Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 39


__ADS_3

"Sahabat bagaimana? Aku menolak di repotkan. Antar kepala seperti tadi. Sungguh membuat darahku berdesir, dan jantungku berdegup kencang," omel Aprilia berpaling, menjatuhkan tangan Ade begitu saja. Dia berjalan ke tepi balkon, tangannya membentang mencengkram pagar balkon. Sepasang matanya jatuh menatap pemandangan di bawah balkon. Indah dan banyak lampu di bawah sana, bagai melihat kunang-kunang yang mematung diam di tempatnya dengan cahaya yang berkilat terang.


"Berteman denganku menguntungkan."


Aprilia menatap ke lawan bicaranya yang telah berdiri dengan jarak dua langkah dari sisinya. Rambut Ade terlihat terbang indah di tiup angin. Dia hantu kepala yang sangat cantik. Gaun lingerie malam yang tipis dan menerawang tercetak jelas mempertontonkan tubuhnya. Dia hantu kepala yang sangat sexy.


Aprilia menghela napas. 10 persen kecantikan Ade saja tidak dapat dia miliki. Hantu di beri keindahan aku yang manusia di beri rupa seperti ini, keluh Aprilia seraya terus menatap lekat dan diam-diam hatinya berdesir memuja kecantikan tiada tara Ade. Jika dilihat dnegan seksama, Nana bahkan tidak bisa mencapai nilai keindahan yang di miliki Ade.


"Mengapa menatap padaku? Kau jatuh cinta?"


Aprilia menggelengkan kepala. "Aku masih normal. Menyukai lelaki, dan masih menyukai apapun yang berbau lelaki."


Ade tersenyum lebar, "Lalu apa yang membuatmu terpana padaku?"


"Kau terlihat cantik." — Aprilia mengubah arah pandangnya. Kembali menatap pemandangan balkon— "Apa rahasiamu? Apakah itu original? susuk ? atau operasi plastik?"


Ade berjalan mendekat. Dia mendekatkan dirinya pada Aprilia, dan bertutur tentang dirinya, "Kecantikan yang dimiliki setiap kuyang itu alami. Fisik cantik memang anugerah yang selalu kami dapatkan sebagai titisan. Susuk, aku tidak menggunakan susuk. Kami memiliki minyak khusus untuk daya tarik dan pelet."— Ade memegang wajahnya — "Operasi plastik? Aku belum punya uang untuk itu. Tetapi, kuyang tidak perlu memerlukan itu. Kami akan tetap awet muda dan cantik."


Aprilia terkekeh. "Mengapa kau tidak punya banyak uang. Tetapi, malah berjanji memberikanku uang? Padahal kau juga miskin."


Ade memutar tubuh Aprilia, dia menatap Aprilia dengan mata yang menyipit, "Karena kami tidak boleh kaya raya."


"Hah?" Aprilia melongo tidak percaya.


"Yang bisa kaya adalah pemilik kami. Biasanya hal ini diperuntukan untuk pria yang akan menjadi suami kuyang atau menjadi Tuan atas kami. Tetapi, hatiku kini memilih dengan yakin, kau menjadi Tuan atas diriku. Kau bisa memiliki ku."


"...." Aprilia makin terheran-heran. Di sebut beruntung atau kesesatan?

__ADS_1


"Ya. Aku memilihmu. Lagipula, aku belum tahu kemana hatiku harus mendarat."—Ade menghela napas— "Aswin hanya membutuhkan teman tidur. Dia tidak mencintaiku."


"Lalu rencanamu?"


"Akan putus segera. Aku hanya bermain-main dengannya." —Ade menghela napasnya— "Lagipula aku tidak betah tinggal di apartemen setinggi ini."


Aprilia melongok ke dalam ruangan apartemen. Kamar apartemen Aswin terlihat mewah, dan perabotan berkualitas A. "Mengapa tidak betah. Apartemennya bikin nyaman."


Ade terbahak. Bibirnya mendekati telinga Aprilia, dan dia berbisik, "Aku katakan rahasiaku. Aku kuyang yang takut ketinggian."


Aprilia melirik sebentar dan dia menatap ke bawah balkon. 44 lantai. "Memang sangat tinggi dan mengerikan. Bukankah kau bisa terbang?"


"Betul kepalaku bisa terbang jauh tinggi bak layang-layang yang di bawa angin terus ke puncak langit. Tetapi, jika aku kelaparan dan lemas seperti tadi. Aku akan mudah jatuh begitu saja."— Ade menggelengkan kepala— "Apa kau tahu, sebelum aku menjumpaimu. Kepalaku terbang untuk mencapai balkon ini. Namun, terus jatuh berkali-kali. Melompat, dan jatuh lagi."


Aprilia terbahak membayangkan kepala Ade bagaikan bola yang di pantulkan ke tanah berkali-kali, "Apa itu sakit?"


"Hebat!" puji Aprilia dan menatap ke bawah balkon. Aprilia bergindik takut melihat ketinggian lantai, tempat mereka berpijak. Aku tidak bisa membayangkan jika aku jatuh dari balkon. Setelah matahari terbit, bukannya sembuh. Namun, akan segera di kubur masuk ke dalam tanah. Aprilia merinding akan pemikirannya sendiri.


"Kau banyak nyawa. Pasti menyenangkan.


"Apa kau tidak percaya bahwa aku tidak bisa mati? Terkadang aku menangis, merindukan kematian."


Sepasang mata Aprilia membola. Sedih dan prihatin dalam netranya. Dia tidak pernah percaya mitos. Namun, kali ini dia akan percaya apapun yang di ucapkan ade.


"Apakah ada cara agar tidak mudah mati?"


Ade pun membuka telapak tangannya. Tiba-tiba saja ada Lima botol di telapak tangannya. Botol minyak bewarna hitam. Botol minyak bewarna putih. Botol minyak bewarna merah. Botol minyak bewarna hijau.

__ADS_1


"Lima botol ini masing-masing di miliki oleh Jin yang memiliki khasiat dan kemampuan luar biasa. Mereka memiliki nama asli yang rumit jika aku sebutkan."—Ade terkekeh sebentar— "Jadi, aku memberi mereka semua dengan nama panggilan. Agar aku mudah memanggil mereka semua."


Aprilia menarik napas. Lalu, duduk bersama Ade di kursi panjang yang bersebelahan dengan tanaman bambu.


"Ini rahasiaku."— Ade meletakkan telunjuk pada bibirnya— "Jangan pernah membongkar rahasiaku. Karena kau adalah majikanmu sekarang. Dengan senang hati aku memberitahu dan berbagi abdi denganmu."


Aprilia terlihat tegang. Mimpi apa aku semalam? Tiba-tiba memiliki abdi kuyang beserta jin.


"Namun, yang bisa memerintah abdi itu hanya aku. Kecuali, kau menelan minyak ini. Kau bisa menjadi abdi atas lima jin milikku."


Aprilia menggelengkan kepala. "Tidak. Tidak! Aku masih percaya Tuhan. Aku tidak ingin menjadi Tuan atas siapapun."— Aprilia menaruh rasa penasaran pada botol minyak— "Bolehkah aku berkenalan dengan mereka? aku hanya penasaran, dan ingin tahu saja. Tetapi, jika itu berbahaya. Urungkan saja."


Ade terkekeh, "Tenang saja. Mereka adalah abdi. Mereka tunduk padaku. Mereka tidak akan menyakitimu."


Ade pun mengangkat botol minyak hitam ke udara, "Botol minyak hitam untuk ilmu kebal, tahan terhadap tebasan benda tajam, peluru bahkan pemiliknya dapat menghilang dengan cepat tanpa jejak." — Ade meniup botol— "Dia kuberi namanya Jenny. Janda yang galak."


"Hah? janda" Aprilia masih melongo sebentar. Ade menganggukan kepala mengiyakan bahwa Jin tersebut berstatus janda. Lalu,tiba-tiba saja asap putih mengepul keluar dari botol, dan seorang wanita cantik berwajah bengis terlihat berlutut dan memberi hormat pada Ade.


"Apa dia janda benaran?" Aprilia menatap takjub akan sosok halus yang terlihat cantik dengan setiap fitur tegas, dan tidak sedikitpun terlihat ramah. Sepasang matanya tiba-tiba menatap sinis pada Aprilia. Dia terlihat tidak suka pada Aprilia, akan pertanyaan itu.


"Jenny, jangan menakuti sahabatku," sahut Ade. Ade menepuk tangan dan sosok halus bernama Jenny itu kembali ke dalam botol. Lalu, Ade mengangkat sebuah botol bewarna putih.


......................


Bersambung ....


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .

__ADS_1


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo. ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2