Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 47


__ADS_3

...Seseorang tidak akan pernah menyesali perbuatan jahatnya, jika dia selalu merasa benar....


...—Eouny Jeje—...


...Di mulai dari sedikit rasa keinginan membalas yang terus di pupuk, perlahan bertunas dan tumbuh menjadi pohon dosa....


...—Nenek Mayang—...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Pelet Janda Penggoda Ep 47...


Aprilia mengeryitkan kening, dan wajahnya segera serong mendekati telinga Ade, dan dia pun berbisik, "Ini bukan pesta ulang tahun anak-anak. Kau pintar bercanda! Tidak ada perlu bernyanyi lagu anak-anak!" Aprilia terbahak membayangkan sedang berulangtahun di perusahaan besar megah ini, dan kesenyapan itu pun terjadi dan hanya menggemakan tawa Aprilia di ruangan.


Setiap mata menatap Aprilia, terlihat sipit dan heran mendengar suara terbahak Aprilia yang menggema dalam ruangan.


"Mengapa tertawa?" Pembawa acara memecahkan keheningan dan mengehentikan suara tawa Aprilia. Aprilia mendongakan kepalanya, mematung kaku sebentar, dia baru menyadari jika semua orang telah menatapnya dengan sangat heran.


"Ada apa?" bisik Aprilia pada Ade. Dengan tatapan bingung.


"Kau terpilih menjadi asisten penjualanku?"


"Hah?" Aprilia gagap sebentar. Bersiap akan berdiri dari tempat duduknya. Namun, tiba-tiba saja sobekan kertas terlihat. Setiap mata yang terpana tertuju pada sosok Puspa yang berdiri membuang kertas nama yang telah dia sobek.


Aprilia menggigit bibirnya hingga terlihat putih, mengepalkan tangannya hingga setiap ujung kukunya menancap pada daging telapak tangannya. Pandangan mata Aprilia telah nanar akan sosok Puspa yang berdiri di depan mic. Menyingkirkan sang pembawa acara yang menyebutkan dirinya sebagai kandidat.


"Aku memutuskan untuk merobek kertas nama Aprilia. Karena attitude sebagai kandidat yang terpilih, tidak sopan!" ketus Puspa pergi meninggalkan podium kemudian. Aprilia jatuh kembali pada kursinya.


Dandy terlihat menarik napas panjang di saat Puspa melenggang pergi, dan melirik pada Jack yang hanya tersenyum dalam mulutnya. Bibirnya terlihat rapat


"Kau terlalu memanjakan Nana. Lihatlah dia baru masuk berkerja satu hari, kau sudah membuatnya bertaring memalukan," tegur Jack sengaja pada Dandy.


Dandy hanya menghela napas. Dia mendongakan matanya.Sepasang matanya bewarna biru langit itu lari memandang Ade yang terlihat lebih dulu menatapnya.


Menarik atau hal ini di sebut memancing ikan lain agar keluar ikan lainnnya. Menolong ikan teri untuk mengambil ikan yang lebih bagus, pikir Dandy larut dalam pandangan.


Ade tersenyum segaris pada Dandy. Dandy berusaha berwajah sedatar mungkin, dan mengalihkan pandangannya pada hal yang lain. Ade terkekeh sebentar,dan menggandeng tangan Aprilia untuk pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Sepanjang jalan Aprilia dengan mata merah menatap setiap ubin yang dia injak dan dia lewati dengan buru-buru. Dia tidak pernah melihat jalannya ke depan, dia hanya mengikuti gerakan Ade yang menyeret lengannya.


Blam! Pintu ruang ganti tertutup rapat. Langkah Aprilian terhenti di satu ubin yang berbeda dengan pijakan Ade. Tidak lama, semburat merah matanya menjatuhkan air bening dari sudut matanya jatuh menemui ujung sepatunya.


"Mengapa menangis?"


"Me-ngapa dia mem-ben-ciku?" tanya Aprilia spontan mendongakkan kepalanya menatap Ade yang membantu menyeka air matanya.


Ade akan segera menjawab. Namun, mulutnya terkatup rapat erat. Nenek Mayang telah hadir di belakang punggung Aprilia. Dia menguasai mulut Ade kemudian.


"Tidak ada alasan tepat seseorang untuk membenci. Oleh itu, kau harus membalasnya. Jika kau terus berdiam diri, maka dia akan selalu menindasmu," ujar Ade tiba-tiba dengan setiap suara gerak bibir yang telah di kontrol oleh Nenek Mayang.


"Apa yang harus a-aku lakukan?"


"Rebut milik Nana! Kau harus bisa merebutnya. Buat dia menderita."


Deg! Aprilia melenguh sakit di dadanya sebentar. Ada rasa sakit bagai hujaman batu yang terus di lemparkan padanya oleh orang yang sama.


Balas dia ... balas! Tiba-tiba setiap kata itu tebersit begitu saja pada Pikiran Aprilia. Aprilia menggigit bibirnya hingga putih, dan kebencian mulai tumbuh dalam matanya.


Ade terbangun dari rasa kosongnya seketika. Sepasang mata Ade masih tertuju pada Nenek Mayang yang menatapnya dengan tatapan yang meminta Ade harus bersedia membantunya.


Di mulai dari sedikit rasa keinginan membalas yang terus di pupuk, perlahan bertunas dan tumbuh menjadi pohon dosa, pesan Nenek Mayang secara internal pada Ade.


Ade berbalik sebentar, menghindar Nenek Mayang. Ade Menatap dinding yang terlihat kosong. Ada keraguan sesaat untuk mendorong Aprilia ke lubang iblis yang akan menjerat kehidupannya. Nenek Mayang, adalah sosok yang sangat berbahaya.


"Aprilia, jika kau sudah bergabung. Kau tidak akan bisa mundur lagi," ujar Ade setelah berbalik berhadapan dengan Aprilia.


"Aku tahu." Aprilia makin nanar. "Tetapi jika aku terus berdiam diri, bukankah dia akan terus bersikap semena-mena."


Buat dia berjanji padaku. Ikat dia dalam perjanjian denganku, perintah Nenek Mayang internal pada Ade. Nenek Mayang menyeringai duduk berlutut dengan tangan kasat matanya mulai menyentuh perut rata Aprilia.


Aku menginginkan janin ini, ujar Nenek Mayang dalam hatinya.


Aprilia bergindik sebentar. Seakan ada sentuhan geli di atas perutnya. Dia menatap Ade yang terlihat kosong bercampur ingin akan sosok kecil yang berenang-renang di balik perut Aprilia.


"Ade?" Aprilia segera berbalik, menghindari pandangan yang terlihat akan bersiap mengunyah karena lapar.

__ADS_1


"Tenang saja. Aku tidak akan memakan janin milik teman," ujar Ade kemudian. "Bukankah aku sudah berjanji!" Ade menepis tangan Nenek Mayang.


"Namun, jika kau ingin segala sesuatu kau dapatkan instan. Ada harga yang harus kau bayar?"


"Apa itu?"


"Setiap kemudahan di dunia ini. Akan mudah kau dapatkan dengan cara menjadikan darah dagingmu sebagai tumbal!"


Aprilia menggelengkan kepala, "Tidak!"


"Aku tidak akan melakukan dosa seperti itu. Mengorbankan anak untuk kepuasan diri."


Ade hanya tersenyum, "Sudah aku katakan. Kau tidak boleh memiliki sedikit hati saja. Jika kau ingin membalas seseorang. Kau harus membuang hati nurani."


Deg! Aprilia meraih ganggang pintu. Tangannya sedikit bergemetar. Sementara itu satu kalimat panjang terdengar membisikinya lagi.


Buang saja anak dalam perutmu. Bukankah itu anak yang tidak pernah kau harapkan. Dia bukan milik pria yang kau cintai. Dia hanya singgah sebentar karena sebuah kecelakaan hubungan yang tidak kau ingin.


Aprilia menitikkan air matanya, dan kret! Dia membuka pintu dan berlari keluar. sepanjang koridor terlihat sepi melompong. Dia berjalan kosong dan berharap tidak ingin bertemu dengan siapapun. Namun, sepasang sepatu merah keluaran brand ternama itu, terlihat menghadang langkahnya.


"Berhenti bermimpi!" tegur suara itu terdengar tidak asing.


"Hari ini aku merobek namamu. Besok aku akan memastikan kau dan teman sok cantikmu itu tidak akan berada dalam perusahaan ini lagi."


Aprilia geram. Mendongakkan kepalanya. Sepasang matanya terlihat nanar menatap wanita berkemeja dengan raut kesinisan itu.


"Mengapa k-kau mem-ben-ciku?"


"Tidak ada alasan untuk membenci!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung...


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo

__ADS_1


__ADS_2