
Ade menatap boneka berkuatan iblis tersebut.
"Kau memiliki Tuan?" tanya Ade menatap boneka jerami tersebut.
"Tuanku adalah wanita yang bersamamu tadi."
Ade terbahak. "Tidak mungkin wanita polos itu memiliki boneka jahat seperti dirimu."
"Aku adalah hambanya. Darahnya telah menghidupkan."
Ade menarik jarum dari boneka itu hingga terlepas, foto di belakang boneka itu pun terjatuh. Ade menatap foto yang jatuh ke lantai.
"Siapa dia?"
"Tumbal pertama dari tuanku!"
Ade menusuk kembali paku tersebut, dan menancapkan jarum,dan mengembalikan boneka itu kembali ke laci. Beserta melemparkan foto seorang gadis cantik itu kembali ke laci.
"Kau jangan berani menyentuh Tuanku, atau kan akan kujadikan korban keduaku!"
Deg! Ade terkejut akan ancaman itu. Baru saja,dia akan menutup laci. Namun, malah menjadi murka oleh boneka jerami tersebut. Ade meraih boneka tersebut, dan menghempaskanya ke dinding. "Aku tidak takut padamu!" teking Ade.
Boneka yang terhempas ke dinding, jatuh cepat ke lantai. Ade pun bersikap mengabaikan. Tanpa menyadari kabut asap hitam dan tipis perlahan keluar dari tubuh boneka jerami. Lalu, perlahan membentuk sosok yang membungkuk, dengan wajah yang terlihat keriput dan rambutnya bewarna putih terlihat merak dan berantakan.
Ade yang bersiap terlelap. Tiba-tiba saja membuka matanya, kala dia merasakan sosok hitam merangkak di atas tubuhnya, dan tangan kering tipis itu telah berada di leher Ade yang jenjang.
"Garis merah pada lehermu. Menghias cantik. Tetapi, setiap kukuku gatal dan ingin menarik kepalamu terpisah dengan tubuhmu..Lalu, aku meraih jantungmu, hatimu dan ginjalmu. Memakan daging manusia jelmaan seperti dirimu, pasti menyenangkan."
Ade tersenyum, sepasang tangannya mencengkram kedua tangan renta yang merupakan kulit berbalut tulang. Dia pun membalas menatap tanpa ada ketakutan dalam dirinya.
"Tidak aku ijinkan, kau menyentuh sehelai rambutku." Ade melempar sosok renta itu ke dinding. Menghempaskan dengan kekuatan yang besar. Kemudian, dia berdiri dengan langkah besar yang menginjak kuat ke lantai.
"Aku titisan yang tidak akan mudah kau taklukan!"
Sang nenek terbahak. Dia kembali bangun dan merangkak di lantai, dan menangkap sepasang kaki Ade. Memeluknya ketat.
"Apakah kau tidak mempercayai betapa mudahnya aku melemparkan kepala ke jendela, dan memungut setiap serpihan kaca dan mengisinya ke dalam tubuhmu melalui lubang lehermu."
Ade bergeliat dan mulai menendang-nendang sosok yang memeluk ketat, dan berteriak nyaring, "Kau tidak bisa melakukannya."
Sang nenek terkekeh, dia menyeringai dan tiba saja melompat dengan cepat, dan dalam tangan kirinya, dia telah menenteng kepala Adeyang menjuntai bersama organnya.
__ADS_1
Deg! Jantung Ade berdetak kencang. Baru kali ini dia merasakan kekuatan ruh yang bisa menyentuh fisiknya.
Sang nenek pun duduk berjongkok dan kepala Ade di jepit kedua tangan renta dan berhadapan dengannya, "Jantungmu masih berdetak. Aku menyukainya. Bolehkah aku memakannya?"
Ade menggelengkan kepala. Wajahnya penuh dengan mimik ketakutan.
"Jika begitu. Tundukkan padanya, dan berikan pusakamu padanya."
Ade menggelengkan kepala, "Aku hanya bisa memberikan pada satu orang untuk keturunan ku kelak. Bagaimana bisa aku memberikannya pada orang lain."
"Masih berani menawar?" ancam sang nenek dengan ujung kuku menyentuh jantung Ade. Menusuk sedikit. Memberikan kejutan yang mengerikan.
Ade pun menganggukan kepala, "Baik, aku akan memberikannya besok pagi. 3 Pusaka minyak milikku."
Sang nenek pun melepaskan kepala Ade. Membiarkan Ade menyatu dengan tubuhnya.
"Berikan pusaka pada saat dia butuh. Bukan sekarang!"
"...."
"Aku ingin dia menjadi pengabdi iblis. Buat hatinya sehancur mungkin pada Tuhan. Agar dia menjadi bagian dari kita."
Ade tersenyum mengerti, "Aku mengerti maksudmu. Apakah dia mengetahui keberadaanmu? Siapakah namamu?"
Ade berkerut. Dia mondar mandir di 1q1 nenek Mayang. Terlihat sangat q, bagaimana bisa Aprilia yang terlihat polos dan bodoh itu bisa mendapatkan hamba setan seperti ini.
"Bagaimana dia bisa menjadi Tuan-mu? jika dia tidak pernah meminta dan mencarimu?"
Nenek Mayang duduk di tepi ranjang. "Sebenarnya yang memilih aku adalah sang Tuan rumah ini, Puspa."
"Puspa?"
"Nana."
Ade menganggukan kepala. Mengerti.
"Dia membawaku ke rumah ini. Tetapi, dia ingat apa yang harus dia lakukan. Yakni memberikan darahnya padaku pada saat keadaan hamil."
"...."
"Janin dalam perut Aprilia adalah milikku. Harga yang harus di bayar Aprilia."
__ADS_1
"Jadi itu, mengapa Nana bukan menjadi Tuan-mu? Karena Nana tidak sedang hamil."
Nenek Mayang menganggukan kepala. Lalu, berubah menjadi kabut hitam tipis dan menyesap kembali masuk ke dalam boneka jerami.
Ceklek! Tiba-tiba saja pintu terbuka. Aprilia berdiri di garis pintu dengan banyak air mata berderai di wajahnya. Dia menatap dengan penuh keluh, dan berjalan gontai. Lalu, duduklah memeluk kaki Ade.
"Makanlah Janinku. Aku tidak menginginkannya."
Janin itu milikku. Suara internal dari boneka jerami yang berada di lantai memperingati Ade.
Atur cara agar dia menderita makin dalam. Bujuk dia melakukan kejahatan lainnya. Sura perintah internal itu membuat Ade menjadi sangat simpatik pada Aprilia. Namun, dia harus bertindak kejam pula.
"Mbak, eh aku akan lebih nyaman memanggil namamu saja." — Ade menarik kakinya dari rangkulan ketat Aprilia — "Aprilia, mengapa kau ingin memakan janin yang tidak berdosa? bukankah dia memiliki seorang ayah?"
Aprilia membenamkan wajahnya di tepian ranjang. Air matanya membasahi sprei tersebut. Di sela isaknya, dia-pun menjawab, "Pria i-itu sua-suami o-rang!"
"Ah! Mengapa tidak menggunakan pengaman sih?" — Ade mengambil boneka jerami, dan meletakkannya pada laci — "Biarpun dia suami wanita lain. Jika dia telah menghamili-mu. Pria itu harus bertanggung jawab."
Aprilia menggelengkan kepala. "Dia ti-tidak a-akan mau!"
"Gunakan ilmu pelet!"
Aprilia menggelengkan kepalanya, dengan wajah terus terbenam di atas kasur. Ingin rasanya dia membenamkan kepalanya, dan mengakhiri napasnya. Namun, dia tidak meninggalkan Dimas.
"Aku tidak ingin mengabdi pada setan. Aku tidak akan menggunakan pelet!" terang Aprilia dengan suara lantang.
Ade terbahak, dan mengejar kembali, "Apa yang membuatmu takut?"
"Takut Tuhan tidak akan menerima perbuatanku!"
Ade terbahak, dan menghasut lagi dan lagi, "Apakah Tuhan memaafkan dosa peezinahanmu dengan suami orang lain."
Deg! Jantung Aprilia seakan di lucut jatuh ke tanah. Dosa yang telah dia perbuat, bak peluru yang telah tertanam di jantungnya. Di ingat akan dosa perzinahannya, dia pun meraung sedih, "A--ku ter-paksa me-laku-kannya. A-aku tidak memiliki u-uang! A-aku bu-tuh uang! Mantan suami-ku mengabaikan ku! dan pria i-itu meminta upah atas tempat kontrakan i-itu."
"Lalu?"
"A-aku rasa Tuhan akan maklum akan Zi-zinah yang ter-terjadi. A-asal aa-aku tidak menjadi pengabdi i-iblis."
Aprilia bangkit berdiri. Dia menyeka air matanya, dan kembali ke kamarnya.
......................
__ADS_1
Bersambung ....