
...Cinta bisakah menunggu tanpa harus menjadi sadis di depannya?...
..._Eouny Jeje_...
...Cinta itu harus sadis kadang-kadang. Biar, terjebak dalam rasa yang sulit di lupakan....
..._Nenek Mayang_...
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
Kala pria itu akan menindih Nenek Mayang lagi. Nenek Mayang segera bertanya, "Bang, yang mana kau persembahkan dulu? Hati, ginjal, atau jantung."
Dimas menjulingkan matanya, berpura-pura berpikir sebentar, dan menjawab asal kemudian, "Hati saja dulu dik."
"Baik, bang. Mayang segera minta hati."
Dimas terkekeh, hanya mengira wanita cantik di bawah tubuhnya sedang bergurau. Dimas mencari rangsangan lebih banyak, sekejap bibirnya turun mencium leher hingga tulang selangka Nenek Mayang.
Nenek Mayang terkekeh. Jemari tangannya halus bergerak menyusuri tulang punggung pria yang menindih dirinya dan mengecup gundukan-gundukan miliknya. Sekali-kali Nenek Mayang berpura-pura bergeliat di bawah tubuh pria itu.
"Abang akan lebih lembut, dik."
Nenek Mayang berpura-pura tersipu malu, menerbitkan rona merah pada wajah putih mulusnya, dan dia menjawab dalam hatinya, Hanya pura-pura puas. Tuan amatiran.
Jemari Nenek Mayang berhenti pada punggung Dimas, yang berada di balik perut kanan atas, tepat di bawah tulang rusuk.
"Bang. Hatinya aku minta yah."
Dimas mengangkat wajahnya dari dada wanita tersebut, kala dirinya mendengar suara lembut wanita meminta hati padanya.
"Ambil, dik."
Mayang tersenyum dengan sepasang mata terlihat ironis. Dimas kembali melanjutkan aksi bibirnya. Sedangkan setiap jemari kuku Nenek Mayang bertumbuh panjang, dan ujung kuku itu bergerak menyentuh titik lokasi hati dari punggung pria itu. Kuku itu tajam seperti mata pisau, dia melubangi kulit dan menembus daging.
"Arggg!" ringis Dimas merasakan perih di belakang punggungnya.
"Tahan bang. Mayang kalau sudah nyaman dengan itu,hobinya mencubit kulit."
Dimas meringis menahan sakit, dan menahan sesuatu yang seakan merobek dan mencongkel dagingnya.
"Dik, cubitan kamu sakit banget!"
"Jangan di rasakan. Nikmati saja."
__ADS_1
Dimas menjilat bibirnya dan dia menahan erangan untuk berteriak sakit. Untuk mengurangi sakitnya, sekali-kali dia terlihat menahan napas.
"Berakit-rakit hulu berenang-renang kemudian. Biarlah Abang sakit sebentar, buat dik Mayang senang-senang,"
Nenek Mayang terkekeh akan rayuan yang terlontar itu kembali. Tidak lama kemudian, jemarinya telah menemukan hati. Dia mencengkram hati tersebut, dan menariknya. Saat itu pula,keperihan Dimas hilang. Lubang yang tengangga di punggung itu menutup rapat kembali tanpa memberikan jejak tersayat dan luka sedikitpun.
"Nggak sakit lagi kan bang!"
"Nggak dik. Sekarang Abang berikan kesenangan untuk dik Mayang."
"Oke!"
Duh belum bangun-bangun juga! Gimana bisa senang! Dimas mengehela napas dan berusaha mencari rangsangan lain,dengan menyentuh tulang selangka leher Nenek Mayang.
"Dari tadi foreplay mulu. Nggak bosan bang!"
Dimas tertohok. Seakan kejantanan telah diragukan. Namun, dia memiliki hasrat lain meminta umpan balik.
"Kalau begitu adik yang bantu foreplay kembali."
Nenek Mayang tersenyum,dengan tangan yang meremas hati, dia pun melontarkan kalimatnya, "Boleh Bang. Giliran Mayang makan abang."
Dimas membola penuh hasrat. Dia segera berguling ke sisi kiri,dan membiarkan tubuhnya terlentang, dan lirih berkata, "Silahkan naik, dik!"
"Sadis asal hot. Cinta itu harus sadis kadang-kadang. Biar, terjebak dalam rasa yang sulit di lupakan."
"Cinta Mayang memang sadis dan tiada tandingnya."
Dimas menjilat bibirnya seakan menunggu detik yang manis dari bibir wanita cantik itu akan menyentuh setiap kulitnya.
Nenek Mayang mengeluarkan tangannya yang bersembunyi di punggungnya. Dia mulai mengangkat segumpal daging kenyal bewarna coklat dengan berat 1.5 kilogram.
Dimas terkesiap akan sosok wanita cantik yang terlihat membawa daging mirip organ hati ,dan wanita itu menjilat setiap cairan merah dari daging kenyal tersebut.
"A-apa yang ka-mu makan,dik?"tanya Dimas terbata,seakan menyadari sosok wanita di atas tubuhnya.
"Mayang sedang foreplay dengan makan hati Abang."
"Hati?"
"Milik Abang."
"...." Dimas terbelalak ngeri.
__ADS_1
Nenek Mayang menundukan kepala, menyantap makanannya dan sepasang mata Dimas melotot jijik dan ngeri. Bersiap akan berteriak.Namun, suaranya hilang. Bibirnya terkatup rapat,seakan ada yang menjahit bibirnya.
Nenek Mayang menggigit dengan rakus hati tersebut. Sekejap hati itu telah tercabik habis dalam setiap gigi dan kunyahan mulutnya.
Dimas bersiap mual. Namun, hanya mampu mengeluarkan napas berat melolong sakit. Namun seluruh tubuhnya kaku. Tidak mampu dia gerakkan.
"Foreplay kedua. Ginjal. Kiri dan kanan." Nenek Mayang menjilat kukunya yang penuh dengan cairan merah. Dia menjilat haus. Setelah setiap jemari kuku itu bersih. Kuku itu bergerak pada titik ginjal kiri dan kanan.
Jleb! Nenek Mayang menusukkan kukunya dan dengan cepat melubangi ginjal pertama.
Dimas melolong menderita. Berteriak tidak mampu. Namun, perih dan sakit begitu nyata.
Jleb! Nenek Mayang kembali menarik ginjal kanan.
Dimas bergetar takut.Jijik dan mual. Wanita di pinggir jalan itu adalah jelmaan iblis.Dia meringis dengan penuh ekspresi, Ampun. Jangan sakiti saya!
Lubang ternganga itu merapat kembali tanpa jejak setelah Nenek Mayang menarik lepas organ itu dari rumahnya.
Nenek Mayang mengangkat dua ginjal itu.Dengan senyum genit dia menggoda, "Foreplay Mayang bagaimana? Sadis!"
Dimas menelan ludahnya. Wajahnya pucat dan sepasang matanya hanya merekam setiap detiknya sosok wanita cantik yang terlihat mengigit lembut daging ginjal miliknya. Mengerikan. Seluruh bulu roma berdiri, bergindik takut,dan tak mampu keluarkan satu rintihan pun.
Lepaskan saya Mayang! mohon Dimas kala sepasang ginjal itu telah lenyap dari tangan Nenek Mayang dan bagian tersisa organ itu sedang terkunyah dan teecabik-cabik oleh setiap gigi Nenek Mayang.
"Tersisa jantung lagi." Nenek Mayang menjilat dengan lidahnya menjulur panjang menyeka setiap cairan merah sekitar mulutnya.
Nenek Mayang menundukkan wajahnya, "Bang, berciuman kembali!"
Dimas menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba saja napsu telahnya anjlok seketika,dan hanya rasa takut yang menumpuk tinggi seperti gunung yang menyentuh langit.
Tangan Nenek Mayang bertengger di antara kedua Dimas,menghentikan pergerakannya,dan bibirnya turun mencium bibir hitam pria itu, cairan merah melumur setiap dinding mulut Dimas. Dimas mual akan bau amis yang menyebar di dalam mulutnya, dan dia merasakan bagaimana lincahnya dan rakusnya lidah Nenek Mayang melilit lidahnya, dan crassh! Dimas kelu seketika. Kala satu sayatan tajam mengiris lidahnya,dan lidah miliknya terlilit keluar bersama lidah wanita cantik seperti ular itu.
"Kau pandai merayu. Oleh itu, aku tertarik memakan lidahmu."
Dimas kosong. Dia sungguh merasakan siksaan yang pelan tetapi pasti mati. Bau amis dan cairan merah tersebar dalam mulutnya. Sepasang matanya berkaca kemudian, meringis, memohon dan meminta belas kasihan. Namun,sosok Nenek Mayang masih terlihat sangat lapar.
Selesai menelan lidah Dimas. Nenek Mayang kembali menurunkan wajahnya,menjulurkan lidahnya sepanjang mungkin masuk kedalam kerongkongan,dan sejauh mungkin berjalan ke dada kiri,dan lidah itu dengan cepat mengikat jantung yang terlihat berdenyut.
Dimas tercekat. Seluruh udaranya sesak. Seakan raib begitu saja. Kemudian,dia merasakan segumpal daging kenyal,di tarik paksa, dan di keluarkan dari mulutnya. Setiap arteri itu panjang meregang dan putus kemudian,kala jantung miliknya telah di keluarkan dari mulutnya.
Dimas berhenti bernapas.
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
__ADS_1
...Jangan Lupa bantu mampir ke karya Hantu Istriku balas Dendam....