Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 176


__ADS_3

...Hidupnya bak mayat hidup. Dia hanya bekerja jika dia lapar. Selebihnya, dia hanya memilih tidur, dan tidak perduli dengan sekitarnya....


..._Aprilia_...


...Makin kau pandai bersyair, makin kau tau bahwa hidup itu tidak perlu letih....


..._Eouny Jeje_...


...***...


Aprilia mundur selangkah dari kamar Ade. Mengedarkan sepasang matanya pada setiap sudut ruangan. Ruangan  ini terlihat sangat berantakan. Dinding terlihat lembab dan berjamur membentuk bercak-bercak hitam. Setiap sudut ruangan bahkan dihiasi jaring-jaring laba-laba.


"Hidupnya bak mayat hidup. Dia hanya bekerja jika dia lapar. Selebihnya, dia hanya memilih tidur, dan tidak perduli dengan sekitarnya."


Menghela napas. Aprilia segera menuju dapur. Membuka kulkas. Meletakkan kantong darah dalam freezer. Dia di kejutkan dengan sepasang bola mata tampak dalam susunan rak. Setiap urat mata terlihat hijau tegang menjadi latar biji mata.


Belum berhenti dari rasa terkejutnya sebelumnya. Kini, pandangan Aprilia jatuh pada rak yang lain. Tepat di bawah rak bola mata.


"Usus?" Aprilia menggelengkan kepala. Jijik.


Sepasang mata Aprilia menyipit tajam. Hidungnya mengernyit akan untaian tali tampak seperti usus panjang yang melingkar padat di atas piring.


"Usus? Bola mata?" Aprilia bergindik. Namun, dia tidak cukup yakin jika hal itu adalah untaian usus. Rasa penasaran terbit mengundangnya untuk memeriksa. Telunjuknya menyentuh untaian itu, memastikan apa yang telah dia raba adalah usus. Dia meraih ujung tali untaian, mengangkatnya keluar dari rak dingin tersebut.


Mengeryit. Aprilia bergindik ngeri.


"Ari-ari? Sial, ini ari-ari persalinan. Placenta! Apa yang di lakukan Ade? Jijik dan menakutkan."


Aprilia segera melemparkan kembali tali placenta ke dalam piring sebelumnya.


Blam! Aprilia jijik membanting pintu lemari es. Dia meraba tekuk lehernya. Menurunkan setiap bulu rambut yang berdiri tegak.


"Tenang Aprilia! Tenang Aprilia! " sugesti Aprilia pada dirinya sendiri.


"Dia mungkin mengerikan. Namun, dia tidak akan melukaiku. Itu sudah janjinya."


Tidak beranjak  dari dapur. Aprilia segera memulai membersihkan dapur wanita yang mampu melepas kepalanya itu. Dia berdiri depan wastafel seraya menatap jijik akan setiap piring kotor dan gelas kotor, yang setiap kotoran itu tampak basi dengan belatung-belatung kecil yang  melubangi cairan merah yang mengering. Tepatnya, di sebut kerak darah yang mengering.

__ADS_1


Belatung bersarang pada kepingan kerak merah yang kering. Belatung terlihat bergerak-gerak menggelikan.


Aprilia membuka keran air.  Mengambil sponge Mencuci gelas kotor dengan bau amis darah yang menempel.


"Menjijikan sekali!" komentar Aprilia. Dia mengendus seakan menebak-nebak aroma darah tersebut. Cairan merah itu terlampau kering. Dengan ujung kukunya, dia berusaha menyingkirkan kerak merah dengan belatung-belatung yang bergeliat melubangi kerak merah kering itu.


Kerak merah terkikis  jatuh perlahan ke bak wastafel, seraya mengeluarkan aroma amis. Mengendus tajam. Bau amis itu menusuk hidung. Muntah. Aprilia segera muntah pada bak sampah terdekat.


Owekkk! Muntah dalam hitungan detik. Aprilia bersendawa tanpa suara kemudian.


"Darah orang haid? Atau darah wanita persalinan! Darah nipas? Kau sangat mengerikan!"


Dup-dup-dup! Jantung Aprilia berlari takut membayangkan apa saja yang telah di hisap oleh Ade sebagai seorang kuyang.


"Ade kau sangat mengerikan!" komentar Aprilia.


Aprilia menghela napas panjang. Menyingkirkan rasa jijik. Dia kembali, menggunakan sponge. Mengambil satu gelas yang masih berisi cairan merah kental dan basah.


Aroma darah kotor itu terendus busuk.


Prang!!! Gelas tergelincir dari tangan penuh sabun Aprilia. Gelas pecah mencium lantai.


"Setiap iblis yang aku kenal. Benar-benar hidup brutal dan menjijikan."


Bau amis yang tajam dan menyengat. Di sertai belatung yang terlihat bearakar dalam setiap kerak merah yang telah kering.


Aprilia menyingkirkan serpihan kaca yang berserak pada bak sampah. Mencuci tangannya. Mencari masker penutup wajah pada setiap nakas lemari yang bergantung.


Kret! Aprilia membuka pintu lemari. Dia menyipit mata, sekaligus takjub dengan beberapa sosok halus dengan balutan pakaian indah yang pernah di perkenalkan Ade untuknya.


Aprilia membola sesaat. Menghitung setiap thumblr yang memenuhi lemari Ade.


"Sepertinya jin Ade tambah banyak. Namun, hidupnya tidak pernah berubah juga. Tetap saja , hidup di bawah standar. Pelihara Jin! Tetapi, tidak kunjung kaya raya."


Setiap Jin itu tampak melotot. Seakan, tidak senang akan komentar yang di lontarkan Aprilia.


"Lebih baik pelihara tuyul daripada jin."

__ADS_1


Aprilia terkekeh sendiri, dan menahan napas kemudian. Teringat akan Tuyul Moon dan Sadewa, dua sosok pemberi uang yang telah membuat hidupnya, tidak perlu kerja keras.


"Sekarang kalian tidak berada di dalam botol kaca lagi? Jin Ade sudah upgrade tempat tinggal. Berada dalam thumblr."


Setiap jin dengan balutan gaun indah dari kain sutera pilihan. Setiap jin   menatap sinis padanya. Seakan, tidak senang tidur pagi hari mereka di ganggu.


"Aku teman Ade," sapa Aprilia melambai tangan, dan mengetuk-ngetuk botol plastik.


Setiap jin terlihat tidak perduli padanya.  Kembali, melanjutkan tidur. Aprilia mundur tidak ingin mengganggu jin-jin tidur itu. Aprilia segera menutup kembali pintu lemari. Lalu, dia membuka laci meja di sisi kompor.  Menemukan masker. Lalu, melanjutkan mencuci piring dan gelas dengan darah yang menjijikan.


Pukul satu malam.


Aprilia yang sedari tadi telah mempertahankan kelopak matanya untuk terus berjaga. Kini, tampak lunglai dengan kepala yang telah terlelap pada lengan sofa.


Ruangan apartemen itu tampak gelap. Hanya sinar rembulan yang menembus pintu kaca balkon menjadi penerangan satu-satunya.


Kret!


Tak lama pintu kamar yang di tempati Ade terbuka lebar. Wanita yang telah tertidur begitu lama itu. Kini, telah beranjak bangun. Berdiri dengan sepasang mata yang tampak melotot. Kepalanya berputar-putar ke kiri dan kanan dengan cepat. Lalu, kepala tampak berpisah dari raga secara perlahan. Kepala dengan rambut merak itu mengambang ke langit-langit kamar, di ikuti setiap organ dari jantung hingga tali usus hingga lambungnya yang terlihat pipih. Kepala dengan organ itu bergerak mengambang.


Lalu, raga Ade berjalan tanpa kepala. Menuju balik pintu kamar. Seakan, balik pintu adalah persembunyian miliknya yang paling aman.


Kepala Ade keluar melewati garis pintu kamar miliknya. Wajah pucat, tanpa mimik, dengan sepasang mata suram yang tak memiliki kehidupan itu berjalan menuju balkon.


Krettt! Pintu balkon bergerak ke kiri. Terbuka lebar. Semilir angin menyeruak masuk. Mengibarkan setiap gorden pintu.


Bergerak menuju balkon. Hembusan angin segar, tepat pukul satu dini hari. Membuat setiap rambut merak Ade berkibar-kibar, menutupi sebagian  wajahnya. Dalam satu kedipan. Kepala itu naik menuju langit hitam. Dia melesat bagai cahaya di langit, terbang di udara, dan dia tampak bagai salah satu bintang yang sedang berkelap-kelip.


Kepala Ade terus bergerak melesat bagai bintang yang sedang berlari bak bola api melintasi langit. Hingga akhirnya dia telah menentukan titik persinggahannya. Kandang ayam. Kepalanya menukik turun ke sisi tergelap kandang ayam, bak bintang jatuh, dia melesat turun.


Cit! cit! cit! Hiruk pikuk ribuan ayam terdengar berisik, dari setiap kandang yang berjejer rapi, dengan setiap penjaga yang tampak lunglai lelap tidur dalam rumah pondok yang hanya menggunakan lentera.


Sepasang matanya membola. Lidahnya berliuk-liuk lapar menyentuh setiap dinding mulutnya. Tidak sabar ingin mengigit setiap leher unggas, dan menyedot darah manis yang segar. Kepala Ade bergerak liar, seakan napsu dan laparnya. Tidak mampu dia tunda lagi. Kepalanya beredar mencari celah pintu. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author: ayam mati jadi potongan ayam KFC. Tapi bekas Ade sedot darahnya, mana bisa jadi KFC. 🤪 Jangan lupa like yah. kita tggu aksi Ade sedot darah ribuan ayam. Biar pemilik ayam jantungan.

__ADS_1


Pemilik ayam : OMG! Ayam-ayamku mati!


__ADS_2