Nenek Mayang_...
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
Nenek Mayang membuka matanya dan bibirnya mulai berkomat-kamit membaca sihir dan terlihat kantong rambut dan air liur di selubungi asap hitam bercampur asap merah yang terlihat kasat mata dalam tungku itu. Mantera yang di ucapkan asal oleh Bintan, berhasil membuat Nenek Mayang mengetahui siapa sang pemilik rambut dan air liur tersebut.
Dalam satu kedipan. Nenek Mayang telah mencapai rumah pemilik rambut dan air liur tersebut. Seorang wanita muda cantik yang sedang mengandung. Wanita muda itu terlihat terlelap dengan posisi terlentang, dan tangan suaminya terlihat memeluk erat perut itu.
Nenek Mayang terkekeh dan dia berjalan senyap ke sisi ranjang. Tangan rentanya meraba perut tersebut. Telinganya tajam mendengar gerakan janin yang berenang-renang. Dia tersenyum,dan masuk ke dalam alam bawah sadar wanita tersebut.
Nenek Mayang menjelma sebagai sosok nenek tua bungkuk dengan pakaian terlihat compang camping. Dia pun mengadahkan tangan kemudian, dengan satu tangan kiri mengetokpintu.
Tok!Tok!Tok!
Setelah tiga ketukan keras. Pintu terbuka, Kret!
Wanita muda cantik itu berdiri di ambang pintu dengan perut rata miliknya, dan sepasang matanya menatap jijik akan sosok pengemis yang datang.
Nenek Mayang mendongakkan wajahnya. Sepasang mata renta itu terlihat berkaca, "Meminta sedekah, mohon memberi."
Wanita muda itu melambaikan tangan.
"Maaf! Tidak melayani gelandangan dan pengemis.Pergi!"
Blam! Pintu mengatup erat pada kusen kemudian.
Nenek Mayang tersenyum senang akan sosok angkuh sombong itu.
Nenek Mayang pun kembali mengubah wujudnya, menjadi sosok wanita paruh baya yang terlihat elegan, kaya, dan memiliki banyak harta melingkar pada jemari tangan,dan lehernya.
Tok!Tok!Tok!
Pintu di ketukan kembali ....
Kret! Suara derit pintu terbuka seraya suara wanita muda itu menggelegar marah, "Sudah kukatakan jangan datang—"
Kalimat itu terputus begitu saja. Wanita muda itu terperangah akan sosok yang terlihat membawa banyak harta.
"Ada apa ibu?"
__ADS_1
"Saya tetangga baru. Itu rumah saya."
Wanita muda itu terperangah akan rumah besar nan megah.
Akrab dengan tetangga kaya, bukankah itu keberuntungan.
"Saya Wiwin Bu." Wanita muda bernama Wiwin membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan masuk kemudian.
Setelah Nenek Mayang duduk, Wiwin mulai menawarkan air minum dan biskuit di atas meja.
"Terima kasih," ujar Nenek Mayang seraya mengunyah salah satu biskuit.
Nenek Mayang mengangkat pupilnya dan mengikuti pandangan Wiwin yang terlihat menatap ingin pada setiap emas beharga miliknya.
"Apa yang ibu inginkan?"
Saliva Wiwin terlihat naik turun. Wajahnya merona merah malu, tertangkap basah takjub akan sosok emas yang duduk berhadapan dengannya.
Nenek Mayang melorotkan seluruh gelangnya, "Untukmu!"
Jantung Wiwin melompat bingung, rasa ragu dan serakah bercampur aduk. Gelap mata seakan rejeki tidak terduga, tidak boleh di tolak. Dia pun segera berterima kasih,dan akan meraih banyak gelang emas tersebut.
Nenek Mayang berburu menariknya,dan berkata, "Ada syarat?"
"Apa itu?"
Wiwin nelangsa sebentar. Menimang-nimang permintaan itu. Namun, akhirnya dia mengangguk setuju, karena rakus akan gelang yang gemerlapan di hadapan matanya.
Nenek Mayang meletakkan gelang pada tangan Wiwi, dan dia berbisik, "Tepat 8 bulan kemudian. Aku akan mengambilnya."
Setelah mengucapkan hal tersebut. Nenek Mayang keluar dari alam pikiran wanita itu, dia tersenyum penuh hasrat. Lalu, dia berjongkok di sisi ranjang, dan kepalanya miring bersandar pada perut wanita muda itu.
"Kecil, cepat bertumbuh yang sehat dan kuat. Dagingmu harus tebal, dan suara tangismu harus nyaring. Aku ingin mendengar suara yang menjerit ketika setiap taringku mencabik dan merobek daging muda itu."
