
...Cinta itu bisa lebih romantis tanpa sentuhan. Membelai dan menciumnya dalam doa....
...Dia menyentuh hatimu, bukan tubuhmu....
...—Eouny Jeje—...
...Ketika segala sesuatu yang tersisa padaku. Di rampas dan di regut. Hanya kebencianlah yang mengubah hidupku....
...— Aprilia—...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aprilia menatap langit rumah kontrakannya. Setelah di usir dari rumah Puspa. Dia menyeret koper, dan menghubungi Sadewa. Benar saja, pria itu mulai peduli padanya, setelah mengetahui kehamilannya. Pria itu memberikan tempat tinggal yang cukup layak. Rumahnya sederhana, lengkap dengan fasilitasnya.
Klek! Suara pintu kamar mandi terdengar terbuka. Aprilia segera bangkit bangun dari ranjangnya. Dia menegakkan posisi duduknya, dan memutar kepalanya ke arah kamar mandi. Terlihat Sadewa keluar dengan handuk tergulung melingkari pinggangnya yang terlihat berlemak tebal.
"Mas," ucap Aprilia lirih. Hanya kepada pria ini, dia bisa meletakkan sandaran ekonominya.
"Ada apa?"
"Apa kita tidur terpisah?"
Sadewa menganggukan kepala. "Aku tidak ingin mengganggu perkembangan janin dalam perutmu. Lagipula, aku—"
Ting nong! Ting nong! Kalimat Sadewa terputus akibat kedatangan seseorang. Sadewa terlihat acuh daa tidak acuh, hanya mengenakan handuk melilit pinggangnya, dia menuju pintu, dan seakan dia telah mengetahui siapa yang berada di luar, oleh itu, dia tidak peduli akan kepolosan dirinya.
Aprilia turun dari ranjang. Mengendap perlahan mengintip dari celah pintu yang terbuka. Aprolia menghela napas, akan sosok wanita yang datang. Wanita cantik dengan gaun minim yang terlihat ketat, tubuhnya langsing, dan rambutnya pirang.
Wanita pesanan lagi. Aprilia hanya tersenyum miris akan pemandangan adegan di depan matanya. Setelah Sadewa menutup pintu, pria paruh baya itu menggandeng mesra gadis muda itu masuk ke kamar lainnya.
Aprilia menghela napas berat, dan menutup pintu kamarnya perlahan, blammmmmm! Dia kembali beranjak naik ke ranjangnya. Pikirannya melayang akan sosok ayah di dalam perutnya.
"Semoga bukan perempuan," keluh Aprilia pada perutnya yang masih terlihat rata. Ada rasa perih merasuk dadanya. Apalagi dia telah mengantarkan surat pengunduran dirinya. Dia hanya bisa kembali hidup berdiam di dalam rumah,dan mendapatkan uang kasihan dari pria sah milik wanita lain,dan pria itu hanya mengingini anak dalam perutnya.
"Setelah anak ini lahir. Apakah aku akan di buang lagi?" Aprilia menitikkan air matanya. Deg! Aprilia merasakan degup jantungnya di pacu lebih kencang. Tidak di hargai. Apalagi di depan matanya, pria paruh baya itu hanya datang sebentar dan mengisap madu yang lebih cantik daripada dirinya lagi.
Dasar pria mata keranjang. Aprilia kesal dalam hatinya. Dia bangkit berdiri, memeriksa penampilannya di cermin.
__ADS_1
"Apakah pantas memberikan anak pada seorang yang tidak akan pernah menghargaimu?" Aprilia bertanya pada dirinya.
"Tidak pantas."
Aprilia membola terkejut pada sosok nenek tua yang tiba-tiba terbingkai bersamanya di dalam cermin. Aprilia menengok ke belakang, tidak ada satupun sosok di belakangnya. Kembali ke cermin, wanita bungkuk itu terlihat tersenyum padanya.
"Akhirnya kau bisa melihatku?"
"Nenek!"
"Ruh dalam boneka jerami, yang hidup kembali karena dirimu."
Deg! Aprilia membola bingung, dan tiba-tiba teringat akan boneka jerami yang tidak dapat terbakar itu. Pandangan Aprilia berubah ke arah koper miliknya. Koper itu bergetar kuat, jatuh ke samping, seakan ada sesuatu yang ingin mendesak keluar.
"Buka kopernya!" pinta Nenek Mayang penuh tekanan.
Aprilia takut dan gelisah.
"Buka!"
Tidak berani membatah lagi. Aprilia segera membuka kopernya. Boneka jerami pun segera keluar dan melayang di udara. Sepasang matanya terlihat bersinar kuning emas dan membentuk kobar api. Sosok wanita tua dalam cermin pun hilang.
"Kau mengingat kesalahanmu?"
Aprilia tidak berani menatap.. Sepasang matanya hanya tertuju pada ubin lantai, raganya makin bergetar, kala sosok tua bungkuk itu ikut berjongkok di hadapannya, dan tangan tangan renta itu menjepit dagu Aprilia.
"Kita berteman saja, bagaimana?"
Aprilia tercengang, hatinya terusik akan tawaran itu. Belum saja dia menjawab, wanita dengan wajah keriput itu tiba-tiba mengubah dirinya menjadi sosok yang cantik dan sangat menawan, "Apakah kau tak ingin cantik seperti diriku?"
Aprilia menelan ludahnya. Dia jatuh kagum akan kecantikan di depan matanya.
"Apakah kau tidak ingin menundukkan setiap pria di bawah kakimu?"
Deg! Aprilia sangat tergoda menginginkan itu.
"Segala sesuatu yang kau miliki telah di regut oleh waktu. Waktu begitu kejam. Tidak akan pernah mengijinkan mu kembali untuk memperbaikinya."
__ADS_1
Aprilia membola kaca. Dia sangat setuju akan hal itu. Waktu telah merenggut segalanya, dan tidak mengijinkannya untuk kembali memperbaiki banyak kebodohan yang telah dia lalui.
"Apa yang kau miliki saat ini? Tidak ada. Kau tidak memiliki apapun, selain memiliki punggung yang kuat untuk di injak mereka."
Aprilia memejamkan matanya. Dia hanya memiliki punggung yang kuat dan kebencian di dalam hatinya yang telah berakar kuat, dan mulai bertunas karena siraman air matanya.
"Apa yang kau punya? selain kebencian di hatimu tanpa mampu membalas mereka."
"Kau benar. Aku hanya menyimpan kebencian. Tanpa mampu membalas." Aprilia menitikkan air matanya, menjauhkan dagunya keluar dari jepitan tangan yang kini terlihat halus dan kencang itu.
"Oleh itu aku datang menjadi jenderal untukmu. Meletakkan setiap kepala di bawah kakimu, untuk kau ludahi."
Sepasang mata Aprilia yang berkaca terlihat berkobar, dia terkekeh sebentar. Setiap wajah yang pernah menghinanya terlihat beegantian menampar wajahnya.
"Bagaimana aku bisa seperti itu? Aku tidak memiliki apapun yang bisa kuberikan untukmu."
Nenek Mayang terkekeh. Dia mengintip sebentar pada perut Aprlia, Hadiahku ada di sana. Aku menginginkan buah dosa itu.
"Kau memiliki kebencian itu. Kebencian itu yang mampu memberi segalanya untukmu."
Giliran Aprilia terkekeh. Sepasang matanya seakan berkobar, dan jantungnya seakan menjerit dan melolong amarahnya. Amarah yang tidak berbalas.
"Ketika segala sesuatu yang tersisa padaku. Di rampas dan di regut. Hanya kebencianlah yang mengubah hidupku."
"Ya, benar sekali." Nenek Mayang membuat Aprilia kembali berdiri di hadapannya. Senyum Nenek Mayang terlihat memikat.
"Aku bersedia membantumu, wahai wanita cantik."
Aprilia tersipu malu akan penyebutan cantik padanya. Wajahnya bersemu merah mendapatkan pujian pertama dari sosok yang terlihat kasat mata.
"Mungkin kau tidak mempercayai kekuatanku. Oleh itu, kau bisa menguji sebentar."
Aprilia menatap harap dengan ketakutan yang mulai merayap hilang perlahan dari dadanya. Kini, dia merasa dia mampu bersahabat dengan sosok wanita cantik yang kembali mengubah wujud menjadi nenek bungkuk itu.
"Sebelum itu, perkenalkan diriku. Namaku Mayang."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo