
...Mungkin kau tidak perlu mengakui diriku. Tidak perlu mengakui setiap apa yang telah kita lewati. Karena, Dinding hanya akan membisu. Langit tidak akan pernah berbicara. Hanya hati nuranimu yang mampu berbicara. Apakah dia anakmu? tanyakan hatimu sendiri....
..._Santi_...
...Bertanggungjawablah sesuai kepemilikannya....
..._Eouny Jeje_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Santi duduk di belakang kursi driver. Dia terlihat menimang-nimang bayi dalam gendongan tangannya, dan berkali-kali memejamkan mata karena kegundahan hatinya. Bukan kemana akan dia pergi? Dia ingin menemui pria yang telah menjadi ayah biologis untuk Rakha.
"Pak, tolong antarkan ke apartemen Bintan."
Sopir mengganggukkan kepala, dan menjalankan mobil ke arah apartemen Bintan.
Tiga puluh menit kemudian ....
Dengan banyak keraguan bagai kilat petir dengan suara gemuruh yang mengisi seluruh rongga dada Santi. Santi tampak gelisah di depan pintu lift lobby.
Menatap wajah Rakha. Terlihat lidah kecil bayi mungil itu terlihat menjilat bibirnya sendiri. Rakha baru saja selesai menyusui. Santi menyeka air asi yang terlihat berada di sekitar bibir mungil itu. Rakha terlihat nyaman dan terlelap dengan cepat karena lambungnya penuh terisi asi.
"Apakah Bintan akan mengakuinya?"
Dup!Dup!Dup!
Santi menggigit bibirnya sendiri. Seakan telah menggigit jantungnya agar berhenti berdegup cepat. Degup jantung itu seakan berlari maraton ingin mencapai garis finish.
"Semoga dia mau mengakuinya."
Santi meloloskan dirinya melewati garis pintu lift. Menekan nomor lantai apartemen Bintan. Angka bergulir naik begitu cepat.
Ting! Pintu lift terbuka.
Santi melangkah keluar. Baru saja berjalan keluar dari garis lift. Dia kaku berdiri di tengah koridor yang menghubungkannya pada kamar apartemen Bintan.
Sepasang mata Santi membola dengan berkas-berkas air yang memenuhi permukaan bola matanya. Dia menatap kamar apartemen itu. Kamar yang menjadi saksi bisu kehadirannya yang datang hanya untuk bersentuhan kulit.
"Apakah dinding mampu berbicara menjadi saksiku?"
Santi menelan empedu. Semenjak perutnya membuncit besar, dia tidak pernah menemui dukun itu lagi. Santi menunduk menatap wajah bayi mungil dalam dekapannya.
"Setidaknya ayahmu mengetahui siapa dirimu."
Santi berjalan menuju kamar apartemen Bintan. Setelah mencapai depan pintu kamar apartemen itu. Deru napas Santi terlihat saling berkejaran. Dadanya terlihat kembang kempis. Udaranya dalam dada menipis. Sesak. Sangat gelisah.
Santi memejamkan matanya. Lalu, menekan bel tersebut. Seluruh raganya mampu menopang kaki berdiri tegak menginjak lantai. Namun, jantungnya sungguh telah berpindah ke bawah telapak kakinya sendiri. Sakitnya sekali, menginjak jantung sendiri.
Kret!
Pintu terbuka lebar.
Tampak pria itu terlihat berwajah pucat menatap kehadiran Santi. Sepasang matanya membola terkejut akan sosok mungil dalam gendongan wanita itu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Bintan seakan dirinya baru pertama kali bertemu Santi. Suaranya datar. Seakan ingin segera masuk ke dalam tempurungnya, melihat sosok bayi mungil berkulit masih merah yang terlelap dalam gendongan wanita yang pernah menjadi partner ranjangnya.
Santi memantapkan hatinya. Terlihat bingung memilah kata. Lalu,dia menundukkan wajahnya sedalam mungkin. Wajah bayi itu mengguncang seluruh dadanya, agar berteriak segera.
"Namanya Al Rakha," hembus Santi akhirnya dengan suara rendah.
Bintan seakan terlena sebentar. Dia hanya mematung kosong sesaat. Lalu, berkomentar memuji, "Nama yang sangat bagus. Semoga kelak anakmu sesuai namanya."
"Anak kita," koreksi Santi dengan nada buru-buru.
Deg! Giliran jantung Bintan berdegup merosot ke lantai. Dia seakan tidak bernyawa sebentar. Napasnya mendadak hilang. Segala sesuatu terlihat gelap beberapa saat.
"Kau bercanda? Konyol!" ujar Bintan yang kemudian mundur dari garis pintu. Dia memutar tubuh atletisnya, berjalan menuju ruang tamunya, dan menjatuhkan bokongnya pada sofa.
Banyak keraguan dan rasa kecewa mengikuti Santi. Bahkan, ketidakpercayaan Bintan seakan petir yang menembak kepala Santi. Santi berdiri kaku, seakan dia telah menjadi mumi yang membeku di depan pintu.
"Masuklah!" seruan pria dari dalam, membangunkan Santi dari kekosongan. Menerbitkan sedikit keberanian, yang mengantarnya setiap derap langkah kakinya menemui pria itu.
"Apa buktimu?" satu pertanyaan sederhana itu bagai peluru yang masuk ke dalam rongga mulut Santi saat ini. Dia kehilangan seluruh kata-katanya untuk sekedar menjawab.
