
...Manis gula memiliki arti silent killer. Pembunuh dalam diam....
..._Ade_...
...Iblis stroke! Kau pandai bergurau!...
..._Aprilia_...
...***...
"Jangan berpikir menghukumku. Apa kau tau? Banyak sekali yang ingin menghukumku. Ingin rasanya aku pelet, agar mereka tidak mengincar nyawaku."
Ade mendongakkan wajahnya, dia menatap serius sekaligus kasihan, "Sungguh prihatin akan nasibmu? Siapakah mereka?"
"Eoma Mayang dan sister Manis."
"Manis? Manis jembatan Ancol, temannya Oni."
"Nama aslinya Tina. Namun, dia memperkenalkan diri sebagai Manis."
"Manis gula memiliki arti silent killer. Pembunuh dalam diam."
Aprilia mengigit bibirnya. Wajahnya lebih cemas, takut. Teringat akan ancaman hantu wanita itu.
Aprilia menggelengkan kepala, "Manis adalah mantan Sadewa."
"Biarkan aku menebaknya. Dia hantu penasaran. Yang mati karena cinta atau karena sesuatu yang menyedihkan. Patah hati. Apakah begitu?"
Aprilia tertawa, meredakan tawanya. Lalu, berkata, "Dia selalu menyebutkan ingin menjemput mempelai pria yang sangat dia cintai. Hantu ingin menikahi manusia."
"Hemm!" Ade mengangguk-angguk berpikir. Seakan tebakannya saat ini berseberangan dengan hal yang di sebutkan Aprilia.
"Ada hal yang tertutupi! Apakah dia di perkosa? Hingga dia dendam! Jika sekedar cinta. Tidak akan seperti ini. Karena, seorang hantu menunjukkan wujud itu harus memiliki kekuatan besar. Penyebab mereka tinggal, di sebut dendam."
Aprilia mengangkat kepala sedikit condong menatap setiap pupil wanita di depannya, "Kau selalu pandai menebak dengan benar. Sesuai drama horor Thailand."
"Apa yang ingin mereka perbuat?" Ade tampak penasaran.
"Mereka ingin menitipkan bayi titisan dalam perutku. Lalu, aku akan mati bersama Sadewa kemudian. Aku sangat takut."
Aprilia mengigit kukunya. Lalu, melepas jemarinya, dan berkata kemudian, "Apa kau memiliki cara menghindari bayi titisan? Aku seakan telah makan buah simalakama. Tidak hamil, kematian menyerangku. Namun, hamil, kematian menyerangku pula."
Ade menghela napas. Menepuk-nepuk kasur. Memberi isyarat agar Aprilia duduk bersamanya.
Aprilia duduk. Wajahnya putih pucat.
Lalu, dia menatap Ade dengan sepasang mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Apa kau punya cara?"
"Ada. Namun, sangat sakit. Rasanya seperti bergumul dengan kematian." Ade menyeringai dengan mata yang turun menatap organ di bawah pinggul Aprilia.
"Apa yang kau lakukan?"
"Mengangkat rahim. Hal ini akan mengacaukan rencana Mayang dan Manis."
Aprilia tampak ambigu. Menopangkan dagunya. Lalu, menggelengkan kepala.
"Apakah kau ingin memakan milikku maksudmu? Kau akhirnya memakan temanmu! Menyedihkan sekali diriku."
"Iya!" ujar Ade antusias. Tanpa malu. Membolakan matanya dan menunjukkan kerakusan.
"Gagal mengigit ayam Jawa Barat. Aku akan memakan rahim milikmu, sebagai hukumannya."
Aprilia menghela napas panjang. Dia tampak berpikir keras, "Apakah rasanya lebih sakit daripada lidah yang teriris dengan silet?"
"Kau coba saja sendiri sensasinya. Perih sakit dan tersayat. Bahkan lebih sakit daripada daging lidah di iris-iris dengan silet. Aku sulit berkata-kata untuk hal ini."
"Apakah hal ini lebih baik daripada menjadi wanita hamil?"
"Tentu saja bodoh!"
"Namun, Eoma Mayang menuntut diriku hamil! Jika tidak, dia akan memakanku lagi!"
"Tetapi dia kan bukan kuntilanak!"
"Cara membunuh iblis memiliki penanganan yang sama dengan kuntilanak! Semua iblis ataupun hantu. Jika otaknya di tancap. Tidak mampu berpikir kembali. Hanya jadi iblis stroke kemudian."
Aprilia terbahak keras, "Iblis mampu stroke! Kau pandai bergurau!"
"Kau manusia. Jangan lebih bodoh dari iblis. Bukankah kalian memiliki Tuhan. Sedangkan kami adalah mahluk yang bersebrangan dengan Tuhan!"
Aprilia tertohok.
"Untung saja Sadewa mampu menutup aib kalian. Perselingkuhan di belakang Santi."
"Dia juga memiliki aib!" teking Aprilia merasa tersindir.
"Oleh itu, kalian berdua adalah pasangan cocok. Memahami masalalu pekat hitam. Jika, hal itu terjadi padaku. Melirik pasanganku, tidak akan pernah. Sekali ketahuan berselingkuh. Aku akan meninggalkannya."
Glek! Aprilia menelan ludah. Lalu, berkata kembali, "Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk proses pengangkatan rahim tersebut!"
"Berbaring dan tutup mata!"
Aprilia menghela napas panjang dan berbaring kemudian.
__ADS_1
"Aku akan memulai?"
"Tunggu dulu. Apakah tidak ada obat bius dulu? Atau obat anti sakit?"
"Apakah kau sedang bercanda denganku? Aku bukan dokter, atau perawat! Aku Kuyang, menyukai jeritan korban."
Aprilia pasrah. Mengheningkan cipta kemudian. Memejamkan mata, dan menganggukkan kepala, berkata lirih kemudian, "Lakukanlah!"
Ade tersenyum miring. Kepalanya kembali terlepas dari raga. Lalu, lidahnya menjulur panjang terlihat pipih dan berkelit-kelit, dan dari rongga mulutnya, terdengar suara desis panjang.
Dress Aprilia terkesiap hingga pangkal pahanya. Lalu, lidah panjang Ade berkelit-kelit masuk melalui rongga inti wanita Aprilia.
Lidah itu bagai ujung pisau, bagai pipih besi dengan gerigi tajam yang melukai. Kresh! Kresh! Kresh! Sayatan dari lubang liang terdengar merobek tajam.
"Arggg!" rintih Aprilia sakit.
Ade tampak tak perduli. Lidah dalam rongga bagai memiliki mata. Terus bergerak dalam saluran yang tampak seperti terowongan panjang, dan gelap. Cairan merah tampak jatuh menghujani batang lidah Ade. Lalu, lidah tipis itu perlahan menemukan lubang perut.
Krak! Krak! Krak! Lidah bagaikan bergerigi merobek setiap lapisan dalam perut. Terus bergerilya, dan menemukan kantong rahim yang tampak kecil bergantung.
"Arggggg!" histeris Aprilia. Ade tampak bersemangat. Menjepit kantong rahim. Krasshhh! Sabetan lidah melilit dan hendak menarik putus kantong rahim. Namun, tiba-tiba dia mampu merasakan kehadiran orok kecil dalam rahim. Mendadak dirinya menjadi tidak tega.
Rupanya Aprilia telah hamil kembali. Anak Sadewa.
Lalu, lidah itu bergerak perlahan mundur, menjilat bersih setiap bercak darah kotor. Lalu, dia menyembuhkan setiap luka akibat sabetan lidah pedangnya.
Pendarahanpun berhenti dalam hitungan cepat.
"Sudah selesai!" ujar Ade yang diam dalam keheningan panjang.
Untung aku masih memiliki rasa welas asih padamu, Aprilia.
Aprilia yang terpejam meringis, berpeluh keringat. Samar-samar, dia masih mampu mendengar suara Ade. Perlahan, dia membuka kelopak matanya yang berat, dan menatap abu-abu pada wanita di depannya. Yang terlihat hanyalah, Ade tampak memakan gumpalan tipis bagai lapisan lemak.
Setelah itu, pandangan menjadi gelap. Aprilia hanya merasakan cairan merah panas merembes perlahan keluar dari lubang liang miliknya. Lalu, dia tidak menyadari apapun yang terjadi setelah segala sesuatu terlihat gelap pekat, dan menghisap kesadarannya perlahan-lahan.
Sementara, Ade yang telah menghabiskan gumpalan darah kotor seperti hati ayam yang dikeluarkan. Tampak berjongkok di sisi ranjang. Lalu, duduk menjulurkan lidah, mengecap setiap cairan merah yang merembes dan menjadi bercak dari pangkal paha hingga betis kaki Aprilia.
Cukup kenyang! Ade bersendawa kemudian. Kepalanya bergerak mundur ke belakang. Lalu, merangkak naik ke atas lubang leher. Lalu, setiap organ berkelit, membentuk pipih panjang, dan masuk ke dalam lubang leher miliknya.
Krek! Krek! Krek! Terdengar suara penyatuan leher dan suara rekat kemudian.
"Manis sekali darah segar itu!" gumam Ade yang menyeka ujung mulutnya dari sisa-sisa cairan merah tersebut. Lalu, dia bergerak maju perlahan. Mendekat pada sisi ranjang. Menyeka peluh keringat Aprilia. Lalu, meninggalkan wanita itu berbaring di kamarnya.
"Untung! Aku tidak menghisap darahmu sampai habis! Hukuman untukmu cukup!"
...****************...
__ADS_1