
...Mencintai itu bersikeras, bertahan, dan menyingkirkan....
...—Eouny Jeje—...
...Aku ingin menjadi nomor satu di hatinya bukan hanya nomor satu di pelukannya....
...—Aprilia—...
...꧁❤•༆PJP 68༆•❤꧂...
"Benarkah?" Aprilia mengambil botol. Dia ingat jin dalam botol ini lahir sempurna dan cantik. Aprilia berkedip pada Ade,menginginkan pelet itu segera.
"Apakah botol ini akan kembali jika habis fungsinya? Seperti botol yang lalu."
Ade mengganggukkan kepala.
"Aku adalah Tuan asli dari setiap jin botol ini, dan Tuan asli itu haruslah kuyang. Tentu saja setiap botol akan kembali pada pemilik aslinya."
"Aku mengerti."
"Kecuali jika kau ingin menjadi kuyang!"
Aprilia menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Aku tidak mau. Aku tidak suka melihat kepalaku terbang kesana dan kemari."
Ade menjulingkan matanya, "Itu sudah nasibku. Mau bagaimana lagi."
"...."
"Kau ingin cantikkan! Gunakan minyak ini. Minyak hanya bisa di gunakan sebelum ayam berkokok. Khasiat minyak akan hilang seketika dalam satu malam."
"Mengapa waktunya begitu pendek. Andai tau begitu, aku harus menggunakannya dari siang."
Ade menghela napasnya jengah, dan mencolek dagu Aprilia, "Jika permanen itu bukan gaib namanya. Segala sesuatu yang gaib ada massa, dan ada cara memberi makannya. Apa kau mengerti? jika kau berhenti memberi makannya, maka hal gaib itu akan hilang."
Aprilia menatap dengan wajah melongo bingung, dan rasa herannya memuncak jelas di antara alisnya yang menyatu, "Lalu bagaimana aku mempertahankan diriku agar tetap cantik?"
Ade terbahak keras, "Pertama kau harus punya uang asli. Bukan daun."
Aprilia menelan ludahnya. Sindiran yang begitu jelas dan nyata menampar wajahnya.
"Sekarang aku memiliki uang. Suamiku kaya raya."
"Jika kau sudah memiliki uang, barulah kau melakukan bedah plastik."
__ADS_1
Ade menggenggam dagu Aprilia, dan melongos seraya berkata nyata untuk Aprilia, "Banyak sekali yang harus di perbaiki dari wajahmu."
Aprilia menepis tangan Ade. Dia kesal seketika akan sindiran nyata itu, "Terimakasih nasehatnya. Aku pergi dulu."
"Hati-hati di jalan. Semoga mampu meruntuhkan hati Jack yah!"
Aprilia tersenyum hambar. Melintas pergi kemudian.
Pukul 23.00 wib ...
Aprilia telah menginjakkan kakinya di sebuah club' berkelas. Aprilia mengedarkan pupil matanya, mencari sosok pria tampan yang dia incar malam ini. Jack Alderman. Pria pujaan hatinya.
"Jika aku mencari di room. Itu akan kesulitan. Tidak mungkin kan aku membuka setiap room."
Aprilia menghela napas panjang. Setiap matanya telah beredar memeriksa dan meneliti setiap orang yang berkerumun di lantai desa,dan memeriksa wajah setiap orang yang duduk dan bersantai pada meja bar dan kursi VIP. Tetap saja. Dia tidak menemukan pria pujaannya.
"Sepertinya dia di room!" Aprilia menyerah. Dia keluar dari lantai dansa yang berdesakkan menggoyangkan pinggul. Aprilia memutuskan akan naik ke lantai en. Lantai VIP di khususkan untuk tamu VIP membawa wanita panggilannya.
Ting! Lift ke lantai enam terbuka.
"Aku lupa mengenakan minyak!" Keluar dari Lift, Aprilia segera mengedarkan matanya mencari toilet. Setelah menemukan papan toilet berada di ujung koridor. Dia segera melangkah. Sepanjang koridor masih terlihat sama seperti dulu. Banyak gadis berdiri dengan gaun minim dengan riasan mencolok terang. Bahkan ada yang sedang terbuka melayani tamu yang datang dan bertukar air liur di sana.
Aprilia mengangkat dagunya. Seakan pemandangan ini adalah hal lumrah untuknya. Bukan hal tabu seperti pertama kali sepatunya menginjak lantai club' ini. Dia bersikap acuh dan tidak acuh akan setiap mata yang terlihat mengerdilkannya.
Baiklah. Aku memang tidak secantik kalian hari ini. Tetapi, aku yakin esok hari, kecantikan Dewi itu hanya milikku sendiri, ujar Aprilia angkuh dalam hatinya dan mencibir setiap pandangan yang terlihat kasihan padanya.
"Toilet pun menjadi tempat maksiat. Tempat sempit untuk mencari suasana." — Aprilia bergeliat dengan bibirnya sendiri— "Aku merindukan Jack."
Hasrat itu datang bagai selimut yang menguasai langit perasaan. Ingin bertemu, dan ingin bercinta.
"Aku ingin menjadi nomor satu di hatinya bukan hanya nomor satu di pelukannya." Aprilia tersenyum pada pantulan dirinya di cermin.
"Tentu Aprilia. Kau akan selalu di hatiku." Sosok Jack tiba-tiba hadir dan memeluk Aprilia dari belakang tubuh Aprilia.
Aprilia menoleh ke belakang. Ingin merengkuh sosok pria itu. Namun, pria itu segera hilang kemudian. Ternyata hanya ilusi yang datang. Namun, sangat membekas dan manis.
Aprilia menggelengkan kepalanya. Tersenyum ringkih, terbuai akan rindu yang panjang dan tidak habis.
"Aku merindukanmu, Jack! Kita akan menghabiskan malam ini sebelum ayam berkokok."
Aprilia segera mengoles minyak pada wajah, leher, titik nadi pergelangan tangannya, dada, dan bokongnya.
"Cantik dan Sexy. Wokey!" sulap Aprilia pada dirinya sendiri. Dia memejamkan matanya kemudian. Menunggu untuk satu menit. Lalu,keajaiban itu datang dengan percaya dirinya dia keluar dari toilet.
Aprilia Berjalan dengan langkah panjang dengan pinggulnya yang terlihat bergoyang ke kiri dan ke kanan. Dia penuh percaya diri. Sangat berbeda dengan langkah pertama kali dia datang.
__ADS_1
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara sepatu Aprilia mengetuk keras. Mengundang setiap orang untuk memandang ke asal suara sepatu yang mengetok lantai dengan sangat berisik. Hampir saja setiap mata yang akan menghujat, berbalik tertegun akan sosok yang lewat. Terlihat sangat cantik. Mempesona. Anggun. Menundukkan setiap pandangan agar kagum tiada hentinya.
Bahkan ada tamu pria yang melepas wanitanya segera kala melihat Aprilia mengembangkan senyum busur percaya diri ke arahnya.
"Kau serakah yah. Jangan merebut tamu orang lain," tegur seorang gadis berambut pirang pada Aprilia.
Aprilia hanya meringis berpura-pura bodoh. Dia segera melambaikan tangan untu pergi. Lalu, dia pergi mencapai meja resepsionis dan berbincang dengan wanita muda berambut merah muda itu.
"Aku tamu Tuan Jack. Apakah Tuan Jack sudah datang?"
Gadis berambut merah muda mengangkat alisnya. Dia tampak tidak mengenal sosok datang.
"Apakah anda pesanan dari luar club?"
Aprilia mengerutkan keningnya sebentar.
Pesanan dari luar? Emang makanan.
"Benar. Aku pesanan dari luar," sahut Aprilia mengangguk dengan cepat.
Yang penting aku bertemu dengan Jack. Aku tidak perduli di samakan dengan makanan!
"Apa membawa sarung pengaman?"
Aprilia mengangkat alisnya.
Sarung pengaman itu. Apakah buah-buahan itu?
"Oh barang itu, aku lupa membawanya! Aku akan membeli di sini saja."
Gadis berambut merah muda itu, terlihat turun berjongkok. Membuka lemari dan mengambil beberapa kotak dengan sampul buah. Kemasan jeruk. Kemasan stroberi. Kemasan buah Anggur.
"Silahkan memilih."
"Aku pilih tiga-tiganya." Aprilia segera mengambil dompet, dan menyerahkan uang. "Tidak perlu kembalian. Simpan saja untukmu."
"Terimakasih semoga percintaan makin menyenangkan."
"Roomnya nomor berapa?"
"777."
...꧁❤•༆PJP 68༆•❤꧂...
__ADS_1
Author:
Apakah kalian berharap Aprilia bertemu Jack seorang diri? Atau ada Nana di dalam room 777. Cepat Coment sebelum Jeje tulis kelanjutan pelet janda ini yah.