
...Kau sediakan pagi yang asin karena membenciku. Namun, kau sediakan yang gurih pada senja hari, karena rasa bersalahmu mengejarmu....
..._Eouny Jeje_...
...Kita tidak saling mengenal. Namun, bisa jatuh cinta dengan sendirinya...
..._Jack_...
...꧁❤༆PJP 95༆❤꧂...
Moon melompat kembali dan Aprilia terjatuh ke atas kasur tipis. Bibir Moon turun menyusuri dada Aprilia, dan bibir kecil itu mengecup dan menyusui kemudian.
Aprilia menahan diri dari rasa jijik sekaligus sakit akan isapan Moon yang serasa menghisap darah dalam tubuhnya.
Isapan Moon begitu kuat. Sekali-kali tubuh Aprilia merespon dengan meriang atas setiap gigitan dan isapan Moon.
Lelah. Moon terus menyusui dengan rakus. Setiap kali Aprilia akan terpejam, gigitan Moon akan mengejutkannya dan membangunkannya dari rasa kantuk, lelah, dan perih.
"Sudah selesai!" ujar Moon usai melepas pagutannya dan berdiri, dan hilang kemudian, dan meninggalkan pesan menggema di dalam ruangan.
"Ibu susu. Besarkan mangkok milikmu! Bayi Moon tidak boleh bosan!"
Aprilia terperangah akan rasa jijik yang membekas. Lilin telah padam kemudian. Dia meraba payudara miliknya, dan bersyukur jika payudara miliknya tidak hilang begitu saja, di gigit oleh Moon.
"Segala sesuatu itu indah pada waktunya. Ada pelangi setelah hujan. Ada matahari mengganti bulan!"
Aprilia duduk, memperbaiki dasternya untuk menutup dadanya kembali. Dia menghela napas, dan menyalakan lilin. Menatap jam di dinding. Dia teringat akan ritual mantera pemikat hati yang harus di lakukan setiap malam Jum'at.
"Masih memiliki waktu!"
Aprilia duduk bersila dengan satu lilin berada di tengah ruangan, dan sebuah foto yang dia ambil dari bawah kasur. Foto pria yang dia cintai selama ini, Jack Alderman.
Aprilia terlihat merapal mantera dan meraba foto tersebut. Usai membaca mantera, Aprilia mencium foto tersebut, meletakkan di dadanya, dan dia berbisik menyanjung dirinya, "Kau yang meludahiku. Akan bertekuk di bawah kakiku. Mencium kakiku dan bersedia menjadikan punggungmu sebagai alas kakiku."
Aprilia terlelap kemudian.
Nenek Mayang tersenyum dalam kegelapan. Dia senang akan sosok Aprilia mulai menggunakan mantera yang datang mengikat dan memikat seorang pria. Nenek Mayang pun menjalankan tugasnya. Dalam sekejap, dia telah berada di sebuah kamar besar yang di dominasi warna hitam dan abu-abu.
Pria yang di cintai Aprilia, terlihat tidur terlentang dengan wanita cantik di sisinya yang merangkul pria itu. Wanita itu Puspa.
Mereka terlihat lepas menghabiskan malam yang panjang, dan lelah kemudian.
Nenek Mayang terkekeh dan masuk ke dalam pikiran sang pria.
Nenek Mayang mengubah wujudnya menjadi sosok yang cantik dan anggun. Jauh lebih cantik dari Puspa ataupun hantu kepala, Ade. Setiap orang yang bertemu dirinya pasti terpaku dan terpesona padanya. Cantik bak artis Korea. Lahir sempurna tanpa cela.
Nenek Mayang berjalan mendekati Jack yang terlihat masih linglung akan situasi sekitarnya. Dia terlihat menatap heran akan sosok yang datang menghampiri ranjangnya.
"Nana di mana?" Pria itu terlihat mencari sosok Nana.
"Hanya aku di sini,Tuan."
"Kau siapa?"
"Babu baru dalam rumahmu, Tuan."
__ADS_1
Jack terkesiap sesaat. Dia mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Pulang dari kantor, dia meminta isteri keduanya untuk ke Villa. Menghabiskan sepanjang malam.
Jack menyipitkan mata.
"Babu yang cantik."
Apakah aku mabuk dan memesan wanita cantik dengan karakter maid?
Nenek Mayang mendekat. Kostum babu yang dia gunakan terlihat minim dan ketat. Tubuhnya melengkung indah, dan menarik hasrat.
Jack melihat wanita cantik itu naik ke ranjang, dan bertanya dengan genitnya, "Tuan,segala sesuatu sudah di bersihkan. Apa ada hal lain yang ku kerjakan lagi?"
Jack terpaku. Sosok di depan matanya sangat cantik. Dia menganggukkan kepala. Tentu saja ada yang harus di kerjakan wanita cantik itu.
"Ada yang harus kau kerjakan."
"Apa itu?"
"Melayaniku di atas tempat tidur." Jack mengulurkan tangan. Namun, wanita berkostum maid menepis tangan itu dengan wajah tersipu malu.
Nenek Mayang tersenyum geli telah membodohi pria ini dengan mudah dan diapun menggelengkan kepala, "Maaf, Tuan Jack, aku adalah babu tehormat. Aku ingin cinta lebih dulu, baru hal itu terjadi."
"Aku cinta." Jack membola menyimpan setiap gerak-gerik yang terlihat imut dan manis jika di jilat, "Aku jatuh cinta pada pandangan pertama," lanjut Jack.
Nenek Mayang bangkit dari ranjang. Jack segera ikut melompat, mengejar dan memeluk pinggang ramping itu.
"Aku telah menangkapmu, sayang!"
Nenek Mayang tertawa lepas. Suara tawa itu membuat Jack senang mendengarnya, dan perlahan tangan Jack mendongakkan kepala gadis cantik itu, untuk berputar sedikit menengok ke belakang, dan berhenti tepat di bawah wajahnya.
Jack berdegup akan sosok di bawah adalah sosok fisik yang sangat sesuai dengan kriteria. Terlihat sempurna.
Jack menurunkan wajahnya untuk mencium. Namun, babu itu hilang.
"Babu!" teriak Jack terbangun segera dari mimpinya. Napasnya terasa naik turun, dadanya berdegup kencang. Wanita cantik itu mampu menyihirnya.
"Aku hanya mimpi bertemu wanita cantik."
Jack mengamati sekitarnya, terlihat wanita di sisinya telah pulas di bawah selimut. Jack turun dari ranjang, mengenakan celana piyama dan kimono tidurnya. Dada dan hingga perutnya terekspos jelas dengan setiap otot kotak yang terlihat sexy sebagai seorang pria.
Jack berjalan ke balkon, dan menyalakan rokoknya. Menghembuskan asap yang mengepul terbang menjauhi wajahnya.
"Babu itu cantik sekali!" Jack terkekeh. Wajah gadis dalam mimpinya mulai terbayang-bayang dalam benaknya.
"Untung saja dia tidak berubah menjadi babu jelek." Jack bergindik jijik.
Jack konyol teringat akan sosok wanita jelek yang pernah dia tiduri. Wajah persegi. Kulit coklat. Rambutnya mengembang seperti singa. Namun, memiliki payudara yang cukup besar dan memiliki proporsi ideal untuk tubuhnya.
"Babu cantik dalam mimpiku itu sangat cantik. Jauh berbeda dengan babu jelek, Aprilia."
Jack tersenyum. Wanita cantik dalam mimpinya melintas dan meninggalkan kesan yang dalam. Tahi lalat di atas bibir tipis itu, terlihat menjadi ciri khas wanita itu. Jack mengecap bibirnya sendiri. Seakan dia telah berhasil mencium babu cantik itu.
"Semoga kau bukan bunga tidur. Babu cantik dengan tahi lalat di atas bibir. Kau menggoda sekali. Apakah kau hantu wanita berwajah Korea? Sengaja masuk dalam mimpiku!"
Jack mengehela napas akan rasa aneh yang datang menyelinap begitu saja. Diapun kembali menghisap rokoknya. Dia menghabiskan sebatang rokok dan menjatuhkan ke lantainya puntungnya. Dia menatap bintang yang hanya tersisa satu.
__ADS_1
"Kata pepatah, jika kita melihat sosok bintang itu mirip seseorang, dia adalah jodoh terakhirmu!"
Jack pun menyipitkan matanya. Memfokuskan dirinya menatap bintang yang nan jauh di langit. Perlahan sosok itu terlihat. Wanita cantik dalam mimpinya terlihat tersenyum di sana.
"Gila!" umpat Jack dan terbahak kemudian akan pukauan wanita kostum maid dalam mimpinya, "Jika kau jodoh terakhirku. Aku akan mencarimu, babu cantik!"
"Kita tidak saling mengenal. Namun, bisa jatuh cinta dengan sendirinya."
Jack menggelengkan kepala, mencoba mengenyahkan wanita cantik dalam pikirannya.
"Babu cantik. Babu Cantik! Kau sepertinya datang menghantuiku, babu cantik!"
"Babu cantik?"
Jack menoleh ke asal suara yang berada di belakangnya. Tampak wanita yang telah terlelap di sisinya tadi, telah mengenakan kimono bewarna merah muda. Berjalan ke arahnya.
"Nana, kau sudah bangun?"
Cup! Puspa mengecup bibir pria itu sebagai jawabannya.
"Kau sebut siapa tadi babu cantik?"
Jack kikuk. Gagap. Seakan Nana akan mengikutinya hanya karena seorang wanita yang cantik dan menggoda masuk dalam mimpinya, dan wanita itu berseragam maid.
"Apa kau ingat Aprilia, si babu jelek?"
Jack menggelengkan kepala, "Tidak sudi."
Nana memeluk dengan wajah mendongakkan kepala, "Apakah babu cantik itu adalah aku?"
Jack menganggukkan kepalanya. Lebih setuju berbohong saat ini.
"Iya. Aku adalah babu. Pelayan di ranjangmu."
Cup! Jack memberikan kecupan.
"Kau babu yang memuaskan!"
Puspa memasang wajah cemberut.
"Tetapi, kau belum menceraikan istrimu!" protes Puspa.
"Bukankan cukup menjadi yang kedua!"
"Aku rakus Om Jack. Aku ingin menjadi nomor satu."
Jack tersenyum miring,dan mendorong Puspa, "Jika begitu keinginanmu, lebih baik kau menyingkir. Karena, keinginan itu tidak akan pernah terwujud!"
Jack meninggalkan Balkon. Mengambil jaketnya, dan keluar meninggalkan kamar.
Puspa tersenyum miris, "Pria itu akan selalu marah jika aku mengungkit soal menceraikan isterinya! Cinta tetapi berselingkuh, itu adalah kemunafikan cinta!"
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
...*Hai para readers semua, adakah yang bersedia mengajukan admin untuk karya ini, yang di harapkan membantu berinteraksi dengan pembaca lainnya! jika ada silahkan mendaftar menjadi Tim Interaksi. untuk lebih semangat lagi, para readers boleh meninggalkan pesan di kolom diskusi setiap babnya- untuk sekedar memberi saran part selanjutnya....
__ADS_1
silahkan bergabung menjadi tim Interaksi untuk ide, saran , dan jalan cerita, jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca pada kolom komentar karya dan komentar interaksi yang memiliki hastag*.