Nenek Mayang mendongakkan wajahnya kembali pada Wiwi, dan tersenyum sinis, "Keserakahan dan sulit bersedekah, adalah jalan masuk mudah bagi iblis memperdayaimu."
Nenek Mayang hilang kemudian dan kembali pada ruang kamar Bintan. Dukun muda itu terlihat baru menyelesaikan birahinya. Santi terlihat merona malu akan sosok muda yang telah menggaulinya. Santi segera meraih selimutnya dan menutupi kepolosan tubuhnya.
Bintan yang telah mengenakan pakaian hitam miliknya, duduk di sisi ranjang, dan punggung tangannya merangkak menghapus bulir keringat pada kening Santi.
"Semoga segera memiliki anak, Tante."
Santi mengangguk malu,dan dia seakan menyukai hubungan barunya bersama anak muda tersebut.
Siapa suruh kau berselingkuh. Aku pun mengikuti jejakmu, Mas Dewa. Namun,hanya tubuh ini yang berkhianat, hatiku tetap ada dan hanya memikirkanmu.
__ADS_1
Setelah Bintan meninggalkan kamar. Santi turun dari ranjang. Mengenakan seluruh pakaiannya, dan segera merapikan rambutnya. Merogoh lipstik dari dalam tasnya dan memoles warna merah merona pada bibirnya.
Santi melangkah dengan malu-malu, dan duduk berhadapan kembali dengan Bintan. Api tungku terlihat menyala, taburan bubuk kemenyan di taburkan oleh jemari Bintan.
Santi tersenyum malu kala sepasang mata dirinya dan Bintan bertemu.
"Apa yang harus saya lakukan setelah ini?"
Bintan mengangkat wajahnya. Dia mengakhiri taburan bubuk kemenyan tersebut pada tungku, diapun membawa tungku dan memutar tujuh kali melingkari atas kepala Santi
Santi menahan napas akan aroma yang wangi menusuk hidungnya dan asap yang terlihat mendesak mengerumuni seluruh wajahnya.
"Uhuk!" Santi terbatuk akan asap tungku.
Bintan menarik tungku, dan menjawab,"Tante, hanya perlu meraba perut setiap hari tujuh kali. Mandi kembang pada malam hari kelahiran, dan ucapkan mantera ini."
Bintan menulis pada secarik kertas, dan membacanya kembali, "Ingin anak sebanyak 7 x dan jadilah anak itu di dalam perutku sebanyak 7x."
Santi mengangguk mengerti. Menerima secarik kertas, dan saat itu pula Tangan Bintan dengan sengaja menggenggam tangan berlemak tersebut, "Ternyata Tante menyenangkan sekali di atas tempat tidur."
Santi tersipu malu akan pujian tersebut. Akan segera berkata, mulut dukun muda itu terbuka kembali. Namun, tertahan kemudian karena sebuah pesan masuk.
Beep! Sebuah pesan dari nomor asing masuk.
Dukun Bintan saya di luar. Jangan terlalu lama mencabuli pasien.
Bintan mengangkat wajahnya, dan meminta segera pergi.
"Tante, silahkan pergi. Ada pasien lain yang mengantri."
Santi kikuk dan segera berdiri, akan bertanya, dan Bintan hanya menjawab segera, "Jika Tante perlu, silahkan kirim pesan saja."
Santi pun mengangguk mengerti dan melangkah keluar dari apartemen tersebut, dan di depan pintu terlihat seorang gadis Cantik berdiri dengan anggunnya. Namun, raut wajahnya terlihat sangat kesal. Wanita cantik itu bertukar pandang sebentar dengan Santi. Santi melangkah pergi sedangkan wanita cantik itu melangkah masuk ke dalam apartemen mewah tersebut.
Bintan mendongakkan pupilnya melihat pasien baru yang datang. Cantik rupawan. Tinggi semampai. Jangkun Bintan pun terlihat naik turun, menginginkan sosok pasien ini lagi.
Puspa terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
"Hai sayang!" sapa Bintan dengan wajah merah akan kehadiran Puspa yang datang tiba-tiba.
Puspa hanya mengangkat satu alisnya, dan menggedor meja tersebut, bug!
"Kembalikan uangku!"
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
__ADS_1
...Jangan lupa bantu dengan boom like karya ini yah. Di bantu untuk naik urutan lomba novel horornya, yuk dukung karya ini dengan sering meninggalkan komentar dan like setiap chapternya, dan jangan lupa hadiah dan vote....
...Maaf terlambat yah karena author sedang sakit....