
Aprilia kembali ke nyata. Dia segera ke lantai 3. Ruang interview. Di saat itu kebetulan pintu ruangan Aswin terbuka lebar. Terlihat Aswin sedang sibuk di balik meja kerjanya dengan satu sosok pria paruh baya yang berdiri memberikan dokumen untuk dia tanda tangani.
Aprilia menanti dengan sabar di depan garis pintu. Kala, sosok pria yang menemui Aswin mengundurkan diri, dan telah melewati garis pintu. Aprilia pun mengetuk pintu. Tok-tok-tok!
Aswin mendongakkan kepalanya. Lalu, cepat menusuk seraya berkata, "Masuklah!" Suara pria itu terdengar sangat ketus.
Masa bodoh! Aku butuh pekerjaan. Mulut bak panci berisi minyak panas, akan kulewati.
Aprilia menutup pintunya. Dia ingin mencoba membujuk pria ini agar menerima sebagai karyawannya, atau jika hal itu terlampau sulit, dia akan mengancamnya atas perbuatan tidak senonoh pria ini dengan Ade, pada sore hari itu.
Aprilia berjalan berlenggak-lenggok. Langkahnya di buat selurus mungkin berjalan bak model di atas garis lurus. Dagunya di angkat ke atas. Dadanya dia busungkan ke depan. Bokongnya terlihat melengkung ke belakang.
Semua ini adalah Ade yang mengajarkanku. Tips-trik lulus interview. Tampil genit dengan lekuk tubuh, dan selalu bersikap ramah pada sang pimpinan.
Suara langkah Aprilia terdengar berat dan tumit sepatunya keras menabrak lantai, menimbulkan buny. Tuk-tuk-tuk! Terdengar keras.
Aswin merasa risih akan suara sepatu itu. Dia mengangkat kepalanya lagi, dan dia terperangah. Dia pun hampir tersedak oleh air ludahnya sendiri.
Aprilia menarik kursi, dia duduk bak putri keraton. Sangat berhati-hati meletakkan bokongnya pada kursi. Terkesan anggun dan angkuh, dia usahakan terlihat.
Semua pria menyukai yang terlihat sexy, anggun, dan wajah angkuh. Aprilia mempertahankan posisi dagunya agar mendongak ke atas. Dia ingin mengeluarkan sosok keangkuhannya sendiri.
Aswin menatap dengan sepasang mata prihatin, jauh dari kagum ataupun memuja seperti yang di harapkan Aprilia. Aswin meletakkan bolpoin. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar dengan pundak dan membuka kedua telapak tangan.
Aprilia menyipitkan matanya. Pria di depannya terlihat melafalkan doa dalam hatinya. Ekspresinya terlihat serius. Tidak lama kemudian, pria di depannya mengakhiri doanya.
"Kok berdoa, pak? " tanya Aprilia konyol, melupakan esensi dirinya harus bersikap angkuh. Dengan polosnya dia menunjukkan keluguannya.
"Saya berdoa biar jin dalam diimu keluar."
__ADS_1
Deg! Jantung Aprilia seakan di lempar batu kerikil. Pria di depannya menegurnya dengan sangat ketus.
"Kau berjalan bengkok seperti bebek. Sungguh mengerikan!"
Deg! Aprilia berhenti bernapas. Mengapa aku selalu terlihat buruk?
"Aku hanya ingin terlihat bagus, dan menarik pada penampilan pertama."
Aswin menggelengkan kepalanya dan bahunya bergindik jijik, "Kau bukannya terlihat menarik. Aku pikir kau sedang kesurupan tadi."
Dup! Jantung Aprilia mengecil sejadi mungkin. Ada rasa malu yang membungkus dirinya, dan dia ingin memukul tempurung kepalanya. Ide dan inisiatif miliknya yang tidak sesuai dengan hasil yang di harapkan.
"Apakah boleh interview Pak?"
Aswin menghela napas. Napasnya berat. dia menyeruput kopinya sebentar.
"Kau gagal."— Aswin meletakkan cangkir kopi —"Aku sudah mengajukan dua nama untuk mengisi lowongan."
Aswin ingin mengurut dadanya. Dia terlihat menyesal telah memberi kesempatan kedua untuk interview pada wanita yang terlihat menunjukan sepasang bola mata yang berkaca- kaca, dengan bibir yang mengeriting.
