Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 164


__ADS_3

...Bagai gula yang tidak pernah habis jika di kecup. Bagai minyak yang meletup-letup jika bersemayam di dalam dada....


..._Sadewa_...


...Cinta itu manis sekaligus panas....


..._Eouny Jeje_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu Minggu Kemudian.


Pagi begitu cerah. Langit terlihat sangat biru muda. Tidak ada awan terlihat. Udaranya terasa dingin dan sejuk.


Aprilia turun dengan vintage dress berwarna kuning, dengan kerut dada yang membungkus leher jenjang indahnya. Dia menyelusuri petak demi petak halaman kediaman Sadewa.


Tumit sepatu itupun berhenti melubangi tanah. Kala, dia melihat Sadewa duduk bersama seorang pria kurus dan duduk bernaung di bawah pendopo.


Tertarik melihat apa yang sedang mereka perbincangkan. Aprilia segera melangkah menuju pendopo taman.


"Oppa, siapa wanita itu?" Aprilia menyipit kala melihat satu gambar wanita terlukis indah pada canvas. Namun, itu bukanlah dirinya. Juga, bukan Santi. Juga, bukan si merah.


Sadewa menoleh dan mengulurkan tangannya, membawa kaki Aprilia naik ke pendopo.


"Dari gudang simpanan."


Aprilia menoleh pada pria paruh baya yang tampak sangat kurus itu.


"Hallo," sapa Aprilia..


Pria itu menjulurkan tangannya, "Rudi, sang pelukis batik tulis asli Solo."


"Lea."


Tangan itu terlepas berjabat tangan. Lalu, pria itu mengantar paper bag untuk Aprilia.


Aprilia menerima dan memeriksa. Satu lembar kain batik tulis sebagai hadiahnya.


Aprilia membentangkan kain. Kain itu terlihat indah dengan tinta yang menoreh kain berlatar biru muda.


"Kain sangat cantik. Apa bisa bertukar nomor WhatsApp milikmu, jika aku menginginkan memesan kain batik kembali."


"Aku hanya punya telegram."


"Sayangnya, aku tidak punya telegram."


"Berikan nomor telegramku saja."


"Aku sudah memiliki nomormu, Sadewa."


Aprilia hanya tersenyum lugas. Kembali, melipat kain batik. Di saat itu, tiba-tiba ponsel Rudi berdering.


"Maaf, saya buru-buru. Ada panggilan."


Rudi melangkah pulang.


Tersisa Aprilia yang memandangi punggung Sadewa yang terlihat mengamati setiap fitur lima indera seorang wanita yang tergores dalam canvas.


"Siapa dia?"


Sadewa menoleh ke asal suara. Dia berdehem, seakan hatinya meluap berbangga, jika wanita muda di belakang tubuhnya, terlihat memanaskan air di panci. Cemburu terlihat jelas.


"Banyak lukisan yang ingin aku buang. Namun, aku tiba-tiba menemukan lukisan lama."


Aprilia mendekat, berdiri di sis Sadewa.


"Siapa dia? Terlihat bukan yang berada di dalam album."

__ADS_1


"Dia Susie Andriani."


Aprilia mengerutkan alisnya.


"Dia adalah idolaku waktu muda. Sebelum aku mengenal Tina. Aku tergila-gila padanya. Lagu Rolling stone, Little Susi menjadi favoritku."


"Siapa dia?" Aprilia melipat tangan di dadanya.


"Icon minyak goreng saat Zaman Old, dan juga merupakan Puteri citra. Dulu, setiap melihat wajahnya. Hatiku bagai minyak yang terus di letupkan."


"Sebut saja Sunny, Oppa?"


Sadewa mengangguk-angguk, "Sebut saja seperti itu."


Aprilia menghela napas, "Hanya fans?"


"Aku sudah melupakannya. Susi Andriani hanya icon minyak goreng Zaman Old. Kini, icon minyak itu hanya kau."


Sadewa berpaling ke kiri, dia menatap Aprilia, "Kini kau adalah Little Susi, minyak yang meletup-letup di dadaku kala hanya dengan melihatmu saja."


Aprilia menjulingkan sepasang matanya ke atas, "Really?"


"Bagai gula yang tidak pernah habis jika di kecup. Bagai minyak yang meletup-letup jika bersemayam di dalam dada."


"Gula dan minyak goreng ada di dalam diriku. Sepertinya, aku cocok berada di dapur, Oppa."


"Dapur hatiku adalah lapak milikmu," sahut Sadewa kembali.


"Oppa, sepertinya kau harus mengikuti lomba sajak. Kau pandai merayu."


"Hanya merayu dirimu." Sadewa meraih pundak Aprilia. Iris matanya terlihat sayu memuja.


Aprilia menatap pada wanita dalam gambar.


"Dia cantik. Hingga tua-pun pasti tetap akan terlihat cantik. Icon minyak sawit."


Ada nama pena di bawah lukisan tersebut. Aprilia mengeja dengan pelan, "Liong Gege, apa itu Oppa?"


Aprilia tersenyum konyol, "Aku pikir kau memiliki tatto naga."


"Gege sama harfiahnya dengan Oppa, jika begitu."


"Bingo."


Aprilia kembali pada canvas.


"Kau pasti sangat mengidolakan."


Sadewa mengangguk-angguk.


"Dia sangat cantik. Bahkan, dulu aku sering menginap di losmen Pisces hanya untuk diam-diam memandang wajahnya. Dari kejauhan aku memuja wanita idolaku."


"Losmen?"


"Losmen itu istilah hostel atau wisma pada Zaman Old. Sebelum ada hotel."


"Untuk apa kau kesana?"


"Dia pemiliknya. Losmen Pisces adalah sang minyak sawit."


Sadewa menatap dalam Aprilia, "Kini, hanya kau yang menjadi gula dalam lidah. Manis terkecap. Lalu, hanya minyak yang meletup di dalam rongga dada. Jantung ini, tidak mampu berhenti berdetak memandangi wajah little Susie."


Aprilia meletakan siku pada perut Sadewa. Dia terkekeh kemudian.


"Kau pandai merayu, Oppa."


Senda gurau bertukar di bawah pendopo. Lalu, tidak lama Sadewa mengambil beberapa paper bag.

__ADS_1


Aprilia membongkar paper bag. Menemukan kosmetik di dalamnya.


"Apa ini?"


"Sample kosmetik milik kita."


Aprilia tersenyum. Sepenuhnya dia tidak tertarik. Lagipula, wajahnya adalah plastik. Plastik hanya cukup menghindari matahari, dan dirinya akan tetap terlihat cantik, tanpa lubang pori pada wajahnya.


Sadewa tersenyum pada Aprilia. Lalu, sepasang matanya mengarah ke langit. Dia merasa cukup nyenyak tidur beberapa hari ini. Karena, Aprilia terus berada di sisinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pukul 22.00 wib


Usai makan malam. Aprilia dengan tegas menolak tidur bersama dengan Sadewa. Tentu saja, hari ini adalah puncak malam purnama. Tanggal 15. Tuyul sang pemberi uang itu datang.


"Aku lelah. Aku ingin sendiri malam ini."


Aprilia melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan. Tanpa menyadari tatapan kecewa pria itu. Dia-pun segera pergi memasuki kamar miliknya. Mengambil boneka kelinci sebagai miliknya. Memeluknya. Bergerak ke kiri dan ke kanan. Namun, malah terus terjaga hingga larut malam.


Tiba-tiba kain gorden terdengar berisik.Angin berhembus kencang. Lampu padam sendiri. Tersisa lampu meja yang menjadi sumber penerangan. Sekejap, kamar terlihat remang-remang kuning.


"Eoma, aku datang!" seruan itu datang.


Aprilia meringis jijik. Namun, dia tidak mampu menyembunyikan raut wajahnya kala tanpa sengaja Moon tampak hadir tiba-tiba di hadapannya.


"Eoma, mengapa bersikap jijik seperti itu? Jika kau sudah terbiasa."


Aprilia melenguh. Dia duduk di sisi ranjang. Melepaskan boneka miliknya. Menatap bocah berwajah dewasa itu dengan detail.


"Apakah kita bisa memutuskan perjanjian?"


Moon menggelengkan kepala.


"Aku menolak."


"Mengapa? Banyak yang lebih besar di luar sana, Moon."


"Yang Made Korea, hanya Eoma."


Aprilia tertembak jantungnya sekarang. Ingin tiba-tiba mati konyol. Namun, Moon tiba-tiba melompat dan duduk di pangkuan Aprilia.


"Saatnya menikmati jadwal Moon!"


"Tunggu!" Aprilia menahan napas.


"Jika aku membuangmu. Apakah aku akan menjadi miskin?"


"Yes, jadi pengemis tepatnya."


"Apakah kau tidak punya lilin?"


Moon terlihat menyipitkan matanya.


"Moon tidak pernah berulang tahun. Jadi, tidak perlu lilin. Namun, biasanya para hantu akan meniup lilin setiap tanggal 13, sebagai ulangtahun serentak para hantu. Tanggal 13 adalah keramat para hantu."


Aprilia melongo.


"Aku berpikir. Jika kau meniup lilin. Kau akan hilang begitu saja selamanya."


"Maaf, beda jalur. Lilin ngepet itu namanya. Lilin tuyul tidak ada. There will never be."


Aprilia pasrah. Melepaskan dirinya jatuh pada pembaringan. Memberikan ruang untuk mahluk kecil pesugihan itu mengambil jadwalnya.


Moon menurunkan kerah leher piyama. Membuka kancing. Sepasang matanya membola akan daging yang membumbung. Mengisap hingga pagi menjelang kemudian.


Menjelang pagi buta. Aprilia terbangun dari lelah yang menamparnya dalam satu malam. Dia menghela napas lega. Setidaknya, Moon telah pergi.

__ADS_1


Jijik. Aprilia bergindik jijik. Dia menatap pada jam dinding. Pukul tiga pagi. Dia segera melompat turun dari ranjang. Memasuki kamar mandi. Membasuh dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2