Pria dengan segala keramah tamahannya itu mendadak membeku dingin, setiap kerut detail wajahnya terlihat menyelidiki wanita yang tiba-tiba datang membawa sosok mungil berkulit merah itu.
"Bisakah kau jelaskan? Siapa aku dan dirimu saat malam itu?"
Santi diam membeku. Peluru seakan begitu tajam berada menusuk laring tenggorokannya. Sangat sakit untuk berkata. Hanya membisu sebagai pilihannya saat ini.
"Aku akan membantumu mengingat. Kau datang karena menginginkan cinta suamimu yang mencintai wanita lain. Kau ingin memberikan dia keturunan. Namun, pria itu tidak mampu menyentuhmu. Kau sebut dia impoten."
"Lalu, kau datang memohon padaku. Meminta seorang manifestasi janin!"
Bintan menghentikan kalimatnya. Saat ini, dia merasa tersesat untuk melanjutkan kalimatnya lagi.
Aku tidak mampu melakukan manifestasi janin dengan cara gaib. Cara setan. Aku hanyalah dukun palsu. Tentu saja, itu anakku.
"Apa kau tau? Bisa saja manifestasi janin milik tetanggamu itu berhasil? Jadi bayi itu bukan milikku!"
Santi menggelengkan kepala, "Saat aku hamil. Tetanggaku tetap hamil. Dia lebih dulu melahirkan seorang puteri. Bagaimana mungkin, kau sebut hal ini adalah manifestasi gaib!"
Plakkk!
Bintan tertampar akan kata-kata tersebut.
"Aku hanya berhubungan denganmu! Bisakah kau percaya?"
Deg!
Bintan menahan napas dalam. Jantungnya telah terinjak-injak saat ini. Sangat sakit.
Santi berjalan mendekat. Lalu, setiba di sisi pria itu. Santi menjatuhkan lutut kakinya di lantai, mendekatkan sosok mungil Rakha berada di bawah payung wajah Bintan.
"Lihatlah dia sebentar. Bibirmu bisa mengelak. Namun, hati nurani tidak akan salah menerka."
Giliran Bintan membisu sedalam mungkin tenggelam dalam keheningan panjang, dengan setiap bola mata membidik sosok kecil di bawah payung wajahnya.
__ADS_1
"Apa yang hati nuranimu katakan?" tanya Santi dengan nada suara gemetarnya.
"Mungkin kau tidak perlu mengakui diriku. Tidak perlu mengakui setiap apa yang telah kita lewati. Karena, Dinding hanya akan membisu. Langit tidak akan pernah berbicara. Hanya hati nuranimu yang mampu berbicara. Apakah dia anakmu? tanyakan hatimu sendiri."
Bintan menelan ludahnya. Sepasang matanya menatap detail setiap pahatan wajah mungil di bawah matanya. Jelas ada kemiripan dirinya di sana. Hati nuraninya terus berteriak meminta keadilan atas apa yang telah dia lewati dengan Santi. Walau segala sesuatu itu terlihat membisu. Namun, hati nuraninya terus memberontak berbicara.
Dia anakku. Apa yang harus aku lakukan?
"Aku pamit pergi. Aku hanya membiarkan kau melihat puteramu sebentar."
Santi bangkit berdiri.
Bintan meremas jemarinya. Tidak berani mengangkat wajahnya untuk beberapa saat. Hingga akhirnya, dia mengangkat seluruh pandangannya sebelum Santi melewati garis pintu apartemennya.
"Tunggu!"
Santi berhenti di garis pintu. Dia menyeka air matanya buru-buru.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Bintan.
"Tidak ada yang aku inginkan. Aku hanya datang untuk menuruti keinginanmu. Jika kau memintaku pergi. Maka aku akan pergi dan tidak pernah kembali. Jika kau memintaku tinggal, aku akan sangat berterimakasih. Demi Al Rakha. Bukan demi diriku. Bukan demi dirimu. Demi titipan Tuhan. Bagaimana orangtua harus mengelaknya?"
Santi menahan isaknya. Segenap paru-parunya telah beriak ingin menangis.
Demi Al Rakha. Demi titipan Tuhan.
Bintan menelan seluruh arogansi. Dia menunduk kepalanya sejatuh mungkin menatap lantai. Seakan malu, jika harus terus menghindar.
"Aku hanya pria biasa. Tidak sebanding dengan Sadewa. Apa kau yakin kau ingin bersamaku?" Bintan berdiri dan berjalan mendekat pada Santi.
Santi memutar tubuhnya, "Sudah aku katakan. Aku datang hanya memenuhi keinginanmu. Bukan keinginanku. Aku hanya perlu sebuah sandaran."
Bintan mendekat dan memeluk Santi, "Aku akan bertanggungjawab," bisik Bintan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya Santi menemukan kebahagiaannya! Cerita Santi berakhir di sini yah! Jangan tanya kemana Santi dan rindu Santi apa lagi. Karena Santi dah tutup cerita sampai ep ini aja.
...🐰🐰🐰🐰🐰...
Author: Sadewa apa kamu nggak cemburu? Santi bakal nikah lagi tuh!
Sadewa : 😏
Author : Kamu nggak mikir nikah lagi?
Sadewa : 😏
Author : Jangan pasang emot gitu deh! Nasib cinta kamu di tangan aku ❗
Sadewa : Saya bisa minta seluruh reader demo jika cerita hidup saya sedih! lapak kamu saya bakar, bahkan uang rekening kamu saya hanguskan! siap mati kelaparan ⁉️
Author : Kejam nian ❗😭
__ADS_1