Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 130


__ADS_3

...Perahu ini milikku. Kau duduk mengikutiku. Walau aku lemah. Aku tidak bodoh. Walau aku sendiri. Banyak yang mencintaiku....


...Jangan mendorongku ke air. Aku tidak bisa berenang. Jangan cipratkan air ke kulitku. Aku akan kedinginan. Berikan aku roti, agar aku mengerti kau tidak akan membiarkan aku lapar. Berikan aku jaket, agar aku mengerti kau tidak akan membiarkan aku menggigil....


..._Rie_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia mengangkat ponselnya dan menerima panggilan dari seseorang wanita yang terlihat berdiri di sisi Sadewa yang tengah terlelap.


"Suntik dan buat dia tidur. Besok aku akan menemuinya. Bangunkanlah dia untukku," perintah Aprilia.


Aprilia dengan sengaja meminta seorang suster pribadi bernama Agni, yang di selundupkan setiap malam untuk membuat pria itu lebih sering terlelap, dan jika siang menjelang bangun, perawat Agni akan dengan senantiasa membujuk pria itu agar tetap berlama di rumah sakit, dengan alasan tubuh pria paruh baya itu belum optimal pulih, dan membujuk pria itu untuk melanjutkan tidur kembali setelah melahap makan siangnya.


Aprilia selalu mendapatkan informasi mengenai Sadewa melalui pesan Agni. Agni dan Aprilia sepakat, jika kecelakaan yang terjadi pada Sadewa adalah Sadewa jatuh dari kamar mandi. Untung saja, Sadewa tidak mengingat sedikit informasipun mengenai malam itu. Dia telah lupa akan kejadian itu. Sekali-kali Aprilia melakukan video call dengan Sadewa, dan Aprilia hanya mengarang cerita bahwa dia sedang membujuk Damian agar tidak mengubah isi kontrak. Karena telinganya belum tumbuh, Aprilia mengelak selalu bertemu dengan Sadewa, dia belum bisa berkunjung menemui Sadewa.


Setelah memastikan segala sesuatu berjalan lancar. Aprilia menatap bulan sebentar, dan melambaikan tangannya pada bulan, "Biarkan aku tidur dalam kelegaan milikku. Aku ingin melapas diri dari kesedihan masalalu. Oleh itu, untuk periode ini saja. Matahari dan bulan mengijinkan roda hidupku. Tetap di atas."


Setelah mengucapkan hal itu. Aprilia membenamkan dirinya di bawah selimut. Hingga pagi menjelang. Jam weker di atas nakas membangunkannya.


Kringgg!


"Sudah pagi," lenguh Aprilia malas dan bangkit dari ranjang segera. Setelah melihat angka pada jam weker tersebut, jam 7 pagi. Sekejap Aprilia  teringat akan Sadewa. Dia pun segera membersihkan dirinya, dan akan bersiap di rumah sakit. Hari ini adalah hari yang ditentukan membawa pria itu pulang ke Indonesia.


Setelah selesai membenah diri. Aprilia bergegas keluar. Namun, ada satu sosok yang kembali menarik atensinya. Di saat dia melangkah keluar dari garis lobby pintu hotel. Menginjak turun anak tangga pertama. Dia kembali menemukan sosok wanita yang selalu menjadi teka-teki untuknya. Rie.


"Mengapa aku sering bertemu dengan dia sih? Aku rasa dia selalu ada di mana-mana."


Aprilia hanya berdiam pada tangga lobby. Menunggu wanita itu berpaling dan menyadari kehadirannya di belakangnya.


Sepuluh detik kemudian ....


Rie berpaling. Dia mengangkat sepasang alisnya dan berjalan menaiki tangga, dan meletakkan satu perahu kertas di dalam tangan Aprilia.


"Aku menitipkannya untukmu."


Aprilia memutarkan bola matanya, menetapkan porosnya pada Rie. Saat ini, Aprilia telah kembali memiliki daun telinga. Dia mampu mendengar kembali. Bahkan suara hati setiap lawan bicaranya.


"Untuk siapa?" Aprilia menajamkan telinga untuk mendengar suara hati Rie. Kosong. Dia tidak mampu mendengar apapun.


"Untuk seseorang yang akan datang dalam lima menit lagi."


"Kau tidak menunggunya. Berikan sendiri."

__ADS_1


Rie menggelengkan kepala, "Jika dia bertemu denganku. Dia ingin mencekikku!"


"Apakah dia musuhmu?"


"Sepertinya bukan."


"Lalu mengapa dia ingin mencekikmu?"


"Masih misteri."


Rie akan pergi. Aprilia menahannya sebentar, dan dengan secercah harapan menantikan jawaban wanita ini.


"Jangan pergi. Sebelum menjawab pertanyaanku."


"Apa itu?"


"Apa ada cara menghindar kematian itu?"


"Caranya mudah. Jangan mempertaruhkan dirimu."


Aprilia mengangkat alisnya. Bingung.


"Jangan menjadi wanita taruhan dalam tangan CEO."


Aprilia menatap perahu kertas dalam tangannya. Sepasang matanya tertuju pada setiap huruf yang tersembunyi acak dalam setiap lipatan kertas.


Tertarik ingin mengetahuinya. Aprilia pun membongkar perahu kertas tersebut.


Perahu ini milikku. Kau duduk mengikutiku. Walau aku lemah. Aku tidak bodoh. Walau aku sendiri. Banyak yang mencintaiku.


Jangan mendorongku ke air. Aku tidak bisa berenang. Jangan cipratkan air ke kulitku. Aku akan kedinginan. Berikan aku roti, agar aku mengerti kau tidak akan membiarkan aku lapar. Berikan aku jaket, agar aku mengerti kau tidak akan membiarkan aku menggigil.


Aprilia menghela napas setelah membaca pesan tersebut.


"Mengapa dengan Rie?" tanya Aprilia dalam kebingungannya. Akan melipat kertas menjadi perahu kembali. Namun, seorang pria telah merenggut kertas itu dan membawanya pergi.


"Kau siapa?" tanya Aprilia tinggi akan sikap gusar pria yang tiba-tiba merebut kertas tersebut.


Pria itu tidak menoleh, hanya melangkah dan mendengus, "Aku adalah wartawan hidup orang."


Aprilia hanya menyipitkan matanya pada punggung pria yang hilang dengan cepat, dan mengulangi kalimat pria itu, seraya mencernanya, "Wartawan hidup orang. Apa maksudnya tukang gosip? Atau Buser sang pencari fakta."


Aprilia merenung sebentar kemudian, seakan mendapat ujung benang konflik, Aprilia bergumam pada dirinya sendiri, "Sepertinya kesalahpahaman menjadi tembok tinggi. Membuat enggan bertemu. Jika bertemu, mungkin mereka berdua akan saling mencekik.Tetapi, jika pria tidak mengalah pada wanita, bukankah itu tidak manusiawi," simpul Aprilia, dan terkekeh kemudian.

__ADS_1


Tidak lama. Sebuah mobil datang. Pria yang menjadi sopir untuk Aprilia, membukakan pintu.


"Ke rumah sakit."


"Baik."


Dalam tiga puluh menit. Aprilia telah mencapai rumah sakit. Dia duduk menyilangkan kakinya dan tangannya terlihat memotong buah apel menjadi beberapa bagian.


Sadewa terlihat berbaring di kasur bankars rumah sakit. Pria paruh baya itu masih terlelap.


Setelah memakan beberapa potongan Apel dan menghabiskan sarapannya. Aprilia segera ke sisi bankars. Memeriksa keadaan pria tersebut. Tidak lama kemudian, mimik pria yang berbaring itu terlihat mengerut sakit. Meringis perih. Lalu, kelopak matanya terbuka lebar. Memandang Aprilia dengan heran sekaligus takjub.


"Aprilia? telingamu apakah ada?"


Aprilia gagap. Pikirannya mendadak kosong. Udara dalam rongga dadanya  seakan raib. Mendadak sesak.


Kenapa Oppa masih mengingat telingaku?


Sadewa mengangkat tangannya, dan memijat keningnya. Setumpuk ingatan datang padanya. Daun telinga terus datang menghantam kepalanya. Kepalanya seakan ingin pecah segera. Seakan ada batu besar menindih kepalannya.


"Oppa," sebut Aprilia dengan tangan yang menyapu rahang Sadewa.


"Telingamu?" Sepasang mata Sadewa melotot pada Aprilia. Aprilia terkejut sesaat. Lalu, dia segera menyibakkan rambutnya, dan memperlihatkan daun telinganya.


Sadewa terlihat menghela napas lega.


"Aku hanya bermimpi aneh," keluh Sadewa kemudian.


Aprilia hanya tersenyum kikuk, dan tanpa sengaja dia mendengar apa yang di ucapkan Sadewa dalam hatinya.


Aku pikir seseorang telah mencelakai wanitaku. Hingga dia kehilangan daun telinganya. Jikapun, dia hilang daun telinganya. Aku akan tetap mencintainya. Lalu, aku akan memotong setiap telinga orang itu hingga keturunannya.


Aprilia kaku sesaat. Tidak menyangka jika Sadewa akan begitu dalam menumpuk penjagaan setinggi gunung untuk dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nah tu kan apa kata peramal Rie? Aprilia bakal jadi wanita taruhan 😂


Duh Sebenarnya Sadewa ni tokoh yang sangat sayang dan cinta. entah karena pelet atau memang dia jatuh cinta karena Aprilia adalah bagian dari babu jelek yang tertindas.


Andai ada cowok posesif gini asal setia, Author pesan satu, bungkus.


Jangan lupa tinggalkan koment di Baris hastag.

__ADS_1


__ADS_2