"Saya jelaskan lebih dulu. Agar anda tidak memburukkan penilaian saya di luar sana."
Aprilia menganggukan kepala, walau hatinya telah teriris-iris kecil, Pria ini pilih kasih. Yang lolos, cantik mulus. Yang jelek, di singkirkan.
"Dalam sesi wawancara yang di lihat adalah penampilan, sikap, dan IQ!"
Aprilia menatap dirinya dari ujung sepatu yang dia kenakan, hingga rambut Cepol rapi miliknya.
"Aku rapi, sopan, sikap bagus. IQ silahkan di pertanyakan dulu."
__ADS_1
Aswin melongo. Menggelengkan kepala. Telunjuknya menunjukkan pintu keluar. "Keluarlah dengan baik-baik!"
Aprilia membisu. Tidak bergerak. Tepatnya, dia menolak untuk keluar dari ruangan. Baginya interviewnya belum selesai. Dia merasa bodoh sekaligus konyol. Setiap pekerjaan, bak bukan rejeki miliknya. Hal ini membuat dirinya jatuh kecewa dan ingin mati.
Aswin meletakkan bolpoint di meja. Menutup buku miliknya. Melihat sosok di depannya telah duduk bak mumi hidup yang kehilangan nyawanya. Aswin mendorong kursi, dan menegur kembali, "Saya akan meninggalkan ruangan. Sebenarnya, hari ini tidak ada jam kerja. Kami semua di liburkan untuk pemakaman Nyonya pemilik perusahaan ini."
Aprilia menghela napasnya. Mendengar kata pemakaman, dia mengangkat kepalanya menatap Aswin di hadapannya. lalu, tertunduk lagi. Ingin rasanya aku ikut di kebumikan pula. Hidup seperti ini, bak mayat berjalan. Napas ada berhembus. Namun, makan dan minum tidak tau cara mendapatkannya.
"Jika kau tidak keluar juga. Aku akan meminta security menyeretmu keluar," peringat Aswin ketus dan melangkah keluar dari area meja bironya.
Aprilia mendorong kursi. Dia berdiri. Dia berdiam terus menghadap dinding. Namun, kala membuka mulutnya, suaranya terdengar menegur pria itu.
"Lalu, mengapa Ade dengan begitu mudahnya memiliki pekerjaan. Apakah karena bapak hanya bersikap baik pada wanita cantik?"
Aswin terpaku. Langkah kakinya seperti telah terjerat akan satu kalimat panjang wanita itu. Dia tidak bisa bergerak. Aswin membalikkan badannya, bersiap menepis kecurigaan dan mengubur fakta, dengan seratus kata prmbelaan diri.
Aprilia melangkah, maju menyamakan garis titik berdiri mereka. "Di koreksi. Bukan baik! Tetapi, bapak hanya bersikap genit pada yang cantik."
Aprilia memiringkan wajahnya, menyipitkan matanya, "Memimpin bukan menggunakan otak. Namun, menggunakan sesuatu yang ...." Aprilia menutup mulutnya, dan tertawa terbahak di belakang telapak tangannya.
Dug! Jantung Aswin meletup sekali. Sindiran itu benar-benar menembak dengan tepat. Tidak mampu berkutik untuk menjawab. Kehilangan kata-kata seketika. Bersiap akan marah. Namun, enggan membuka aib sendiri. Aswin hanya membisu dengan banyak pikiran di dalam kepalanya. Aprilia melenggang pergi, meninggalkan ruangan.
Setelah menginjak lantai lobby, barulah Aprilia menyeka air matanya. Bagai takdir kesusahan yang melingkarinya, bagai keberuntungan yang tidak pernah mengikutinya. Serasa dikutuk dan sial dari awal pernikahan, perceraian, dan bernasib selalu menjadi pengangguran. Membuat Aprilia mengadahkan sepasang matanya ke langit-langit lobby gedung pencakar langit ini. Wah dan megah. Kapan aku bisa memilikinya, jika Tuhan pun seperti tidak mengingat kehadiranku yang selalu jatuh tersungkur.
Aprilia menyeka air matanya. Di saat dia selesai menyeka air matanya. Dia berjalan ke lobby yang menjulur ke pintu utama. Langkahnya terhenti kala sederetan karyawan tampak berbaris rapi membentuk dua baris yang saling berhadapan. Semuanya tampak mengenakan pakaian hitam.
...----------------...
Bersambung ....
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo