Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 38


__ADS_3

Ting Nong! Ting Nong!


Aprilia terus menekan bel.


Seorang pria yang berbaring di atas tempat tidur. Mengerjapkan matanya. Suara bel itu terdengar berisik. Dia meraba-raba tempat tidur, seraya dengan suara meminta, "De sayang, bukakan pintu kamar. Ada tamu apa hantu? Masa bertamu saat jam tidur sih?"


Aswin meraba lagi. Kosong. Dia menyentuh guling. Mencari di balik guling. Kosong.


"Ade!" seru Aswin segera membuka matanya lebar. Dia memposisikan tubuhnya terangkat sedikit dan menengok ke sisi guling.


Ade tidak ada. Dia kemana? Ke kamar mandi?" Aswin heran. Namun, tidak merasa curiga sedikitpun. Kamar mandi pun terdengar senyap.


Ade kemana? Tidak ada. Ke mini market 24 jam lagi. Apa dia tidak takut gendut, makan terus tiap malam, pikir Aswin merasa konyol.


Ting Nong! Ting Nong! Bunyi bel terus di tekan. Aswin menatap jam dinding. Jam 2.30 Wib. Aswin mengerutkan kening malas sekali membuka pintu. Berbaring melanjutkan tidurnya kembali. Namun, kembali bangun.


Jangan-jangan Ade lagi. Lupa password apartemen. Aswin dengan raut mengantuknya, menginjak lantai kemudian. Kok dia suka sekali keluar tengah malam sih? hanya buat makan mie instan.


Aswin bangkit berdiri. Keluar dari kamar. Namun, angin yang berhembus dari balkon. Membuat dirinya bergindik dingin. "Pasti Ade lupa menutup balkon?"


Aswin berjalan menguap ke balkon apartemen. Melihat ponsel Ade di atas meja balkon. Dia segera maju mengambil ponsel tersebut. Kelopak matanya terlihat meram dan terbuka sebentar. Dia mengeluh sebentar, "Kebiasaan yang nggak pernah hilang. Meninggalkan ponsel sembarang tempat."


Aswin kembali berjalan masuk ke dalam apartemennya, tanpa menyadari sosok tubuh yang berdiri di balik tanaman bambu yang menjulang tinggi, yang menyamarkan sosok yang bersembunyi di dalam gelapnya balkon. Tubuh itu berdiri kaku, tanpa kepala. Gaun linggrie biru malamnya terlihat berkibar-kibar di tiup oleh angin malam yang berhembus lembut.


Krett! Aswin menutup pintu balkon perlahan. Lalu, dia berjalan dengan sekali-kali terlihat menguap ke arah pintu utama. Krek! Pintu terbuka lebar.


Aprilia langsung menyeret kopernya, masuk melewati garis pintu. Aswin menatap heran akan sosok yang datang. Seseorang yang tidak sangat di harapkan. Dia bersandar di garis pintu menatap sosok yang menerobos masuk ke rumahnya. Hanya menggunakan piyama, dengan menyeret koper besar.


"Hei, bebek berjalan!"

__ADS_1


Aprilia menoleh sebentar. Dia hanya menggeleng sebentar akan sebutan dari pria ini. Bebek berjalan. Sebutan itu terdengar sangat konyol sekaligus menjijikan di telinga.


"Namaku Aprilia. Kau bisa panggil aku Apri."


Aswin menggelengkan kepala. Dia terbahak bahkan sampai air matanya bersembunyi akan keluar di setiap ujung matanya. Dia merasa sangat geli dan konyol setiap melihat Aprilia, "Tidak! Kau lebih cocok di panggil bebek berjalan. Aku tidak bisa melupakan caramu berjalan waktu interview saat itu. Kau berjalan seperti bebek."


Aprilia terlihat menahan napas. Pria di depannya terus terbahak. Aprilia hanya diam membisu, ada rasa ingin merobek segera mulut sang pengejek. Namun, dia tidak bisa melakukannya. Dia hanya bisa membenci di dalam hatinya, Jika suatu hari aku menjadi cantik. Kau mengejarku. Maka, aku akan mengolokmu, dasar pria gila.


Aprilia hanya membisu, dan menunggu pria itu berhenti tertawa mengoloknya.


"Ada apa kau kemari?" Aswin berjalan menatap koper Aprilia, dan mendengus, "Kami tidak menerima tumpangan. Tidak memberi tumpangan.Okey!"


"Tidak ada. Hanya bertemu sebentar."


"Istriku sedang pergi.Tunggulah mungkin dia ke minimarket 24 jam. Dia mudah lapar. Kadang dia pergi untuk makan tengah malam. Jika kau ingin menunggu, sebentar lagi, mungkin dia akan datang."


"Istri? darurat sekali terdengarnya." Aprilia sedikit menaikan alisnya. Raut wajahnya terlihat heran. Aswin dan Ade baru mengenal, statusnya mendadak menjadi suami isteri. Penyataan konyol.


Aprilia mengelap bibirnya, terkekeh dalam hatinya, Yakin ingin beristri hantu kepala. Karma cinta itu instan.


"Mengapa tertawa?"β€” Aswin melipat dada. Terlihat kesalβ€” "Jangan sirik! Kami adalah orang-orang hidup di kota besar. Hal ini biasa. One Night Stand dan tidur bersama, itu keren. Tidak seperti kamu, hadir kampungan, dan lahir primitif."


Aprilia hanya menganggukan kepala. Malas berdebat, dan hanya mengolok dalam hatinya, aw... aw ... semoga kau tidak mati berdiri. Mengetahui Ade adalah sosok yang lebih mengerikan dari si primitif ataupun Meganthropus.


Aswin menatap Aprilia lekat dan dalam. Seakan dia mengetahui setiap ekspresi Aprilia yang mengejek dan mengoloknya, "Setelah bertemu istriku. Kau wajib pulang."


Aprilia hanya menganggukkan kepala berkali- kali dengan ritma cepat. Dia pun duduk di salah satu sofa ruang tamu apartemen. Tidak menunggu lama,detik selanjutnya Aswin terlihat melenggang pergi kembali masuk kamarnya. Blam! Pintu tertutup rapat.


Koper bergetar kuat. Ade mendesak ingin segera keluar dari persembunyiannya. Namun, detik selanjutnya koper kembali berdiam diri. Berhenti bergetar. Kret! Aswin membuka pintu kamarnya lagi, dan melongokkan kepalanya dari celah pintu, "Bebek berjalan!"

__ADS_1


"Yaa," sahut Aprilia sedikit gugup pada nadanya.


"Ingat! Jangan mencuri!" peringat Aswin, dan Blam! Daun pintu menyatu dengan kusennya.


Aprilia mengehela napas kesal. Ujung sepatunya menendang koper, dan mendengus dengan suara berbisik, " Suamimu kurang ajar. Apa dia tidak tahu aku telah menyelamatkan isterinya. Dia malah mencurigaiku akan menjadi pencuri. Cih!"


Koper bergetar kuat. Antar aku ke balkon, segera. Aku bisa mati sesak napas dalam kopermu bau apek.


Aprilia segera berdiri. Menyeret koper ke Balkon. Angin berhembus kencang. Aprilia mengedarkan matanya dan menemukan sosok tubuh yang berdiri bersembunyi di belakang tanaman bambu yang menjulang tinggi.


Aprilia cepat sesak! Aku harus menyatu segera.


Aprilia segera membuka koper. Perlahan, kepala dan organ tubuh itu merangkak keluar dari koper. Terbang melayang dan menyatu dengan tubuhnya. Klek-Klek-Klek! Terdengar suara tulang menyatu dan merapat.


Aprilia terperangah dan sangat takjub. Lalu, sosok Ade yang cantik dengan gaun lingerie bewarna biru malam itu keluar dari persembunyian di balik tanaman bambu.


"Kamu nggak kedinginan?"


"Kami tidak bisa merasakan panas dingin Aprilia. Kami hanya merasakan darah itu manis. Daging janin itu lembut."


Deg! Aprilia menyentuh perut ratanya. Dia teringat akan sosok kecil yang berenang dalam kolam perutnya.


"Tenang saja. Seiblis-iblisnya diriku. Aku akan menahan diri. Aku tidak akan pernah melukai orang yang berkali-kali menolongku"β€” Ade menyentuh pundak Aprilia β€” "Kita bisa menjadi sahabat mulai dari sekarang."


...----------------...


Bersambung ....


Persahabatan Ade dan Aprilia akan terlihat segera. Musuh abadi Aprilia adalah Nana. Jadi nggak akan mudah melawan Nana 🀭

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like πŸ‘, dan Coment setelah membaca yah .


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2