
...Mencintai itu lebih banyak mengeluarkan rasa walau rasa dicintai yang datang kembali lebih sedikit, kau kan tetap bahagia....
...— Eouny Jeje—...
...Tidak ada hal yang paling menyedihkan, selain segala sesuatu milikmu, di lucuti,di regut oleh orang terkasih....
...— Santi—...
...꧁❤•༆PJP 79༆•❤꧂...
Satu Minggu Kemudian ...
Santi menatap wajah Ratih yang terbingkai dalam pangkuan kakinya. Ratih telah di kebumikan,dan ada rasa rindu menyerggap hatinya yang tidak akan bisa bertukar pandang akan sosok yang pernah mengandung dan merawat dirinya.
"Nyonya Santi,ada Mba Nung!"
Santi mendongakkan wajahnya. Matanya bertemu dengan sosok yang telah melepas ilmu serapan Ratih, sehingga ruh ibunya mampu lepas dari raganya.
"Mba Santi," sapa Mba Nung yang segera duduk di sisi wanita kaya dengan gemerlap kuning di leher dan tangannya.
"Apa sudah baikan? Sudah bisa tenang?"
Santi menggelengkan kepalanya, "Setelah meninggal, satu kalipun ibu tidak pernah menjumpaiku di mimpi, Mba Nung. Aku sangat sedih, aku takut dia marah padaku, sehingga dia tidak berkenan mejumpaiku Mba Nung."
Santi menitikkan air matanya
Mba Nung menggelengkan kepala, "Dia sudah tenang di sorga. Lebih baik, mba Santi kembali bersemangat dan menyayangi diri sendiri."
Santi akan berkata. Namun, suara langkah dua sosok yang turun dari tangga, mencabik-cabik hatinya. Tidak pernah dia sangka, jika tempat tidur utama miliknya akan menjadi milik Aprilia. Tempat tidur seorang Nyonya rumah akan di berikan dengan cuma-cuma pada seorang yang telah merebut suaminya.
Santi menahan napasnya. Dia bodoh saat itu. Saat kematian ibunya, tanpa sengaja dia menandatangani semua dokumen perpindahan harta untuk Sadewa. Dia tidak memeriksa dokumen ahli waris, karena kesedihannya yang luar biasa saat itu, dia hanya meletakkan kepercayaan pada suaminya, dan kini segala sesuatu telah berpindah nama atas Sadewa.
Tidak ada hal yang paling menyedihkan, selain segala sesuatu milikmu, di lucuti,di regut oleh orang terkasih.
Santi menunduk menatap wajah ibunya kembali. Ada setitik air mata jatuh menyentuh wanita tua yang telah terbingkai itu.
__ADS_1
Mba Nung mengamati dalam diam. Dia memandang sosok wanita pendatang baru yang terlihat sangat berbeda dengan penampilan pertama di saat pertama kali bertemu. Rambut hitam legam telah berganti menjadi warna pirang blonde.
Jujur saja terlihat sangat norak! Wanita perebut suami orang ini, udik berangkat ke kota, geli Mba Nung dalam hatinya yang menilai pakaian Aprilia lagi.
Potongan pakaian yang di kenakan Aprilia saat ini, merupakan edisi pakaian yang lagi trend yang di popularkan oleh artis papan atas.
Baju mahal mampu menutup segalanya. Termasuk hati, lanjut Mba Nung dalam hatinya.
Pandangan Mba Nung beralih pada Santi yang gemerlap dengan perhiasan berkilau. Namun, hanya menggunakan daster yang harganya dapat di jangkau oleh kalangan bawah, wajahnya terlihat kusam, tidak terawat dengan mata cekung yang terlihat jelas seperti ratu yang tersiksa dalam istananya sendiri.
Miris sekali perbandingan ini, dalam sekejap yang di langit pun jatuh ke bumi, ucap Mba Nung kasihan pada nyonya rumah yang seakan mengalami nasib malang berturut-turut. Jatuh, di timpa tangga, dan di lempar batu pula.
"Mas, jangan lupa setelah meeting. Cepat pulang, makan malam bersama kami," pinta Aprilia di tengah ruang tamu bersama Sadewa yang merangkul mesra pinggang Aprilia.
Santi di kejutkan kalimat Aprilia, segera meletakkan bingkai foto, menyeka air mata, mengenakan topeng iklash, dan mendekati suaminya.
"Iya, mas. Lebih baik makan di rumah daripada di luar," timpal Santi dengan suara manis dan tidak berdaya. Dia yang dulu bersikap ketus, sekarang harus pandai menahan diri dari setiap amarah yang ingin dia lontarkan ke dalam satu kalimat.
"Tentu saja, aku akan pulang cepat." Sadewa memberikan kecupan pada kening Aprilia. Lalu, mencium kening Santi.
Penderitaan berbagi yang terpaksa. Ingin rasanya segera mati menyusul ibu. Namun, aku tidak rela. Jerih payah ibu jatuh kepada wanita laknat ini. Aku tidak rela, keluh Santi dan meminjam bahu Sadewa untuk bersedih menangis lagi.
"Masih bersedih?"
"Iya, mas. Ingat ibu."
"Sudahlah. Aku akan menghiburmu nanti malam."
Santi menganggukan kepala seperti anak kecil yang patuh. Dia telah menempati kamar Ratih, ibunya, semenjak kamar miliknya di regut Aprilia dengan alasan dia takut tidur di lantai pertama, karena pernah melihat Ratih menyapanya.
"Mas, tunggu. Aku perbaiki dulu dasimu," cegat Santi kemudian dan dengan cepat memperbaiki pola ikatan dasi.
"Aprilia masih belum pandai mengikat dasi dengan baik," dalih Sadewa yang melihat tatapan Aprilia tidak suka akan tangan lincah Santi yang membenarkan pola ikatan dasi Sadewa.
"Iya, belum pandai. Aku akan belajar dengan mbak Santi."
__ADS_1
Kau memanggilku mbak. Sejak kapan aku menjadi mbak seorang wanita perebut suami orang? Aku ingin meludah ke wajahmu Aprilia. Kau itu udik, mengikat dasi pun tak mampu. Kau itu hanya bebek yang ingin jadi angsa berbulu emas, kesal Santi dalam hatinya.
Setelah memperbaiki pola simpul dasi Sadewa. Sadewa kembali memberi kecupan pada Santi, dan mengelus perut Aprilia, "Jaga anak kita, sayang!"
Aprilia melambai pergi mengantar Sadewa. Begitu pula Santi. Mobil Sadewa melesat pergi. Menyisakan rasa perseteruan yang tertinggal antara Santi dan Aprilia yang berpijak pada teras yang sama.
"Mbak Santi, aku ke lantai dua. Ingin beristirahat karena mual perutku sering kumat."
Santi menyipit tidak senang, dia teringat akan struk daftar belanja yang terbuang dalam bak sampah. Ada pembelian pembalut di antara daftar tersebut.
"Hamil kok datang bulan," sindir Santi.
Mengejutkan. Sepasang mata Aprilia pedas seketika. Dia telah ketahuan. Dia berbalik dengan sepasang mata terlihat panik dengan wajah terlihat datar.
Darimana Santi tau? Tidak penting mencari tau hal itu. Aku hanya bisa lanjut berbohong lagi.
"Saya tidak sedang datang bulan kok mbak!"
Santi merogoh struk dalam saku dasternya, "Ini apa?"— Santi mengangkat tinggi struk pembelian ke udara—" Bukti ini akan kuberikan pada mas Dewa. Jika dia tidak sedang bertemu klien besar, aku sudah pasti membongkar rahasiamu pagi ini!"
Aprilia tersenyum. Bersiap menarik secarik kertas kecil dari tangan Santi. Namun, Santi lebih gesit menyembunyikan kertas kecil itu dalam genggaman tangannya kembali.
"Bukti yang tidak terbantahkan! Sadewa akan segera mengusirmu!"
"Mba hanya menerka. Membeli pembalut belum tentu untuk saya. Jangan berburuk sangka. Karena Imah lah yang datang bulan."
...꧁❤•༆PJP 79༆•❤꧂...
...Yuk jangan lupa setelah baca tinggalkan komentar dukungannya untuk sang tokoh Sadewa pilih Aprilia atau Santi?...
...Akankah kehamilan palsu itu ketahuan?...
...atau Aprilia di buat hamil lagi nih?...
...Jangan lupa mampir ke cerita Horor Author:...
__ADS_1
...Hantu Istriku Balas Dendam, lanjut season 2....