
...Sadewa apakah kau lupa? Jika kau dan aku adalah suami istri. Suami istri tanpa buku nikah. Suami istri tanpa pesta pernikahan. Suami istri tanpa sepengetahuan orang lain. Konyolkan? Namun, kau melupakanku....
..._Tina_...
...Janji yang telah di lupakan. Bagai, asa yang pupus oleh waktu....
...Eouny Jeje...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 20.00 Wib
Aprilia tiba di rumah. Dia membawa dua kantong belanja besar. Dia telah menghabiskan waktunya seharian di mall dengan uang dalam rekeningnya yang tidak akan pernah habis, berkat Sadewa dan tuyul Moon.
Aprilia berdiri di ambang batas ruang tamu dan ruang keluarga. Dia melihat Sadewa terlihat menjamu dua wanita cantik, dan tampak seorang wanita paruh baya yang duduk berlutut di lantai.
Siapa dua wanita cantik ini? Membawa Toxic Honey?
Aprilia menatap curiga pada Sadewa. Apalagi, penampilan Sadewa terlihat dua kali lebih rapi, dan dia terlihat menonjolkan pakaian anak muda pada dirinya, malam ini.
Bertemu selingkuhan. Seorang pria biasanya akan lebih rapi.
Sadewa berpaling, merasakan iris mata tajam menyilet punggungnya. Dia tersenyum pada sosok yang telah lama di tunggu olehnya, akhirnya tiba.
"Lea, kemarilah."
Aprilia meletakkan kantong belanjanya ke atas nakas terdekat.
"Oppa," tegur Aprilia dengan sepasang pupil menatap dua wanita cantik yang di jamu Sadewa.
"Siapa mereka?"
"Mereka adalah teman untukmu."
Aprilia mengerutkan kening. Dia duduk di sebelah Sadewa.
Sadewa mengangkat satu alisnya, dan memberi instruksi untuk dua wanita muda itu memperkenalkan dirinya.
"Namaku, Raysa Millen. Panggil saja Millen."
"Dia masih rekan dari pemilik pabrik plastik terbesar di Indonesia."
Mendengar itu, senyum Aprilia lebih melengkung. Lalu, seorang wanita yang duduk berdampingan dengan Millen, membuka bibirnya memperkenalkan dirinya, "Namaku Zaa Ashanti."
"Property sangat banyak. Jika kau ingin kabur dariku. Kau tinggal beli salah satu rumah dari Ashanti."
Jika aku kabur. Aku tidak akan membeli satu property dari teman Sadewa.
Aprilia tersenyum. Terkekeh sebentar. Melirik pada Sadewa. Lalu, membuka mulutnya berseloroh, "Apa nama mereka sangat kebetulan? Millen dan Ashanti."
"Jika begitu. Kau bisa memperkenalkan dirimu sebagai Loli."
Aprilia terkekeh dan menganggukkan kepalanya, " Dan kau adalah Anang, Oppa?"
"Tidak. Aku adalah Atta!" Sadewa merasa lebih muda untuk penyebutan dirinya.
Aprilia melirik tajam. Mencubit pinggang Sadewa diam-diam, dan berbisik, "Bukankah hubungan kita adalah rahasia."
"Mereka telah mengetahui hubungan kita. Mereka adalah calon Bridesmaids untuk Lea."
Bridesmaids? Ingin mengajak menikah.
Aprilia menjilat bibirnya. Akan berkata sesuatu. Sadewa mengangkat telunjuknya, dan berbisik, "Aku akan menjelaskan nanti."
Millen mendorong album, mendekat pada Aprilia, "Loly, kau bisa memilih."
"Aku hanya bercanda. Jangan memanggilku Loly. Jika, boleh kau memanggilku Bae Suzy."
"Kau juga boleh memanggilku Oppa Lee Suju," timpal Sadewa berseloroh.
"Jangan meniru Lee Suju. Kau tidak cocok," sindir Aprilia.
__ADS_1
"Kalian pasangan yang manis," komentar Ashanti.
"Gula bertemu kopi," sahut Millen.
Pasangan manis. Gula bertemu kopi.
Aprilia duduk dengan kikuk. Penyebutan pasangan yang manis. Membuat wajahnya merah seketika, dan bagai kucing malu-malu. Segera, Aprilia mengambil album. Meletakkan di kedua belah pahanya. Dia mengerut, kala membuka lembaran pertama.
"Oppa, ini adalah?"
"Pilihan tema wedding," timpal Millen.
Deg! Aprilia menghela napas. Dia melirik pada Sadewa.
"11. 11!"
"Oppa, aku belum siap." Aprilia segera berdiri dari sofa, dan meninggalkan pria itu bersama dua wanita jamuannya.
"Bagaimana?" tanya Millen.
"Aku akan membujuknya nanti."
Sadewapun bertukar cerita dengan Millen dan Ashanti. Banyak hal yang menjadi topik pembicaraan.
Satu Jam Kemudian ....
Millen dan Ashanti berpamitan pergi. Tersisa Sadewa berhadapan dengan Wati, asisten rumah tangga yang baru.
"Bantu, antarkan makan malam pada Nona Lea."
"Baik," sahut Wati melenggang pergi ke dapur kemudian.
Sadewa bangkit dari sofa. Dia berjalan menuju kamar Aprilia. Baru saja, dia akan mengetuk pintu. Namun, suara Aprilia lebih dulu menekingnya.
"Oppa, jangan masuk dulu! Biarkan aku tenang," ujar Aprilia dari balik pintu kamarnya.
Biarkan, aku tenang.
"Biarkan, aku tenang!" teking Aprilia.
Tok! Hanya satu ketokan lemah yang terdengar.
"Oppa, aku akan memikirkan lamaranmu," sahut Aprilia lebih lembut. Lalu, dia mengelus perut ratanya, dan menggigit bibirnya.
Aku bahkan ingin menelan jamu gugur. Namun, Nenek Mayang telah menumpahkan gelas jamu itu.
"Oppa, pergilah. Aku akan memikirkan lamaranmu. Namun, waktunya jangan terlalu dekat. Kau ingin mengajakku menikah besok. Apakah hal itu gila?"
"Aku akan menunggumu berpikir."
Sadewa mundur dari pintu kamar. Dia kembali ke kamarnya. Setiap telapak kakinya melingkar pada setiap anak tangga dengan perlahan. Tanpa menyadari setangkai mawar melayang mengikutinya dari belakang.
Sadewa kau ingin menikah? Apakah kau tau, kau belum sempat membisikan hal itu untukku. Jika kita telah menikah. Maka, hari ini adalah hari jadinya.
Tina ingin terbahak dengan bulir air mata yang mengisi setiap sudut matanya. Dia terus mengikuti punggung pria itu. Hingga pria itu berbaring di ranjang, dan mengambil satu pil dari botol obat. Pria itu terlihat renta dengan tangan yang terlihat bergetar takut. Seakan, hanya obat tidur yang mampu mengantar dirinya ke ambang mimpi.
Sekarang kau sangat ketergantungan obat tidur, Sadewa.
Tina duduk di salah satu kursi di pojok. Dia terlihat transparan dengan gaun merahnya. Tangan kanannya masih menggenggam bunga mawar.
Apakah kau tau? Aku selalu mengikutimu. Aku duduk di kursi favorit milikmu ini begitu lama. Hingga, akhirnya aku mengumpulkan banyak kekuatan untuk mampu menunjukkan wujudku padamu.
Tina tersenyum.
Aku meringis dengan banyak kecemburuan. Aku pikir kau akan bersedih mengetahui diriku yang tenggelam kedinginan di laut lepas. Ternyata, kau duduk diam dengan berganti wanita hanya untuk mengusir bagaimana takutnya kau pada kisah kita yang menerkam hari yang kau sebutkan lupa dan lalui begitu saja.
Sadewa lunglai kemudian. Seakan, obat tidur telah bereaksi membuat energi pria itu lenyap, kantuk menyerangnya, dan dia terlelap kemudian.
Tina mengedipkan sepasang mata indah berair miliknya. Sosok halus itu melayang dan hilang, masuk ke dalam semesta pikiran Sadewa. Dia terlihat memilih pintu pikiran, dan membuka salah satu kenangan.
Kenangan itu datang. Seribu sentuhan dan kecupan yang tidak terhitung jumlahnya. Dulu, terlihat manis, kini bagai silet mengupas tajam setiap permukaan kulit. Perih dan sakit mengingat hal itu.
__ADS_1
Sadewa apakah kau lupa? Jika kau dan aku adalah suami istri. Suami istri tanpa buku nikah. Suami istri tanpa pesta pernikahan. Suami istri tanpa sepengetahuan orang lain. Konyolkan? Namun, kau melupakanku.
Tina menjentikkan jemarinya. Sekejap, dia dan Sadewa berada di sebuah haluan kapal besar yang sedang berlayar. Terlihat gaun pengantin itu merak, sedikit bergoyang karena tiupan angin.
Tangan Tina terbentang. Dengan Sadewa yang mengenakan double breasted putih berdiri jauh empat langkah darinya. Pria tirani itu terlihat berdiri kaku. Seakan, dia menyadari hal ini adalah ilusi.
"Peluk aku," pinta Tina terdengar memerintah.
Sadewa hanya menjadi patung lilin. Memandang dalam diam.
Tina diam membeku. Pelukan tak kunjung datang. Tangannya lunglai perlahan. Dia tersenyum pada laut yang terlihat tenang.
Apakah kau tau? Jika kau menikahiku saat itu. Maka kau dan aku hari ini akan merayakan hari jadi pernikahan kita. Kau dan aku telah menikah sejak lama Sadewa. Pernikahan yang bukan di sebut kertas. Sentuhan yang harus kau bayar.
Tina menoleh ke belakang. Pria itu terlihat berdiri gamang. Seakan seluruh logikanya mengikuti pria itu ke dalam alam sadar pria itu.
"Kau sudah mati," celetuk Sadewa terdengar hambar.
"Kau hanya ingat aku telah mati. Lalu, apa kau ingat penyebabnya?"
Sadewa berdiri kaku.
"Selamat hari jadi untuk kau dan aku, Sadewa. Happy anniversary."
Sepasang mata melotot. Dengan satu tangan tiba datang mengisap Sadewa mendekat padanya. Sekejap, tiada jarak di antara mereka. Dua insan yang terlihat saling menempel. Dengan hembusan napas yang terasa mengepul dengan wajah masing-masing.
"Apa kau lupa? Kau membuang seorang awak ke laut lepas! kapten perompak, apa kau masih lupa?" Tina melepaskan cengkeramannya, dan menjatuhkan dirinya ke laut lepas.
Sadewa terkejut. Satu tangannya menggapai. Namun, hanya kekosongan yang di genggam tangan miliknya. Dia berdiri di haluan kapal. Menatap ke laut yang terlihat sedikit beriak.
"Apakah kau jatuh olehku?"
Semilir angin dingin meniup ceruk lehernya.
"Ya!" bisikan itu tiba-tiba datang di sisi telinga Sadewa. Mengejutkan. Dia menoleh ke sisi kirinya sebentar. Wajah pucat kertas dengan gaun basah itu terlihat melotot padanya.
Hawa dingin yang menyentuh ceruk lehernya. Sekejap, membuat dirinya membeku layak es.
"Apa kau masih belum ingat dengan baik?"
Sadewa mundur. Keberanian mulai datang dari kepalanya. Dia meraih leher Tina. Hingga sepasang mata Tina terlihat membola. Seakan dia telah tercekik akan kekuatan pria itu. Padahal, satu sakitpun tidak menyentuh leher hantu manis itu.
"Kau ingin melenyapkanku lagi? Ku menangis. Korbankan aku lagi. Persembahkan aku lagi."
Sadewa bergetar. Ada kenangan menampar wajahnya.
Kekuatan tangan pria itu melonggar. Lalu, satu kecupan dingin menyentuh bibirnya, sensasi dingin membekukan seluruh darah dalam nadinya.
"Kau pembunuh!" teriak Tina.
"Tina!" Sadewa terjaga. Dia bangun, dan sayup-sayup telinganya mendengar kembali satu kalimat terakhir Tina.
Kau ingin melenyapkanku lagi? Ku menangis. Korbankan aku lagi. Persembahkan aku lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua teman Aprilia.
Ini hanya bercandaan aja ....
Sadewa : jadi keluarga hijau lagi
Author : Hijau yah hijau
Sadewa : Tina apa donk
Author: Diva Krisdayanti kan Santi
Sadewa : Syahrineeee.... Maju mundur cantik .. maju mundur cantik 😂 si mantan merah
__ADS_1
Author : Ssst gitu2 dia bini si Jepang kaya raya 😂 Reinoooo bayakkkk