
Sadewa merebut batang biru itu dari tangan Aprilia. Dia menatap lekat. Ada semburat rasa bahagia mengetahui Aprilia hamil. Dia mengacungkan ke udara dan menunjukakna pada Ririn.
Ririn melongos tidak percaya. "Mas, itu belum tentu milikmu."— Ririn menatap Aprilia— "Kita tidak tahu dengan siapa saja dia telah tidur?"
Aprilia mengangkat dagunya. Dia harus berbohong. Anggap saja Jack tidak pernah menidurinya. "A-aku hanya tidur pada Mas Sadewa. Sungguh!"
Sadewa menatap Aprilia. Dengan cermat dia menyelidiki mata wanita itu, dan dia melihat wanita ini masih sama seperti dulu. Polos dan sederhana. Diapun mempercayai tidak ada kemunafikan di dalam mulut Aprilia.
Anakku kah ini? Sadewa terlihat meragu, dan menatap perut Aprilia. Tidak yakin, dia pun segera bersikap menyelidiki.
"Anak siapa ini?" tanya Sadewa mengulangi pertanyaan Ririn.
"Yang pastinya bukan anakmu, mas. Jika anakmu. Pasti aku dan Dania sudah hamil. Dia pasti ingin untung. Karena tau mas sangat mengharapkan keturunan!"
Aprilia menatap dengan raut kecewa dan sendu kemudian pada Sadewa, "Anak mas Dewa. Percayalah mas. Seumur hidupku aku hanya tidur dengan mu. Selain mas Gusti, mantan suamiku."
"Bohong!" —Ririn mencengkram ujung kerah dress Aprilia— "Mas Dewa itu mandul.Bagaimana bisa mengandung anaknya!"
Mandul. Sadewa geram akan penyebutan itu.
Sadewa mendelik marah akan penyebutan mandul. Dia berdiri dengan wajah berang. Memutar tubuh Ririn, kembali berhadapan dengannya dan Plak! Sadewa menampar keras wajah Ririn.
Aprilia menahan tawanya dalam hatinya. Namun, tetap mengenakan ekspresi kasihan pada Ririn.
"Kau menyebutku mandul! Padahal kalianlah yang tidak bisa memberiku anak. Kalian lah wanita-wanita mandul itu!" bentak Sadewa sangat murka.
Ririn menatap nanar dengan tangan yang menempel pada wajahnya. Tidak lama air matanya jatuh bersamaan dengan isi mulut ya yang terlontar, "Mas tega! Bagaimana bisa mas percaya pada janda yang telah meninggalkan rumah mas."
"Aku baru meninggalkan kontrakan, tidak lebih sebulan." Aprilia membela diri. Aprilia menatap Sadewa, "Bukankah mas sering mengawasiku. Aku tidak pernah keluar dari kamarku, jika mas Sadewa tidak memanggilku."
Ririn geram. Wajahnya angkuh menantang, "Bersumpahlah jika anak dalam perut itu adalah milik mas Dewa."
Aprilia tersenyum, dia mengangkat telapak tangannya ke udara, "Aku berani bersumpah untuk menyakinkan kalian semua."
Sadewa menatap yakin. Ririn mengelak panas dan mendorong permintaan lagi, "Bersumpahlah di atas kepala anakmu yang sulung. Bahwa itu anak mas Sadewa. Jika tidak terbukti, maka anakmu yang sulung itu mati."
Aprilia terkekeh. Dia mampu merasakan api cemburu melahap habis Ririn. Karena Aprilia yakin akan janin miliknya adalah milik Sadewa. Dia pun melontarkan sumpahnya, "Aku bersumpah. Aku mengandung anak Sadewa. Jika aku berbohong. Bukan hanya anakku Dimas yang mati. Namun, aku pun mati di sambar petir."
__ADS_1
Sadewa mengukir senyum. Kini dia merasa sangat yakin, Aprilia tidak berbohong. Sadewa menatap Ririn, dengan mulutnya dia menggertak, "Kau puas! Aprilia memang mengandung anakku."
"Harus tes DNA, mas. Bisa saja dia bersumpah palsu." Ririn mengejar dengan mata memohon.
Sadewa membuang wajahnya. Tidak ingin memberi wajah sama sekali. "Keluar dari kamar ini," ketus Sadewa.
"Keluar!" kedua kalinya Sadewa mengusir Ririn.
Ririn terpana sebentar. Tidak menyangka akan di usir. Perlahan Ririn memutar kepalanya menatap pada Aprilia yang terlihat membola cerah dengan menyembunyikan garis senyum kemenangan.
"Dasar murahan! Aku tidak percaya jika janin itu milik mas Dewa." Ririn menghentakkan kakinya dan meninggalkan kamar. Blam! Suara pintu terbanting keras.
Sekejap ruangan menjadi sangat sepi. Hanya mata yang saling bertukar pandang terlihat bertransaksi. Sadewa tampak menyelidik. Aprilia tampak berusaha menyakinkan.
"Anakku?"
Aprilia menganggukan kepala.
"Apa buktinya? Jika itu anakku."
"Aku sudah bersumpah, mas."
Aprilia mengangkat dagunya. Dia telah menyimpan jawaban untuk pertanyaan ini. Dia pun segera melontarkan jawabannya, "Aku hanya tidur dengan mas Dewa. Tidak pernah dengan pria lain."
Sadewa tersenyum. Mencubit dagu wanita di depannya, dan menyeka lipstik bibir wanita itu, "Apakah aku bisa mempercayai bibirmu ini selalu berkata jujur?"
Aprilia menghela napas. Memberanikan diri menatap Sadewa, dan mencium bibir pria paruh baya itu. Tidak ada cara lain, selain hal ini.
Sadewa melepaskan dagu Aprilia. Dia mundur selangkah hanya untuk terkekeh dan berkomentar, "Kau sekarang mulai berani. Bukan Aprilia yang pemalu seperti dulu. Darimana keberanianmu itu berasal?"
Deg! Jantung Aprilia berdetak kencang satu kali dan mengirimkan sinyal kikuk pada raganya. Dia kikuk dan linglung seketika. Mengapa aku bersikap bodoh untuk mencium pria ini?
"Apa tujuanmu?"—Sadewa menyeka bibirnya— "Mencium bibirku lebih awal!"
Aprilia terlihat kelu, bingung akan menjawab. Apa tujuanku menciumnya?
"Aprilia jangan diam saja. Diam mu tidak akan membuatku penasaran." Ujung jempol Sadewa menyentuh bibir Aprilia, dan bertahan di sana.
__ADS_1
"A-aku,"— Aprilia berkedip malu— "A-aku hanya ingin me-mesra dengan ayah da-ri a-anaku."
Sadewa menarik jempolnya, dan menarik pinggang Aprilia mendekat padanya. Memutar arah tubuh wanita itu berdiri membelakangi ranjang. Lalu, mendorongnya berbaring ke atas ranjang.
"Kebetulan sekali. Aku ingin merasakan agresifnya ibu dari anakku. Sifat baru yah?" Sadewa naik merangkak ke ranjang. Menatap lekat pada Aprilia di bawah tubuhnya.
"Apakah ini anakku?"
"Iya mas." Aprilia menahan getar dalam suaranya. Agar tidak ketahuan berbohong.
"Kau bersumpah, tidak pernah tidur dengan pria lain selain diriku?"
Aprilia membisu. Mematung linglung untuk beberapa saat. Haruskah aku berbohong lagi? Tentu saja. Semua pria serakah hanya menyukai yang wanita yang menyerahkan dirinya pada satu pria saja.
"Iya, Mas. Kau kan tahu. Jika aku hanya dekat dan mengenal mas. Semenjak perceraian ku dengan mas Gusti. Bagiku mas adalah suamiku selanjutnya. Walau ...."—Aprilia menunduk malu, memejamkan matanya— "Wa-lau suami di a-atas kasur saja."
Sadewa terkekeh, membelai rahang Aprilia dan bertutur kemudian, "Aku akan memastikan anak ini adalah anakku setelah dia lahir. Aku akan memberimu uang agar kau bisa merawat janin ini."
Aprilia membola senang, karena akan mendapatkan uang segar segera. "Terima kasih, mas."
"Asal kau menjaga diri. Tidak menjual diri pada pria lain. "
"Tidak akan. Aku bukan wanita seperti itu."— Aprilia menatap lekat— "Aku janda tehormat. Tidak akan menjajakan diri."
"Denganku?"
Aprilia menghela napas kasar. "Karena aku mencintaimu."
Tepatnya aku mencintai uangmu— Aprilia menggigit hatinya— Uang adalah segalanya. Aku tidak bisa makan. Jika harus bersikap murni. Lagipula kau juga pria yang hobi berlabuh ke sana kemari. Seperti Kapten Kapal, yang memiliki satu istri di tiap pelabuhannya.
Aprilia menganggukan kepala. Aku hanya mencintai Jack. Entah mengapa hatiku selalu menjerit rindu padanya.
......................
Bersambung ...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
__ADS_1
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo