
...Setelah kematian itu datang. Aku mengerti bagaimana perasaan Jack. Jack terlalu mencintai Rose melebihi nyawanya....
..._Tina_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan sebuah kue ulangtahun di tangan Aprilia. Aprilia melangkah masuk ke dalam istana Sadewa. Rumah itu terlihat sepi melompong seperti hari-hari sebelumnya. Aprilia mengangkat sedikit pergelangan tangan kirinya di bawah nampan kue ulang tahun. Melirik jam. Pukul 11 malam.
"Belum terlambat untuk merayakan ulang tahun dengan Oppa," ujar Aprilia seraya telapak kakinya yang berserak dengan pasir pantai, mendaki setiap anak tangga menuju kamar pria tirani itu.
Tanpa Aprilia sadari, sosok wanita bergaun merah dengan rambut pendek tergerai sebahu itu bergerak mengikutinya dengan sepasang kaki yang mengambang di belakang tubuh Aprilia. Wanita itu membawa mawar, dan sekali-kali dia menjatuhkan kelopak mawar ke setiap anak ubin tangga. Setiap kelopak itu habis tercabut, akan tumbuh baru kembali, dan setiap kelopak yang terjatuh di tangga, akan raib begitu saja.
Sosok halus berwajah manis itu terlihat menyimpan senyum misterius dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari punggung Aprilia. Dia mengamati dengan penuh cemburu.
Kret!
Aprilia mendorong pintu kamar Sadewa dengan lututnya. Baru saja, Aprilia melangkahkan kaki kecilnya melewati garis pintu. Bau minuman keras menyerbak memenuhi kamar.
Aprilia segera mengibas tangannya. Menjauhkan aroma itu.
Deg! Degup jantung Aprilia berdetak cepat di awal dan melambat detik selanjutnya. Entah, tiba-tiba dia merasa mulai tidak nyaman dengan perubahan Sadewa.
Aprilia menghela napas.
Sejak kapan kau menjadi pemabuk? Tertidur lemas setelah mabuk begitu banyak.
Tampak pria itu, terlihat tidur memiringkan tubuhnya, dengan memeluk botol minuman dengan warna seperti teh.
Aprilia menghela napas panjang. Bergerak menuju nakas. Meletakkan kue di atas nakas. Lalu, dia duduk di tepi ranjang. Dengan menundukkan wajahnya sebagai payung di wajah pria tirani itu. Dia melihat detail setiap raut wajah yang tersisa. Ada kecemasan dan ketakutan dalam wajah pria itu.
"Oppa, ada apa dengan dirimu?" tanya Aprilia berharap pria ini bangun dan meniup lilin bersamanya. Aprilia berusaha menggerakkan tubuh pria itu, membangunkannya.
"Oppa, hari ini aku berulangtahun?"
Tidak kunjung bangun. Aprilia menatap heran akan apa yang dia lakukan pada kue ulangtahun yang telah dia beli. Seakan, hal itu tidak ada gunanya. Dia segera bangkit berdiri, akan meninggalkan kamar.
Namun, kegelapan tiba-tiba terlihat. Serasa angin besar merasuk raga Aprilia. Perlahan, seluruh kesadarannya seakan direnggut paksa. Dia terlelap tanpa sadar, dengan raga yang terus bergetar.
Menit selanjutnya.
Raga Aprilia yang terlihat bergetar, mulai tenang perlahan. Sosok lain tampak menyatu dengan raga Aprilia. Kelopak matanya terbuka. Senyumnya mengembang aneh. Ironis tercetak jelas. Tiba-tiba, tangan kosonh itu memegang mawar merah kemudian, dan bibir merah muda itu tampak berkata pada dirinya sendiri, "Sadewa, aku Tina telah merasuk dan menjadi Eouny. Apakah aku pantas menurutmu?"
Tina menyipitkan matanya. Karena, pria itu masih terlelap. Dia terlihat merengut sesaat. Dia mengangkat jemarinya, dan menjentikkan di udara. Tiba-tiba raga Sadewa bangun, duduk di tepi ranjang, dengan postur kaku, sepasang mata terbuka, dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Aku telah lama menunggu hari ini."
Tina mengangkat telunjuknya dan memerintahkan raga Sadewa duduk di kursi jati berhadapan dengan meja jati bulat. Tidak lama, dia pun ikut duduk di seberang meja, berhadapan dengan pria dengan tatapan kosong itu.
Jemarinya terangkat kembali. Sebuah kue ulangtahun dari nakas bergerak melayang, dan turun perlahan tergeletak di atas meja bulat.
Satu jentikan jemari di udara terdengar. Lilin di atas kue ulangtahun, menyala dalam sekejap.
"Sadewa apa kau ingat tanggal ulangtahunku? Tanggal 12 Maret."
Sadewa hanya mematung dengan raga kaku bak mayat hidup. Dia hanya duduk dengan keadaan kaku.
Sepasang mata Tina terlihat memerintah kemudian. Tiba-tiba, tangan Sadewa terulur di atas meja, dengan telapak tangan yang terbuka lebar.
Tina mencabut kelopak mawar dan meletakkan pada telapak tangan pria dewa itu. Kelopak tercabut dan tertampung dalam tangan Sadewa. Kini, yang tersisa hanya tangkai mawar yang terlihat gundul tanpa mahkota keindahannya.
"Bunga akan kehilangan keindahannya. Kala, setiap kelopak itu jatuh berguguran."
Setiap kelopak terlihat kembali terbang menuju tangkai mawar, dan menyatu kembali menjadi kelopak bunga yang saling merekat indah dan sempurna.
Tina tersenyum.
"Apakah kau ingat ketika kita berada di pinggir pantai? Kita meletakan perahu kertas di pinggir pantai. Membiarkan perahu itu pergi bersama arus air di pinggir pantai," tutur Tina terlihat mengenang dengan tatapan yang kembali ke masa lalu.
"Ketika, perahu kertas itu tenggelam di bawa ombak. Kau katakan padaku, jangan bersedih. Suatu hari, kau akan membuatkan kapal besar yang tahan akan ombak."
"Lalu, kau mulai menceritakan kapal Titanic padaku. Ada Jack. Ada Rose. Cerita itu, berakhir menyedihkan, Rose mengapung dengan selamat. Sedangkan, Jack tenggelam dalam pengairan yang sedingin es."
Tina menyeka air matanya.
"Kau berkata saat itu, seorang pria yang mencintai wanitanya akan mengorbankan dirinya, dan biarlah wanitanya terus untuk hidup agar tidak menyia-nyiakan apa yang telah dia korbankan. Karena itu, Rose terus melanjutkan hidup hingga rambutnya memutih, untuk mengenang pengorbanan Jack."
Air mata Tina jatuh kembali. Dia segera berburu-buru menyekanya.
"Namun, takdir berkata lain. Bukan pemeran pria yang mati. Namun, pemeran wanita yang harus mati. Aku Rose, yang mati tenggelam dalam pengairan yang dingin seperti es. Lalu, kau duduk dengan nyaman di sini."
Tina menoleh pada pria di seberang meja. Sepasang mata pria itu terlihat kosong, dengan pupil yang terpaksa terlihat membola menatap.
"Setelah kematian itu datang. Aku mengerti bagaimana perasaan Jack. Jack terlalu mencintai Rose melebihi nyawanya. Bagaimana dengan aku? Apakah aku mencintaimu melebihi nyawamu saat ini?"
Tina tersenyum getir. Sepasang matanya teduh menatap api kecil melelehkan lilin. Dia melupakan amarahnya untuk sementara. Dia mulai mengalihkan pikirannya, dan berkata pada dirinya sendiri, "Mari menyanyikan selamat ulang tahun padaku, yang telah berlalu. Aku akan bernyanyi dalam bahasa Eouny, yang namanya terpantri dalam hatimu, Oppa."
Tina meluruskan punggungnya. Dia menenangkan riak dalam dadanya. Lalu, bibirnya mulai bergerak bersenandung.
__ADS_1
생일 축하합니다! 생일 축하합니다!
saeng-il chughahamnida! saeng-il chughahamnida!
Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun!
꽃다운 내 친구야 굵고 길게 살아요
kkochdaun nae chinguya gulg-go gilge sar-ayo
Teman saya yang seperti bunga, jagalah hidup mu yang tebal dan dalam (panjang umur)
생일 축하합니다! 생일 축하합니다!
saeng-il chughahamnida! saeng-il chughahamnida!
Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun
Setelah selesai menyanyikan beberapa bait lirik. Tina meniup api kecil itu. Dalam dua tiga tiupan. Setiap lilin itu bergoyang, dan padam satu demi satu.
"Selamat ulangtahun untuk diriku," gumam Tina.
Brakkk!
Tiba- tiba, kepala Sadewa jatuh mengenai kue ulang tahun. Mengejutkan jantung pria itu. Sekejap, seakan dia di tarik keluar dari tidur yang panjang, Sadewa terjaga kemudian.
Sadewa merasakan kepalanya begitu berat. Kepalanya terus berdenyut dan ingin pecah. Merasakan ada sesuatu di wajahnya, dia menjilat sesuatu yang manis kemudian. Lalu, dia baru menyadari ada remahan kue beserta krimnya menempel pada wajahnya.
Sadewa segera menyeka wajahnya. Membersihkan remah-remah kue yang tersisa. Lalu, sepasang mata elangnya terlihat waspada turun, dan menatap pada bongkah kue ulang tahun berbentuk kubus di bawah payung wajahnya.
"Siapa yang berulangtahun?" tanya Sadewa heran pada dirinya sendiri. Tanpa menyadari sosok Tina dalam raga Aprilia menatapnya dengan sepasang yang menyimpan kerinduan dan mata berkaca.
Abaikan nama, itu kue ultah yang di bawa Aprilia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author : kamu di kengeni tuh dewa?
Sadewa : Oh Mantan jangan menghantui aku ...
Author : Kasih kopi dulu biar dia diem.
__ADS_1
Sadewa : dia suka pahit apa manis.
Author : Manis. Kasih gula yang banyak. Biar nggak lupa ada gula yang menyumbang dalam kopi.