
...Tentu saja. Tidak akan pernah membosankan, jika ranjang ini bergoyang menuruti permintaanmu. Jika, Aprilia berhenti bergoyang. Segala sesuatu akan terlihat seperti kredit macet....
..._Tina_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tina memposisikan dirinya miring dengan berlabuh di dada telanjang pria itu, dia bergumam, "Oppa, apa yang sedang kau pikirkan?"
Alam pikiran Sadewa terlihat membolak-balikan setiap lembaran lama dalam ingatannya. Setiap pikirannya di pacu lari untuk melupakan.
"Oppa, apakah kau tak puas?" tanya Tina dengan suara tingi.
Suara itu mengejutkan. Sadewa mendongak menatap wanita yang memayungi dirinya saat ini.
"Apakah kau tak puas?"
"Puas?"
"Apa yang telah kita lakukan?"
Sadewa menghela napas, "Yang kita lakukan, sangat menyenangkan. Tidak membosankan."
Tentu saja. Tidak akan pernah membosankan, jika ranjang ini bergoyang menuruti permintaanmu. Jika, Aprilia berhenti bergoyang. Segala sesuatu akan terlihat seperti kredit macet.
"Oppa, tidurlah lebih awal. Kau pasti lelah. Menangis separoh malam. Bercinta separoh malam lagi."
Sadewa tersenyum memejamkan matanya. Tangan Tina mejentik di udara, dan pria itu terlelap lebih cepat. Lalu, telunjuk Aprilia meruncing tajam, menyentuh sepanjang rahang pria tirani itu.
"Kuku ini ingin merobek langsung kulit wajahmu. Berapa topeng yang kau kenakan? Hanya untuk menjadi penipu misterius."
Telunjuk Aprilia mundur perlahan bersamaan dengan raga yang sempoyongan ke belakang. Raga itu jatuh lemas. Lalu, sosok ruh berbaju merah itu keluar dari raga Aprilia. Sekejap wanita itu berdiri di depan cermin besar.
"Kata orang. Hantu takut becermin."
Tina meraba cermin. Lalu, bayang wajahnya terpantul. Dia tersenyum menatap setiap pantulan fisik dirinya.
"Namun, aku bukan hantu penakut. Sekarang, aku akan selalu hadir di dalam cermin kalian, Sadewa. Aku akan membuat kalian takut melihat cermin."
Tina tertawa ironis, dengan bibir putih pucat, dan perut rata yang tiba-tiba membuncit besar perlahan. Gaun merah sekitar perut, robek terkoyak. Lalu, perut itu terpampang dengan setiap urat biru hijau yang terlihat.
"Aku sedang hamil anakmu, saat itu. Namun, kau berkata dia bukan anakmu."
Tina meneteskan air matanya. Menusuk kuku ke dalam perutnya, merobek daging dan perlahan menarik embrio kecil yang terlihat utuh dengan fisik yang terlihat lengkap, dengan kulit kemerahan. Embrio itu masih terhubung dengan tali pusat miliknya.
Tina menengok pada perut yang berlubang besar dengan setiap ulat belatung yang bergantung. Lalu, dia menatap seorang bayi terlihat pucat dengan sepasang mata hitam melingkar, dan melotot padanya.
"Bisakah kau bangun dan bertanya pada anak kita?" Tina mengedipkan sepasang matanya. Lalu, bibir sang bayi kecil itu bergerak dan berkata, "Ayahku adalah Sadewa. Mengapa ayah tak mengakuiku? Apakah aku kotor? Jika aku kotor, bukankah ayahnya-lah limbah kotor pula."
"Ssst!" Tina meletakkan jemarinya pada bibir kecil itu. Bibir itu segera terkunci, dan terlihat terlelap kemudian.
"Jika, aku terus hidup. Kita akan memiliki seorang anak yang lucu, cantik, Sadewa. Anakmu seorang perempuan. Namun, kau telah membunuh dua perempuan itu sekaligus."
"Hmmmm ...," gumam Aprilia.
__ADS_1
Tina berpaling ke asal suara. Terlihat Aprilia tersenyum dalam alam bawah sadarnya.
"Wanita yang di puja Sadewa. Apakah kau memiliki hati, jika mengetahui kisahku? Bagaimana Sadewa mencampakkanku? Atau kau akan seperti teman-temannya ikut meludah pada hidupku dan anak dalam perutku. Ketika, hal malang itu terjadi. Mereka hanya berkata aku-lah yang murahan. Aku-lah sang penggoda."
Tina menelan isak. Segala sesuatu terlihat bergoyang bagai angin datang menguncang seluruh isi kamar.
"Menyedihkan menjadi seorang wanita yang di isap madunya, dan kumbangnya pergi ke bunga lain. Mengapa hanya wanita yang memiliki cap murahan, jika hanya tidur bersama kekasihnya? Lalu, seorang pria tidak memiliki jejak murahan itu. Jika, kau tau cerita ini dengan baik, kau akan ikut menangis bersamaku."
Tina meneteskan air matanya. Menyeka air matanya kemudian. Kala, satu sosok terlihat berada di belakangnya. Kuku jemari itu menyentuh dingin pundaknya.
"Apakah kau ingin menjadi puteriku?"
Tina berpaling menatap wanita tua yang terlihat sedikit bungkuk. Pertanyaan itu terdengar konyol di telinga Tina.
"Kau Nenek Mayang?"
Nenek Mayang tersenyum dan mengangkat dagu kesombongan miliknya, "Bingo, Nenek Mayang adalah Eoma untuk para hantu. Devil Mother."
"Apa keuntungan menjadi anakmu?"
"Mendapat sertifikat tentunya," seloroh Nenek Mayang dengan salah satu mata berkedip genit.
Tina melongos. Tidak pernah menyangka jika seorang iblis wanita yang terkenal kejam di depannya, akan menjadi pandai bergurau.
"Kau hobi bercanda."
"Agar kematian tidak di sebut membosankan. Karena, yang bosan hidup. Akan mati. Namun, yang bosan mati, tidak akan pernah hidup kembali. Oleh itu, jangan bosan akan kematian milik kita."
"Kau ingin apa dariku?"
Aprilia adalah ranahku."
"Kau sedang bernegosiasi denganku."
Nenek Mayang menggeleng.
"Aku mengajakmu makan bersama. Makan setiap wanita penyuka nanas muda. Mangga muda. Kedondong hijau."
"...."
"Aku tidak akan menghentikanmu menyiksanya. Hanya saja, aku ingin setiap janin miliknya adalah milikku."
Tina meraba perutnya.
"Kau ingin mengambil keuntungan dari hantu yang mati mengandung. Kau ingin menggunakan kekuatanku untuk mengambil janinnya? Dasar iblis!"
"Kau boleh membuatnya bercinta dengan merobek celana pria manapun itu, mengandung dan gugur kembali. Bercinta. Gugur lagi. Bercinta. Gugur lagi."
"Apa keuntungannya bekerja sama denganmu?"
Nenek Mayang tersenyum sinis. Dalam sekejap, dia bergerak cepat, dan tangan itu mencekik erat leher Tina.
"Seorang Eoma tidak akan mencekik anaknya. Bukankah itu keuntungan?"
__ADS_1
Tina melotot. Berusaha keluar dari cengkraman. Namun, tak mampu.
Nenek Mayang melonggarkan cengkraman dan berbisik, "Aku membutuhkan kekuatanmu menyedot janin itu. Kekuatan vakum cleaner. Bantu aku persembahkan janin-janin itu."
Tina meraba lehernya. Dia terlihat sesak. Lalu, pulih kemudian dengan cepat.
"Aku akan membantumu dengan dua syarat."
"Kita tidak sedang bernegosiasi."
"Jika, kau lenyapkan aku. Kau hanya akan kehilangan seorang putri penyedot janin yang membuatmu kenyang."
"Aku menjadikanmu sebagai puteriku. Bukan hanya untuk penyedot. Penyedot hanyalah side job. Aku ingin menjadikan kau kuat, untuk menjadi abdi terkuat milikku. Melawan Arum."
Tina mengangkat pandangan, "Baik, Eoma."
Nenek Mayang melompat bergembira, dan bersenandung kembali.
Dan aserejé-ha-let
Y aserejé-ja-dejé
De jebe tu de jebere seibiunouva majavi an de bugui an de güididípi
"Bukan hanya Aprilia yang aku sedot janinnya. Bahkan, setiap orang di sekitarnya. Akan kusedot janinnya dengan mudah. Tanpa harus merobek, mencakar, dan bersusah payah."
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku hanya ingin membuat Aprilia terlihat murahan. Sadewa terlihat kuda liar."
"Syaratnya mudah. Aku akan membantumu, puteriku."
Nenek Mayang mendekat ke sisi ranjang. Tanpa malu melihat kepolosan tanpa selimut itu. Diapun segera membentangkan selimut ke udara, dan menjatuhkan tepat pada dua raga yang telanjang, dan terlelap itu. Lalu, dia duduk berjongkok. Memasukkan tangannya ke balik selimut. Meraba perut rata Aprilia. Dia seakan mencari jejak baru di dalam sana. Janin kecil yang berenang-renang lincah.
"Belum bisa mendengarnya. Aku akan memeriksa seminggu kemudian lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nenek Mayang menatap Author.
Author : May, sekarang ada batang biru yang setelah berhubungan langsung bisa di prediksi kehamilan atau nggak Lo!
Nenek Mayang : kurang akurat!
Author : Iya, akuratan kamu deh. Bahkan kamu bisa tau siapa bapak anak Aprilia 🥱
Nenek Mayang : Devil mother gituloh.
Author : kalah lu ma Tina. Tina bisa culik janin tanpa rasa sakit.
Nenek Mayang : itu job deskripsi dia. Klo dengan nenek kan harus hitam di atas putih.
Author : kok gitu?
__ADS_1
Nenek Mayang: Hobi siksa sampai cerita author berakhir. Itulah job deskripsi Nenek Mayang!